SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Sesi curhat malam



...Guys tolong budayakan like dan komentar ya, tahukah anda menurut nopidia memberi like dan komentar akan menambah semangat author untuk berkomentar....


Setelah melakukan ritual suci mereka Aliya tidak langsung tertidur, Aliya terus saja memikirkan tentang Juwita dan Brayen. Aliya menduga ada hal yang aneh terjadi, otak Intel nya tiba tiba bekerja. Juwita yang tiba tiba hendak berlibur, sementara Brayen yang tiba tiba mencari kekasihnya. Usut punya usut ternyata mereka tengah bertengkar.


Aliya dapat menyimpulkan hipotesis awal, yaitu Juwita pergi sebenarnya bukan hanya untuk berlibur, namun juga menghindari Brayen, atau ingin berpikir jernih mengenai keadaannya dengan Brayen.


"Curut lo ga tidur? Lo masih mau ya?" Chandra tiba tiba bersuara, membuat Aliya yang tak siap mendengar suara Chandra menjadi terkejut sendiri. Aliya segera mengusap dadanya karena ulah suaminya.


"Kutil, lo kenapa sih? Tiba tiba bangun, ngagetin orang tau," Aliya masih saja memegang dada kirinya, tepat di mana jantung Aliya berpompa lebih cepat, karena adrenalin yang di ciptakan oleh Chandra.


"Habisnya gue bangun lo belum tidur," kata Chandra terkekeh melihat wajah istrinya yang terkejut, Chandra sangat suka melihat wajah Aliya yang terkejut, terlebih jika membuat pipinya menimbulkan wajah merona, itu sangat menggemaskan menurut Chandra.


"Iya gue lagi mikir," jawab Aliya mengerucutkan bibirnya. "Eh lo kenapa bangun?" Aliya segera membalik tubuhnya menghadap Chandra.


"Ga tau, tiba tiba gue bangun, terus gue liat lo yang belum tidur. Itu ikatan suami istri kali ya," kata Chandra terkekeh sembari mengecup pipi Aliya.


"Ikatan ikatan, kaya vampir aja ada ikatannya," kata Aliya ikut terkekeh.


"Iya ada benang merahnya dari sini," Chandra menunjuk bibir Aliya, kemudian si gunung Alpeniya, dan berakhir di daerah Jubaedah, kemudian menunjuk si Tono, lalu bibirnya sendiri. "Ih kok gue cuman dua ya?"


"Ni tembolok mini," Aliya terkekeh sambil menunjuk jakun Chandra. "Awas kalau si Tono mau masuk lagi, Jubaedah mau istirahat dulu," Aliya segera memperingati suaminya, merasakan ada hawa hawa ingin ngapel dari si Toni. Padahal tadi sudah ngapel selama tiga lima jam penuh, karena Chandra terus mengizinkan si Tono untuk ngapelin si Jubaedah.


"Ngapel bentar ga boleh apa? Kalau si Jubaedah ngeliat Tono, pasti juga mau," kata Chandra sembari tersenyum manis.


"Ga si Jubaedah istirahat, gue juga capek," kata Aliya berpura pura memejamkan matanya.


"Lo ga usah pura pura tidur deh kalau ga bisa," kata Chandra menebak isi kepala Aliya. "Coba lo cerita deh, lo lagi mikirin apa?"


Aliya seketika membuka matanya dan memandang Chandra, Chandra segera membawa Aliya ke dalam pelukannya.


Aliya pun sama, segera merebahkan kepalanya merasakan kenyamanan di sana, Aliya menyusupkan sedikit kepalanya di dada bidang, yang tak terlindungi kain tersebut. "Gue lagi mikirin Brayen..."


"Hah," Chandra seketika terduduk membuat Aliya terkejut. "Lo ngapain mikirin dia?"


Chandra kesal mendengar penuturan istrinya, bahwa dirinya memikirkan tentang Brayen, sehingga tak dapat tidur dengan nyenyak. Chandra kesal, dan ada hawa cemburu yang membara di sana, nafasnya sedikit tercekat, dadanya naik turun, menandakan dirinya benar benar kesal dengan Aliya. Aliya faham keterkejutan dan kekesalan suaminya, Aliya juga ikut duduk dan memandang suaminya.


