SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Remedial test



...Guys tolong budayakan like dan komentar ya, tahukah anda menurut nopidia memberi like dan komentar akan menambah semangat author untuk berkomentar....


Nyonya Mona merebut kotak testpack tersebut, dan membaca tempat yang di maksudkan oleh Chandra. "Imah..."


Suara dari nyonya Mona menggelar hingga ke penjuru rumah, membuat semua penghuni rumah seketika terkejut, terkecuali Aliya yang tengah asyik makan, dirinya seolah menulikan telinganya, dan berfokus kepada makanan. Yang si empunya naman segera berlari menuju sumber suara.


Bik Imah datang dengan wajah yang terkejut, takut takut jika ada sesuatu yang salah dengannya, segera mendekati nyonya Mona.


"Iya nyonya?" Bik Imah tampak sangat takut.


"Kamu beli di mana ini?" Nyonya Mona segera memperlihatkan bungkus testpack, yang tadi sempat di gunakan oleh Aliya.


"Di apotek depan nyonya," bik Imah sudah ketakutan, takut takut kalau di marahi.


"Cepat beli lagi, perhatikan tanggal kadaluarsanya, jangan sampai salah, beli sepuluh kalua perlu," perintah nyonya Mona, segera menyodorkan uang kepada bik Imah.


"I... Iya nyonya," bik Imah segera bergegas menuju apotek, bik Imah sungguh kesal, karena tadi tidak memperhatikan tanggal kadaluarsanya. Padahal dia memang tak tahu kalau benda tersebut memiliki tanggal kadaluarsa.


"Awas saja kalau sampai di sana, tak marahi," sungut bik Imah, merasa di tipu oleh penjual obat, di apotek tersebut.


Kita tinggalkan bi Imah, dengan amarahnya kepada penjual obat. Kita beralih ke ruang keluarga di mana nyonya Mona dan Chandra tengah duduk, dan membicarakan tentang remedial tes, untuk mengecek kehamilan Aliya secara manual. "Tes lagi ma?" Chandra sedikit bingung, takut membuat Aliya sedikit tertekan.


Jika dirinya itu mungkin berfikir bahwa belum rezekinya, dan bertanda si Tono akan lebih sering ngapel di rumah Jubaedah. Namun bagaiman dengan istrinya? Mana mungkin begitu. Chandra mengenal Aliya, mungkin saja istrinya berfikir bahwa dirinya terlalu di tuntut, sehingga akan membuatnya sedikit tertekan.


"Iya testpack nya salah," kata nyonya Mona tenang, tampaknya nyonya Mona benar benar yakin jikalau Aliya tengah berbadan dua.


"Mah kalau hasilnya sama gimana?" Chandra masih tak tega melakukan hal tersebut.


"Ga apa apa, kalian bisa berusaha lagi kok. Kalau perlu minum obat penyubur kandungan.


Tak lama kemudian bik Imah datang dengan plastik putih, dan beberapa tes kehamilan di dalamnya. Bik Imah tampak tersenyum canggung ke arah nyonya Mona.


Nyonya Mona yang hafal betul dengan kelakuan maid nya satu ini, menjadi curiga. Nyonya Mona segera membuka plastik putih tersebut dan menghitung testpack nya. "Lah kok cuman ada sembilan mah?"


Jangan nyonya Mona, bahkan Chandra pun kaget. Pikirannya sudah kemana mana, padahal bik Imah masih sangat muda, bahkan hanya lebih tua 2 tahun dari Aliya.


"Imah minta satu nya," kata bik Imah sedikit tersenyum malu malu, bak anak perawan tengah menyatakan cinta.


"Apa? Kamu kan belum nikah? Siapa yang lakuin itu ke kamu? Pak Ujang? Siapa?" Nyonya Mona begitu syok mendengar perkataan dari bik Imah.


"Iya bilang aja, biar langsung di nikahi," Chandra juga tak kalah syok dengan hal tersebut, pasalnya dirinya tak menyangka bik Imah akan melakukan hal tersebut.


"E eng engga nya, Imah cuman mau ngetes aja penasaran," kata bik Imah tersenyum malu malu.


Bagaimana tidak dirinya di tuduh hamil, padahal dirinya belum pernah melakukan apapun kepada laki laki, bahkan dirinya masih ting ting hingga saat ini. Bik Imah hanya penasaran dengan cara kerja alat tersebut.


Mendengar pernyataan dari bik Imah, nyonya Mona dan Chandra segera menepuk jidat masing masing, tak menyangka dengan cara kerja otak kiri bik Imah.


