SOMPLAK COUPLE

SOMPLAK COUPLE
pertemuan keluarga



"Kau hati hati ya," Arnita segera bersiap membuka pintu mobilnya, sembari mengambil tas miliknya yang ada di jok belakang.


"Hanya itu?" Haris mengerutkan keningnya. Laki laki itu tak terima jika pacarnya yang sebentar lagi akan ia lamar.


Arnita mengerjapkan bingung, ia tak mengerti apa yang di inginkan oleh Haris. Arnita menghentikan niatnya untuk membuka pintu mobil. "Lalu?" Arnita tampak bingung dengan maksud dari Haris. Wanita itu ikut mengerutkan keningnya.


Haris gemas sendiri melihat tingkah Arnita, gadis itu bahkan tak mengerti maksud dari dirinya, tampak jelas itu tak di buat buat. "Beri aku kecupan," Haris sedikit cemberut ketika mengatakannya.


Arnita melengos mendengar keinginan Haris, wanita itu tak menyangka bahwa Haris akan seaneh ini. "Kecupan apa?" Arnita tampak sedikit malas ketika mengatakannya.


"Kecupan hati hati di jalan," ucap Haris tersenyum menawan, menatap tajam mata Arnita.


Arnita berdebar sendiri ketika melihat mata abu abu itu memindai matanya, mata itu yang sering membuatnya menjadi berdebar tak karuan, karena itu Arnita selalu menghindarinya. "Ha... harus begitu?" Arnita gugup sendiri, lidahnya tiba tiba sedikit keluh, sehingga kata kata yang ia keluarkan menjadi sedikit tergagap.


"Tentu saja," Haris tersenyum menawan membuat jantung Arnita semakin berdebar.


"A... aku! Tapi aku tidak mau," wajah Arnita memerah nafasnya sedikit berat, matanya ia edarkan ke segala arah, menghindari kontak mata dengan Haris.


Haris menggigit bibirnya, wajah memerah Arnita memunculkan sesuatu yang membuat dirinya memanas. "Kau..." Haris menggeram gemas dengan ekspresi wajah Arnita.


"Apa?" Arnita menaikkan suaranya mencoba mengatasi kegugupannya.


"Awas ya," Haris semakin gemas dan mendekati ke arah Arnita. Haris semakin mendekat hendak mengecup bibir Arnita, namun Arnita berhasil menghindarinya.


"Ye... tidak kena," Arnita mencibir Haris, entah kenapa wajah kecewa Haris menghilangkan kegugupannya, sehingga Arnita menjadi terkekeh sendiri.


"Sini..." Haris semakin gencar mengincar bibir Arnita, rasanya ia gemas sendiri melihatnya. Akhirnya Haris mengusung Arnita di dalam dekapannya, Haris berhasil memeluk tubuh mungil Arnita.


Wanita itu menjadi gugup sendiri, entah kenapa sedekat itu dengan Haris, semakin membuat dirinya berdebar. Namun saat ini kaca mobilnya yang transparan membuat Juwita salah tingkah sendiri, meski komplek mereka termasuk komplek dengan sistem pertentangan yang tak memperhatikan satu sama lain, namun Arnita tetap malu. "Eh malu kalau ada yang melihat," Arnita memandang ke segala arah takut ada seseorang yang melihat mereka.


"Tidak apa, kau calon istri ku sekarang," Haris tak perduli, ia sudah ingin menggigit bibir gadis tersebut.


"Kau... Ap..."


Cup. Kata kata Arnita bahkan belum selesai, namun telah di potong oleh bibir Haris yang menyambar bibir Arnita. Laki laki itu me*lu*mat nya dengan lembut. Mata laki laki itu terpejam sempurna, menandakan bahwa laki laki itu sangat menikmatinya.


Tok tok tok. Suara ketukan di pintu mobil Arnita mengejutkan mereka berdua, Arnita segera mendorong tubuh Haris.


Arnita segera memandang ke arah ketikan pintu, namun ternyata itu adalah papanya, alis pak Andre "Eh papa."


"Papa?!" Haris membeo, mengulang kata papa dari Arnita.


"Tu kan..." gerutu Arnita cemberut ke arah Haris, membuka pintu mobilnya.


"Maaf om, apa kabar?" Haris mencoba berbasa basi. Haris mengulurkan tangannya mencoba untuk berjabat tangan pak Andre. Pak Andre segera menyambutnya.


"Baik, kamu apakan putri ku di depan pagar rumah ku?" Pak Andre tanpa bertele tele segera bertanya pada pokoknya. Laki laki itu tampak mengenakan jas putih, sama seperti Bambang, kakak Arnita. Laki laki itu tampaknya seorang dokter pula.


"Maaf om," ujar Haris menggaruk kepalanya tak enak. Haris melirik Arnita yang tengah tertunduk di samping pak Andre.


