SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Dendam Fika.



"Apa yang kalian inginkan sebenarnya? Siapa yang memerintah kan kalian?" Chandra segera bertanya setelah tak merasakan mual lagi di perutnya.


Saat Aliya hamil Chandra memang cendrung lebih sering mual, bahkan lebih cerewet dari biasanya.


"Memangnya kau siapa? Kami mau apa, dan siapa yang memerintahkan kami itu, kalian tak perlu tahu," ujar salah satu di antara mereka.


"Katakan saja! Aku bahkan mampu membayar mu lebih dari orang yang memerintahkan mu," ujar Chandra dengan lantang.


Terdengar suara flatshoes yang melangkah ke arah mereka, tampaknya sang pemeran utama yang di tunggu tunggu telah tiba.


"Hai Chandra," suara seorang wanita yang Chandra dan Aliya kenal, membuat mereka segera menambah ke arah wanita tersebut.


"Fika!" Aliya menggeram kesal.


Tampak Fika yang tengah berdiri di dampingi seorang pria, yang jelas Chandra kenal. Itu adalah rekan bisnis Chandra, laki laki itu melanjutkan bisnis ayahnya setelah ayahnya meninggal dunia.


"Alex!" gumam Chandra.


"Apa sebenarnya keinginan mu? Kau tidak tahu malu? Sudah jelas aku menolak mu, dan sudah jelas aku beristri, ada apa dengan mu?" Chandra sungguh sangat kesal dengan Fika, dan Chandra terkejut, ternyata Fika adalah ibu tiri dari Alex, karena setahunya sebelum ayah Alex meninggal, beliau menikahi seorang wanita muda dan cantik, dan meninggalkan seorang putri. Sementara Fika adalah seorang janda, , dan memiliki satu orang putri yang sering terlihat di kediamannya.


"Aku? Aku hanya ingin dia," Fika menunjuk ke arah Aliya, membuat Aliya mengerutkan keningnya.


"Apa maksud mu?" Aliya kali ini bertanya dengan cepat. "Untu apa kau menginginkan ku?"


"Aku ingin suami mu merasakan hal yang sama dengan ku," Fika tertawa ketika mengatakan hal tersebut, kemudian gadis itu berjongkok di hadapan chabdra.


Di dalam tawanya, dapat Aliya dengar nada puas, benci, dan sedih. Aliya tak tahu maksud keinginan Fika.


Apa yang harus ku rasakan? Aku bahkan tidak memiliki perasaan dengan mu," Chandra mengerutkan keningnya bingung dengan kata kat dari Fika.


"Aku tak perduli kau memiliki perasaan atau tidak, tapi kau harus tahu aku sangat membenci kalian, aku benci kau, terutama kau," Fika berkali kali menunjuk ke arah Chandra, sembari menggeram kesal.


"Apa yang telah aku perbuat pada mu?" Chandra semakin bingung.


"Pada ku?" tawa Fika kembali pecah, kemudian memandang Chandra dengan garang. "Tidak, kau tidak berbuat apa apa pada ku."


"Lalu apa mau mu? Harta? Berapa yang kau mau?" Rasa kesal, bingung, panik menjadi satu, membuat Candra sangat kesal berada di situasi tersebut.


"Aku sudah bosan dengan harta Chandra, aku hanya ingin anak dan istri mu tiada!" Fika mengacungkan pistol ke arah Aliya, membuat Aliya menegang seketika. "Seseorang pernah mengatakan kepadaku. Jika Chandra tak dapat ku miliki maka orang lain pun tak boleh memilikinya."


"Aku? Oh benarkah? Lalu apa suami mu? Bagaiman menurut nu Chandra?" Fika terus senyum jijik ke arah Aliya "Dia seorang pembunuh!"


"Pembunuh? Aku bahkan tak pernah menyentuh, dan menyakiti orang lain,"Chandra membantahnya dengan wajah sungguh sungguh.


"Benar kah? Lalu bagaiman dengan Lika?"


"Lika?" Chandra semakin bingung saja, dirinya bahkan hanya mengenal teman sebangkunya saja.


"Iya Lika!" Bentak Fika membuat Aliya tertegun. "Ha, lucu sekali kau bahkan tak mengetahuinya, saudari kembar ku yang malang, bahkan harus bunuh diri setelah mengetahui pernikahan mu," Fika merubah raut wajahnya dalam sekejap.


"Apa maksud mu? Kau memiliki saudara kembar?"Chandra semakin bingung saja di buatnya.


"Iya, kau bahkan tidak ingat siapa itu Lika, dan bahkan ketika aku mengatakan kita satu kelas kau percaya, padahal aku hanya berbohong." Fika tertawa, sehingga membuat Chandra melongo tak percaya.


"Apa!" kesal Aliya "Kau sungguh keterlaluan!"


"Aku? Aku yang keterlaluan? Tidak kau kau yang keterlaluan, kau membunuh saudara ku, kau membunuh kakak ku, kau membunuh membaran ku," Fika sedikit berkaca kaca sejenak. "Seandainya saja kau melihat ke arahnya sebentar saja, seandainya kalian tidak mengumbar kemesraan kalian di media sosial, pasti dia tidak akan bunuh diri."


"Lika, Lika, Lika!" Chandra tampak benar benar berpikir, siapa gadis tersebut."Ternyata gadis yang pernah ku tolong itu."


"Kau ingat sekarang?" Fika tersenyum remeh.


Flashback.


Chandra baru saja pulang dari mall terdekat, dirinya tengah mengendarai motor baru miliknya. Chandra saat itu masih menduduki jelas dua SMA, seperti anak muda lainnya di malam minggu, Chandra baru saja kembali dari berpacara dengan kekasihnya. Tentu saja bukan Brayen, karena waktu itu mereka belum berkenalan, namun yang pastinya saat itu ia masih mencintai laki laki.


Mendengar keributan dari arah gang yang ia lewati, Chandra segera memperlambat laju motornya. Terdengar sayup sayup suara meminta tolong seorang wanita dari arah tempat tersebut.


Chandra segera menghentikan motornya. Dan mendekati arah sumber suara. Chandra melihat seorang wanita cantik yang hendak di lecehkan, oleh beberapa pereman. Chandra tampa pikir panjang segera menelfon polisi, dan mengambil beberapa botol kaca yang berserakan di jalan. Tampaknya mereka baru saja minum minum, dan kini hendak melecehkan seorang wanita.


Chandra melempar botol kaca ke arah salah seorang preman, seketika mereka memandang ke arah Chandara. Namun tampak tak mengetahui Chandra yang bersembunyi di samping goa.


Setelah melihat mobil sirine polisi hadir, Chandra segera melambaikan tangannya. Chandra menunjuk ke arah tkp.


"Di sana pak, tadi habis saya lempar dengan botol," ujar Chandra.


Para polisi segera menangkap mereka menyisahkan Chandra.