SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Duka



Saat ini ruang sakit tengah heboh di guncang oleh Chandra yang sejak tadi gelisah dengan keadaan Aliya. Chandra sangat gelisah dan cemas melihat keadaan Aliya yang berjuang demi anaknya. Chandra khawatir, dunianya bak tengah di gantung dengan seutas benang tipis. Salah sedikit saja akan terjatuh dan runtuh.


Nyonya mona yang baru saja sampai kini segera berlari mendekati anaknya, sementara Juwita mengekorinya, dengan menggunakan jubah kebesarannya, sebagai seorang dokter.


Juwita memang saat ini tengah bekerja, namun mendengar kabar dari Brayen bahwa sahabatnya tengah berada di dalam tawanan, Juwita segera izin untuk pulang terlebih dahulu. Juwita sangat khawatir dengan sahabatnya.


Tuan Omer dan Arnita tampak tak ikut bersama mereka, pasalnya tuan Omer saat ini tengah embawa kakek Rio yang terkena serangan jantung, kala mendengar cucu nya mengalami pendarahan, saat terbebas dari tawanan.


"Chandra bagaiman keadaan Aliya?" Nyonya Mona segera mendekat ke arah Chandra yang saat ini menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Chandra benar benar kehilangan seluruh dunianya, jika terjadi sesuatu kepada Aliya dan calon buah hati mereka, yang bahkan mereka belum mengetahui jenis kelaminnya.


"Al masih di dalam mah," Brayen lah yang menjawabnya. Brayen tahu bahwa Chandra saat ini sangat sedih, Brayen tahu apa yang di rasakan oleh Chandra.


Angel dan Aska baru saja datang dengan nafas yang tersengal senegal, tampaknya mereka baru saja melakukan lari maraton. Mereka berlari di sepanjang lorong, dengan terburu buru.


Mereka baru mengetahui keadaan Aliya setelah mendapat pesan dari Juwita, karena angel baru saja selesai dengan mata kuliahnya, angel baru mengetahui bahwa aliya saat ini tengah berada di rumah sakit. Aliya segera menghubungi Aska untuk menemaninya ke rumah sakit.


"Kak... kak Al... gimana?" Angel segera bertanya kepada Juwita mengenai keadaan Aliya, dengan nafas yang masih tersengal senegal.


"Dokter belum keluar," ujar Juwita, dengan air mata yang berjatuhan. Bagi Juwita Aliya merupakan sahabat, sekaligus saudara untuknya. Melebihi dari apa pun. Bahkan Juwita mampu melakukan segalanya untuk Aliya. Brayen segera membawa Juwita ke dalam pelukannya, dan mengecup puncak kepalanya sebentar.


Angel mendengar penuturan Juwita, seketika lututnya lemas, Angel terduduk di lantai rumah sakit. Aska segera memeluk Angel, menguatkan adiknya. Meski sebenarnya Aska juga bersedih, karena Aska juga mengenal Aliya dengan sangat baik.


"All is well, ok?!" Aska menguatkan Angel, agar Angel tak tetap kuat. "Kita do'akan agar kak Al baik baik saja."


Hanya anggukan yang angel berikan, Aliya merupakan sahabat baik dari Angel, selain Juwita. Mereka mengerti dan memperlakukan Angel layaknya seorang adik.


Bunyi pintu terbuka, membuat seluruh mata memandang ke arah Asala suara. Seketika semua orang menegang, memandang ke arah seorang kaki laki yang masih mengenakan pakaian operasi. Laki laki itu membuka maskernya, dan memandang ke arah yang lain.


"Yang mana suami korban?" Dokter tersebut membuat Chandra segera mendekat dan memandang penasaran.


"Saya dok ada apa?" Hati Chandra semakin gelisah, entah kenapa seluruh pikiran buruk menghantuinya, rasa takut kehilangan. Rasa takut di benci, rasa khawatir akan kekecewaan semakin memenuhi otaknya. Pertanyaan dokter tersebut, seakan mengingatkannya kepada berita buruk yang akan di sampaikan.


