
"Sayang mau lagi," kata Chandra terdengar jelas di telfon.
Aliya hanya tersenyum sinis memandang suaminya, yang memang super jahil ini. Aliya sudah tahu kalau suaminya ini ingin mengerjai mertua dan juga Brayen, yang menelfon dari ujung sana. Sebenarnya Aliya sudah bangun saat tadi Chandra tertawa kencang, namun Aliya kembali berusaha untuk tertidur. Namun saat mencoba untuk tertidur, tiba tiba Chandra meraup rakus bibirnya. Sontak membuat dirinya membuka mata.
Awalnya Chandra mengira bahwa Aliya akan marah besar, tampak jelas sedikit wajah terkejut Chandra. Namun di luar dugaan Chandra, ternyata Aliya justru membantunya. Yah, Kapan lagi kan bisa mengerjai mertua dan Brayen dalam waktu bersamaan. Hitung hitung sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.
"Hm, tapi pelan pelan," kata Aliya sontak semakin membuat para pengguna telfon di ujung sana traveling. Terlebih Brayen baru saja melihat video laknat dari Chandra, yang membuatnya menelan ludah kasar. Terlebih dirinya masih ting ting, dan suci karena dia dan Chandra sama sama penganut no se*x before marriage.
"Dasar kalian pasangan somplak, ini masih nyambung, asal sambar aja," umpat nyonya Mona dan Brayen segera mematikan sambungan ponselnya.
Aliya segera mendorong suaminya untuk menjauh, Chandra terkekeh terlebih mengingat raut wajah kedua orang itu. "Nyai Ronggeng tadi lucu banget, sama kayak Brayen."
"Iya lucu, lucu benget, udah ah besok kita mau cepat bangun," kata Aliya segera menutup matanya. Aliya segera memunggungi Chandra, namun Chandra dengan sigap membalikkan tubuh Aliya, hingga memeluknya dengan erat.
"Enak aja , udah di kasih enak enak, eh malah di balas punggung," kesal Chandra mengeratkan pelukannya.
"Kayak gue aja yang minta, padahal dia yang maksa," kesal Aliya namun tetap memeluk tubuh Chandra dengan erat.
"Kan lo yang mancing," balas Chandra tak ingin kalah.
"Eleh iman lo aja yang ga kuat," bantah Aliya juga tak ingin kalah.
"Si Jubaedah yang terlalu menarik untuk si Tono," kilah Chandra.
"Ya iyalah sahabat karibnya, yang iman nya cetek, kayak air comberan," bantah Aliya, dan akhirnya kembali lagi adu mulut terjadi, meski dalam posisi berpelukan.
......................
Pagi ini Chandra dan telah bersiap siap untuk segera mandi. Kedua pasangan yang terkenal somplak itu, kini sedang menuju ke ruang makan, mereka berencana akan pergi bertemu klien, lalu siangnya melanjutkan perjalanan untuk bermain sky. Bermain di pantai kini sudah batal, pasalnya saat ini menjelang akhir tahun, maka ini adalah musim dingin yang mengalami empat musim, karena itu saat ini salju tengah turun di Korea. Chandra tengah memperbaiki syal yang di kenakan Aliya, saat mereka akan pergi sarapan.
Yah, walaupun mereka memang tak pernah menyatakan secara resmi, permintaan maaf setelah bertengkar. Namun baik Chandra dan Aliya, mereka sama sama mampu memahami satu sama lain, mereka tidak akan memiliki masalah, ataupun marah. Meskipun mereka beradu argument sebelumnya.
Selepas sarapan Chandra segera mempersilahkan Aliya, untuk memasuki mobil mereka duluan. Chandra kemudian mengemudikan mobil mereka, menuju tempat yang telah di tentukan. Mereka akan bertemu klien penting.
Aliya dan Chandra melenggang santai memasuki ruangan meeting. Bak seorang pasangan yang selalu adem ayem, mereka saling bergandengan tangan, sehingga membuat beberapa orang di sekitar mereka tersenyum melihat kemesraan.
