SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Mabuk cinta



Sesampainya mereka di penginapan mereka segera menuju ke kamar mereka untuk beristirahat, menjelang makan malam. Mereka berdua baru saja membersihkan diri, kini tengah tengah berpelukan di atas tempat tidur, sembari memejamkan mata. Chandra sejak tadi yang memeluk Aliya posesif, karena masih merasakan hawa hawa kecemburuan di hatinya. Aliya juga tak kalah, dirinya juga ikut memeluk Chandra, namun bukan untuk menghilangkan hawa kecemburuan nya, tetapi untuk merayakan kemenangannya.


Ah, kemenangan memang harus di rayakan meski hanya sesaat. Dan dengan kemenangan yang sedikit lebih kecil, bahkan sangat kecil. Tapi bagi Aliya, menyingkirkan pelakor atau mungkin hanya calon bibit pelakor itu harus dan penting. Tak ada yang boleh merebut miliknya, jika ada yang ingin mencoba maka sebaiknya bersiap siap, di giring ke ladang ranjau.


Tak ada suara yang keluar dari mulut mereka. Ah, momen yang patut di catat dalam sejarah kebersamaan mereka. Sama sama sadar, dan sama sama dalam keadaan waras. Mereka berdua berdiam dengan pikiran masing-masing, dalam keadaan berpelukan. Langka bukan? Bahkan tidak tercatat di penanggalan suku Maya, atau bahkan tidak akan ada gerhana matahari. Atau mungkin saja ini lebih bersejarah, dari semua itu.


Chandra sedikit menguraikan pelukannya, kemudian mengecup puncak kepala Aliya, baru kembali memeluk Aliya erat, merasakan setiap sentuhan istri cantiknya. Mensyukuri setiap kebersamaan mereka, mensyukuri setiap pertengkaran mereka. Tidak bisa Chandra pungkiri bahwa kehadiran Aliya, dengan segala tingkah konyol dan anehnya telah mengalihkan dunianya.


Bak lagu Afgan Syah Reza dengan judul wajahmu mengalihkan duniaku. Tetapi ini bukan lah Afgan Syah Reza, ini adalah Chandra sah sah aja kalau bucin dengan Aliya, dengan judul lagu tingkah'mu mengalihkan duniaku. Yah, kira kira sebegitu cinta nya lah Chandra dengan Aliya.


Krook.


Bunyi perut Aliya membuyarkan kemesraan keduanya, kini Chandra menguraikan pelukannya, memandang ke arah perut Aliya, kemudian memandang ke arah wajah Aliya.


"Lo lapar cil?" Chandra hampir terkekeh ketika mengatakan hal itu.


"Engga," elak Aliya santai.


"Lah tadi?" Chandra sedikit gemas dengan tingkah Aliya. Ya, biasanya pertengkaran mereka di mulai dari ke_gemasan mereka, kemudian berpindah ke arah menyebabkan, dan akhirnya menjadi pertengkaran.


"Itu bunyi cacing di perut gue, nah dia minta di isi dengan beberapa makanan," Aliya cengengesan ketika mengatakan hal tersebut.


Chandra terkekeh mendengarkan penjelasan nyeleneh Aliya. Chandra segera bangun dan menggandeng tangan Aliya untuk segera keluar makan malam.


Wanita paruh baya, penjaga pengipanan tersebut mengerutkan keningnya, pasalnya biasanya ada saja yang mereka ributkan. Meskipun pada akhirnya, mereka tidak akan kenal waktu dalam hal ritual suci. Namun saat ini berbeda, mereka keluar dengan saling bergandengan tangan mesra, membuat wanita tersebut sedikit bingung, dengan hubungan seunik apa yang sepasang suami istri itu jalani.


Chandra dan Aliya segera duduk di bangku halaman, mereka tampaknya meminta koki untuk menyiapkan makan malam di halaman. Chandra dan Aliya mulai bercerita banyak hal, serta masa depan yang akan mereka jalani.


"Jadi di sini kita cuman satu kali vlog aja ni?" Aliya tampak sangat penasaran.


