
Setelah adanya kabar tersebut, pak Andre dan pak Shing segera berdiskusi mencari solusi yang terbaik. Akhirnya mereka sepakat untuk menikahkan kedua anak mereka dengan secara kecil kecilan dahulu, baru kemudian mengadakan pesta.
"Besok pagi kita ke pancatatan sipil dan melakukan ijab Kabul," ujar pak Andre menggelengkan kepalanya, masih tak menyangka jika hal ini terjadi pada anak nya, untung saja calon menantunya anak dari sahabatnya saat SMA dulu.
"Iya tidak ada jalan lain," pak Shing mengangguk setuju. Menurutnya sebelum berita ini tersebar kemana mana, atau sebelum Arnita hamil, lebih baik mereka melakukan pernikahan terlebih dahulu.
"Berapa kali kalian melakukannya?" pak Andre memandang Haris dengan kening berkerut, calon menantunya itu tampak tersenyum senyum sejak tadi pagi, padahal luka di bibir saja belum kering, akibat bogem mentah dari pak Shing.
Lama Brayen berfikir, ia bingung harus menjawab apa, apakah ia harus jujur atau bagaimana? Jika ia jujur Haris yakin akan ada bogem mentah yang mengenai wajah atau perutnya. "Hm... sepertinya tiga kali," Tidak termasuk pagi. Tentu saja Haris melanjutkannya di dalam hati.
"Apa? Nolongin apa ketagihan?" Bambang memutar bola matanya malas, bagaimana mungkin dirinya akan di langkahi oleh adiknya.
"Nolongin tapi sambil menyelam minum air," Haris tersenyum tanpa dosa membuat pak Andre siap siap ingin kembali melayangkan bogem mentah, tapi sebelum itu terjadi, Haris kembali menjelaskan. "Itu karena obatnya terlalu kuat, Nita terus saja memintanya."
"Bara api yang kamu minum," ujar pak Shing memandang jengah anak laki lakinya, pak Shing menggeleng mendengar pernyataan anaknya. "Itu bukan Arnita yang kurasa selalu memintanya, tapi kau yang memang kurang perkasa."
"Yah mau bagaiman lagi? Obatnya baru bisa habis setelah nyoblos tiga kali," bela Haris tak terima apa dengan apa yang di katakan oleh ayahnya sendiri yang merendahkannya.
"Aduh siapa orang yang melakukannya? Sepertinya sangat berniat,"Bambang menjadi cemas sendiri, penasaran dengan sosok yang memberikan minuman tersebut kepada adiknya.
"Entah lah, yang penting sekarang kalian menikah," pak Andre pusing sendiri mendengar pembicaraan mereka yang nyeleneh, dengan istilah aneh tersebut.
"Besok pokoknya kalian ijab Kabul dulu, bulan depan baru pesta pernikahannya," putus pak Shing membuat yang lain mengangguk.
"Baik pah," ujar Haris mengangguk.
Makanan datang dari arah dapur, berasal dari kedua calon besan yang tadi membuat cemilan, mereka sama sama menyukai memasak, dan memiliki idola yang sama, yaitu Sahrul Khan. Jadi mereka lebih cepat akrabnya. Sementara kedua kembar tersebut saat ini lebih memilih duduk sambil mengobrol di kolam berenang, bagian belakang. Entah kenapa rumah itu mudah membuatnya merasa akrab, entah mungkin ini yang di namakan jodoh.
"Wah ada tamu ya om," dua orang laki laki yang tampak tidak mirip sama sekali masuk dengan santainya ke rumah tersebut, Haris jelas ingat siapa salah satunya. Dialah yang kemarin merangkul dan mencubit pipi Arnita dengan gemas. Membuat tiba tiba Haris merasa sendiri.
"Riski dan Riska, perkenalkan ini calon suami Nita," ucap Bambang membuat kedua laki laki itu tampak berbinar. Haris bingung sendiri, bukankah seharusnya laki laki itu kesal?
"Wah... calon adik ipar nih, perkenalkan aku Riski kakak sepupu Nita. Nah dia adik ku Riska," ujar laki laki yang kemarin berhasil membuat Haris cemburu.
"Cih hanya berbeda lima menit aja kok bangga," kesal laki laki yang memiliki hampir sama dengan Riski.
Entah kenapa tiba tiba Haris merasa bersyukur kedua adik kembarnya dan papanya menahannya, jika tidak ia akan kembali bermasalah dengan sepupu kekasihnya. "Ah Haris..."
Haris mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan, Riski menyambutnya dengan senyum hangat. Laki laki itu tampak sangat ramah. "Ehm... kalian kembar atau bagaimana?"
"Iya, tidak identik," ujar Riska mengulurkan tangannya ke arah Haris. "Riska."
"Haris..." Haris tersenyum menyambut uluran tangan Riska.
"Ya sudah kami ke dalam dulunya," kedua kembar itu segera berlalu menuju ke arah kolam berenang.
