
Sesuai janji pagi ini seluruh keluarga inti, berkumpul bersama di pencatatan sipil, mereka akan melakukan ijab Kabul terlebih dahulu, baru kemudian pesta yang akan di adakan bulan depan. Haris tampak sangat gagah, dengan pengantinnya yang imut berada di sampingnya. Acara tersebut juga di hadiri Chandra, Aliya, Juwita dan Brayen. Mereka berempat turut menjadi saksi, detik detik upacara sakral tersebut.
"Perhatikan cara ijab Kabul nya, ingat kalau salah bisa di ulang menjadi tiga kali," ujar Chandra tersenyum mengejek ke arah Brayen.
"Kau bisa tidak jangan membuat ku ketakutan? Kau tahu dia yang mau ijab Kabul aku yang rasanya tak bisa bernafas," Brayen hanya melirik Chandra sembari tangannya mere*mas re*mas jari Juwita. Dapat Juwita rasakan dinginnya tangan Brayen, pertanda laki laki itu tengah gugup.
"Ingat kalau mau ijab Kabul banyak banyak bernafas, dan menghirup udara," ledek Chandra, semakin membuat Brayen memandang Chandra dengan pandangan sinis.
"Hust... acara sudah mau di mulai, diam lah," Juwita yang berada di samping Brayen meminta keduanya untuk diam, pasalnya mereka sedikit menjadi pusat perhatian.
"Hm..." ujar Brayen tersenyum manja ketika di minta oleh Juwita.
"Cih dasar bucinnya dokter Juwita," Chandra mendengus melihat tingkah Brayen, sungguh seperti seorang wanita pikirnya.
"Memangnya kau tidak?" Brayen mengejek Chandra sembari memeluk bahu Juwita.
"Aku? Tentu saja tidak," Chandra ikut menarik pinggang Aliya, kemudian mencium pipi istrinya. "Hah, kau tahu nanti malam aku akan mulai penggarapan lagi, kasihan sekali kau akan ketinggalan."
"Hust... diam, sudah mau di mulai," Aliya malu sendiri mendengar ucapan suaminya, yang tak bisa di saring, apalagi di filter.
"Ia Al, lagian ngapain sih suami mu, membicarakan penggarapan di saat seperti ini?" Juwita ikut berbisik, pasalnya dirinya ikut malu. Entah bagaimana prosesi penyembuhannya dulu, Juwita menjadi mengingat ngingat, entah dirinya ikut andil dalam ke somplakan otak mantan pasiennya.
"Sudah lah dia memang seperti itu," bisik Aliya, yang memang paham dengan otak somplak suaminya.
"Kau minum obat subur dengan dokter?" Juwita memandang lekat sahabatnya.
"Iya dokter memberikan ku," ujar Aliya tersenyum bahagia, jika membahas tentang anak Aliya menjadi sangat bersemangat.
"Wah aku harap akan cepat," ujar Juwita ikut bersemangat.
"Aamiin," Aliya mengaminkan kata kata Juwita.
"Tadi kami yang di suruh diam, sekarang kalian yang ribut," protes Chandra pasalnya tadi dirinya yang di minta untuk diam, tapi sekarang para wanita lah yang menjadi ribut.
"Chandra... diam lah," tegur Aliya memandang Chandra dengan sinis.
"Aku lagi, aku lagi," ujar Chandra lesu.
"Pfttt..." Brayen menahan tawanya, pasalnya penghulu sudah siap siap hendak melakukan prosesi sakral untuk Haris dan Arnita yang kini telah duduk di hadapan penghulu.
"Saudara Haris, saya nikahkan engkau dengan Arnita Albas binti Andre Albas dengan maskawin emas tiga puluh gram di bayar, tu... nai," ujar penghulu, mulai membacakan akadnya.
"Saya terima nikahnya Arnita Albas binti Andre Albas dengan maskawin tersebut di bayar tunai," ujar Haris mantap, membuat yang lain tersenyum.
"Baik semuanya... sah..." pak penghulu memandang ke arah saksi.