"Pertama saya ingin mengatakan bahwa nona Aliya selamat, dan sekarang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri," dokter tersebut menghela nafas panjang, kemudian mengeluarkannya dengan kasar. Hal selanjutnya yang akan ia katakan membuat jantungnya sangat sesak. Inilah hal yang paling menyedihkan, perasaan bersalah dan juga rasa gagal sebagai seorang dokter. "Maaf anak anda tidak dapat kami selamatkan."


Inilah kata kata yang sangat menggemaskan dada, bukan hanya untuk keluarga korban, tetapi untuk seorang dokter yang menangani pasien. Bukan tidak mampu, bukan tidak ingin dan bukan pula tidak berusaha. Namun takdir berkata lain, bayi mungil yang belum sepenuhnya terbentuk, kini tak lagi akan berkembang.


"Apa?" jiwa Chandra seakan luluh lanta, mendengar kata kata dari dokter tersebut, hatinya hancur. Jiwanya seakan melayang entah kemana. Harapannya hancur seketika.


"Mohon untuk menyemangati istri anda, pasalnya istri anda akan lebih terpukul lagi, mungkin ia butuh waktu sesaat. Anda yang mampu memberi semangat dan dukungan kepada istri anda," hanya kata itu yang mampu dokter ucapkan, dokter tersebut sudah sangat mengerti arti sebuah kehilangan, namun dokter itu juga harus mengingatkan bahwa ada wanita yang lebih hancur hatinya, bahkan harus di beri kekuatan lebih.


Mendengar ucapan dokter tersebut, seketika ingatan Chandra tertuju kepada Aliya. Hatinya semakin gamang, bagaiman jika Aliya tahu tentang buah hati mereka yang telah tiada? Bagaiman reaksi wanita itu? Bagaiman menjelaskan kepada wanita tersebut, jika anak mereka telah tiada?


Chandra semakin terpuruk, Chandra takut Aliya membencinya. "Mah maaf ini salah Chandra, sensasinya bukan karena Chandra. Seandainya bukan karena masa lalu Chandra, Al ga mungkin keguguran."


Chandra tiba tiba menyalahkan dirinya sendiri atas kehilangannya calon buah hati mereka. Chandra berpaling mengahadap tembok, hingga memukul mukulinya berkali kali. Chandra seakan ingin mengucapkan kekecewaan nya terhadap dirinya sendiri.


"Al maaf, Al maaf... maaf... maaf," Chandra berkali kali mengucapkan maaf sembari memukuli dinding, ingin menguatkan dirinya sendiri.


"Maaf kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap," ucap donter tersebut, kemudian kembali masuk ke dalam ruang operasi.


Bangker Aliya dinkeluarkan, dengan selang infus yang mebacap di lengan kana Aliya. "Chandra," suara nyonya Mona menyadarkan Chandra. Chandra segera mengikuti banget tersebut di bawa, Chandra memandang Aliya dengan tatapan sendu.


^^^Al maafin gue, harusnya gue bisa menjaga kalian, tapi apa? Gue malah membuat anak kita tiada. Al gue salah, maafin gue.^^^


Chandra kembali menyalahkan dirinya sendiri kala melihat Aliya terbaring lemah. Chandra benar benar malu, dan menganggap dirinya tak pantas untuk Aliya.


^^^Al gue bakal lakuin apapun yang lo mau, asal Lo mau maafin gue, Lo tetap mau ada di sisi gue lagi.^^^


Tanpa Chandra sadari saat ini mereka telah berada di ruang rawat inap. Ruangan itu tampaknya berada di ruang VVIP. Tampak dengan ruangan yang lebih luas, lengkap dengan lemari pendingin kecil, AC, tv 32 inci, sofa untuk orang yang menjenguknya, serta tempat yang lebih luas, mampu untuk dua orang.


Chandra menghela nafasnya berkali kali, melihat Aliya baru saja di pindahkan ke tempat tidur. Chandra seakan tak percaya buah hati mereka telah tiada. Di pandanaginya wajah Aliya dengan lekat, air matanya seakan ingin tumpah begitu saja.


Nyonya Mona yang melihat gelagat anaknya, segera mengajak yang lain untuk keluar, demi memberikan Chandra waktu untuk menumpahkan segala isi hatinya, di hadapan Aliya yang hingga saat ini belum juga sadarkan diri. "Ayo keluar biar Chandra saja di sini." Mereka menurut segera keluar dari ruangan Aliya.


