SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Setan Romansa



"Gue percaya, perasaan kita ini abadi. Asalkan bisa saling menjaga komitmen, selalu ingat bahwa di rumah ada yang nungguin lo, selalu ingat bahwa gue ada yang punya, maka cinta kita akan abadi. Bahkan maut pun tak dapat memisahkan kita. Hanya raga kita yang berpisah saat itu, tapi hati dan jiwa kita akan selalu bersatu."


Aliya mengecup bibir Chandra ketika dirinya telah selesai mengatakan kata kata puitis tersebut membuat, Chandra tersenyum bahagia.


"Iya makasih ya udah cinta sama gue, lo bener bener cahaya di tengah kegelapan gue." Chandra mengusap lembut rambut istrinya. "Lo tau kan, kalau lo ga ada, mungkin sampai sekarang gue masih tersesat, atau akan lebih tersesat lagi, jauh dari kata cahaya."


Chandra sangat tulus ketika mengatakan hal tersebut, membuat Aliya tersenyum. Namun bukan tersenyum karena tersanjung, Aliya justru tersenyum karena tiba tiba teringat sebuah lirik, salah satu lagu band yang pernah hits di tahun dua ribu dua belas. Dengan judul lagu butiran debu, dinyanyikan oleh rumor.


"Aku waktu itu terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, Aku tenggelam dalam lautan, luka dala...aam. Aku tersesat dan tak tau arah jalan pula...aaa...ng, Aku tanpa mu, butiran debu," Aliya menyanyikan lagu tersebut dengan percaya diri yang tinggi melebihi gunung Sinabung.


Chandra langsung saja terkejut mendengar suara cempreng istirnya, yang kalau kata dokter Juwita lebih baik dari pada kentut bebek.


"Nama ku cin..."


Nyanyian Aliya terhenti ketika Chandra menyambar bibir Aliya dengan bibirnya. Chandra bahkan me*lu*mat*nya sebentar kemudian menghisapnya kuat kuat.


"Udah ga usah nyanyi, nanti para kokinya ga jadi masak, denger kamu nyanyi pada keluar mereka," kata Chandra mengusap sudut bibir istrinya, yang basah akibat ulahnya.


"Ngapai keluar? Mau ikut nyanyi? Ga ngerti mereka, paling au au ga jelas," ucap Aliya segera mengalungkan tangannya ke leher Chandra.


Chandra dengan gemas segera mengecup bi bir Aliya, Chandra memang gemas mendengarkan ucapan istrinya, yang seolah tak merasa bahwa suaranya ibu ibarat emas, kalau diam.


"Makanya lo diam sayang," kata Chandra ketika selesai memberi bibir Aliya kecupan yang ke tiga kalinya.


Chandra yang melihat seorang wanita paruh baya keluar dari ruang memasak, di temani oleh dua orang pekerja lainnya, yang berpakaian hanbok juga. Tengah mengantar masakan untuk mereka. Chandra semakin memeluk erat pinggang Aliya. Chandra ingin menjahili Aliya. Chandra suka wajah memerah Aliya, saat dirinya tengah malu.


"번거롭게 해서 죄송합니다, 음식이 준비되어 있으니 맛있게 드시기 바랍니다," (Maag mengganggu ini makanannya telah siap, silahkan menikmati) Aliya yang terkejut mendengar suara penjaga penginapan tersebut, hendak berdiri. Namun pergerakannya terhenti ketika merasakan tangan kekar Chandra berada di pinggangnya, tengah memeluknya dengan erat.


"Curut lepas, malu. 아, 고마운 이모, 남편이 조금 무지해서 죄송합니다," (ah, terimakasih banyak bibi, maaf suamiku sedikit jahil) Aliya birbiacara dua arah, melirik suaminya sebentar, kemudian ke arah wanita paruh baya tersebut.


"아아아아아아아아아아아 문제없어 당신의 남편은 당신을 정말로 사랑해야 합니다," (aaaaa tidak tidak tidak masalah. Suamimu pasti sangat menyayangimu, karena itu melakukan hal tersebut) wanita itu sangat biasa melihat hal tersebut. Pasalnya yang biasa datang ke tempat mereka itu, biasanya pasangan kekasih, atau pasangan yang sudah menikah. Mereka biasa datang untuk honey moon.