"Sah..." ujar mereka serentak.
"Yes..." Haris loncat tanpa sengaja membuat Arnita menutupi wajahnya dengan tangan karena malu, Arnita sedikit mencubit kaki Haris.
"Waduh Haris semangat sekali," pak Andre terkekeh geli melihatnya.
"Hust... diam lah," Arnita mendelik kesal ke arah Haris.
"Ah maaf sayang, terlalu semangat tadi," ujar Haris tersenyum manis.
"Ayo perbaiki duduk mu, kita harus bertanda tangan," ujar Arnita berbisik di samping Haris.
"Hm... baik sayang," ujar Haris.
Setelah selesai semua kembali ke kediaman mempelai, demi memberi selamat kepada mereka, untung saja jarak antara kua dan rumah Arnita tidak lah jauh, jadi mereka bisa dengan mudah dapat segera menuju rumah mempelai wanita.
"Selamat ya Ris, do'akan mereka supaya cepat nyusul, pacaran duluan, bulan madu duluan, eh nikahnya belakangan," Chandra sengaja menyindir Brayen membuat Haris terkekeh lucu. Pasalnya Haris ingat betul bahwa dulu mereka adalah sepasang kekasih, namun saat ini justru mereka lebih banyak bertengkar, dan memiliki pasangan masing masing.
Brayen memukul lengan Chandra dari arah belakang, padahal di sela mereka berdua ada Aliya dan Juwita. "Kenapa kau berisik sekali? Membuat ku pusing saja," ujar Brayen mencebik kesal.
"Iri?! Bilang bos..." ejek Chandra tanpa merasa bersalah.
"Sayang ayo pergi, kita makan saja yuk," ajak Brayen segera merangkul pinggang Juwita, kemudian mengecup bibir Juwita di hadapan kedua pasangan tersebut.
Sontak saja membuat mereka terbengong melihat hal tersebut, sementara kakek Rio yang melihat dari bawah hanya menggeleng, mau marah pun tak bisa, saat ini mereka tengah berada di kerumunan orang banyak.
"Nikah dulu woy," ujar Aliya jengah melihat sepasang kekasih yang ada di hadapannya. Brayen hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Numpang makan kalian?" Chandra mendesis membuat Brayen terkekeh.
"Iya, kenapa? Iri? bilang bos," ujar Brayen segera menggandeng tangan Juwita ke bawah panggung.
"Cih..." Chandra benar benar kesal dengan sikap Brayen yang tampak seolah menang darinya.
"Halo kalian berdua adik kembar Haris ya, Tika dan Tiwi?" Juwita tersenyum ke arah kedua kembar yang tengah bersiap mengambil makanan.
"Iya, kakak namanya siapa?" Tiwi tersenyum manis ke arah Juwita.
"Juwita, dan dia Brayen," ujar Juwita memperkenalkan dirinya dan Brayen.
"Loh dokter Juwita?" tiba tiba kedua kembar tidak identik muncul di belakang mereka.
"Kalian kenal?" Tika memandang bingung ke arah keduanya.
"Iya, kami sering bertemu di persatuan dokter Indonesia, di sana semua dokter bertemu," jelas Riska mengambil alih piring yang ada di tangan Tiwi.
"Halo dokter Juwita," Bambang muncul dari belakang Tika dan Tiwi.
"Eh halo dokter Bambang. Hm... Kalian siapanya pengantin?" Juwita segera menjulurkan tangannya ke arah Bambang.
"Oh saya kakaknya, dan mereka kakak sepupunya," ujar Bambang tersenyum manis, jujur saja sebenarnya Bambang memiliki sedikit rasa kagum kepada Juwita.
"Oalah," Juwita mangut mangut, mengerti akan posisi mereka.
"Sayang pergi yuk," ujar Brayen yang telah mengambil nasi dan lauk pauk, serta minuman untuk mereka berdua, Brayen melihat tatapan mata Bambang mengerti akan sorot matanya, Brayen segera memberikan sebuah gelas untuk Juwita, dan mengajak nya pergi dari tempat tersebut.
