SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Haris aneh



Arnita dan Haris masuk ke dalam ruangan Chandra dengan bersamaan, mereka bersungut, dan saling memandang dengan sengit. Mereka baru bertemu di luar ruangan tadi, dan tidak menimbulkan perdebatan yang membusungkan. Namun pandangan mata merek yang saling mengukur kekuatan masing masing, seolah telepati mereka yang saling berperang.


"Kak Nita, tumben ga ada ribut," pancing Aliya, yang senang mendengar keributan di antara mereka.


"Lagi puasa non, puasa bertengkar, mau menenangkan pikiran saya yang positif," ucap Arnita tersenyum manis, namun saat mengalihkan pandangannya ke arah Haris, pandangannya tiba tiba berubah sinis.


"Eh kak Nita kemarin jalan jalan ya di mall?" Aliya memulai jurus pancing emosi, demi melihat reaksi dari sekertaris suaminya.


Chandra juga tak ingin ketinggalan drama yang di buat pagi ini, dirinya bahkan dengan sangat sadar diri menghentikan aktivitas nya.


"Eh non kok tahu?" Arnita mengernyit bingung, bagaiman mungkin nona muda ini tahu tentang aktivitas nya kemarin. Tak mungkin kan nona mudanya ini diam diam menitipkan mata mata, untuk mengawasi dirinya. Pikir Arnita.


"Iya kemarin jalan juga sama si pak bos," Aliya melirik suaminya, yang saat ini tengah memandang ke arah dirinya dengan tersenyum menawan.


Haris bahkan mengumpat tuan mudanya itu ketika melihat senyum menawan, khusus untuk nyonya mudanya. Dasar bucin akut, padahal sudah akan punya anak. Umpat Haris yang jujur saja sebenarnya ia juga iri, ingin seperti itu, tapi tidak tahu dengan siapa, selama ini dirinya tidak dekat dengan siapa siapa, yang mengenal dirinya dengan sangat baik justru musuh bebuyutannya. Arnita.


"Oh ya kemarin cowoknya ya?" Aliya segera menembak ke arah Arnita, namun matanya melirik sekilas ke arah Haris.


Haris mendengar hal itu sontak saja terkejut, dirinya tak menyangka bahwa musuh bebuyutannya kini telah laku. Intinya semakin bertambah, namun kali ini intinya berbeda, ada debaran aneh yang menggelenjar di hatinya. Seolah sakit mendengar berita tersebut.


"Paling juga cuman di jadiin TTM aja?" Haris tampaknya bereaksi lebih dari pada ekspektasi dari Aliya. Sementara Chandra? Dirinya bahkan kini memandang jelas ke arah Haris.


"Apa sih, ga nyambung banget," kesal Arnita mendengar kata kata dari musuh bebuyutannya.


"Lah emang gitu, mana ada yang mau sama bocah SD,"ejek Haris, membuat Chandra dan Aliya tersenyum puas, tampaknya mereka berhasil memancing perdebatan yang sudah bisa mereka tebak alurnya.


"Apa sih, sirik bilang bos," ejek Arnita sembari tersenyum sinis, senyum yang paling tidak di sukai oleh Haris.


"Iya kak, pacar kakak? Soalnya mesra banget kemarin," Aliya memanas manasi Haris yang tampak memandang tajam ke arah Arnita.


"Paling cuman di manfaatin, di peras duitnya saja kau Nita," ucap Haris mengangkat alisnya, memandang tajam ke arah Arnita.


"Idih orang dia yang bayarin," Arnita menjadi sewot sendiri, laki laki yang kemarin menemani berbelanja terus di rendahkan oleh musuh bebuyutannya.


"Paling di jadiin mainan," Haris tetap kekeh pada pendiriannya, bahwa laki laki itu tidak baik untuk Arnita.


"Mainan apaan?" Arnita semakin kesal saja. Sungguh laki laki di hadapannya ini terlalu sok tahu.


Chandra dan Aliya diam diam saling melirik, mereka menahan senyum di hadapan kedua orang itu.


