SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
Pengusiran Elegan



Fika yang melihat Aliya berada di ruangan yang sama, terkejut. Pasalnya tadi Fika rasa Aliya tak ada di ruangan tersebut. Namun Fika tertaplah Fika, jika tidak punya wajah yang tebal, maka jangan sebut dirinya Fika.


"Ah nona Aliya," Fika tersenyum manis ke arah Aliya, yang akan duduk di samping Chandra.


"Eh nona Fika," Aliya tak kalah manisnya, tersenyum ke arah Fika. "Ah..."


Aliya terkejut karena tiba tiba Chandra menarik dirinya ke dalam pangkuan suaminya. Chandra tersenyum ke arah istrinya. Kemudian mengecup pundak Aliya.


"Kita usir dia, dengan cara elegan," bisik Chandra sembari terus mengecup bahu Aliya.


Haris yang melihat adegan live tersebut, hanya bisa mendengus kesal. Padahal dirinya tahu maksud dari perlakuan Chandra. Untuk mengusir wanita ulet keket dari hadapan mereka, namun jika begini bukan hanya ulet keket tersebut yang akan menyingkir, namun juga dirinya yang ingin segera menyingkir terlebih dahulu.


Tok, tok, tok.


"Masuk," kata Chandra santai.


Seorang staf mereka segera masuk, dan meminta izin Haris untuk segera ke bawah, karena ada sedikit masalah. Haris tersenyum senang, sepertinya dirinya akan selamat dari adegan menyakitkan mata, dan makan siang bersama dengan ulet keket.


Yah, setelah ini Haris di pastikan akan mengadu kepada nyonya besarnya, tentang kehadiran ulet keket yang mengacaukan hari mereka. Dasar tukang adu, tapi sepertinya bagus juga.


Kembali lagi ke dalam ruangan Chandra yang tiba tiba panas. Aliya tersenyum puas melihat wajah Fika yang memerah karena kesal. Wajah cantik Fika tetap mengukir senyum, dengan rona merah yang semakin bertambah. Aliya tersenyum manis dengan sebuah rencana, untuk memanggang ulat keket di hadapannya.


"Lepasin ah, ga enak sama temen kamu," Aliya meminta Chandra untuk melepaskannya.


Chandra yang mengerti maksud Aliya, semakin memeluk erat tubuh Aliya. "Ga apa apa kok, kamu mau kemana memangnya hm?"


Chandra mandang mesra wajah Aliya, sembari mengusap lembut pipi Aliya. Aliya melirik sebentar ke arah Fika, wajahnya kini semakin memerah, bahkan kini telinga Fika pun ikut memerah.


^^^Ah kami terlalu baik, lihatlah wajah bibit pelakor ini semakin merah, pasti setelah ini dia tidak butuh blus on. Aliya bersorak di dalam hati.^^^


"Aku mau ngambil remote AC, soalnya panas banget," rengek Aliya, dengan nada yang di buat buat. Sungguh Aliya ingin muntah sendiri mendengar suara rengekan manjanya sendiri.


Sementara Chandra? Jangan di tanya lagi, laki laki itu mati matian menahan tawanya, akibat nada suara manja yang keluar dari istrinya.


Sebenarnya menurut Chandra itu cukup menggemaskan, namun juga dalam waktu bersamaan terdengar aneh, karena Aliya biasanya tak pernah mengeluarkan nada seperti itu.


Chandra segera menurunkan Aliya dari pangkuannya, dan mengambil remote AC dari mejanya, dan menurunkan suhu udaranya. "Apa ini sudah cukup?"


Aliya mengangguk, sungguh ini sangat dingin. Chandra melihat tingkah tidak nyaman Aliya segera mendekat, dan mengangkat wanita hamil tersebut ke dalam pangkuannya. Aktifitas Chandra pun kembali berjalan, Chandra mengecup pundak Aliya, semakin membuat Fika kesal setengah mati. Fika bahkan kini tengah kedinginan, namun orang di hadapannya malah bermesraan, saling berbagi kehangatan.


Sepasang suami istri yang kesal ini, segera melirik ke arah Fika yang membuang wajahnya ke arah paper bag. Chandra segera mengecup bibir Aliya sembari mengusap wajah istrinya. "Sayang dia lapar ga?" Chandra mengusap lembut perut istrinya.


"Hm dikit, tadi cuman buat ganjel perut dia aja," jawab Aliya mengalungkan tangannya ke leher Chandra.


"Hm kita makan ya," kata Chandra segera berdiri menuju paper bag yang di bawa oleh Haris tadi. "Hm, nona Fika mau makan di sini juga?"


"Hm, sebaiknya tidak usah, soalnya takutnya setelah makan siang, aku tidak sempat bertemu klien," Fika mencoba tetap tersenyum, seraya melirik pergelangan tangannya.


"Ah, kalau begitu maaf tidak dapat mengantar, saya tidak tega meninggalkan istri saya sendirian," Chandra tersenyum memandang Aliya yang tengah memasang wajah polos.


"Ah kalau gitu aku pamit dulu ya Chandra," Fika segera keluar membawa tas jinjingnya, dan beberapa dokumen di tangannya.


Aliya cemberut melihat kepergian Fika, Chandra yang melihat kepergian ekspresi wajah istrinya, segera mengusap lembut kepala istrinya. "Kenapa?" Chandra segera mengangkat Aliya sedikit, dan mendudukkan Aliya ke dalam pangkuannya.


"Tu kan dia aja ga pamit sama gue, dia ga nganggap gue ada tau. Keliatan banget tu cewek gatel, bibit pelakor," oceh Aliya membuat Chandra terkekeh, mengeratkan pelukannya.


Chandra meletakkan kepalanya di bahu Aliya, mengecup pundak Aliya berkali kali. "Kalau dia ga nganggap lo ada, ga mungkin dia pergi," Chandra mengecup pipi Aliya. "Ayo makan, ga usah mikirin makhluk alien."


"Hah alien?" Aliya bingung sendiri dengan gelaran yang di berikan Chandra untuk Fika.


"Iya alien, makhluk luar angkasa yang mau ekspansi manusia dari bumi. Itu kan di sebut alien, mereka jahat. Karena itu mereka gue sebutin alien aja, ulet bibit pelakor terlalu baik untuk mereka," ujar Chandra membuat Aliya terkekeh. "Nah cara ngusir alien yang mau ganggu pernikahan kita ya gitu, tunjukkin kalau kita itu saling cintaaaaa banget di hadapan mereka."


Aliya segera mencubit gemas pipi Chandra. "Gemesin banget sih ni cowok, suami siapa hayo?"


"Suaminya nyonya muda Kostak," jawab Chandra mengecup singkat bibir Aliya. "Ayo makan kasian dari tadi kamu belum makan kan?"


Aliya segera turun dari pangkuan Chandra, dan membuka bungkusan makanan yang di beli oleh Haris. Mereka akhirnya makan berdua dengan tenang, setelah pengusiran elegan mereka terhadap alien versi Chandra.