SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Haris



Fika mendengus kesal setelah keluar dari ruangan Chandra, dirinya terus berjalan dengan wajah yang menegang. Meski badannya tegap dengan berjalan anggun, tapi dirinya tetap tak bisa menyembunyikan kekesalannya.


Haris yang baru saja keluar dari lift, segera berlari kecil ke arah lorong, demi bersembunyi dari Fika. Dirinya tak ingin bertemu dengan gadis sombong itu. Beberapa karyawan melihat tingkah Haris sedikit mengernyitkan keningnya. Bagaiman tidak Haris yang biasanya kalem, tegas, dan berwibawa. Tiba tiba menghindari pertemuan dengan seseorang.


Setelah Fika memasuki ruang bergerak, untuk ke lantai satu. Barulah Haris keluar dari persembunyiannya. "Alhamdulillah selamat dari dedemit ulet keket," gumam Haris mengusap dadanya.


Baru saja ia ingin melangkah ke ruangannya, tiba tiba Haris teringat sesuatu. Haris segera mengambil ponselnya dan menelfon seseorang. "Halo kempeskan sekarang juga ban mobil alvart hitam les biru," Haris tersenyum puas, rasanya kekesalan karena melihat adegan yang melukai jiwa jomblonya terbebaskan.


Haris kembali melangkah namun langkahnya kembali terhenti ketika ponselnya berbunyi. "Halo nyonya?" Haris segera menyapa dengan ramah orang yang di seberang sana.


"Apa terjadi sesuatu di sana?" Ah, tampaknya si penelpon adalah seorang cenayang, bisa bisanya ia tahu telah terjadi sesuatu.


Haris tersenyum, tampaknya ia akan memiliki pemasukan lebih mulai saat ini. "Iya nyonya, tadi ada perempuan bernama Fika. Tampaknya teman SMA tuan muda, namun yang lebih mencengangkan ternyata tuan muda tak tahu siapa wanita itu."


Ya, jika di dengar dari nada bicaranya, itu adalah nyonya Mona, pengawas sekaligus pemasukan sampingan bagi Haris, sekertaris licik, namun setia. Haris bercerita banyak hal tentang Fika, yang tadi bertandang, dan sibuk mencari perhatian Chandra, hingga akhirnya kemunculan Aliya, dan kemesraan yang mereka pamerkan.


Sementara Haris si tukang adu tersebut mengadu kepada nyonya Mona, si Fika wanita calon pelakor, yang malang nasibnya. Baru satu langkah menjalankan aksinya, ban mobilnya sudah bocor, satpam yang di tanya acuh tak acuh mengatakan itu diluar kendali mereka, karena ban bocor tidak termasuk ke dalam bentuk tanggung jawab mereka, terkecuali ban hilang.


"Jadi bagaimana ini, tadi baik baik saja," kesal Fika karena memang sejak tadi emosinya terkuras habis, akibat adegan live sepasang suami istri di atas, yang tengah menikmati makan siangnya. Belum lagi perutnya yang keroncongan.


"Mohon maaf nyonya, sudah kami bilang, masalah ban bocor itu bukan termasuk tanggung jawab kami," sekali lagi satpam yang merupakan pelaku kedua tersebut menjelaskan dengan nada sok tegas. "Jika nyonya mau silahkan cari taksi, karena bengkel di sini cukup jauh."


"Agh... Ga ada yang becus kalian," kesal Fika, menghentak hentakkan kakinya. Dengan terpaksa ia meraih ponselnya yang berada di dalam tas, kemudian menelfon bengkel langganan nya. Fika kemudian membuka aplikasi taksi online, agar dirinya dapat segera pergi dari perusahaan yang berubah menyebalkan di matanya. Ah, terkecuali Chandra, tentu saja Chandra tidak menyebalkan.


Fika mendelik ke arah satpam tersebut, yang dengan santainya duduk di bawah pos jaga, yang telah di kunci dari dalam, dengan meletakkan tulisan staf only, dan tamu harap lapor. Fika benar benar kesal di buatnya, ingin rasanya Fika mencakar wajah satpam dengan tampang menyebalkan tersebut. Tapi dirinya baru saja melakukan perawatan kuku kemarin, bisa bisa perawatannya rusak lagi.