"Kau tak di perkenalkan kepada orang tuanya kan?" Haris tersenyum miring, kali ini ia akan mendapat kartu as dari Arnita.


"Paling kau cuman di jadikan tameng, kan bisa jadi dia tidak di restui dengan pacar," Haris tetap kekeh ingin Arnita meragukan cinta pria tersebut.


Entah apa yang membuatnya tiba tiba menjadi gusar, entah karena ia tak akan memiliki teman jomblo, atau ada hal lainnya.


"Dia tidak pernah pacaran, aku mengenalnya sejak kami kanak kanak. Dia itu jelas bukan laki laki bre*ngsek," kesal Arnita karena terus mendengar Haris merendahkan teman laki lakinya kemarin.


"Masa sih?" Haris justru semakin membuat Arnita kesal setengah abad.


"Iya lah, lagian situ siapa? Ngurusin masalah dia? Kenal saja tidak, sok tahu, sok kenalnya sangat tinggi," ejek Arnita, memandang sengit ke arah Haris. Dirinya sungguh tak tahu maksud dari Haris seperti itu. Apa mungkin Haris saat ini tengah mencoba mengibarkan bendera gencetan senjata dengannya, atau apalah, yang pasti itu sangat mengesalkan.


"Aku kan cuman memastikan," Haris bergidik mengangkat bahunya, sembari tersenyum miring. Ia tak tahu dengan hatinya, ada rasa kesal dan juga sedih.


"Memastikan apanya? Memangnya harus?" Arnita justru mencebikkan mulutnya, ia tak percaya dengan hal memastikan menurut versi Haris.


"Tidak aku hanya takut nanti ada orang yang ya galau," ejek Haris, kini terdapat seringai di bibirnya.


Aliya dan Chandra menahan tawa melihat perdebatan yang menghibur diri pagi ini, setidaknya ada yang akan menghibur mereka di saat akan memulai hari sibuknya.


"Ah atau kau yang galau saat ini? Tidak memiliki pasangan... Atau... Arnita menghentikan sedikit kata katanya... Kau cemburu pada kedekatan kami?"


"Apanya?" Haris menjadi sewot sendiri, ia tak terima di bilang begitu.


"Ah aku tahu, kau pasti diam diam suka kan dengan ku? Aku tahu aku sangat imut, karena itu kau suka kan?" Arnita menaik turunkan alisnya, sembari menggoda Haris.


"Jangan mimpi," elak Haris, berseru dengan suara hampir meninggi. Tak terima dengan semua tuduhan dari Arnita. Jelas ia tak terima, bukan kah selama ini ia menganggap Arnita adalah musuh bebuyutannya? Yang hingga saat berkuliah saja, tak ada yang bisa menggantikan tingkat menyebalkan gadis tersebut di matanya. Ya hanya Arnita wanita yang paling menyebalkan.


"Aku sedang tidak bermimpi kok," goda Arnita, gadis menyebalkan itu kembali menggoda Haris. Chandra dan Aliya hampir tak dapat menahan tawanya, jika saja tak menghargai perasaan Haris, maka mereka akan meledakkan tawa mereka.


"Ya sudah tuan saya kembali ke ruangan dulu," Haris yang mulai merasa tersebut dengan omongan gadis tersebut, segera undur diri. Karena sebenarnya tugasnya mengantar berkas telah selesai.


"Dasar aneh itu orang," cibir Arnita membuat kedua penonton tanpa bayaran tersebut hampir terkekeh geli.


"Hm, Arnita tolong antarkan ini ke ruangan Haris, saya rasa dia lupa mengambilnya," ucap Chandra seformal mungkin. Mencoba menahan tawanya.


Mau tidak mau Anita hanya bisa menurut, ia segera keluar dari ruangan tersebut, dan mengantarkan berkas tersebut ke ruangan musuh bebuyutan nya.


Setelah Arnita keluar, Aliya dan Chandra meledakkan tawanya, menertawakan Haris yang benar benar lucu menurut mereka.


"Tukan dugaan ku benar," tawa Aliya pecah kembali ketika mengatakan hal tersebut.