"Kau kekasih putri ku?" pak Andre memasukkan tangannya di saku jas kebesarannya.


"Iya om," Haris kini memilih menunduk memandang ujung sepatunya.


"Datangkan orang tua mu, dalam minggu ini. Jika tidak lebih baik kalian putus!" pak Andra segera berbalik menuju mobilnya, memberi kode kepada Arnita agar membuka pagar rumah.


"Eh jangan kan minggu ini om, sore ini juga bisa," ujar Haris bersorak bahagia.


"Buktikan saja," pak Andre segera menghidupkan mesin mobilnya, dan melajukan mobilnya ke dalam pagar.


"Baik om, saya pamit dulu," Haris kembali ke dalam mobilnya, menghidupkan mesin, dan segera melajukan mobilnya segera pulang ke rumah.


"Eh tunggu, bukannya itu mobil mu?" pak Andre tampak berpikir keras.


"Dia siapanya suaminya bos mu?" pak Andre menunjuk pagar dengan dagunya.


"Dia asistennya tuan Chandra," jawab Arnita yang tahu betul maksud dari papanya.


"Oh... Kalian cinlok?" pak Andre berdecak ketika mengatakannya.


"Cinlok? Cinlok apa sih pah?" Arnita sendiri tak paham dengan maksud dari papa nya.


"Cinta lokasi," jelas pak Andre gemas sendiri dengan anaknya, yang terkadang tak mengerti singkatan keren anak muda.


"Papa kebanyakan nonton gosip nih," ujar Arnita mencibir pak Andre.


"Apa jangan jangan memang benar ini," pak Andre mencoba menggoda Arnita. "Ayo mengaku."


"Papa... Jangan gitu ah, dia teman SMA Nita," jujur Arnita.


"Ih CLBK ceritanya?" pak Andre mencolek dagu Arnita.


"Papa ga, bukan pa," ujar Juwita kesal sendiri, papanya terus sengaja menggodanya.


"Aduh AADA lah," pak Andre semakin menggoda Arnita.


"AADA?" Arnita bingung sendiri.


"Ada apa dengan Arnita, acie..." pak Andre semakin menggoda Arnita.


"Papa... Apaan sih?" Arnita menjadi memerah ketika menghadapi pak Andre, Arnita segera menaiki tangga meninggalakan pak Andre.


"Mandi sana, turun, lalu buat lah kue untuk nanti sore," pak Andre terkekeh ketika mengatakan hal tersebut, menggoda putri satu satunya merupakan hal yang menyenangkan.


"Pa Nita kan ga bisa buat kue," Arnita merenggut kepada papa nya, pasalnya Arnita tahu betul jika papanya hanya menggodanya.


"Buat lah di aplikasi," ujar pak Andre terkekeh geli melihat wajah cemberut anaknya.


"Order pa, order," kesal Arnita, memutar matanya.


"Sana saja," ujar pak Andre masuk ke dalam kamarnya.


"Ya Allah gini amat punya papa rada gesrek," ujar Arnita masuk ke dalam kamarnya.


......................


Sore hari nya, seperti kesepakatan keluarga Arnita telah menunggu keluarga Haris. Nyonya Andre telah berdiri di samping pak Andre. Menunggu kedatangan keluarga Haris.


Tak lama kemudian keluarga Haris datang, membawa beberapa barang, seolah ini benar benar telah resmi.


"Kita harus bawa kue buaya begini ya?" nyonya Shing berbisik kepada pak Shing.


"Tentu saja, ayo Andre," Ujar pak Shing segera mengajak Haris.


Pak Shing keluar dari mobil, dan segera memandang ke arah keluarga Arnita. Pak Shing mengerutkan keningnya, dan pak Andre terdiam terkejut melihat pak Shing. Mereka seolah menyipit kan mata satu sama lain, seolah mengukur kekuatan. Haris dan Arnita menarik nafasnya dalam dalam.


Tiba tiba suasana menjadi hening, dan sekitarnya menjadi lebih sedikit menegang. Pak Andre dan pak Shing maju terlebih dahulu, tiba tiba pak Shing menaikkan gulungan jasnya, sama halnya yang di lakukan oleh pak Andre. Suasana semakin menegang, namun semua di luar kendali. Tiba tiba pak Andre dan pak Shing menaikkan tangan mereka, dan saling membalas tepukan, seolah bermain do mikado eska.


Suasana tiba tiba berubah, yang awalnya menegangkan, kini menjadi membangongkan. Mereka tak mampu berkata kata lagi. Mulut mereka terbuka secara serentak.


Tiba tiba keduanya saling merangkul, setelah menyudahi tos ala do mikado eska, dengan saling merangkul.


"Aku rasa akan lebih heboh lagi," gumam Arnita menggelengkan kepalanya.