Juwita masih saja gelisah, setelah melihat keadaan Aliya yang tampak baik baik saja. Juwita masih menghawatirkan kakek Rio yang saat ini juga masuk ke dalam rumah sakit. Juwita terus menghubungi Ariana, demi menanyakan keadaan kakek Rio.


"Kenapa sayang?" Brayen penasaran melihat gerak gerik Juwita.


"Kakek belum sadar juga, aku khawatir, sebaiknya aku ke sana saja," ucap Juwita, terus saja memandangi ponselnya.


"Ya sudah, ayo kita ke sana," Brayen segera menggenggam tangan Juwita. "Mah, kami ke tempat kakek Rio dulu, kalau Al sudah sadar tolong hubungi," ucap Brayen.


"Semua baik baik saja ok?!"


Sementara di dalam ruang rawat inap Aliya, Chandra terus saja menitikan air matanya, menangis dan meminta maaf. Hanya itu yang mampu Chandra perbuat.


"Al maaf, gue memang ga berguna, gue memang ga berguna, Al lo jangan marah ya sama gue," ujar Chandra sembari mencium dan mengusap jari jemari Aliya yang terbebas dari selang infus. "Al, maafin gue, gue mohon."


Aliya yang mendengar keluh kesah Chandra, berlahan lahan membuka matanya. Aliya terus mencoba mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina mata nya.


Chandra yang merasakan pergerakan Aliya, segera memandang ke arah wajah Aliya, Candra segera menekan tombol darurat, demi memanggil dokter. Chandra merasa lega dan cemas dalam waktu yang bersamaan, Chandra terus memutar otaknya mencoba memberitahu Aliya tentang kabar duka yang mereka alami.


"Sa... sa... saya... ng kamu ada yang... sakit?" Chandra menutup matanya, mencoba mencegah agar air matanya tak luluh di pipi. "Sayang... hm... sebentar lagi dokter... akan datang."


Tepat Chandra menyelesaikan ucapannya,dokter masuk dengan teteskop nya, di temani seorang suster, dengan kertas di tangannya.


"Mohon untuk menyingkir sebentar tuan, kami harus memeriksa keadaan pasien," ujar dokter tersebut, membuat Chandra melepaskan genggaman tangannya.


"Baik bu, bagaiman perasaan anda saat ini?" Dokter tersebut, segera memulai pertanyaan ringan kepada Aliya.


"Hm..." Aliya menggeleng kan kepalanya, sebagai respon.


"Anda merasa baik baik saja kan Bu? Tidak ada yang pusing?" dokter tersebut segera menggantungkan teteskop nya di leher.


Lagi lagi Aliya hanya memberikan gelengan kepala mewakili jawabannya. Chandra semakin sedih dan bingung, bagaiman caranya ia mengungkapkan tentang anak mereka yang telah tiada? Chandra mendesah, berkali kali mengerjakan matanya agar tak menetes.


"Baik kami keluar dulu ya," ucap dokter tersebut sembari tersenyum ke arah Aliya. Dokter tersebut segera melangkahkan kakinya, namun saat sampai di hadapan Chandra, dokter tersebut menghentikan langkahnya. "Sebaiknya katakan saja, biarkan seluruh amarah dan rasa kecewanya keluar, peluk dia, dan rangkul. Jika sudah tenang, baru kemudian memberinya semangat."


Chandra mengangguk, dokter tersebut tengah menghiburnya. Dokter tersebut ingin Chandra kuat dan memberi semangat kepada istrinya.


Dokter tersebut di ikuti oleh suster tersebut segera keluar. "Mohon tunggu beberapa saat, mungkin suami pasien akan membutuhkan waktu terlebih dahulu. Sebaiknya keluarga pasien menunggu di sini dahulu, dan mengawasi mereka, kalau kalau terjadi sesuatu." Mereka mengangguk serentak menyetujui ucapan dokter tersebut.


"Sayang Al," Chandra segera duduk di samping tempat tidur Aliya, Chandra meraih tangan Aliya dan meletakkannya di pipinya. Aliya tersenyum menanggapi nya.