"Hm, kayaknya karena besok hari terakhir kita di sini, jadi mending besok kita nge_vlog sambil nyari oleh oleh deh," Chandra tampaknya sudah mulai memberi ide.


"Bagus juga nih idenya. Emang kemarin ada yang nonton apa?" Aliya memang tidak pernah berniat untuk mengecek berapa jumlah penonton mereka.


"Ada hampir tiga juta yang nonton, udah dapat cuan kita, soalnya udah masuk iklannya," kata Chandra sembari memandang Aliya dengan seksama.


"Cil jangan suka lompat lompat, entar kasian calon anak gue di sini," Chandra mengecup perut rata istrinya.


"Calon anak, bentuknya aja masih bentuk kecebong anyut di dalam," Aliya tertawa ketika mengatakan hal tersebut.


Chandra yang gemas mendengar tawa renyah istrinya, menjadi gemas sendiri. Chandra segera memeluk pinggang istrinya yang masih berdiri, kemudian menariknya hingga ke pangkuan. "Ga gitu kutil kancil 'ku sayang," geram Chandra mengecup dahi Aliya.


"Lah terus gimana?" Aliya masih saja terkekeh, ketika membayangkan ribuan kecebong hanyut di dalam perutnya saat ini.


"Ya gitu lah pokoknya, nanti itu ada pembuahan dan rahim gitu lah," Chandra menjadi bingung sendiri dengan menyebut proses pembuahan hingga menghadirkan dedek bayi. Jika hanya proses pembuahan Chandra sudah ahli, namun jika di runtun hingga menjadi dedek bayi, itu akan sangat sulit bagi Chandra.


"Iya pembuahan apa, pokoknya gimana? Rahim apa?" Aliya tampaknya hendaknya menggoda Chandra.


"Ih gemes gue dengan lo lama lama, untung sayang gue," geram Chandra segera menggelitik leher Aliya dengan bibirnya. Aliya menjadi tak kuasa menahan tawa, karena gelitikan dari bibir Chandra.


"Ah ya, ampun," Aliya sudah tak kuat lagi, terlebih saat ini dapat Aliya rasakan bahwa Chandra juga sudah mulai menghisap leher jenjangnya.


"Makanya jangan cerewet," kata Chandra setelah menghentikan aksinya. "Cil lo sayang ga sih sama gue?" Chandra tiba tiba berubah menjadi serius. Ingatannya tentang laki laki yang mendekati istrinya kembali terputar di dalam pikirannya.


"Emang kenapa?" Aliya juga ikut menjadi serius.


"Ga sih, sini hadap gue," Chandra segera memperbaiki posisi Aliya yang berada di dalam pangkuannya. Chandra memutarkan Aliya ke arahnya, dengan masih berada di pangku. "Gue cuman mau tahu aja, lo sayang ga sama gue."


"Curut sableng gue yang paling gue sayang, kalau gue ga sayang sama lo, ngapain juga gue mau nikah sama lo," jelas Aliya kini menangkup wajah suaminya, yang saat ini tengah memangku nya. "Emang kenapa sih?"


"Gue takut, gue takut kalau lo bakalan ninggalin gue," Chandra segera memeluk erat pinggang Aliya. "Lo tau kan? Gue sayang banget sama lo. Gue cinta banget sama lo, gue ga bisa tanpa Lo."


Aliya tertegun mendengar kata kata suaminya yang sangat luar biasa, kata kata dari seorang laki laki yang sudah menjadi suaminya. Aliya hanya tersenyum menanggapi kata kata suminya. Aliya kemudian mengecup singkat bibir suaminya, sebelum akhirnya berkata.


"Gue percaya, perasaan kita ini abadi. Asalkan bisa saling menjaga komitmen, selalu ingat bahwa di rumah ada yang nungguin lo, selalu ingat bahwa gue ada yang punya, maka cinta kita akan abadi. Bahkan maut pun tak dapat memisahkan kita. Hanya raga kita yang berpisah saat itu, tapi hati dan jiwa kita akan selalu bersatu."


Aliya mengecup bibir Chandra ketika dirinya telah selesai mengatakan kata kata puitis tersebut membuat, Chandra tersenyum bahagia.