SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Fika yang gatal.



Sesuai yang di rencanakan malam ini mereka melakukan bakar bakar di halaman depan, dengan mengundang sejumlah warga dan tetangga, tak lupa mengundang si Tom and Jerry, Haris dan Arnita. Angel sebenarnya juga di undang, namun karena dia akan menjalani ujian tengah semester, atau lebih tepatnya di sebut UTS, maka dirinya tak datang. Sementara Juwita, yang baru saja pulang dari berlibur, berjanji akan datang bersama dengan Brayen.


Kini mereka tengah berkumpul, Juwita yang baru pulang berlibur membawa oleh oleh untuk keluarga Kostak, terutama kakek Rio yang sangat ia rindukan, bahkan hampir setiap hari mereka melakukan video call, dan itu membuat Brayen sedikit merasa cemburu.


Acara akan di mulai, semua tetangga dan warga mulai berkumpul, mereka juga sudah mempersiapkan dengan matang, tak lupa menambah bara api yang tak terlihat, spesial untuk Fika. Tetangga baru sekaligus calon pengganggu, yang akan di kerjainya habis habisan.


"Liat tu si nenek lampir, kurang bahan bajunya, tak tahu ya dia kalau malam ini cuacanya sangat dingin," ujar Arnita terdengar oleh Juwita, Brayen dan Haris.


"Paling pulangnya di kerokin," jawab Juwita, seketika membuat tawa ke empat orang itu pecah.


Mereka segera beranjak menuju pemanggangan, mata mereka mengawasi gerak gerik Fika, membaca situasi, dan siap meluncurkan aksinya.


"Mulai ni?" Juwita memandang ke arah asisten Aliya dan Chandra.


"Tunggu bos saja dulu, tuh lihat mereka masih sibuk melayani para tetangga," ucap Haris segera menyuapi dirinya sosis yang baru di panggang. "Aw, aw, aw nanas."


Seketika mereka bertiga tertawa melihat Haris yang kepanasan, bisa mereka bayangkan panasnya sosis fresh from panggangan, tepat membakar lidah Haris. Semua mata tertuju pada mereka ber empat, Haris sungguh ceroboh kali ini.


"Cebol diam kau," ucap Haris memperingati Arnita, namun wanita itu semakin tertawa.


"Ini minum dulu," ucap Brayen menyerah kan minuman untuk Haris.


"Thanks," ucap Haris segera menenggak minuman tersebut. Lidah Haris rasanya kebas, tak bisa merasakan sensasi manisnya minuman tersebut.


"Hambar ya?" Arnita melirik kasihan ke arah Haris. Ah, atau lebih tepatnya mengejek. "Makanya kalau makan tunggu dingin dulu."


"Kenapa kau ribut sekali? Kau sudah seperti lonceng kucing ku, kalau berlari bunyinya kling kling," ejek Haris, membuat Arnita tersenyum.


"Berarti aku imut kalau begitu," ucap Arnita mengembangkan senyumnya.


"Imut imut, amit iya," seru Haris segera memasukkan sisa sosis yang ia makan tadi, untung saja sosisnya sudah dingin.


"Wah terimakasih loh, ini dingin," ucap Arnita segera mengambil alih sosis panggang nya.


Haris diam dan memperhatikan Arnita makan, hingga akhirnya sosis tersebut habis. "Enak ya?" Arnita hanya mengangguk karena masih mengunyah sisa sosis di mulutnya.


"Tentu saja, orang itu bekas yang ku makan, tentu saja enak, ada sisa liur dan juga bibir ku," seketika Arnita menelan sisa sosis itu secara tiba tiba, nafasnya tercekal mendengar pernyataan dari Haris. "Berarti secara tidak langsung kita ber ciu man dong."


"Hariiiiissss," Arnita menggeram, membuat semua mata sekali lagi tertuju kepada mereka.


Brayen segera menarik Juwita menjauh, Brayen lebih memilih untuk mengajak Juwita ke pemanggangan lain, membakar sosis bersama. Brayen segera memeluk Juwita dari belakang, yang sedang bersiap untuk memanggang sosis, Brayen sengaja membawa mereka ke pemanggangan sosis paling pojok, agar lebih bisa berduaan dengan Juwita.


