
"Kau!? Kau memegang apa barusan? Kau benar benar menginginkannya? Kita ke KUA sekarang, aku meminta pertanggungjawaban mu," Haris diam diam melihat ekspresi Arnita yang melongo di hadapannya.
"Kau tidak gila kan?" Anita masih setia memasang tampang syok di hadapan Haris.
"Aku gila? Seharusnya aku yang bertanya. Kau memegangnya seperti ini," Haris menarik kembali tangan Arnita, sontak membuat Arnita terbengong sendiri,melihat kelakuan aneh musuh bebuyutannya sejak SMA.
"Dasar mesum!" teriak Arnita ketika mereka telah lama bertatapan. Arnita menarik tangannya, menjauh dari benda yang Haris sebut suntikan.
"Kau yang mesum, Kau memegangnya sudah dua kali," ujar Haris mengangkat dua jari nya. Bahkan saat ini Haris memasang tampak tak percaya. "Aku akan melaporkan perbuatan mu kepada kakak mu, agar kau bertanggung jawab, jika kau tak sabar lagi bilang saja, babang ikhlas kok, asalkan sah."
Haris menaik turunkan alisnya menggoda Arnita, sembari menikmati wajah Juwita yang memerah, sementara bibir gadis itu terbuka sedikit. Menandakan gadis itu masih syok dengan apa yang di katakan oleh Haris. "Kalau diam berarti iya."
^^^Aduh ingin ku gigit bibirnya, sudah lama aku tak merasakan bibir ber lipstick, terlebih aromanya sangat lembut, pasti manis. Haris.^^^
Ucapan terakhir Haris menyadarkan keterkejutan Arnita, dengan apa yang baru saja di katakan oleh Haris.
"Kau yang membuat ku melakukannya," teriak Arnita tak terima semua tudingan Haris.
"Memangnya aku memerintahkan mu?" Haris tersenyum senang, karena tampaknya kali ini ia akan mendapatkan kemenangan telak dari perdebatan nya dengan Arnita.
"Ti... tidak, tapi..." Arnita sedikit gugup, karena benar saja bahwa Haris memang tak memerintahkannya.
^^^Dasar Pedut... Berani sekali dia. Arnita^^^
"Tapi apa?" Haris mendekat ke depan wajah Arnita, hal itu semakin membuat Arnita panik.
"Menjauh dari ku," Arnita mendorong tubuh Haris. Wajahnya memerah, pasalnya jarak mereka saat ini sangat dekat, Arnita dapat merasakan hembusan nafas hangat Haris.
Seketika jantung Arnita berdetak kencang, pasalnya dirinya belum pernah berdekatan dengan laki laki manapun terkecuali dengan kakaknya. Terlebih dengan jarak seperti ini.
"Kau harus bertanggung jawab," Haris memiringkan wajahnya, membuat mata Arnita memejam secara refleks, Haris tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Arnita.
"Kau jangan macam macam ya," ujar Arnita kencang, menutup matanya dengan sangat erat.
"Siapa?" Juwita juga tiba tiba berbisik, suaranya seakan hilang entah kemana.
"Dia, suntikan vaksin mu nanti," ujar Haris menjauhkan badannya. Jika sudah begini bukan Arnita yang akan kewalahan, namun dirinya.
^^^Sabar, nanti ada saatnya, kau bisa menghabisi bibirnya yang manis itu. Haris.^^^
"Nanya," ujar Arnita membuyarkan lamunan indah Haris, yang tengah beradegan ci*uman panas dengan Arnita.
"Kau!" Haris menggeram gemas melihat tingkah Arnita. Haris segera menyerang Arnita dengan gelitikan.
"A... aha.. ap... pa?" Arnita tertawa, ketika Haris menggelitik dirinya.
"Sini!" Haris semakin bersemangat menggelitik tubuh Arnita.
"Tidak mau!" Arnita berusaha menolak gelitikan dari Haris.
"Sini!" Haris terus menyerang bagian perut Arnita, sehingga gadis itu tertawa mengeluarkan air mata nya.
"Ti..."
Tok tok tok.
Suara ketukan mengejutkan kedua insan tersebut. Haris segera membenarkan duduknya, dan membuka kaca jendela. "Ada apa pak?"
"Mohon maaf kalian berhenti terlalu lama, dan mobil kalian bergoyang. Hm... seperti..." lelaki paruh baya tersebut sedikit terlihat bingung ketika hendak mengatakannya.
"Oh tidak pak, tadi istri saya mengamuk, gara gara cemburu, jadi harus saya tenangkan, mohon maaf, jika seperti orang yang hm tadi," ujar Haris, sekali lagi mengejutkan Arnita.
"Ya sudah mohon selesaikan di rumah saja, takutnya memanggang warga sekitar, dan juga berbahaya," nasihat pria tersebut, yang tampaknya seorang warga sekitar.
"Baik pak terimakasih atas perhatiannya, sampai jumpa," Harus segera melajukan mobilnya.