
...Guys tolong budayakan like dan komentar ya, tahukah anda menurut nopidia memberi like dan komentar akan menambah semangat author untuk berkomentar....
"Hustttt diam, mau nanti malam kita ga jadi street food?" Chandra memandang ke arah Aliya sembari tersenyum simrik. Chandra tahu kalau Aliya tidak akan setuju.
"Enak aja, ga ada ya batal batal," tu kan benar pikiran Chandra, Aliya akan tak akan setuju, dan Aliya langsung saja protes tak setuju.
"Makanya jangan suka nyebut si Tono, nanti dia on," kata Chandra kembali menggoda Aliya, wajah istrinya itu kini sudah merona, karena kesal dan malu.
"Ih apaan sih, kan lo duluan yang nyebut si Jubaedah," Aliya tak ingin di salahkan. Kini karena kesal dengan Chandra, Aliya justru mangkerucutkan bibirnya.
"Iya iya, kenapa tuh mulut maju lima centi? Minta cium?" Chandra justru semakin menggodanya, wajah istrinya saat ini terlihat sangat menggemaskan, terlebih jika bibirnya manyun begitu.
"Idih otak lo, itu mulu," protes Aliya jengah melihat pemikiran suaminya, yang makin hari makin me sum. Bahkan tak segan segan berbisik fulgar di depan umum, terlebih itu di Korea, tak ada satupun orang yang akan mengerti.
"Lah lo duluan," jawab Chandra tak ingin di salahkan, dan kini menyalahkan Aliya kembali.
"Serah lo," pasrah Aliya, malas untuk berdebat terlalu lama dengan suaminya, karena tahu kalau suami nya ini pasti memiliki seribu satu kata kata untuk membalasnya. "Nanti balik ke penginapan dulu ya."
Chandra yang mendengar kata penginapan, berbinar bahagia. Chandra pikir Aliya ingin mengarungi kembali surga dunia, Chandra pikir Jubaedah ingin di apali Toni. "Cie mau ketemu Tono ya?"
"Ih gila ya, gue mau naro' ni belanjaan," Aliya memperlihat tentang yang ada di tangannya, tentengan oleh oleh dirinya untuk keluarga dan sahabat.
"Eleh bilang aja kangen Tono," goda Chandra, padahal tadi saat Aliya mengutarakan niat dirinya yang sebenarnya, Chandra sedikit menghela nafas kasar.
"Engga ya," Aliya semakin kesal di buat Chandra, ingin rasanya Aliya mencakar wajah tampan Chandra.
"Iya in deh, nanti kalau mau ketemu juga ga papa kok," goda Chandra segera menggandeng tangan Aliya menuju kasir untuk melakukan transaksi pembayaran.
"Ih apaan sih lo, ga malu ngomong gitu di depan kamera?" Aliya mengeluarkan jurus terakhirnya, agar Chandra tak meneruskan omongan me sum nya. Namun jawaban Chandra membuat Aliya menepuk jidatnya sendi.
"Kan bisa di edit, ih gaptek banget sih," kata Chandra enteng, sembari tersenyum mengejek ke arah Aliya.
Aliya merutuki kebodohannya, sembari mengerucutkan bibirnya. Aliya tak terima dirinya di sebut gaptek Aliya gagap teknologi oleh Chandra. Padahal segala jenis kamera cctv ia tahu, dan cara pemasangannya, serta cara agar cctv yang mereka gunakan lebih baik. Aliya juga menguasai beberapa bidang di dunia computer, bahkan dia tahu sedikit masalah peretasan. Namun ucapannya tadi membuatnya kelihatan menjadi tidak tahu tentang teknologi, hingga Chandra mengejek dirinya dengan sebutan gaptek.
"Ga ya, cuman..."
"Cuman apa? Gap tek, gagap teknologi," ejek Chandra, sepertinya dirinya punya mainan baru, untuk mengejek Aliya, agar wanita itu mudah bungkam.
"Ih gue ga bisa sama yang namanya edit sana edit sini, gue ngerti kok masalah teknologi. Mungkin lebih jago dari lo," tu kan Aliya mulai berkilah, dirinya jelas tak ingin kalah dari Chandra.