Setelah mengatakan hal tersebut, bibi itu segera pergi dari tempat itu, masuk kembali ke tempatnya, biasanya mereka akan keluar setelah kedua tamunya pergi dan masuk ke dalam kamar mereka. Pasalnya mereka tak ingin mengganggu waktu, dan kenyamanan pengunjung mereka.


"Curut gue turun ya, soalnya gue lapar mau makan," kata Aliya berusaha untuk melonggarkan peluka Chandra di pinggangnya.


"Mau minta turun lagi?" Chandra menggoda Aliya yang wajahnya memerah seperti menahan sesuatu.


"Gue turun ya... Shhh curut, jha ngan gini, ahhh," Aliya kembali mendesah ketika tangan Chandra kembali meme*ras bok kong nya.


"Hmmp malu," keluh Aliya segera menyingkirkan tangan Chandra dari bok kong nya.


"Makanya jangan banyak protes. Ayo aaaa," Chandra segera menyuapi Aliya dengan daging panggang, yang menggugah selera.


Setelah Chandra menyuapi Aliya, Chandra segera memindahkan tangan yang tadi menghalanginya, dari peras meme*ras bokong Aliya. Chandra meletakkan tangan Aliya daerah perutnya.


Chandra kemudian ikut menyuapi dirinya. Dan acara makan tejadi berlangsung lama, pasalnya Chandra tetap ngotot mempertahankan posisi mereka, membuat Aliya hanya bisa pasrah dengan suami sablengnya.


Setelah acara makan, yang penuh romantisme. Yang berhasil di lakukan oleh Chandra. Aliya akhirnya bernafas lega, berarti dirinya bisa turun sat ini juga. Aliya segera mengambil ancang ancang berusaha turun dari pangkuan Chandra, namun entah kenapa, Chandra tak menginginkannya untuk turun. Tampaknya setan romansa telah menghinggapi Chandra. Membuat Chandra berdiri sembari mengangkat tubuh Aliya.


Ah, tubuh atletis, badan kuat. Hasil tempaan dari gym, setra beberapa latihan sebelum menikah, membuatnya sekuat ini. Bahkan mampu memapah tubuh Aliya, yang baru saja di isi makanan. Memang tubuh Aliya tidak berlemak, namun tetap saja untuk beberapa laki laki, terlebih yang tak terbiasa berolah raga itu berat.


Aliya segera mengalungkan tangannya ke leher Chandra, belum kakinya yang seketika melilit pinggang Chandra. Aliya juga merebahkan lehernya di bahu Chandra. Bahkan beberapa kali mengecup bahu bidang Chandra, membuat Chandra berdesisi aneh, di sekitar tubuhnya.


"Shhhh ahh," Chandra akhirnya tak kuat, menerima kecupan kecupan memabukkan di lehernya, yang di berikan kepada istrinya. Aliya mendengar hal itu, tersenyum puas. Aliya bahkan melakukannya lagi, hingga di di leher bawah Chandra, yang semakin membuat Chandra tak konsentrasi pada langkahnya. Chandra bahkan beberapa kali menyandarkan badannya di dinding, maupun menghimpit Aliya di dinding. Merasakan dahsyat sentuhan sentuhan dari bi bir seksi Aliya.


"Ah, sayang," Chandra berusaha meraih pintu untuk memasukkan dirinya dan juga Aliya ke dalam kamar mereka.


Blam. Tepat ketika pintu tertutup rapat, Chandra segera mendorong Aliya ke tembok dengan pelan, kemudian meraup habis bi bir Aliya. Aliya melenguh merasakan nikmatnya serangan suaminya.


Ah, tak bisa Aliya pungkiri, bahwa berperang dengan suaminya merupakan sesuatu hal yang sangat memabukkan sesuatu hal yang sangat mengenakkan. Bahkan hal tersebut merupakan perang terindah bersama sama.


Aliya menyentuh Tono, pasangan sejati Jubaedah. Yang tampaknya telah siap untuk kembali bertandang ke tempat Jubaedah. Bahkan pemanasan pun tampaknya sudah selesai.


Chandra yang sudah bilang akal, akhirnya Chandra segera melepas kaus yang di kenakan Aliya, di sela sela cum buan mereka. Saat Chandra hendak menyerang gunung Alpeniya, ponsel Aliya tiba tiba berbunyi.


Apakah malam ini mereka berhasil melakukan ritual tapak kuda kuda nya?