
Aliya akan keluar dari rumah sakit, Chandra sengaja meminta bantuan Haris dan juga Arnita, namun itu semua atas permintaan Haris.
Haris telah memikirkan cara agar memiliki waktu berdua dengan Arnita, tanpa di ganggu kakak Arnita, terlebih setelah insiden cemburu buta kemarin.
Haris mengangkat barang barang milik Aliya, dan segera menyerahkannya kepada para pengawal, keluarga Kostak.
"Non ini di letakkan di mana?" Haris mengulurkan tangannya mengambil beban yang di ambil oleh Arnita.
"Makasih," ujar Arnita santai.
"Iya," jawab Haris.
^^^Jangankan beban sebegini kecilnya, beban hidupmu saja Abang tanggung dek. Haris.^^^
"Di dalam mobil Haris saja, di kursi penumpangnya," pertanyaan dari Aliya membuyarkan lamunan Haris.
"Haris kau bawa mobil Arnita ya, pasalnya aku akan membawa mobil mu, sementara pak Ujang akan membawa kakek, mama dan papa," sambung Chandra, sontak membuat Haris bersorak di dalam hatinya.
"Tapi tuan..." Arnita sedikit Protes, tidak mau berada dalam satu mobil bersama Haris.
"Siap tuan!" Haris dengan semangat mengangguk, tentu saja, karena itu semua rencananya.
^^^Ck, setan satu itu, apa yang akan dia lakukan pada ku. Arnita menggigit bibirnya.^^^
"Hai, apa sebenarnya yang kau rencanakan?" Arnita segera mendekat, membuat Haris meneguk ludahnya.
"Tidak ada," bantah Haris pura pura tak mengerti.
"Tuan aku akan membawa Arnita ke suatu tempat dulu ya," bisik Haris tepat di telinga Chandra.
"Iya bawa saja, asal ingat tentang persiapan ulang tahun Aliya ya, aku ingin mewah," ujar Chandra ikut berbisik.
"Sip," Haris menaikkan jempolnya, semangat. "Semua telah di atur anak buah ku."
"Ayo Nit," Haris segera menarik lengan Arnita. Arnita yang tak tahu ada apa hanya mengikut saja.
"Moy mau ke mana?" seorang laki laki yang kemarin terlibat bersama dengan Arnita, segera menghentikan Haris.
"Eh kak, ini mau ngatar bos pulang, soalnya baru keluar dari rumah sakit," ucap Arnita, tersenyum kepada laki laki itu.
^^^Ck, jangan sok manis kau. Kesal Haris, melihat laki laki itu tersenyum.^^^
"Lah terus dia?" laki laki itu menunjuk ke arah Haris.
"Oh dia asisten bos Chandra," ujar Arnita menjelaskan.
"Ya sudah kamu hati hati bawa mobilnya Moy," ucap laki laki itu mengusap lembut kepala Arnita.
"Iya kak," ujar Arnita, semangat.
"Hm... Permisi kak," Haris segera pamit kepada laki laki tersebut, Haris tak ingin gegabah, jika hendak mendapatkan restu dari kakak wanita incarannya.
"Kakak mu siapa?" laki laki itu tampak sinis kepada Haris, membuat Haris canggung sendiri.
"Eh... Permisi."
......................
Sesampainya mereka di jalan, Haris segera memutar mobil mereka. Haris akan membawa Arnita ke suatu tempat.
Arnita bingung sendiri melihat arah mobil mereka yang bertolak belakang dengan arah mobil bos mereka.
"Tuan Chandra tidak memberitahu kan mu?" Haris mengembalikan pertanyaan kepada Arnita.
"Ha? Apa?" Arnita semakin bingung.
"Loh, kan nyonya muda ulang tahun hari ini," ujar Haris mengambil kesempatan untuk mengusap kepala Arnita.
"Hah? Kok bisa? Aku lupa," Arnita menepuk jidatnya, tak menyadari pergerakan tangan Haris.
"Makanya gunakan otak mu," Haris menurunkan tangannya mencubit gemas pipi Arnita.
"Hai otak ku aku gunakan, karena terlalu sibuk makanya aku lupa," bela Arnita mengerucutkan bibirnya, sembari mengusap pipinya yang sakit.
^^^Aduh kenapa dia begitu menggemaskan? Haris.^^^
"Sibuk kenapa?" Haris tersenyum manis, membuat Arnita sejenak terpana.
"Tentu saja pekerjaan menumpuk," Arnita menyadarkan dirinya sendiri, dan memilih menghela nafasnya mengingat pekerjaannya yang super sibuk.
"Kenapa tidak bilang, kan aku bisa membantu mu," Haris menggeleng. Dalam diam Haris tersenyum, baru kali pertama mereka bisa berbaikan di tempat yang sama.
"Wah kau habis di suntik ya? Makanya aneh begini," Arnita mendengar Haris menawarkan pertolongan segera memandang wajah laki laki itu.
"Hei aku tak bisa di suntik, tapi bisanya menyuntik mu," goda Haris, menaik turunkan alisnya, dengan senyum penuh arti.
"Cih bukan nya sembuh malah masuk rumah sakit aku," ucap Arnita berdecak, tak mengerti maksud Haris.
"Kau mau mencobanya?" Haris menggoda Arnita.
"Cih, kau bahkan tidak memiliki suntikan," ejek Arnita memandang jengah.
"Ada," ucap Haris, santai.
"Mana?" Arnita seakan tak percaya.
"Kau mau melihatnya?" tawar Haris.
"Mana? Kau tak punya bukti," Arnita meremehkan Haris.
"Ada di saku celana ku," ujar Haris terkekeh.
"Mana?" tantang Arnita melirik celana Haris.
"Arnita... Kau benar benar ingin melihatnya?" ucap Haris dengan menginjak rem secara tiba tiba. Arnita yang tak siap limbung ke arah depan dan kepalanya terbentur.
"Apaan sih? Kenapa kau menginjak rem mendadak?" Arnita mengusap kepalanya terbentur.
"Ini, kau ingin melihatnya kan?" Haris segera beraancang ancang membuka resleting celananya.
"Aaa... Dasar mesum," Arnita berteriak menutup matanya rapat, membuat Haris terkekeh.
"Cih, aku hanya bercanda, punya ku terlalu berharga di lihat oleh mu, kalau kau mau sini aku nikahi dulu," ujar Haris berpura pura kesal mendengarkan teriakan Arnita.
"Ck, dasar kau menipuku?" Arnita semakin kesal, kini wajahnya memerah menahan malu.
"Tidak, aku hanya menawarkan," ujar Haris santai, kembali melajukan mobilnya.
"Mesum..." teriak Arnita membuat Haris tertawa. Arnita hendak memukul Haris, namun Haris menepisnya, hingga akhirnya tangan Arnita tanpa sengaja terjatuh di suntikan Haris.
"Kau!? Kau memegang apa barusan? Kau benar benar menginginkannya? Kita ke KUA sekarang, aku meminta pertanggungjawaban mu."