"Gue mikirin hubungan antara Brayen sama Juwita," jelas Aliya membuat Chandra tiba tiba mampu bernafas dengan lega kembali. "Soalnya Juwita tiba tiba ngomong mau liburan, dan ga biasanya dia gitu, minimal dia bilang seminggu sebelumnya. Ini tidak, Juwita tiba tiba pergi, dan bilang saat sudah mau berangkat."


Aliya menggeleng, bertanda Juwita memang tidak pernah bercerita kepadanya. "Juwita memang gitu, kalau ada masalah dia kadang ga mau cerita, tunggu dia tenang baru mau cerita, atau tunggu masalahnya reda baru dia mau cerita ke gue atau Angel."


"Mungkin dia cerita ke temennya yang lain sayang," Chandra mengusap lembut pipi mulus Aliya, menyalurkan ketenangan di sana.


"Ga, dia ga punya temen lain lagi selain kita kita, dia ga mudah dekat dengan orang lain semenjak bokap nya meninggal, dia menjadi sedikit tertutup, bahkan nambah kuota pertemanan itu saat Angel, itupun gue yang ngenalin," kata Aliya meratapi nasib temannya. Jika saja Juwita masih punya keluarga, maka Aliya tidak akan sekhawati ini.


"Juwita itu ibaratnya sebatang kara, emang sih punya keluarga dari mamanya, tapi jauh banget, dan mereka ga dekat. Bokap Juwita itu anak tunggal, dan merantau di sini, sementara keluarganya di kampung. Juwita tumbuh dan besar di sini, jadi ga terlalu dekat dengan keluarga," Aliya menceritakan sedikit, sepenggal kisah dari Juwita.


"Nyokap nya ke mana?" Chandra penasaran tentang ibu Juwita, yang sejak tadi tidak di sebutkan Aliya.


"Ga tau, kata Juwita waktu kecil tiba tiba nyokap nya ninggalin dia dengan bokap nya, saat toko bokap nya kebakaran, dan bangkrut," kata Aliya memandang Chandra.


"Udah lagi ya, kalau soal Juwita besok aja lagi, kita istirahat dulu, soalnya besok kita mau menikmati honey moon. Ingat kata dokter kamu itu jangan setres, biar cepat isi," kata Chandra mengecup pencak kepala Aliya. Chandra tak ingin istrinya setres, agar program kehamilannya berjalan dengan baik.


"Hm, makasih ya udah mau dengerin curhatan gue," Aliya mengeratkan pelukannya ketujuh kekar Chandra.


"Gue suami lo, gue harus tau setiap keluh kesah lo, soalnya kakek nitip lo sama gue karena, kakek percaya kalau gue bisa jagain lo," gumam Chandra menutup matanya.


"Makasih curut sableng ku sayang," Aliya mengecup dagu Chandra ketika mengatakan hal itu. Sontak saja membuat senyum di bibirnya timbul.


"Besok kita pergi perawatan pagi loh Cil, tidur gih, soalnya takut telat," kata Chandra mengeratkan pelukannya.


"Lah ga jadi jalan jalan? Terus vlog nya gimana?" Aliya justru bingung dengan jadwal mereka besok.


"Kita vlog sambil perawatan kan bisa, asal jangan ngambil semuanya, kalau jalan jalan kita pergi malam aja, sambil makan street food Korea," kata Chandra tersenyum. Chandra tahu betul bahwa istrinya akan suka. Pasalnya Aliya kan si tukang makan, yang untung saja rajin oleh raga, jadi tidak tampak.


"Yey, makasih sayang, gue tidur langsung deh," kata Aliya segera menutup matanya, menikmati pelukan dari suaminya.


"Ih, giliran makan aja cepet banget, langsung ok. Padahal dari tadi sibuk nanya nanya mulu. Sibuk mikirin Brayen sama Juwita lah, sampai ga bisa tidur, eh giliran gue nyebut street food, langsung siap siap tidur. Aneh lo Al," Chandra segera menguraikan pelukannya, untuk melihat wajah tengil istrinya didalam pelukannya.


Namun pada saat Chandra menguraikan pelukannya, alangkah terkejutnya Chandra, bahwa istrinya telah terlelap di alam mimpi, saat dirinya mengoceh tadi.


"Gue ga bisa tidur, gue mikirin Brayen dan Juwita," Chandra benar banar mencemeeh apa yang di katakan oleh Aliya tadi.