"Namanya juga lagi kasmaran," Chandra memeluk tubuh Aliya dari belakang dan mengecup pipinya. Fika kepanasan melihat hal itu, namun dirinya lebih memilih untuk melayani para pemuda yang tengah berbicara dengan nya.


Malam semakin larut, udara semakin dingin, Chandra segera mengambilkan jaket untuk Aliya, sementara sebuah jaket yang telah di persiapkan oleh Haris juga siap di berikan kepada Fika.


"Nona Fika anda pasti kedinginan, dengan baju kurang bahan itu," ucap Haris membuat Fika berdecak kesal. "Tenang saja itu pasti bukan dari saya."


Fika mengerti maksud dari Haris, segera tersenyum samar. Dirinya menduga itu berasal dari Chandra.


Lihat kan Chandra? Kau tak akan tega melihat ku kedinginan, kau hanya berpura pura tak perduli padaku, namun kau sangat perduli. Tak lama lagi kita akan bersatu.


Fika segera mengenakan jaket tersebut tanpa curiga, dan kembali mengobrol bersama dengan pemuda lainnya.


"Jeng besok besok anak kita jangan sampai kita bolehkan keluar malam, tu lihat si kelelawar malam sudah mulai beraksi," ujar salah satu ibu ibu, yang tengah nongkrong bersama dengan nyonya Mona, sembari membakar sosis mereka.


Para bapak bapak kini tengah ikut nongkrong bersama dengan dengan kakek Rio dan tuan tuan Omer. Sementara para pemuda tengah nongkrong bersama dengan Fika, dan sibuk menggoda Fika yang berpakaian minim. Para pemuda sibuk dengan membicarakan para laki laki tampan tamu spesial Chandra dan juga Aliya. Mereka sibuk membicarakan tingkah bucin Brayen.


[Hayo sudah bucin aja, padahal di cerita mereka belum loh, kyuk mampir di sana]


Fika mulai gelisah, badannya seperti di gigit gigit, tubuhnya mulai merasakan gatal. Ia bingung rasanya tidak memakan atau meminum sesuatu yang aneh. Namun tubuhnya tiba tiba merasa gatal. Wajahnya mulai merah, dan di penuhi bintik bintik merah, seperti ruam.


"Wajah kamu kenapa?" salah satu pemuda menunjuk ke arah wajah Fika.


Fika segera mengambil ponselnya, dan ponselnya dan bercermin, dirinya terkejut melihat wajahnya yang di penuhi ruam dan bintik merah. Fika panik, segera pamit pulang.


"Aku pulang duluan ya," ucap Fika segera berlari pulang ke rumahnya.


Sementara para pemuda yang kehilangan hiburan segar di matanya, juga segera pulang ke rumah mereka masing masing, hanya beberapa yang tinggal, yang memang tengah sibuk berbincang dengan Chandra. Ada juga yang tengah bermain kartu dengan Haris. Tak lama kemudian Brayen juga ikut berkumpul bersama mereka. Membiarkan kekasih hatinya ikut bergabung bersama Aliya, dan Arnita serta beberapa pemudi lainnya.


"Si ulet keket ke mana?" Juwita segera bertanya pada Arnita, pasalanya dirinya sudah tidak melihat Fika ada di lokasi.


"Pulang kali, ga tahan badannya gatal gara gara kegagalan dengan cowok, sama suami orang," jawab Arnita, seketika membuat para pemudi riuh membenarkan. Pasalnya beberapa pemuda yang bergabung menggoda Juwita tadi, ada yang telah memiliki kekasih, dan salah satu nya ada di antara merek.


"Lagian malam malam gini pakai pakaian kurang bahan, uangnya ga cukup kali buat beli baju," seloroh Juwita, membuat mereka mengangguk setuju.


"Kurang dari sugar daddy nya," jawab Aliya sekenanya, sontak membuat semau orang terkekeh.


Malam semakin larut satu persatu orang segera pulang, kakek Rio segera mengajak Brayen berbicara serius, entah apa yang mereka bicarakan, Juwita cukup tak perduli saja. Juwita lebih memilih membantu Aliya menghabiskan sosis panggang yang tersisa, sementara si Tom dan Jerry telah pulang, dengan perintah mengantar Arnita hingga selamat.