
"Agh... Dasar perusahaan aneh, kenapa ada saja sial yang ku dapatkan?" Kesal Fika hendak mencari ponselnya yang ada di dalam tas.
"Mungkin niat nona datang ke perusahaan ini buruk. Menurut beberapa orang, di sini ada penunggunya, biasanya orang yang akan berniat buruk datang di perusahaan ini akan di buat sial. Misalnya saja seperti mobil non ini," ucap satpam tersebut mengusap lengannya, seolah merinding dengan hal tersebut.
"Agh... Kemana ponselku?" kesal Fika, masih mencari ponselnya. Tampaknya dia tak mendengarkan kata kata satpam tadi.
"Ini coba di miskol pakai hp saya non," ucap satpam tersebut, segera menyerahkan ponselnya.
Fika segera mengambil ponsel satpam tersebut, yang tiba tiba berubah baik. Bahkan dengan sadar meminjamkan ponselnya. Ponsel Fika bersering, Fika melirik ke arah mobilnya, ternyata ada nyala ponsel di dalam mobilnya.
"Agh... Si al, si Al..." kesal Fika, karena ternyata ponselnya berada di dalam mobil, sekarang bagaiman mengambilnya. Bahkan memegang pintu saja membuat Fika jijik, karena terlalu banyak kotoran di sana.
"Saya ambil ya non, sudah ketemu kan? Saya kembali ke post," ucap satpam tersebut.
"Mobil ku gimana?" Fika memandang ke arah satpam tersebut.
"Mohon maaf, masalah mobil kotor akibat burung, itu tidak termasuk dalam ke dalam tanggungan perusahaan," ucap satpam tersebut, segera beranjak menuju tempat yang seharusnya.
"Agh... Perusahaan pembawa si Al," umpat Fika segera mendekat ke arah mobilnya, rasanya mendekat saja dirinya tak sanggup.
Groook.
Perutnya berbunyi, menuntut untuk di isi, mau tidak mau dirinya harus makan di perusahaan ini. Fika segera berjalan menuju kantin.
Sesampainya Fika di kantin, Fika segera mencari bangku kosong, dan duduk di sana. Fika segera membuka makanannya, namun sialnya, saat baru menyuap satu sendok spagetinya, Fika menyaksikan pemandangan yang menyesakkan.
Aliya tengah di suap oleh Chandra, dengan Chandra yang mengusap lembut wajah Aliya. Ah, sungguh mesra, hingga membuat para karyawan berbisik iri. Namun bagi Fika itu sungguh menyakitkan. Dirinya iri, ingin juga begitu, namun sendiri. Mana laki laki idamannya yang melakukan adegan tersebut dengan yang wanita lain. Yang tak lain adalah istrinya.
Haris dan Arnita juga masuk, Haris tampak menggandeng tangan Arnita, kemudian duduk di antara pandnagan Fika kepada Chandra. Fika berdecak kesal. Pasalnya Haris memperlakukan Arnita dengan tak kalah mesra. Bahkan beberapa karyawan juga terkejut, mereka terperangah melihat pemandangan tersebut. Sungguh di luar dugaan. Mereka bahkan berfikir Haris itu pencinta pisang, namun ternyata Haris memiliki kekasih.
Arnita tampak sangat cantik, cendrung imut. Sementara Haris si tuan sekertaris arogan dan dingin. Mereka tampak menjadi pasangan serasi. Tak tahu saja mereka, misi mereka adalah memanas manasi keadaan Fika yang telah panas duluan.
Haris segera meletakkan makanan di hadapan Arnita, seolah melayani gadis itu dengan penuh kasih sayang. Arnita tersenyum puas, dirinya berhasil mengerjai Haris. Sering sering saja begini, maka dirinya akan lebih sering menjadikan Haris pelayan di depan umum. Ah, ini sangat membuat Arnita tersenyum manis.
"Jangan ge'er ini karena mau mengusir dedemit itu," ucap Haris dengan senyum yang menawan, seolah mengatakan hal yang sangat mesra.
"Aku sedang tidak ge'er, wahai kekasih pura pura ku, aku sangat bahagia karena dua hal," ucap Arnita dengan senyum mengembang, bahkan dirinya kini meraih tangan Haris. "Kau tahu, aku sangat bahagia karena melihat nenek lampir itu menahan kesal, dan yang kedua aku bahagia karena kau baru saja menjadi pelayan ku."