Sementara di lantai atas tampak seorang pemuda tersenyum sembari memegang telfon dan juga sebuah teropong, laki laki itu tersenyum puas ke arah jendela. Ya, Haris saat ini tengah melihat Fika dari balik teropong, setelah memberitahu kan perbuatannya terhadap Fika, nyonya Mona segera meminta Haris melakukannya lagi jika wanita itu datang lagi, bahkan nyonya Mona memberikan hadiah karena senang dengan kerja Haris.


"Halo, buat genangan di bawah pohon, kemudian cipratan," Haris kembali dengan rencana liciknya, tak cukup puas membuat dedemit ulat keket tersebut harus menaiki taksi panas, dan tidak memberi tumpangan untuk berteduh, dirinya sekarang malah merencanakan hal lain.


"Maaf anda hanya tamu, sedangkan jika sesuai aturan disini, hanya pegawai atau staf yang boleh masuk ke dalam," ujar satpam tersebut, dengan raut wajah biasa saja, cendrung mengesalkan.


"Oh memangnya apa bagusnya tempat kamu? Ada sesuatu berharga?" Fika semakin kesal di buat oleh satpam belagu tersebut. "Satpam aja sombong, gue bilang ke bos lo baru tau rasa."


"Silahkan Bu, ini adalah aturan dari perusahaan kami," jawab satpam tersebut santai, dirinya yakin ini aman. Karena ini adalah perintah langsung dari tangan kanan CEO mereka, yang kekuasaannya hampir sama seperti CEO mereka.


"Dasar sia lan," Fika menghentakkan kakinya menuju pohon besar di samping pagar perusahaan, tepat di pinggir jalan raya, namun naas sebuah mobil membuang botol berisi air, hingga bajunya terciprat. Sontak saja Fika semakin kepala di buatnya.


"Woi punya mata ga? Gue bukan tong sampah," teriak Fika sudah kesal hingga ke ubun ubun. Belum lagi kesalnya reda, tiba tuan sebuah mobil kembali melintas, dan melindas botol berisi air tadi, hingga airnya muncrat ke arah Fika. Bertambah lah kekesalan Fika hari ini. "Agh... Si al, si aaal."


Satpam tersebut segera berlari mengintip ke arah sumber suara, yang ternyata itu bersumber dari Fika. Wanita yang sengaja di kerjai oleh bosnya, secara habis habisnya.


"Apa lihat lihat?" Fika berseru kesal melihat wajah satpam tersebut, yang sangat menyebalkan baginya.


"Oh suara anda to? Tak kirain suara dedemit, kok siang siang gini ada gitu, ternyata anda to," jawab satpam tersebut acuh, Fika semakin kesal di buatnya.


Fika berjalan ke arah botol tadi, namun naas justru ada sesuatu yang mengenai kepalanya. Saat Fika hendak berjongkok, sebuah kotoran burung tepat mengenai kepalanya. "Agh..."


Laki laki yang sejak tadi menggunakan teropong di tas sana terkekeh geli, sungguh sebuah hiburan di hari yang cukup sibuk ini.


Tok, tok, tok.


"Masuk," ujar Haris sembari masih dengan teropong ajaibnya.


"Tuan makan siangnya di letakkan di meja ya," office boy tersebut tersenyum ke arah Haris, yang memandang ke arah jendela.


"Iya terimakasih," kata Haris segera berjalan menuju ke mejanya, demi untuk makan siang. "Seriusan yang terakhir itu benar benar bukan rencanaku, mana ku tahu akan ada burung yang membantuku. Ini benar benar luar biasa, aku sangat bahagia hari ini, nyonya Mona pasti akan tertawa jika mendengarkan ceritaku," Haris terkekeh geli membayangkan tingkah Fika, yang berjingkrak jingkrak kesal. "Lebih sering saja datang, akan lebih menyenangkan pula."