Seperti biasa kedua kembar tidak identik tersebut akan berenang di kolam berenang rumah tersebut, meski di rumahnya ada kolam berenang, namun teman teman adik nya, membuatnya menyingkir.
Kedua kembar itu segera masuk ke ruang ganti, dan melepas semua pakaiannya, hanya menyisahkan bokser yang akan ia pakai untuk berenang.
Sementara kedua kembali T2 yang identik kini tengah berada di kolam berenang tengah memainkan kakinya sambil bercerita. Saat mendengar langkah kaki menuju arah mereka, kedua kembar itu segera memandang ke arah Riski dan Riska. Mata mereka terbelalak seketika, ketika melihat pemandangan yang aduhai. Bagaimana tidak roti sobek dari kedua pria tampan itu terpampang begitu jelas dan nyata, tidak hanya dari film Korea dan Bollywood yang ia tonton.
Kedua laki laki itu tersenyum ke arah Tika dan Tiwi, mereka segera meluncur ke dalam kolam renang. "Wih lumayan dapat bidadari, ayo lah yok, aku yang satunya kau juga satunya. Bosan aku di tanya kapan nikah," ujar Riski dengan ide gilanya.
"Hayo aku yang kanan dan kau kiri," ujar Riska dengan bersemangat.
Mereka segera meluncur ke dalam kolam berenang, membuat Tika dan Tiwi terpesona melihatnya. "Wih gile, coba saja di SMA ada yang gitu, aduh... meleleh adek bang... aku ambil kelas renang terus," Tiwi terkekeh geli.
"Wah apalagi aku, serasa melihat opa opa Korea, dan baba baba Bollywood," Tika juga ikut tertawa membayangkannya.
Namun tiba tiba tawa mereka berganti kala sebuah tangan memegang kaki mereka. Mereka segera memandang ke arah kaki mereka masing masing, ternyata kedua laki laki tampan itu yang tengah memegang kakinya.
"Hai Riski," Riski tersenyum ke arah Tika, membuat jantung wanita itu berdetak kencang. Wajahnya memerah.
"Ti... Tika," ujar Tika gugup sendiri.
Wih gile lebih tampan dari dekat, ah... lamar adek bang. Tika bergumam kesenangan di dalam hati, di ajak berkenalan dengan laki laki tampan.
"Tiwi," Tiwi memperkenalkan namanya sendiri. pasalnya dirinya tiba tiba merasa tersingkirkan. Belum lagi laki laki tampan yang ada di hadapannya itu hanya tersenyum manis ke arahnya, membuat Tiwi menjadi salah tingkah. Tiwi mengulurkan tangannya ke arah Riski.
Namun Riska segera meraih tangan Tiwi dan menyebutkan namanya. "Riska," ujar Riska tersenyum manis ke arah Tiwi, sontak membuat wajah Tiwi memerah.
"Ehem... kalian siapa? Kakak kak Nita?" Tiwi sedikit mencairkan suasana.
^^^Ayo jaim Wi, biasanya bisa kok. Kali ini kamu pasti bisa juga.^^^
Tiwi menguatkan hatinya agar tidak terlihat salah tingkah di hadapan pria tampan yang tengah memeluk kakinya dengan mengambang di air.
"Hm..." Riska hanya menjawabnya sekenanya. Tingkah Tiwi membuatnya tak tahan ingin tertawa namun ia tahan. Tiwi terlihat lucu di matanya.
"Tika aneh tidak sih, kedua orang itu kan sejak tadi ga ada di sini, kok tiba tiba muncul? Ingat film horor jadinya, mana tingkahnya aneh lagi," bisik Tiwi, tiba tiba terlintas film horor yang tadi malam ia tonton.
Mendengar bisikan Tiwi wajah memerah Tika berubah menjadi pias dan pucat. Tika berusaha melihat kaki keduanya di dalam air, namun matanya secara otomatis akan melihat perut roti sobek keduanya. Tika kembali menutup matanya, takut takut dirinya khilafah, dan ditarik oleh kedua orang yang baru saja mereka asumsikan hantu air.
"Tapi setampan dan six-pack ini?" Tika memandang Tiwi dengan harap harap cemas, di dalam hatinya masih ada harapan jika kedua laki laki tampan itu manusia.
"Kau bayangkan saja, jika memang mereka kakak dari kak Nita, mana mungkin mereka tidak mirip sama sekali dengan kak Nita dan kak Bambang," ujar Tiwi meyakinkan.
Tika meneguk air liurnya, membuat kedua pemuda yang di hadapannya menjadi bingung. "Kalian sedang membicarakan apa? Kok bisik bisik?"
Mendengar suara Riski membuat kedua wanita ini terkejut, secara refleks hendak lari, namun kedua pemuda tadi juga secara refleks menarik kakinya. Sehingga Tika dan Tiwi tercebur ke dalam kolam berenang.
