SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Pasangan somplak II



Chandra dan Aliya baru saja menyelesaikan ritual sucinya, kini Aliya tertidur lelap, dengan Chandra yang berada di sampingnya hanya mengenakan bokser, sembari membuka laptop, dan membaca proposal.


Setelah membaca proposal tersebut, dan beberapa email yang telah di kiri. oleh asistennya, Chandra segera membaringkan tubuhnya, dan memandang Aliya. Chandra terkekeh sembari membelai wajah istrinya yang cerewet, Chandra mengecup bibir Aliya. "Dasar manusia cerewet, untung gue sayang sama lo."


Ah, tampaknya Chandra tak sadar bahwa dirinya tak kalah cerewet, bahkan dirinya mampu menandingi kecerewetan istrinya itu.


Chandra terkekeh ketika mengingat bagaiman keganasan Aliya tadi, saat mereka melakukan ritual sucinya. Aliya memang memiliki goyangan hot, setelah mereka berdua sama sama mempelajari ilmu tapak kuda kuda, yang berasal dari video terlarang. Chandra benar benar puas, dan benar benar menikmati setiap hasil belajar dari Aliya. Ingin rasanya Chandra mengulanginya, jika saja proposal dan email dari sekertaris nya tidak menunggu untuk segera di baca.


Ah, dasar benda ketiga dalam hubungan Chandra memang mengesalkan, padahal Chandra menginginkan bulan madu tanpa gangguan, tapi apalah daya pekerjaan menunggunya. Dan jika tidak bekerja maka cuan tak akan mengalir, maka kehidupan dirinya dan istri akan mengalami kesulitan dalam ekonomi. Ah, tidak Chandra tak ingin istrinya menderita. Terlebih istrinya sudah mengorbankan pekerjaannya, maka Chandra tak akan melakukan hal tersebut.


Ponsel Chandra tiba tiba berdering, membuat Chandra harus memandang ke arah ponselnya. Ternyata itu adalah wanita kedua yang mendapat predikat tercerewet, menurut versi Chandra. "Cek nyai Ronggeng pengganggu," desah Chandra segera menggeser telfon berwarna hijau. "Halo ma."


Ya, semenjak Chandra telah kembali ke kodratnya, kini dirinya semakin akrab dengan kedua orang tuanya. Diri ya sudah tidak pernah lagi main kucing kucingan, lantaran ingin jauh dari kedua orang tuanya, karena ingin dekat dengan Brayen. Namun sekarang jangankan Chandra bahkan Brayen pun, sudah mulai dekat dengan keluarga Chandra. Terlebih kedua orang tau Chandra telah tahu tentang masa lalu Brayen, yang memang kesalahan dari lingkungan, dan tidak adanya kasih sayang dari figur wanita, atau ibu.


Karena itu nyonya Mona berjanji pada diri sendiri, akan memberikan sentuhan kasih sayang orang tua, rasa kasih sayang dari seorang ibu kepada anaknya. Agar membantu Brayen dapat berubah lebih cepat, bukan hanya bantuan dari Juwita, yang kini menjadi kekasihnya.


Meskipun kini nyonya Mona tahu, bahwa Brayen telah meresmikan hubunganya dengan Juwita, namun nyonya Mona juga sadar, bahwa Brayen belum sepenuhnya mencintai Juwita, dirinya masih belum cukup yakin. Meski mendapat nasihat dari nyonya Mona untuk lebih tulus kepada Juwita, namun Brayen masih ragu akan perasaanya.


"Al mana?" Nyonya Mona segera bertanya dengan semangat, terlebih melihat wajah anaknya yang tampak berseri.


"Lagi tidur kecapean," kata Chandra sembari tersenyum ke arah nyonya Mona.


"Kecapean atau kecapean?" Brayen tiba tiba muncul dari balik layar.


"Ih ngapain tu anak ke situ?" Chandra sewot melihat mantannya yang kini bermetamorfosa menjadi sahabatnya. Bahkan telah di anggap anak sendiri oleh nyonya Mona dan tuan Omer.


"Lagi makan lah sama mama, papa," jawab Brayen santai.