Haris yang baru saja menyadari maksud senyuman Arnita, sungguh kesal. Segera di cubit nya pipi Arnita dengan gemas, mengandung penuh rasa kesal di sana. "Ah kau benar benar mengesalkan ya, tunggu saja pembalasan ku," ucap Haris menekan suaranya.
"Ah iya wahai pelayan durjannah ku," ucap Arnita mencubit gemas dagu Haris.
Aliya yang menyadari kehadiran Haris dan juga Arnita, segera memandang ke arah merek. Aliya segera meminta Chandra untuk memandang ke arah Haris dan juga Arnita.
"Iya perasaan baru kemarin deh berantemnya, tapi kok sekarang baikan lagi? Bahkan kelihatan mesra banget, pakai cubit cubit pipi sama dagu segala lagi," ucap Chandra segera mencubit mesra pipi Aliya.
"Aish, ini serius lo gue nya. Lo pakai acara modus segala," ucap Aliya memandang suaminya kesal.
"Idih ngapain gue modus? Toh gue bisa nyium lo di sini sekarang juga," ucap Chandra sombong.
"Idih ga malu lo?" sinis Aliya, membuat Chandra terkekeh.
"Ngapain? Orang gue bosnya," ucap Chandra segera mendekatkan wajahnya ke arah Aliya.
"Iya ga usah pamer juga lo," kepala Aliya mendengus kesal.
"Ga kok," ucap Chandra, segera mendekatkan bibirnya ke bibir Aliya.
Cup.
Satu kecupan dengan sedikit lu_ma_tan mengenai bibir Aliya. Membuat semua orang bersorak iri dan juga pingin. Tapi sayang tidak ada lawan.
Fika semakin kesal di buatnya, kekesalannya membuat dirinya tersedak, untung saja ia telah memesan minuman, hingga dirinya bisa segera menyesap minuman tersebut.
"Si Al, si al, si Al," gerutu Fika segera berdiri dari kantin, dan menuju ke depan untuk menghentikan taksi. Pasalnya saat ini ia jijik megang mobil mahalnya sendiri.
Dirinya benar benar dalam keadaan sial, ponselnya tertinggal di dalam mobil, sementara dirinya harus menghubungi bengkel langganannya. Fika juga harus kembali ke kantor. Dengan sangat terpaksa Fika akhirnya memilih naik taksi biasa.
Chandra yang melihat Fika keluar dari kantin, segera mengambil ponselnya, dan menghubungi seseorang.
Sementara Fika dirinya kini tengah berdiri di samping trotoar, hendak menghentikan taksi yang lewat. Namun Fika enggan berdiri di samping pohon itu lagi, di sebabkan baru saja kemarin dirinya terkena kotoran burung di sana.
Jam makan siang telah usai, Arnita akhirnya mengikuti nona muda nya, untuk mengambil berkas yang telah di tanda tangani. Sementara Haris, kini kembali ke ruangan nya.
"Kak Nita, kakak ada hubungan apa sama kak Haris, terlihat mesra tadi, padahal kemarin bertengkar," Aliya bertanya setelah menyerahkan berkas ke arah Arnita.
"Oh kami hanya pura pura tadi di depan penyihir nenek lampir," ucap Arnita membuat Aliya mengangguk. Chandra juga diam diam mendengarkannya, sembari tangannya sibuk dengan berkas.
"Mau beneran juga ga papa kok kak," goda Aliya membuat Arnita seketika merinding disko, tak bisa membayangkan jika dirinya dan Haris menjadi sepasang kekasih. Arnita menggeleng, menghilangkan bayangan buruk tersebut.
"Tidak terimakasih nona, sepertinya akan sangat mengerikan jika begitu," Arnita segera mengusap lengannya, membayangkan pertengkaran yang harus ia hadapi setiap hari bersama Haris.
Aliya dan Chandra terkekeh melihat gadis imut tersebut bergidik, tak tahu saja gadis itu, bahwa tuan dan nonanya dulu sama seperti dirinya dan Haris. Berperang terus jika bertemu, tanpa ada jeda.