
Chandra dan Aliya saat ini tengah berada di lapangan sky, tampaknya sudah banyak orang yang berada di sana. Kedua pasangan somplak ini tengah menikmati kebersamaan nya sebagai masyarakat biasa, jauh dari kata wartawan.
Chandra yang melihat Aliya sudah kedinginan, dan kelelahan, segera membuka sarung tangan Aliya, dan menyimpannya ke dalam kantung jaketnya. Chandra juga melakukan hal yang sama. Chandra segera meniup tangan Aliya dan menggesek geseknya beberapa kali, kemudian menempelkannya di kedua pipi Aliya. Chandra bahkan beberapa kali mengecup tangan Aliya ketika menghangatkan tangan Aliya.
"Capek ya?" Chandra segera memperbaiki syal lembut yang tengah di kenakan oleh Aliya. Chandra juga tak lupa memasangkan kembali sapu tangan milik Aliya, dan dirinya.
Aliya mengangguk mendengarkan pertanyaan suaminya, Chandra tersenyum dan segera menggenggam tangan Aliya. "Ayo kita istirahat aja."
"Ayo, udah capek banget nih," jawab Aliya memeluk erat lengan suaminya.
Chandra dan Aliya baru saja selesai bermain sky, mereka memutuskan untuk beristirahat. Chandra segera menuju salah satu kedai kopi, untuk menghangatkan badan mereka. Chandra mencari tempat duduk yang nyaman untuk Aliya. "Gimana? Seru kan?" Chandra bertanya setelah menemukan tempat duduk untuk istrinya.
"Iya curut gue," kata Aliya tersenyum manis, tampak sangat jelas wajah berseri Aliya, membuat Chandra menjadi sangat bahagia.
"Cium dong," pinta Chandra memonyongkan bibirnya ke arah Aliya.
"Udah," Aliya sedikit terkekeh ketika mengecup bibir Chandra. Chandra baginya terkadang begitu menggemaskan, namun di lain waktu terkadang juga sangat mengesalkan.
"Ya udah gue cabut dulu ya, ngambil minuman hangat. Tunggu di sini jangan ke mana mana. Jangan nakal," kata Chandra mengecup puncak kepala istrinya.
"Iya, gue ga akan gerak sedikit pun," kata Aliya tersenyum menggeleng, melihat tingkah suaminya yang saat ini sangat menggemaskan.
Chandra kemudian beranjak menuju kasir kedai kopi instan. Chandra tersenyum sendiri ketika melihat tingkah istrinya yang penurut, di saat saat tertentu.
Aliya hanya tersenyum sembari memperhatikan dari kejauhan, terlebih saat suaminya tengah mengantri demi mendapatkan secangkir capuccino hangat untuknya. Suaminya tampak di layani oleh seorang wanita, wanita itu tampak terpesona oleh ketampanan Chandra, Aliya bisa maklum itu, tapi tingkah gadis itu yang membuat Aliya menggeram. Gadis itu bahkan tampak memperlambat pembuatan kopinya, dan beberapa kali menampakkan gestur menggoda Chandra.
Meskipun dapat Aliya lihat bahwa Chandra tak tertarik sama sekali, bahkan Chandra beberapa kali memandang ke arah Aliya, sembari tersenyum. Seolah mengatakan, 'sabar sebentar lagi pesanan kamu selesai' begitulah kira kira.
Wanita itu terus mencoba menggoda Chandra, Aliya manis dari jauh, terlebih ketika Chandra memandang ke arahnya. Wabita itu tak sengaja melihat pandangan Chandra, dan mendapati pandangan Chandra yang tertuju kepada Aliya. Saat Chandra berbalik menunggu pesanan satunya untuk selesai, senyum Aliya berubah, menjadi senyum mengerikan, wanita itu tahu penyebabnya, dan itu jelas untuknya. Aliya tersenyum simrik sembari jari telunjuknya di letakkan di depan leher, kemudian menggeseknya. Seolah mengatakan.
"Coba saja kalau berani, aku sendiri yang akan menghabisi mu," begitulah kira kira isi ancaman Aliya, yang ditujukan untuk gadis tersebut.