"Sejak kapan?" Chandra terkejut kedua orang tuanya di panggil mama dan papa oleh Brayen.


"Sejak lo nikah, terus mama sama papa merasa kesepian," Brayen terkekeh ketika mengatakan hal tersebut.


"Kesepian Hongkong, orang dapat mantu yang se_cerewet Al mana bisa kesepian," Chandra tak terima dengan hal tersebut. "Lo tu cepat lamar si dokter Juwita, takut nya di empat orang."


"Apaan sih lo," kesal Chandra, ketika Brayen membicarakan ritual sucinya bersama istri tercinta. Namun yang di seberang sana, baik nyonya Mona, maupun Brayen justru terkekeh.


"Ayo, coba bawa ke tempat Al, mama mau liat juga kan?" Brayen kembali berusaha memancing amarah Chandra, yang sudah terlihat kesal, dari raut wajahnya.


"Ga, ga ada, lo semenjak sembuh otak lo mesum terus," benar saja Chandra semakin kesal, karena terus di goda oleh Brayen. Tapi sebenarnya yang membuat otak Brayen seperti ini juga Chandra yang beberapa hari lalu mengiriminya video lak nat "Ma jaga Juwita jangan sampai di unboxing si laki laki ramah versi Al."


"Santai, gue unboxing langsung lamaran ntar," Brayen terkekeh ketika mengatakan hal tersebut, sejujurnya dia sendiri tak yakin akan perasaannya.


"Ntar kejadian beneran lo," ledek Chandra.


"Ga apa apa kan ma," Brayen berusaha mencari dukungan dari nyonya Mona.


"Iya tapi sebelum itu mama buat letoi dulu perkutut kamu," ancam nyonya Mona, sembari memandang horor ke arah Brayen. Menandakan itu bukanlah ancaman main main.


Chandra tertawa terbahak mendengar ancaman nyonya Mona terhadap Brayen, bahkan Brayen tampak meringis, membayangkan burung perkutut nya tak bisa bangun lagi. Karena Chandra terlalu berisik, akhirnya Aliya terusik dan sedikit bergumam. Chandra segera mengusap lembut pipi Aliya, agar kembali tertidur.


"Mama tega? Chandra udah punya banyak anak Brayen belum punya? Mana Chandra getol banget lagi produksi nya," Brayen melemas ketika mendengar kata kata itu, sungguh dirinya sangat takut terlebih lagi ketika melihat video lak nat tersebut, membuat dirinya benar benar penasaran, dan tak ingin perkututnya letoi sebelum merasakan surga dunia.


"Iya lah, ini contoh pemanasan produksi," Chandra memperbaiki selimut istrinya hingga sampai menutupi leher, kemudian mengarahkan kamera ke arah istrinya, Chandra dengan segala kesadaran dan kesablengannya, segera meraup bibir Aliya, hingga me*lu*mat*nya.


"Astaga, ya Allah Chandra sableng lagi ngapain kamu," teriak nyonya Mona melihat kelakuan anak semata wayangnya, yang sungguh menggoyahkan iman. "Ga sopan Chandra."


Karena Aliya merasakan sesuatu yang mengganggu tidurnya, Aliya segera menyingkirkan selimut tersebut, bermaksud mengusir si pengganggu, walhasil Chandra benar benar panik di buatnya. Terlebih saat ini Aliya tiba tiba membuka matanya. Entah apa yang akan wanita itu lakukan, karena kelakuan suaminya.


Namun semua di luar dugaan, ternyata Aliya kini yang mengecup bibir suaminya, sehingga ciu*man panas terjadi. Dengan sambungan telfon yang masih tersambung. "Sayang mau lagi," kata Chandra terdengar jelas di telfon.


"Hm, tapi pelan pelan," kata Aliya sontak semakin membuat para pengguna telfon di ujung sana traveling. Terlebih Brayen baru saja melihat video laknat dari Chandra, yang membuatnya menelan ludah kasar. Terlebih dirinya masih ting ting, dan suci karena dia dan Chandra sama sama penganut no se*x before marriage.


"Dasar kalian pasangan somplak, ini masih nyambung, asal sambar aja," umpat nyonya Mona dan Brayen segera mematikan sambungan ponselnya.