
Setelah semua di ringkus Chandra segera membawa Lika pulang ke rumahnya. Hingga mulai saat itu Lika menaruh hati pada Chandra yang di anggap nya sebagai pengelamat hidupnya.
Ruangan Lika di penuhi foto foto Chandra yang di ambil secara diam diam. Namun sayang nya, Chandra tak pernah menganggap kehadiran Lika di sekitarnya.
Hingga bertahun-tahu kemudian Lika mendapat kabar tentang Chandra yang akan menikah, Lika menjadi frustasi. Yang Lika miliki kini bukan lagi perasaan cinta, namun obsesi, hingga akhirnya kabar pernikahan yang di tutupi oleh keluarga Lika pun akhirnya bocor, pasalnya video Aliya dan Chandra sudah beredar bebas, belum juga mereka berdua membuat sebuah YouTube channel. Hingga membuat Lika semakin frustasi, dan di bawa ke dokter psikiater, namun pada akhirnya Lika tetap memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Flashback end.
"Itu sama sekali bukan salah Chandra, Chandra hanya berusaha menolong kembaran lo," teriak Aliya membuat Fika menggeram kesal.
"Berani lo ya," kesal segera mengambil pistol di saku celananya. Fika segera menarik platuk nya, hingga Chandra segera memeluk Aliya.
Chandra tak bisa melihat Aliya kembali berbaring di ruang operasi, kini dirinya yang harus melindungi Aliya dan juga anak mereka, setidaknya dirinya akan menyelamatkan dua nyawa, yang sangat berharga dan berarti bagi Chandra.
Dor.
Aliya menutup telinganya saat Chandra segera memeluknya, Chandra memeriksa Aliya, takut takut terjadi sesuatu, namun ternyata Aliya baik baik saja.
"Syukurlah, Alhamdulillah, ga apa apa kan sayang?" Chandra mengecup bibir Aliya, menyalurkan rasa syukurnya.
"Chandra lo ga apa apa kan?" Aliya panik memeriksa keadaan Chandra.
"Engga," Chandra menggeleng memeluk kembali tubuh Aiyla.
"Agggh, kenapa ini? Kenapa tidak ada peluru?" kesal Juwita menggema di ruangan tersebut.
"Kami polisi angkat tangan," suara bariton lengkap dengan pistol di tangannya mengacung ke arah para penjahat, sementara Fika terdiam tak tahu kenapa bisa ada polisi.
"Ba... bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" Fika sangat terkejut terlebih melihat seluruh anak buahnya secara serentak menurunkan senjata api mereka, tanpa perlawanan.
Seorang laki laki tegap keluar dari kerumunan, bersamaan dengan Haris, Chandra, Alex dan juga Erick.
"Alex!" Fika menggeram sendiri melihat Alex ternyata di pihak Aliya.
"Ha iya, kita saling saling mengenal?" Alex melongo. Begitupun Alex kekasih Fika.
"Alex! Kamu lakuin ini semua ke aku? Penghianat kamu ya," ucap Fika kembali emosi, karena merasa di tipu kekasihnya.
"Aku sudah tidak bisa lagi melihat kamu berbuat sejauh ini, kamu hanya akan melukai diri kamu, lebih baik aku hentikan kamu sekarang juga," ucap Alex mendekat ke arah Fika.
"Itu namanya Alex juga?" Alex berbisik ke arah Erick.
"Iya, namanya kembar kayak lo, pasaran sih... Coba nama lo lolex pasti beda dari yang lain," ujar Erick ikut berbisik.
Sementara Brayen dan Haris segera mendekat ke arah Chandra dan Aliya. Mereka segera membantu Aliya dan Chandra untuk bangun, dan mununtun ke arah Alex dan juga Erick.
"Kamu penghianat Lex, kamu biarin aku masuk penjara," ujar Fika berurai air mata.
"Aku ga mau ibu anak aku menjadi seorang pembunuh," ujar Alex menatap mata Fika dalam. Sejujurnya dirinya juga terpaksa melakukan hal ini, lantaran Alex ingin Fika berubah, sudah sekian banyak cara Alex mencoba membujuk Fika, agar segera berhenti dari dendamnya, dan memulai hidup baru di luar negri, namun Fika selalu menolaknya dengan berbagai cara.
Aliya jengah melihat kedua sahabatnya justru asyik berbisik, membuatnya segera menoyor kepala Alex dan Erik.
"Teman ga ada akhlak lo berdua ya, gue lagi gini lo malah asyik nge gosip," kesal Aliya.
Kedua orang yang mendapat toyoran di bagian kepala plus semburan kekesalan dari Aliya. Kini hanya tersenyum tanpa dosa. Kami lagi ngomongin Alex yang itu loh, namanya sama kayak gue."
"Iya nama lo pasaran," ejek Aliya, membuat Alex cemberut, sementara Erick terkekeh.
Tiba tiba Aliya merasakan keram di bagian perutnya, Aliya segera memegangnya dengan erat, Aliya menggigit bibirnya. Mereka yang melihat itu menjadi panik sendiri, Aliya menutup matanya, mencoba menahan sakit di bagian perutnya.
"Awh," keluhan akhirnya keluar dari bibir Aliya, tatkala Chandra hendak membopong tubuhnya, Chandra kembali terkejut, ketika melihat ada tetesan darah di sana.
"Sabar kita ke rumah sakit," ujar Chandra segera membawa Aliya ke luar, untung saja di luar ada ambulan, untuk mengobati beberapa orang yang terluka.
Dengan terburu buru mereka membawa Aliya ke dalam ambulan, Chandra masuk demi menemani Aliya, pikiran buruk menghantuinya. Chandra takut terjadi sesuatu kepada calon anak mereka.
"Sayang kuat ya, kita ke rumah sakit," ujar Chandra mengecup tangan Aliya, kemudian menggosok gosokkan ke wajahnya.