^^^Bagaiman mungkin kalau kau tahu kejadiannya, apa kau akan tetap tersenyum begini dengan ku?^^^


Chandra semakin bimbang ingin mengungkapkan kebenarannya kepada Aliya. "Sayang maaf ya, maaf gue ga bisa jaga kalian," Aliya kembali mengangguk dan tersenyum. "Sayang apapun yang akan ungkapkan, gue mohon kuatlah, dan jangan marah ya."


Aliya tersenyum meski hatinya seakan takut. Jantungnya berdebar kencang, ketakutannya sejak bangun dari sadarnya tadi menghantamnya. Aliya sangat ketakutan, terlebih Aliya merasakan tidak ada pergerakan di dalam sana, semakin membuat Aliya ketakutan.


"Sayang anak..." Chandra menghentikan ucapannya ketika melihat mata Aliya tertutup, seakan mencoba untuk tegar mendengar berita dari Candra. "Maaf sayang, anak... anak... ki... ki... kita, lebih di sayang dengan Tuhan."


Air mata Aliya terjatuh, Aliya memang sudah mempersiapkan hatinya sejak siuman tadi, namun sakitnya masih sangat mengerat di dalam ulu harinya. Seakan seribu pisau menghantam dan menusuk jantungnya.


Chandra segera memeluk tubuh Aliya yang terguncang, mencoba memberinya kekuatan. Agar wanita yang di cintai nya kuat dan tabah.


"Maaf," ucap Aliya lirih.


Chandra menggeleng, memeluk dan mencium puncak kepala Aliya. "Tidak harusnya aku yang meminta maaf kepada mu."


"Maaf," sekali lagi Aliya mengucapkan maaf kepada Chandra, terdengar penyesalannya yang amat dalam. "Maaf seandainya aku tak memaksa untuk keluar dari rumah, dan pergi berbelanja, mungkin bayi kita baik baik saja."


Aliya menumpahkan tangisnya di dada bidang Chandra, menumpahkan segala penyesalannya. Aliya benar benar menyesali segalanya.


"Tidak, tidak aku yang bersalah, seandainya aku bisa menjaga kalian, sebagainya aku becus menjadi seorang suami, mungkin kini kau baik baik saja, mungkin dia masih bersama kita," ujar Chandra mencoba menghibur istrinya.


Kini kekhawatirannya tentang Aliya yang tak menerimanya, dan memaafkannya tergantikan dengan rasa iba dan penyesalannya. Chandra Iva terhadap istrinya yang meraung meminta maaf kepadanya, karena merasa bersalah. Namun Chandra juga sangat menyesal karena merasa gagal menjaga Aliya, dan dan calon buah hati mereka.


"Maaf, maaf, aku benar benar minta maaf. Jangan membenci ku," ungkap Aliya, sembari memeluk erat Chandra. Aliya benar benar ketakutan.


"Tidak tidak tidak akan ada yang membenci mu, semua akan mencintai mu, kita masih muda memiliki banyak kesempatan," ungkap Chandra sembari mengusap lembut kepala istrinya. Chandra mengecupnya berkali kali, membuat Aliya merasa tenang. "Kita akan tetap menjadi orang tua dari anak anak kita nantinya."


Aliya mulai tenang dan mengangguk. Aliya memejamkan matanya menikmati pelukan hangat suaminya. Mencoba untuk tegar dan kuat, mencoba untuk menatap masa depan.


Chandra sangat sedih melihat keadaan istrinya, kini bukan ketakutan akan di benci Aliya yang ada, namun ketakutan akan keadaan istrinya yang sejak tadi menyalahkan dirinya sendiri. "Sayang ini semua takdir, ini semua jalan Allah, kita akan mendapat kepercayaan Nya lagi, tapi mungkin tidak sekarang. Mungkin besok atau besoknya lagi. Kita hanya harus berusaha, dan berdo'a."


Aliya hanya mengangguk mendengarkan nasihat suaminya, yang tiba tiba bijak sana, dan memberinya wejangan serta kekuatan untuk bisa melewati cobaan yang mereka hadapi. Aliya menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, mencoba untuk tetap kuat dan bersabar.


... "Kehilangan membuat kita belajar untuk menerima dan mensyukuri dengan apa yang masih kita miliki."...


..."Tuhan memberikan ujian berupa kegagalan dan kehilangan pada kita untuk mengajarkan hikmah didalamnya."...