Mereka segera menuju meja yang telah mereka pesan, sembari menunggu kliennya. Chandra meminta Aliya untuk mendekat. Chandra sebenarnya sedari tadi menahan tawa ketika melihat Aliya yang terus bergerak risih. Chandra tahu betul bahwa Aliya tidak terlalu nyaman mengenakan syal tersebut, namun akibat bekas stempel kepemilikan Chandra, dirinya mau tidak mau harus mengenakannya, meski sejak tadi terus saja menggeser syal tersebut, hingga kembali berantakan.
"Baik baik pakainya, tuh kelihatan," kata Chandra kembali memperbaiki syal yang di kenakan Aliya. "Jangan di geser lagi nanti kelihatan stempel gue yang berharga."
"Iya lain kali ga akan di leher lagi," kata Chandra terkekeh. 'Tapi di belakang telinga juga bisa di coba,' gumam Chandra di dalam hati. "Gue bakal buat stempel di da*da kayak lo buat stempel di sana." Chandra menunjuk dada bidangnya, senbari mengeringkan matanya.
"Aish jangan ngomong itu lagi," kesal Aliya mengalihkan pandangannya mencoba menghilangkan rona merah di pipi.
"Mana mukanya? Cie malu malu kucing,"
"Terserah lo,"
Tak lama kemudian klien mereka datang, sesuai dengan perjanjian Aliya menjadi penerjemah, di antara mereka.
Setelah klien itu pergi, Aliya dan Chandra memutuskan untuk makan siang di sana. Namun sesuatu yang terjadi, tiba tiba seorang laki laki yang cukup tampan masuk.
"Hai Al," sapa orang itu, sembari tersenyum lebar.
"Hai Jeong," sapa Aliya santai sembari tersenyum.
"잘 지내고 있나요?" (Apa kabar?) Aliya tersenyum menyambut kedatangan temannya, yang kabarnya bernama Jeong.
"Dia siapa?" Chandra penasaran, terlebih lagi mereka tampak sangat akrab.
"Temanku saat sedang tugas di sini kemarin," kata Aliya singkat. Tampak laki laki yang lebih cocok jadi artis tersebut, semakin mendekati Aliya.
"오랜만 이네요," (Lama sekali tidak bertemu,) kata Jeong segera memeluk Aliya dengan erat.
"예, 우리 모두가 함께 그리워요," (iya aku merindukan kebersamaan kita semua) Aliya tampak sangat antusias, sehingga melupakan Chandra yang memandang mereka dengan pandnagan kesal.
Setelah berbincang sejak lama, akhirnya mereka segera pamit kepada Jeong. Jeong merupakan salah satu teman satu rekannya, saat sedang bertugas di Korea, namun setelah mereka berpisah, mereka sudah jarang berhubungan. Terlebih lagi ketika ponselnya di rumah oleh Chandra.
Sepanjang perjalanan Chandra hanya diam saja, bahkan dirinya tidak jadi untuk pergi main sky bersama Aliya. Aliya mengernyitkan dahi ketika mereka sampai di penginapan, bahkan Chandra turun terlebih dahulu, meninggalkan Aliya di dalam mobil, yang terbengong bengong melihat kelakuan ajaib suaminya.
"Al mau turun atau mau masih di dalam mobil," teriak Chandra membuat Aliya terkejut, dan segera turun dari dalam mobil.
"Dia kenapa aneh," gumam Aliya heran ketika melihat kelakuan aneh Chandra. Aliya segera turun, sebelum di teriaki untuk kedua kalinya oleh suami anehnya.
Ah, tampaknya Aliya tidak menyadari bahwa Aliya tengah cemburu buta kepada dirinya. Bahkan Chandra sudah mulai kesal ketika teman Aliya baru datang, dan menyapa Aliya dengan sangat akrab, terlebih ketika mereka berbincang tampak akrab, dan bahkan Aliya melupakan dirinya.
"Curut lo kenapa sih? Ga jadi main sky?" Aliya setengah berlari mengejar Chandra yang telah mendahuluinya. Namun Chandra menulikan telinganya seolah tak mendengarkan panggilan Aliya yang setengah berteriak. "Chandra lo marah ya sama gue? Gue minta maaf."