
Aliya dan Chandra saat ini berencana untuk pergi keluar sebentar, mereka berencana untuk pergi membeli barang di minimarket terdekat. Mereka berdua kompak sudah bosan work from home, seolah sedang karantina mandiri.
Baru saja Aliya dan Chandra keluar dari gerbang rumah, sebuah mobil tampak mulai mengikuti mereka. Itu jelas bukan mobil para pengawal, yang saat ini tengah mengawal mereka, bak mengawal seorang presiden.
Chandra terus menggenggam tangan Aliya, perasaannya mulai was was, takut takut terjadi sesuatu. Entah kenapa Chandra mulai memikirkan banyak hal. Chandra segera menggenggam tangan Aliya dengan erat, kemudian mengecup puncak kepala Aliya.
"Kenapa?" Aliya bingung sendiri.
"Perasaan gue ga enak," Chandra memandang Aliya dengan lekat.
"Pengawal kita banyak," Aliya berusaha menenangkan suaminya.
"Ya tetap aja ga enak, gua bilang juga apa, lebih baik pak Ujang yang nyupirin kita, gini kan ga tenang gue, mana pegawai baru lagi," gumam Chandra mulai merasa keganjalan.
Supir tersebut hanya tersenyum, dan memandang ke arah tuan dan nyonya nya.
Para mobil pengawal di belakang sedikit mengalami masalah, sebuah mobil tiba tiba menyerang mereka, ketika berada di salah satu jalan yang tampak kebetulan sepi. Mereka tampak mulai menghubungi rekannya yang ada di mobil yang sama dengan tuannya.
"Lapor tuan, sepertinya ada yang mengikuti kita," ucap salah seorang pengawal.
"Terus berhati hati, kita kecoh mereka," ucap Aliya mendahului Chandra yang terlihat sedikit panik. "Jangan panik, kita harus tenang ok."
Kini mereka tampak berperan terbalik, Chandra yang sedikit panik, sementara Aliya yang tenang. Chandra mengalihkan rasa paniknya dengan memeluk Aliya, dan mencium dalam dalam aroma yang ada di tubuh istrinya.
"Semua akan baik baik aja kan?" Chandra bahkan mulai mengusap lembut perut Aliya. Aliya mulai menghubungi polisi setempat.
Tak lama kemudian keadaan kembali tenang, membuat Aliya dan Chandra kembali merasa laga.
Namun tiba tiba mobil mereka di himpit oleh dua mobil dari kiri dan kanan, sehingga membuat mereka berdua terkejut. Aliya segera menelfon dua temannya. Aliya melirik ke sekeling, ternyata mobil pengawal mereka telah di sabotase, bahkan sepertinya kini terjebak di dalam permainan seseorang.
Supir yang mengendari mobil tersebut menyeringai, segera menghubungi seseorang. "Kami akan membawa target ke tempat tujuan."
Chandra sangat panik, membuat Aliya segera memeluk tubuh Chandra erat. Chandra mulai mengusap ngusap perut Aliya. "All is well dear," bisik Aliya. Membuat Chandra mengangguk.
"Kita akan baik baik saja," ujar Chandra, segera mendorong kuris pengemudi, membuat pengemudi tersebut segera berbalik dan menyodorkan sebuah Laras pendek, membuat Aliya terdiam di tempat, dirinya tak mungkin melawan. Meski memiliki senjata Laras pendek juga di sakunya. Namun dirinya tak mengira dirinya kalah cepat. Belum lagi kepanikan Chandra membuat Aliya harus terdiam di tempat.
Chandra terdiam memeluk Aliya, Chandra menempatkan tubuhnya di hadapan Aliya. Chandra adalah seorang suami dan calon ayah, dirinya harus melindungi Aliya. Chandra tak ingin kejadian sebelum menikah terulang, Aliya yang melindungi dirinya.
"Apa mau mu?" Aliya menegangkan urat lehernya, geram melihat supir Beru merek, yang ternyata seorang musuh.
Tanpa sengaja Chandra menarik pelatuk tersebut, ketika berada di tangannya, sehingga hampir mengenai Aliya. Chandra sangat terkejut, ini pertama kalinya ia memegang benda seperti itu, dan saat itu hampir mengenai istrinya.
Melihat Chandra lengah laki laki itu hendak merebut pistol kembali dari tangan Chandra, namun Aliya terlebih dahulu meraihnya, Aliya segera mengambil pelatuk tersebut, dan mengarahkannya kepada supir tersebut.
Laki laki itu terdiam, Aliya segera meletakkan pistolnya di pelipis laki laki tersebut.
"Putar arah," ucap Aliya.
Laki laki itu tiba tiba terkekeh, Memandang wajah Chandra yang masuk syok. "Anda tahu nona? Menghentikan ku sekarang tidak ada gunanya."
Laki laki itu menghentikan mobilnya dan segera turun di depan sebuah gudang tua. "Terserah anda mau turun atau tetap di sini."
Laki laki itu melenggang meninggalkan mobil, dan melempar kunci ke arah beberapa orang. Orang itu segera pergi dari tempat tersebut.
"Kalian mau keluar atau tidak?" seorang laki laki memandang ke dalam. Membuat Aliya menarik pelatuknya, dan hampir mengenai pelipis orang tersebut. Chandra tersadar dari lamunan panjangnya.
"Jangan bergerak aku sangat mahir dalam mengenakan senjata api," ucap Aliya. Aliya segera menembak kembali kepala orang tersebut, hingga bersimbah darah, Candra Kemabli terkejut, dan mual ketika melihat darah segar secara langsung.
Beberapa orang kembali waspada, mereka menjulurkan senjata api mereka satu persatu ke arah mobil yang di tumpangi Aliya dan Chandra.
"Jika tak ingin ma*ti di tempat, segera turunkan senjata mu," ucap salah seorang di antara mereka dengan lantang, Aliya cepat berfikir, melihat setiap persenjataan mereka.
"Chandra kita mengalah dulu, mereka terlalu banyak, kita tidak mau mati konyol di sini," Chandra hanya mengangguk, menahan mual yang menjalarinya. Bau darah menyeruak manusia ke dalam hidungnya. Semakin membuat perut Chandra tergelitik untuk memuntahkan isi perutnya.
"Al gue mau muntah," keluar Chandra tak tahan lagi, segera mengeluarkan isi perutnya. Aliya menenangkan Chandra.
Para laki laki bersenjata segera membawa Aliya dan Chandra ke dalam gudang, menyingkirkan mayat temanya yang telah ma*ti. Tampak gudang tersebut terdapat banyak kayu kayu.
"Bisa aku memeluk istri ku? Aku sangat tidak kuat, aku butuh istiri ku," Chandra melakukan permintaan di luar dugaan kepada para penjahat.
"Sana, dasar kenapa istrinya yang hamil tampak lebih tenang," umpat salah seorang di antara mereka.
Candra tak perduli lebih memilih untuk mendekati Aliya dan memeluknya. Aliya yang paham dengan tabiat suaminya, segera ikut memeluk suaminya. "Sudah lebih baik?"
Candra mengangguk lemah, isi perutnya sudah keluar semu, belum lagi dirinya sangat syok dengan apa yang baru saja terjadi, melihat seseorang merenggang nya*wa di hadapannya. Bahkan di tangan istri nya.