SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Kesialan Fika



Fika baru saja keluar dari ruangan Aliya, membuat wanita itu segera bangun dari pura pura tidurnya. Aliya memandang Chandra dengan tersenyum penuh arti, membuat Chandra terkekeh. Chandra sangat mengenal Aliya, jika begitu pasti istri cantiknya ini memiliki sebuah rencana.


"Do, whatever what you wanna do," Chandra mengecup bibir Aliya sekilas, membuat Aliya segera merogoh ponselnya kemudian mengirim gambar Fika, dan menghubungi seseorang.


"Halo, gue udah ngirim foto seorang wanita, buat dia makan siang di kantin kantor sekarang... Aliya mulai menceritakan rencananya yang akan ia lakukan kepada Fika... Mengerti kan?" Tanya Aliya kepada orangnya di seberang sana, kemudian mematikan sambungannya.


Chandra terkekeh mendengar rencana licik istrinya, dirinya akan selalu mendukung apa yang ingin di lakukan istrinya. Karena memang sebenarnya dirinya malas dengan Fika yang terkesan sok kenal, sok dekat dengannya.


"Biar kapok tu bibit Abal Abal," dengus Aliya.


"Hm, biar ga usah balik lagi," Chandra tersenyum senang melihat wajah kesal Aliya. Chandra sangat bahagia, karena itu berarti Aliya cemburu dengan apa yang di lakukan oleh Fika. Bukankah cemburu berarti cinta?


Tentu saja Aliya cinta, kalau tidak mana mungkin Aliya mau menikah dengannya.


"Makin pintar aja istri cantik gue."


Sementara di bawah, saat ini Fika tengah berjalan menuju lobi, Fika baru saja keluar dari ruang bergerak tersebut.


Plas.


Sebuah gelas berisi kopi hangat tepat mengenai baju dan kulit Fika. Hal itu semakin membuat Fika kesal saja.


"Hei bisa hati hati tidak? Jadi orang kerja yang benar," kesal Fika segera mengusap bekas tumpahan tadi.


"Maaf tadi licin," ucap wanita yang mengenakan seragam office girl.


"Maaf maaf, emang kamu bisa ganti apa baju saya," hardik Fika menatap tajam ke arah wanita itu. "Mana kamar mandinya?"


"Di sebelah dan non," kata wanita itu sembari tertunduk, tanda perminta maafkan.


"Hm," Fika segera bergegas ke arah yang di tunjukkan oleh wanita itu.


Wanita tersebut tersenyum memandang Fika dari kejauhan. "Lokasi dua segera bergerak," ucap wanita tadi menyeringai licik.


Fika baru saja sampai di dalam toilet, yang tampaknya tengah kosong, membuat Fika sedikit bersorak. Namun tiba tiba dua orang wanita masuk, dan segera berdiri di samping Fika.


"Eh embak dari defisi mana?" Wanita itu tampaknya senang sekali berbeda basi.


"Ah, saya tamunya pak Chandra,"Ucap Fika sombong, seolah menunjukkan dirinya di atas dari pada wanita itu.


"Ah, maaf saya ga tau," ucap wanita itu tiba tiba merasa tidak enak. "Udah? Ah ayo."


Wanita yang sejak tadi diam, dan memilih untuk bercermin segera di tarik oleh wanita yang bertanya tadi. Mereka segera keluar membuat senyum penuh di bibir Fika. "Sok akrab, ga level."


Fika segera membersihkan bajunya, dan menutupinya dengan paper bag yang akan ia kenakan. Namun ternyata paper bag nya telah tiada. Fika lupa di mana melupakannya. Entah mungkin di tempat insiden penumpasan air minum di bajunya, atau dua wanita tadi yang mengambilnya.


"Itu milik ku," ucap Fika arogan.


"Hah benarkah? Mana buktinya?" Orang tersebut tampaknya tak percaya, meskipun sikap dan wajah Fika telah meyakinkan.


"Isinya, isinya itu chicken steak, dan spageti, masing masing dua porsi," Fika segera menyebutkan isi paper bag tersebut.


Orang tersebut segera mengecek isi paper bag tersebut, dan mengangguk. "Maaf," ucapnya sembari memberikan paper bag tersebut kepada Fika.


Saat Fika hendak meraih meraih paper bag tersebut, seseorang menabrak Fika, dan meletakkan tas Fika di samping Fika, tanpa Fika sadari.


"Ah maaf," wanita tadi yang berbicara dengannya di toilet.


Fika memasang tampang garang, membuat wanita itu menunduk. Diam diam wanita itu tersenyum, ia telah melakukan tugasnya. Dan mengembalikan tas tersebut kepada Fika.


"Lain kali hati hati, saya laporin ke bos kamu baru tahu rasa," hardik Fika.


"Maaf sekali lagi maaf kan saya," ucap wanita itu melirik ke arah samping, tampaknya orang itu baru saja dari toilet, pasalnya saat melaksanakan tugasnya, ia sedikit kerepotan akibat ulah burung burung yang tengah makan di atas mobil korban.


"Ya sudah, sana," kesal Fika segera mencomot tas nya, yang ada di lantai, dan meninggalkan wanita tersebut. Fika segera berjalan menuju parkiran, dua kali ia berkunjung, dua kali pula ia terkena sial.


^^^Awas saja kalau ban mobilku kempes. Gumam Fika segera menuju ke arah mobilnya yang terparkir.^^^


Baru saja Fika bergumam, matanya kembali terbelalak ketika melihat kotoran burung di mobilnya, anehnya hanya mobilnya saja, namun mobil lain bersih, tampaknya ini benar benar di rencanakan.


Fika yang kesal segera menghentakkan kakinya, dan mendatangai pos satpam. Ia segera menemui satpam yang berjaga.


"Sebenarnya apa kerja kalian ha?" Fika benar benar kesal di buatnya, hari ini benar benar mengesalkan.


"Maaf nona nya lagi, ada apa ya? Apa ban mobil nona kempes lagi?" Satpam tersebut segera keluar dari post satpamnya. "Kan sudah di katakan kemarin ban kempes bukan tanggung jawab kami."


"Kalian itu tidak becus ya? Banyak omongan saja," kesal Fika memandang sini dan merendahkan ke arah satpam tersebut. "Kenapa mobilku banyak kotoran burung ha?"


"Ya? Maksudnya apa?" satpam tersebut segera celingak celinguk, berpura pura bingung dengan maksud dari Fika.


"Ayo ikut, nari lihat betapa tidak becusnya kalian," kesal Fika menghentakkan kakinya, kembali menuju mobilnya.


"Ya ampun non, non punya masalah apa sama burung?" Satpam tersebut benar benar pas untuk di jadikan sebagai pemeran pengganti Mukhlis di Abdel dan Temon, jika saja Mukhlis sedang dalam keadaan tidak sempat syuting. aktingnya benar benar bisa di ajungi jempol.


"Maksudnya apa?" Fika justru semakin kesal. "Ini di sengaja."


"Maksud nona di sini ada pengendali burung gitu? Atau ada peri binatang, yang bisa mengarahkan burung untuk buang kotoran di mana, seperti tingkerbel yang sering di tonton anak saya?" Satpam tersebut justru membuat pernyataan, yang semakin membuat Fika kesal setengah mampus.


"Agh... Dasar perusahaan aneh, kenapa ada saja sial yang ku dapatkan?" Kesal Fika hendak mencari ponselnya yang ada di dalam tas. Berbicara dengan satpam sableng di sampingnya hanya membuat emosi Fika semakin memuncak.