SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Kamar Rahasia



Pagi ini Chandra baru saja menyelesaikan mandinya, setelah di bangunkan oleh Aliya. Aliya datang dari arah lemari, membawakan Chandra baju yang akan di kenakan nya menuju kantor. Aliya bahkan membantu Chandra mengenakan kemeja putihnya, ketika telfon Chandra berdering.


"Halo?" Chandra segera mengangkatnya ketika melihat nama si penelepon.


"Halo tuan, pagi ini ada rapat penting," ternyata penelfon tersebut ada Haris.


"Iya, sebentar lagi saya akan berangkat," Chandra segera mengecup puncak kepala Aliya, ketika melihat Aliya tengah memasukkan satu persatu kancing kemeja di lubangnya.


"Baiklah tuan, hanya itu saja, selamat pagi," Haris segera menutupnya. Tampaknya sekertaris tampan itu cukup faham, tengah mengganggu pengantin baru tersebut.


Chandra yang sejak tadi terhipnotis dengan istrinya, yang kini tengah memasangkan dasi di lehernya, tak menyadari bahwa telfon telah terputus. Chandra terus meletakkan ponselnya di telinga, seolah tengah menelfon seseorang.


"Curut telfon lo udah mati," kata Aliya memandang ke arah ponsel Chandra.


Chandra yang menyadari hal itu malu sendiri, Chandra memeluk dan mengecup istrinya untuk menetralkan rasa malunya. "Lo ikut gue ya ke kantor, nanti kalau mau ngerjain kerjaan kakek bisa dari kantor gue."


"Hm, apalah daya gue yang hanya mampu mendengarkan kata kata suami," kata Aliya menggoda Chandra, sontak membuat Chandra gemas melihat tingkahnya.


Chandra mengajak Aliya untuk segera turun. Chandra membawa tas kantornya. Chandra segera menarik kursi untuk Aliya, dan mempersilahkan wanita itu untuk segera duduk di kursi. Para orang tua tersenyum bahagia.


Setelah sarapan, Aliya dan Chandra bergegas menuju kantor. Mereka telah sepakat, bahwa tugas kantor Aliya untuk keluarga Winata di kerjakan di kantor keluarga Kostak. Chandra ingin mengawasi, dan tak ingin Aliya kecapean.


Sesampainya mereka di kantor, mereka segera menuju ruangan, Aliya tersenyum ke arah resepsionis yang berdiri di lobi perusahaan. Sementara Chandra tetap dengan sikap cuek dan dinginnya.


Pintu lift terbuka, Aliya dan Chandra keluar dari dalam lift tersebut. Mereka berjalan menuju ruangan CEO. Ketika pintu di buka, Aliya mengerutkan keningnya ruangan tersebut terlihat lebih sempit dari sebelumnya. Entah karena kursi dan meja kerja telah di tambah, hingga sama mewahnya dengan milik Chandra? Atau memang dari dulu begitu, hanya saja dirinya yang tak menyadarinya.


Chandra segera melepas tautan tangan Aliya, dan meminta wanita yang tengah hamil muda itu duduk di kursinya, sementara dirinya ke kursi kebesarannya sendiri.


"Kalau capek bilang, jangan di teruskan," Chandra memperingati istrinya, Aliya hanya mengangguk tersenyum. Chandra segera mengerjakan tugas tugasnya, sementara Aliya juga mengerjakan tugasnya. Sementara Haris yang keluar masuk, karena sebuah urusan meminta tanda tangan, dan beberapa berkas yang di letakkan nya di meja Chandra.


Waktu menunjukkan makan siang, Aliya tampaknya sudah mulai lapar, Aliya kembali membayangkan puding strawberry, dan mangga. Aliya segera menghubungi sekertaris Chandra agar masuk ke dalam ruangan suaminya.