Seketika penjual kopi tersebut tertunduk, dan tak melanjutkan menggoda Chandra. Chandra yang sedikit bingung dengan tingkah laku orang tersebut, hanya bergidik tak perduli. Kemudian mendekati Aliya, yang tengah memandangnya dengan senyum yang melebar, seolah tak terjadi sesuatu.
"Ayo minum," Chandra segera meletakkan gelas capuccino untuk Aliya. "Lama banget tuh orang buatnya, ada ini lah ada itu lah, aneh tu orang," omel Chandra tak puas dengan pelayanan wanita yang tadi mencoba menggodanya.
Aliya diam diam hanya tersenyum sembari menyesap capuccino tersebut. Ah, sungguh hangat, sehangat keluhan penuh kekesalan Chandra kepada wanita tadi. Baru kali ini Aliya merasa senang mendengar keluhan Chandra, terlebih lagi untuk wanita yang tengah menggoda suaminya tadi.
Chandra sendiri? Saat ini ia tengah memandang garang ke arah para pemuda yang sejak tadi mencuri pandang ke arah Aliya. Chandra bahkan rasanya ingin segera menggeret Aliya keluar dari tempat tersebut. Namun melihat Aliya yang menikmati minumannya, membuat Chandra tak tega.
Tiba tiba saja terjadi kontraksi di perut Chandra, tampaknya Chandra hendak menunaikan hajatnya. Chandra segera berdiri dari tempat duduknya. "Cil gue ke toilet dulu ya," kata Chandra segera beranjak menuju toilet.
"Mau gue temenin ga?" Aliya sempat sempatnya menggoda suaminya itu, membuat Chandra terkekeh.
Setelah kepergian Chandra, beberapa pemuda mendekati Aliya, hendak berkenalan dengan Aliya. Aliya yang tak perduli, memilih untuk berpura pura tidak tahu maksud mereka.
"Hai, excuse me," sapa salah seorang pemuda, Aliya jelas tahu siapa orang itu, karena logat mereka yang kental, Aliya jelas tahu kalau mereka sepertinya warga lokal.
"네? 화장실 찾으세요?" (Ya? Anda mencari kamar mandi?) Aliya memandang kedua pemuda yang mendekatinya. Aliya jelas tahu tujuan mereka mendekatinya.
"아, 한국어를 아주 잘 하시는 것 같습니다. 사실 만나고 싶었어," (ah, tampaknya anda sangat fasih berbahasa Korea, saya hanya ingin berkenalan dengan anda,) laki laki itu tersenyum ke arah Aliya.
Aliya hanya tersenyum memandang laki laki tersebut. Bahkan laki laki itu kini menjulurkan tangannya, hendak menjabat tangan Aliya. Aliya menghela nafasnya kasar.
^^^"Huh cobaan orang cantik memang gini Al," Aliya bergumam sendiri di dalam hatinya. Merasa bangga menjadi idola para laki laki lain, namun di sisi lain merasa risih dengan para laki laki yang terkadang nekat mengajaknya berkenalan.^^^
Chandra yang melihat dua pemuda yang berdiri di meja, terlebih melihat salah satu di antara mereka menjulurkan tangan, membuat Chandra naik pitam. Chandra segera mendekat.
"Excuse me," Chandra mengejutkan kedua pemuda tadi dan Aliya. Aliya tersenyum memandang ke arah Chandra, Aliya kemudian berdiri dan menghampiri Chandra, sontak membuat Chandra tersenyum.
"Hai, Aiyla, and he is my husband, Chandra," (hai, Aiyla, dan dia adalah suami saya, Chandra) Aliya segera menggandeng Chandra ke meja mereka tadi. Chandra tersenyum menautkan jari jari mereka. Chandra kemudian segera mengangkat tangan kiri Aliya dan menunjukkan cincin kawin mereka.
"Sorry bro, we gonna go now," (maaf teman, kami harus pergi) Chandra segera menyambar tas Aliya, yang berada di atas meja, kemudian menggandeng Aliya keluar dari tempat tersebut.
^^^"Dasar predator hati, gue santet baru tau rasa lo pada," umpat Chandra ketika melewati kedua pemuda tadi, sembari memandangnya dengan tajam.^^^
^^^"Kalau mau jadi pelakor, lihat korban. Gue giles lo di ladang ranjau baru nyaho lo," umpat Aliya ketika melewati wanita yang tadi mencoba menggoda suaminya.^^^