SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
mencoba meyakinkan.



Haris baru saja memesan baju baru dengan karyawan hotel, untuk mereka berdua. Sementara Arnita membersihkan dirinya di dalam kamar mandi, memandangi badannya yang sudah di penuhi tato abstrak. Wajah Arnita kini kembali memerah, kala mengingat bagaimana mereka melakukannya tiga puluh menit lalu. Bagaiman tidak, jika tadi malam Arnita memang di pengaruhi obat pe*rang*sang namun tadi Arnita benar benar dalam keadaan baik baik saja, sadar sepenuhnya.


Belum lagi panggilan terbaru dari Haris, semakin membuat Arnita malu sendiri. Bagaiman tidak jika biasanya mereka saling berperang kata, kini mereka baru saja mereka selesai berperang di atas ranjang. Benar kata guru BP mereka saat di SMA, guru yang selalu menengahi pertengkaran kedua manusia ini. Bahwa jangan terlalu membenci, karena benci biasanya akan di akhiri dengan cinta. Bahkan Arnita juga mengingat, bagaimana kesalnya guru BP tersebut menghadapi kedua orang itu, hingga akhirnya mengeluarkan sumpah.


"Sekali lagi kalian bertengkar, dan menyebabkan kekacauan! Ibu sumpahi kalian akan berjodoh," Juwita masih ingat betapa geramnya guru tersebut menghadapi kelakuan Arnita dan Haris yang tak pernah akur.


"Ibu jangan, perang terus kami, tidak akan damai kami buk. Euh sama si Pedut, di mimpi saja kami tolak, apalagi di dunia nyata."


"Kau kira aku mau dengan wanita kurcaci seperti mu? Mulut cerewet, badan kecil membuat kepala siapa saja menjadi pusing."


Setiap kaya yang keluar dari mulut mereka hari itu, kini kembali berputar di kepala Arnita. Dan kini semua kata kata itu menjadi bumerang bagi mereka, kini mereka harus menjalani pernikahan, karena sebuah kesalahan. Arnita memandang perutnya yang datar, di depan cermin. "Apa bisa sekali jadi ya?"


Haris mengetuk pintu kamar mandi, takut takut jika terjadi sesuatu kepada gadis pujaannya, atau gadis itu menjadi nekat dan melakukan sesuatu yang tidak tidak. "Nit... Nit... lagi ngapain di dalam? Sayang, kamu tidak nekat bukan?" suara Haris menggema di balik pintu.


"Iya... aku sebentar lagi," Arnita segera bergegas ke bawah pancuran air shower, kemudian meramalkan do'a mandi wajib, Haris menunggui Arnita di tempat tidur, setelah Arnita keluar, Arnita segera menyambar paper bag untuknya. "Sana mandi."


"Hum... harum sekali calon istri ku," Haris mengecup puncak kepala Arnita yang basah. "Cie mandi wajib."


"Haris! Masuk mandi sana!" teriak Arnita, malu sendiri.


Saat Haris keluar, Arnita telah memakai pakaiannya, sementara Haris hanya mengenakan handuk sebatas pinggang bawah hingga atas lutut. Haris tersenyum ketika melihat Arnita mengeringkan rambutnya.


"Sayang minta paper bag," Haris segera melepas handuknya di hadapan Arnita. Seketika Arnita memerah ketika melihat suntikan vaksin, yang telah menyuntik Arnita berkali kali.


"Malu Pedut," kesal Arnita membalikkan tubuhnya.


"Ini kamu bilang Pedut? Lupa kamu rasanya Huat kamu ah uh ah uh?" goda Haris menaik turunkan alisnya.


"Pedut...." teriak Arnita segera keluar dari kamar tersebut, dengan kaki yang sedikit pincang. Haris terkekeh geli melihat tingkah Arnita.


Setelah berpakaian mereka segera bersiap untuk kembali ke kediaman masing masing. Haris melirik Arnita sejenak, tampak jalan tertatih tatih. Wanita itu tak mengeluh sedikit pun, hanya sedikit ringisan yang keluar dari bibirnya, jika suasana hening.