Ah, lebih tepatnya mendengarkan permintaan istrinya, yang tiba tiba ingin makan puding buah. Sementara Haris? Laki laki malang, yang harus menerima dua tugas sekaligus hanya mengangguk angguk, dan mencatat semua permintaan istri tuannya di dalam otak. Meski sebenarnya otaknya sudah hampir overload, akibat dari titah yang mulia Chandra.


Tapi laki laki tampan itu juga tak ingin mencatatnya, itu akan seperti pelayan restoran yang sedang mendengarkan permintaan pelanggannya. Haris tak suka itu, ia lebih suka merekamnya. Ya, Haris merekam semua yang di minta bosnya, agar lebih mudah untuk mendapatkan hasil sesuai yang di inginkan sang majikan. Jika sudah tepat, dan majikan masih marah marah, tinggal berikan rekamannya, agar majikannya tidak terlalu over marahnya.


Yah, itu yang sering terjadi kepada Chandra. Laki laki muda nan tampan itu memang setia. Setianya jangan di tanya lagi, namun laki laki itu juga licik, setiap kali Chandra berbicara, atau tuan Omer dan nyonya Mona memberikan perintah, untuk menjaga Chandra. Haris selalu merekamnya, agar ketika Chandra kesal dan protes, Haris dapat mengeluarkan bukti yang membuat Chandra semakin kesal, namun tak dapat berbuat apa apa.


Chandra mengerutkan keningnya, Haris menyadari tatapan mata tuannya saat hendak pamit kepada nyonya mudanya. Haris membungkukkan wajahnya mengangguk memberi hormat kepada tuannya, kemudian berjalan menuju pintu keluar.


Pandangan Chandra tak lepas dari Haris, yang kini sudah menutup pintu kembali. Chandra kemudian memandang istrinya yang tampak memejamkan mata. Chandra melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Ah, rupanya sudah hampir tengah hari. Chandra tersenyum berjalan pelan ke arah istrinya.


Aliya yang baru saja menutup matanya, tiba tiba merasakan tangan kekar mengangkatnya dan membuatnya melayang. Ya, siapa lagi pelakunya kalau bukan suaminya Chandra.


Aliya membuka matanya, dan mendapati Chandra tengah tersenyum ke arahnya. Chandra tampak berjalan ke arah lemari, membuat Aliya mengerutkan keningnya.


"Ngapain?" Aliya memandang Chandra bingung. Chandra terkekeh, mengecup bibir Aiyla sekilas.


"Istirahat," kata Chandra bingung kemudian menarik sebuah gagang pintu, dan masuk ke dalam.


Aliya semakin bingung, Chandra mengajaknya bersembunyi di balik lemari yang penuh dengan buku? Memangnya dia apa? Apa Chandra mengajaknya main petak umpet.


Chandra yang melihat kebingungan Aliya, terkekeh dan menurunkan Aliya dari gendongannya. Chandra segera menarik satu buku yang terlihat tidak mencolok, dengan judul book. Seketika rak penuh buku, di dalam lemari tersebut bergeser, dan menampakkan sebuah kamar kecil, yang hanya ada tempat tidur, sebuah rak penuh jajanan, dan sebuah lemari kecil.


Chandra segera menarik tangan Aliya agar beristirahat di tempat tidur. "Ini cuman kecil, ga apa apa ya, soalnya kemarin dadakan."


Aliya mengangguk tersenyum senang, memeluk suaminya. Rasanya nyaman dan melegakan. Aroma tubuh suaminya yang selama ini di anggap biasa saja, kini menjadi sangat nyaman di hidungnya. Aliya menghirup udara sekitar leher suaminya.


Chandra terkekeh melihat tingkah istrinya, sungguh sangat menggemaskan. Chandra mengecup puncak kepala Aliya. memainkan rambut Aliya, dengan cara melilitkan rambut di telunjuk kemudian melepaskannya. "Ini kamar rahasia kita, tapi si Haris tahu," Aliya terkekeh mendengarnya.