"Lah kemana?" Juwita bingung sendiri karena merasa masih ingin mengobrol dengan yang lainnya.
"Ayo pergi saja," ujar Brayen mengecup dahi Juwita, ingin memperlihatkan bahwa mereka merupakan pasangan serasi.
"Iya, kami duluan ya," ujar Juwita berpamitan.
"Cie... cepat nyusul ya dok," Riski bersorak sembari melirik Bambang, yang tangannya sedikit terkepal.
"Riski, Riska, ikut ke sana tidak? Kakak mau bertemu teman teman lainnya," Bambang segera mengalihkan perhatiannya.
"Ah tidak kakak duluan saja," ujar Riska.
"Kalian mau makan?" Bambang memandang ke arah kedua adik sepupunya.
"Ah iya ini kak," ujar Riski memperlihatkan piring yang telah di ambil alih dari Tika.
"Kalian mau lauk apa?" Riska segera bertanya ke arah Tiwi.
"Rendang dan gado gado," ujar Tika dan Tiwi serentak.
"Ok tunggu di sini, kami akan mengambilkannya," ujar Riska segera menyendok makanan ke dalam piring.
"Wah baik banget, calon suami siaga nih," ujar Tika terkekeh.
"Kok cuman dua piring?" Tiwi bingung sendiri ketika melihat makanan yang mereka bawa, namun memiliki empat minuman.
"Menghemat ini namanya," ujar Riska tersenyum ke arah Tiwi.
"Heh yang nyuci bukan kita juga kak," Tiwi melengos santai, mengambil alih minuman yang di bawa Riska.
"Eh ini sudah mengambil banyak loh," Riski menyodorkan minuman mereka ke arah Tika.
"Hm ya sudah lah," Tika juga mengambil alih minuman mereka.
"Ayo ikut," Riski segera menuntun mereka menuju lantai atas.
"Ke mana?" Tiwi mengikuti langkah Riski dari belakang.
"Ke atas, balkon atas bagus tak terlalu ramai," ujat Riska berdiri di belakang Tiwi.
Sesampainya di atas, memang pemandangan sekitar sangat bagus, namun hanya memiliki beberapa empat kursi dengan dua meja, di mana letak mereka sedikit berjauhan.
"Nah disini pas..." ujar Riska berjalan ke arah kuris yang lain, setelah Riski menuntun Tika duduk di bangku.
"Kita tak bisa menyatukan mejanya? agar makan bisa ber empat," usul Tiwi.
"Entahlah, mungkin bisa," ujar Riska tersenyum licik. Riska jelas tahu bahwa mejanya permanen tak dapat di pindahkan.
"Tapi tak sudah lah, dua dua saja. Ayo Wi," Riska segera menyuapi Tiwi sembari tersenyum.
"Eh aku kira aku dengan Tika," Tiwi bingung sendiri.
"Tika dengan Riski saja ayo," Riska kembali mencoba menyuapi Tiwi.
"Eh tapi kak," Tiwi masih merasa tidak enak.
"Ayo..." Riska terus memaksa. "Aaaaa..."
Setelah menyuapi Tiwi kini giliran Riska yang menyuapi dirinya dengan sendok yang sama. Riska diam diam tersenyum sembari mengunyah.
"Cih asyik bermesraan," Riski berdecak iri melihatnya.
"Ah iya kak kita gabung saja dengan mereka," ujar Tika sudah berdiri dan hendak berjalan ke arah Tiwi, yang tengah asyik di suap oleh Riska.
"Tidak jangan," ujar Riski mencegah Tika dengan menarik tangan Tika. Sontak saja membuat Tika terjatuh ke dalam pangkuannya.
"Ah..." Tika terkejut kembali hendak berdiri namun di tahan oleh Riski. "Kak Tika mau berdiri."
"Tapi makan di sini, jangan mengganggu mereka ok?" Riski sengaja memperlambat Tika, dengan mengajukan sebuah syarat.
"Ok... ok kak," Tika setuju dengan permintaan dari Riski.