"Apa sangat sakit? Butuh bantuan dari ku?" Haris mendekat ke arah Arnita.


"Hm, ti...tidak kok, aku ti... tidak apa apa," Arnita sedikit malu. Memang saat ini pangkal paha nya benar benar sakit, namun Arnita menahannya, dirinya sungguh sangat malu.


"Ya sudah ayo," Haris merangkul tubuh mungil Arnita.


Arnita tak mengeluarkan suaranya sama sekali, selama di dalam mesin ruang bergerak, wanita itu memilih untuk diam, dan merenungi segala kejadian tadi malam hingga hari ini. Tiba tiba wajahnya menjadi panas, kala mengingat aktifitas mereka.


Haris hanya tersenyum menanggapi, Haris memapah tubuh mungil Arnita ke dalam mobil milik Arnita, pasalnya mobil Haris saat ini masih berada di kediaman Chandra. Lelaki itu mengitari mobil, kemudian masuk ke dalam mobil, dan mulai mengendarai mobil.


"Nanti sore aku akan datang ke rumah mu, aku akan segera melamar mu, kau tolong bilang sama keluarga mu ya," ujar Haris kala mereka berada di lintasan lampu lalu lintas, Haris menghidupkan lampu sorot ke arah kanan.


"Karena aku tak ingin kau di jadikan bahan gosip saat pernikahan kita nanti," Haris tersenyum sejenak, kemudian kembali fokus mengemudi mobil.


"Bagaimana kalau kakak tidak setuju?" bukan tanpa alasan Arnita menanyakan hal tersebut, namun kesalahan Haris saat berada di rumah sakit, pastinya membuat Bambang sulit untuk memaafkan Haris.


"Kakak mu akan setuju, aku akan memastikannya. Kita tidak boleh menunda lagi," Haris menghentikan mobilnya kala sampai di depan rumah Arnita. Pagar itu tampak begitu tinggi menjulang, menutupi rumah Arnita, yang belum pernah Haris masuki.


"Tapi aku bagaimana jika kakak tahu tentang yang semalam?" Arnita menggigit bibirnya, takut jika keluarga nya akan mengamuk.


"Semalam saja? Tadi tidak?" goda Haris menurunkan ketakutan Arnita.


"Ah... Haris aku bersungguh sungguh," keluh Arnita merasa sedikit kesal oleh Haris.


"Itu akan lebih mudah lagi, dia akan mempercepat nya," ujar Haris meyakinkan.


"Benar kah?" Arnita tampak berbinar.


"Iya, percaya padaku," Haris mengusap lembut kepala Arnita.


"Bagaiman kalau kakak memarahi ku?" Arnita kembali menanyakan tentang kakaknya.


"Aku akan melindungi mu, dan menceritakan semuanya," ujar Haris kembali mencoba menenangkan Arnita.


"Terimakasih, tapi kakak mungkin akan memukul mu," Arnita menunduk, membuat Haris menghela nafas kasarnya.


"Tidak apa apa, aku akan menerimanya dengan lapang dada," Haris kembali mencoba mengangkat kepala gadis tersebut.


"Lalu keluarga mu?"kini mata Arnita sedikit berkaca kaca.


"Mereka aku pastikan akan setuju, buka kah kalian pernah bertemu?"Haris mengusap sudut mata Arnita yang akan mengeluarkan air mata nya.


"Iya tapi aku takut," Arnita kembali merasa tidak percaya diri


"Aku ada di samping mu, untuk apa kau takut," ujar Haris. "Kau hanya perlu mengatakan kepada keluarga mu kalau aku akan datang melamar mu."


"Baik lah," Arnita akhirnya sedikit tersenyum, meski di paksakan.


"Mobil mu aku bawa dulu," Haris mencoba mengalihkan perhatian Arnita.


"Baik lah," ujar Arnita tersenyum.