"Aaa... tolong... mama papa... kakak..." suara Tika menggema memanggil semua orang meminta pertolongan.
“Allahu la ilaha illa huw, al-hayyul-qayyum, la ta khuzuhu sinatuw wa la na um, lahu ma fis-samawati wa ma fil-ard, man zallazi yasyfa’u ‘indahu illa bi ‘iznih, ya’lamu ma baina aidihim wa ma khalfahum, wa la yuhituna bisyai’ im min ilmihi illa bima sya, wasi’a kursiyyuhus-samawati wal-ard, wa la ya’uduhu hifzuhuma, wa huwal-aliyyul-azim.” Sementara Tika sejak tadi membacakan doa ayat kuris, namun tangan mereka mengalung secara otomatis di leher kedua pemuda tersebut, dengan mata yang terpejam. Riska dan Riski terbengong melihat kedua orang tersebut yang tiba tiba bertingkah aneh.
Semua orang berkumpul ketika mendengar teriakan Tiwi terkecuali arnutabyabg masih tertidur pulas di kamarnya.
"Kalian sedang apa?" pak Shing bingung dengan tingkah anak kembarnya.
"Pah cepat tolongin pah... Ada hantu..." teriak Tiwi ketika mendengar suara papanya, mereka berdua tak berani membuka matanya pasalnya sangat ketakutan, takut melihat jika wajah tampan kedua orang yang di hadapannya berubah dengan wajah yang penuh luka dan belatung.
"Hantu!!!" Riski dan Riska secara serentak memandang kedua gadis yang ada di hadapannya, tak percaya dengan apa yang di dengarnya, bagaimana tidak dirinya di anggap hantu oleh keduanya. Sontak saja membuat Bambang dan pak Andre tertawa terbahak bahak, baru kali ini ada yang mengatai kembar tidak identik itu dengan sebutan hantu.
"Buka mata kalian, lihat itu bukan hantu, itu kakak sepupu Nita," ujar pak Shing menepuk keningnya.
Tika dan Tiwi membuka matanya secara perlahan, kemudian memandang wajah tampan di hadapannya dengan seksama, tangan mereka secara serentak mereka lepaskan dari leher Riski dan Riska, keduanya menusuk pipi Riski dan Riska dengan pelan.
"Hehehe... manusia Wi," ujar Tika tersenyum canggung kemudian menjauhkan dirinya dari Riski.
Kedua kembar itu berenang ketepian, kemudian seorang asisten rumah tangga memberi mereka handuk. Tika dan Tiwi segera mengenakannya.
"Aduh kasihan sekali kedua orang yang mengaku ganteng ini, mereka hari ini mendapat penghinaan di kira hantu air," pak Andre meledek kedua keponakannya.
"Huuuu takut pah, ayo masuk," ujar Bambang meninggalakan kolam berenang.
Habis sudah mood Riski dan Riska untuk berenang sore hari ini, kini mereka juga ikut naik dan berjalan menuju ruang ganti, lagi lagi mereka terkejut ketika kedua kembar identik di hadapannya itu belum keluar.
"Bang, eh maaf kami salah tadi," ujar Tika tidak enak.
"Iya bang ini gara gara semalam kami nonton film horor, di film tersebut hantunya menyamar menjadi cowok tampan, jadi kami mikirnya juga begitu," ujar Tiwi merasa tidak enak.
Riska dan Riski tersenyum penuh arti, ternyata bukan tampang mereka yang menyeramkan, ini terjadi karena kedua kembar ini terlalu banyak menonton film horor.
"Jadi kami tampan?" Riska tersenyum penuh arti ke arah keduanya, ia belum bisa mana yang namanya Tika dan Tiwi. "Yang Tiwi mana?"
Tiwi segera menaikkan tangannya, seperti mereka melakukan absensi di kelas mereka.
"Bagaimana cara membedakan kalian?" Riski memandang Tiwi dan Tika mencoba mencari beda dari kedua ini, yang nyaris tak berbeda.
"Hah Tiwi punya tahi lalat di atas bibirnya, sementara aku sedikit lebih pendek dari Tiwi," ujar Tika membuat keduanya memandang wajah Tika dan Tiwi penuh seksama.
"Hm... aku bisa melihatnya sekarang," ujar Riska mengangguk mulai bisa membedakan keduanya.
"kalian kakak adek, atau gimana?" tanya Tika sudah bisa membedakan antara Riski dan Riska dengan mudahnya.
"Kami kembar, tapi tidak identik," ujar Riski tersenyum mengamati Tika. Menurut nya gadis itu lebih manis di banding kembarannya.
"Oalah, jodoh kita kayaknya," ujar Tiwi terkikik geli, membayangkan bagaimana mereka akan bersanding.
Riska menggeleng mendengar ujaran Tiwi, kemudian berlalu hendak memakai pakaiannya. Tiwi dan Tika pun meninggalakan ruang ganti tersebut, menuju tempat kedua orang tuannya berkumpul.