
Aliya baru saja terbangun ketika Chandra baru saja selesai mandi, Chandra memandang Aliya sejenak, kemudian melepaskan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Dasar mesum..." dengus Aliya memutar bola matanya dengan malas, menggeleng tak percaya melihat kelakuan suaminya, yang memang tidak tahu malu.
"Halah biasanya juga men*de*sah kalau di bawah ku," ujar Chandra segera menunduk memungut dan melemparnya ke arah Aliya.
Aliya terkejut mendapat lemparan dari Chandra, hanya mendengus kesal. Dirinya terlalu malas untuk berdebat dengan suaminya. "Cih dasar si Tono," gumam Aliya.
"Hari ini hari terakhir loh Cil, besok gue udah bisa garap sawah lagi," ujar Chandra terkekeh.
"Giliran itu aja ingat," Aliya kembali memutar bola matanya dengan malas, segera berjalan menuju kamar mandi. Namun kata kata Chandra berhasil menghentikan langkah Aliya.
"Yang udah tau belum?" Chandra menghadap Aliya dengan masih mengenakan ce*lana da*lam nya.
"Tahu apa ni? Tahu bulat? tahu Sumedang?" Aliya memandang Chandra dengan kesal, pasalnya sejak tadi Chandra baru mengenakan ce*lana da*lam saja.
^^^Cih, apa dia sebangga itu dengan apa yang ia miliki, sehingga dia suka sekali memamerkan nya? Aliya berdecak kesal melihat tingka suaminya.^^^
Bukannya terlihat keren, justru di mata Aliya Chandra seperti anak TK yang memang belum mengenal malu jika hanya berpa*kai*an da*lam. Hanya saja bedanya dada bidang Chandra yang seperti roti sobek.
"Yang seriusan ini," ucap Chandra cemberut, pasalnya Aliya sejak tadi memandangnya dengan pandnagan tak percaya. Bahkan kata kata dari Aliya membuktikan bahwa istrinya itu memang tak mempercayai nya.
"Ha iya apa?" Aliya bertanya sembari berjalan ke arah Chandra, Aliya segera meraih kemeja yang ada di tangan Chandra.
"Haris sama Nita mau nikah," Chandra tersenyum memberikan kemejanya, faham dengan maksud dari Aliya. Chandra merentangkan tangan kala Aliya memberikan isyarat agar Chandra merentangkan tangannya.
"Iya bagus dong, dari pada Paijo, ga nikah nikah," Aliya terkekeh sembari mengancingkan kemeja Chandra.
"Yang seriusan ini loh yang," Chandra kembali cemberut kala Aliya kembali memberinya candaan.
"Iya, bagus dong... terus apa masalah nya?" Aliya berlalu menuju lemari, mengambilkan Chandra celana dasar milik suaminya.
"Masalahnya ga ada yang, cuman mau bawa berita," Chandra berkacak pinggang memandang Aliya yang tampak sangat santai mengambil celana dasar miliknya.
"Oalah, sekarang suka ngegosip ya?" goda Aliya sembari berlutut mengangkat kaki kanan Chandra, untuk segera memasukkan kaki Chandra kedalam celana.
^^^Dasar bayi besar, pakai pakaian saja harus di pakaikan, jika tidak pasti akan lama ini. Aliya berdecak di dalam hatinya melihat kelakuan manja suaminya.^^^
"Kan dari dulu yang, kan kamu yang ngajarin," Chandra segera memegang pundak Aliya, sembari menaikkan kaki kirinya, agar istrinya tercinta itu dapat menaikkan celananya hingga ke pinggang.
Chandra menyambar dasi, kaus kaki dan sepatu milik nya, mengikuti Aliya ke kamar mandi. "Masa?" Chandra ikut masuk ke kamar mandi.
"Iya, diam diam punya gebetan, diam diam banyak yang suka, diam diam di lamar," kelakar Aliya belum menyadari bahwa Chandra mengikutinya, hingga di kamar mandi.
"Itu kamunya yang sok laku yang," ujar Chandra ketika Aliya hendak menurunkan celananya, untuk segera buang air kecil.
"Eh kamu ngapain di sini curut..." Aliya memekik setengah berteriak, Aliya sangat terkejut ketika Chandra ternyata berdiri di belakangnya dengan menenteng dasi, kaus kaki dan sepatu. Pantas saja tadi Aliya merasa suara Chandra sangat terdengar jelas, seperti tak berjarak.
"Masih mau cerita loh yang," ujar Chandra meletakkan sepatu miliknya di lantai.
"Ush... sana jauh jauh, aku mau mandi loh," ujar Aliya mengibaskan tangannya, segera duduk di atas kloset dengan santainya.
"Biasa aja kali yang, kan aku udah lihat semuanya," Chandra dengan santainya memasang dasi ke lehernya, dengan memandang cermin yang tersedia di kamar mandinya.
"Aku mau mandi loh," Aliya berdiri, setelah merasa selesai dengan hajatnya.
"Mandi aja sana, siapa yang ngelarang kamu loh," Chandra menutup closet dan duduk di atasnya, sembari mengenakan kaus kaki miliknya.
"Ngomong ngomong memangnya kamu punya mantan yang?" Chandra mandang ke arah Aliya yang tengah bersiap merendam dirinya di dalam bathtub.
"Enak saja, ya ada lah, mantan mantan ku tu ngejar ngejar sampai kita nikah, baru deh mereka berhenti mengejar," ujar Aliya segera memandang ke arah Chandra, kepalanya ia sandarkan di bibir bathtub.
"Ya iya lah, kamu punya hutang dengan mereka," ejek Chandra baru saja selesai mengenakan semua kaus kakinya.
"Enak saja, kamu pikir aku apaan?" Aliya memanyunkan bibirnya, kembali fokus pada mandinya.
"Memangnya kenapa?" Chandra semakin gencar menggoda Aliya.
"Eh asal kamu tahu ya, tanya saja sama semua mantan mantan ku, siapa yang membiayai hidup mereka dulu?" Aliya kembali melirik dengan tajam ke arah Chandra, sontak saja membuat Chandra terkejut. Chandra fikir bahwa Aliya kah yang membiayai semua mantan mantannya.
"Hah... Kamu ga bercanda kan? Kamu menghidupi mereka? Wah pada matre mereka," "Pantas saja kau memilihku." Chandra heboh sendiri, bahkan tangannya terhenti ketika hendak memasang sepatunya.
"Ya... ya... ya tidak lah, tentu saja mereka yang membiayai hidup mereka... hahahaha," Aliya terkekeh melihat wajah terkejut Chandra, sungguh dirinya sangat puas melihat tingkah Chandra.
"Kau... ini tidak lucu tahu..." Chandra mencoba menyerang Aliya, namun gadis itu berancang ancang hendak menyiram Chandra yang telah berpakaian lengkap.
"Hahaha... kau saja yang mudah tertipu..." Aliya semakin tergelak berhasil mengerjai suaminya.