"Iya in, biar urusan cepat kelar," Chandra akhirnya mengalah, karena mereka telah sampai di depan kasir. Tak mungkin ia mempertontonkan perdebatan kecilnya di depan kasir tersebut. Meski mereka tak memahami bahasa Indonesia, namun dari gestur tubuh, dan intonasi suara. Mereka pasti faham bahwa kedua sepasang suami istri itu tengah berdebat.
Ah, rupanya Chandra tahu malu juga, othor kira tidak.
Setelah selesai berbelanja, dengan Aliya dan Chandra membawa beberapa tentengan. Mereka segera keluar dari pusat perbelanjaan tersebut, kemudian bergegas menuju mobil mereka. Aliya dan Chandra segera masuk ke dalam mobil. Chandra mengatur kamera agar tepat menghadap ke arah mereka. Aliya saat ini tengah memegang minuman dingin yang mereka beli.
"Al ngomong sana," pinta Chandra, karena dirinya hendak menyetir mobil, sedikit tidak enak jika berbicara sembari menyetir, Chandra kurang menyukainya.
Makanya biasanya di dalam perjalanan mereka lebih banyak diamnya, karena Chandra lebih suka diam, dan konsentrasi saat menyetir.
"Ga tau gue mau ngomong apa, perasaan aktifitas kita sama yang lain biasa aja, sama malah," Aliya memperbaiki sabuk pengamannya, ketika Chandra sudah mengeluarkan mobilnya. "Datang, makan, belanja pulang deh."
"Ga maksudnya pengalaman belanja lo selama di sini beda ga?"Chandra sedikit gemas melihat istrinya yang tidak terbiasa berbicara di depan kamera.
^^^Apa mereka semua gini ya? Ahlinya cuman kalau di depan ranjau, sama ranjang. Gumam Chandra di dalam hati, jengah melihat istrinya terlalu kaku, di depan kamera.^^^
"Beda? Apa ya bedanya? Bahasanya kali," Aliya mulai mengingat ngingat. "Ah ga tatanan orang di sini juga lebih bagus, mudah nemuin barang, terus pelayanan mereka juga bagus banget, mereka ngikutin bukan karena curiga, mereka ngikutin karena memang mereka bakal bantu kita kalau lagi ada apa. Itu kali ya yang buat gue betah tadi belanjanya, ini durasi terlama gue loh, di toko, biasanya gue sama yang lain lebih lama di kafe."
"Emang Angel sama Juwita ga suka belanja gitu?" Chandra lahirnya mengubah kebiasaannya, agar Aliya tidak terlalu mati kutu di depan kamera.
"Suka kok, tapi mereka lebih kepada online, barang datang ke rumah, ga perlu capek," kata Aliya santai. "Eh lo lagi nyetir, tumben tumbenan lo ngomong. Udah konsentrasi sana."
"Habisnya lo ga bisa sih ngomong di depan kamera," kata Chandra mengeluarkan uneg unegnya.
"Iya maaf, soalnya gue biasanya jarang ngerekam aktivitas kayak gini, ga ada juga teman teman gue yang suka ngerekam gini, paling cuman angel, tapi foto doang dia. Maklum seleb gram," kata Aliya tersenyum ke arah kamera.
Chandra tersenyum pelan pelan istrinya sudah mulai terbiasa, meskipun belum menyadarinya. Pasti lambat laun istrinya itu mulai terbiasa, berbicara di depan kamera. Buktinya hari ini, istrinya sudah mulai berbicara, meskipun tidak terlalu banyak. Tidak seperti vlog kemarin, di mana Aliya terlihat sangat kaku, dan hanya tersenyum ketika kamera menghadap ke arahnya. Sampai sampai dirinya di kira sombong oleh para penonton, terutama para Yandra (Aliya Chandra) fans the lisiuso mereka.
"Jelasin lah ke kamera, kenapa kemarin lo banyak diam," kata Chandra menunjuk kamera dengan dagunya, meski matanya tetap fokus ke depan.
"Gue malu," cicit Aliya, membuat Chandra hampir tertawa di buatnya. Istrinya memang unit, maklum limited edition.