"Astaghfirullah ya Allah," Chandra terpekik, kini mengikuti jargon kakek Rio.


"Ya ampun Imah... sana pakai kamar mandi yang di ujung," kata nyonya Mona segera memijit pangkal hidungnya, nyonya Mona tak menyangka maid polosnya memiliki tingkat penasaran sebesar itu.


"Iya nya permisi," kata bik Imah segera beranjak ke kamar mandi.


Nyonya Mona hanya menggeleng melihat tingkah laku bik Imah, yang bahkan berlari masih seperti anak kecil, namun sudah penasaran dengan testpack.


"Loh Al mana?" Nyonya Mona ke arah tuan Omer dan kakek Rio, yang ternyata tadi ikut menikmati puding mangga dan strawberry.


"Kedapur, ngeliat koki lagi buat puding," tuan Omer segera menunjuk ke arah dapur, sembari menyesap jus jeruk miliknya. "Yang mama pegang apa?" Tuan Omer menunjuk kantung kresek itu dengan dagunya.


"Ini testpack baru," nyonya Mona tampak santai ketika mengatakan hal tersebut.


"Mah papa tau mama terlalu bersemangat, tapi kasian Al ma," tuan Omer mencoba menasehati istrinya, takut perbuatan istrinya akan melukai menantu satu satunya.


"Engga pa, tadi itu kadaluarsa. Mama yakin Al lagi isi itu," kata nyonya Mona kekeh dengan apa yang di yakini nya."Chandra kamu coba lihat masa kadaluarsa nya."


"Iya ma," Chandra ikut saja perintah nyonya Mona, kemudian meletakkan testpack nya ke atas meja makan. Chandra segera mengecek masa kadaluarsa nya, satu persatu dengan teliti.


"Sebanyak ini?" Kakek Rio sedikit berbisik ke arah Chandra.


"Iya kek mama kayaknya yakin banget Al ngisi, padahal Chandra aja ga tau.


Nyonya Mona ke dapur menyusul Aliya. Aliya tengah makan strawberry yang di gunakan untuk membuat puding, seorang koki saat ini sibuk dengan kembali membuat puding dan satu lagi membuat kue coklat tampaknya.


Nyonya Mona memperhatikan tingkah laku menantunya, tersenyum sendiri. "Mama yakin kamu hamil Al, tingkah kamu kayak mama dulu lagi hamil si Chandra."


"Al sayang, sini nak," nyonya Mona segera mendekati Aliya, yang saat ini tengah memasukkan buah strawberry ke dalam mulutnya.


"Kenapa ma?" Aliya bertanya sembari mengunyah buah strawberry nya. Membuat nyonya Mona terkekeh melihat tingkah Aliya.


"Kamu test lagi ya," kata nyonya Mona mengusap lembut kepala menantunya.


"Tapi mah," Aliya tampak ragu, takut mertuanya dan kakeknya, terutama Chandra akan kecewa lagi. Sudah cukup tadi dirinya melihat wajah wajah kecewa mereka.


"Ga apa apa, tadi alatnya sudah kadaluwarsa," bujuk nyonya Mona, agar Aliya tidak ragu dan mau melakukan remedial tes kehamilan.


"Nanti ga sesuai dengan keinginan," Aliya bingung, kini mengerucutkan bibirnya, membuat nyonya Mona gemas dan mencubit pelan pipi Aliya.


"Ga apa apa, kan bisa usaha lagi," nyonya Mona masih setia membujuk Aliya. Nyonya Mona paham betul ke khawatiran Aliya, namun dirinya juga yakin Aliya saat ini tengah berbadan dua.


"Tapi," Aliya masih menunjukkan wajah ragu.


"Ga apa apa, ayo," nyonya Mona segera menuntun Aliya untuk berdiri.


Nyonya Mona segera menggandeng tangan Aliya ke ruang makan, tampak Chandra telah selesai memandangi tanggal kadaluarsanya.


"Ada yang kadaluarsa ga?" nyonya Mona memandang ke arah Chandra.


"ga ada ma," jawab Chandra tersenyum ke arah Aliya.


"Nah Al kamu pakai dulu dua, nanti kita cek sama sama," nyonya Mona segera menyodorkan dua testpack ke arah Aliya, dan dengan pelan mendorong tubuh Aliya ke dalam kamar mandi.


Bagaimana ya hasilnya teman teman?


A. Apakah Aliya hamil beneran?


B. Aliya belum hamil.