
Seperti biasanya, lagi dan lagi pasangan somplak kembali hadir menghibur teman teman semua, jangan lupa like, komen dan favorit. Kalau berkenan hadiahnya wkwkwk.
Back to story, Aliya tengah menemani nyonya Mona untuk membeli sayur. Seperti biasa nyonya Mona yang biasa ngerumpi dengan ibu ibu komplek tengah berbincang bincang. Mereka tampak tengah membicarakan banyak hal. Aliya memilih untuk melihat lihat sayur yang akan di belinya. Bukan tidak mau bergabung menjadi aliansi ibu ibu ngerumpi, hanya saja bagi anak bawang seperti dirinya, pembahasan ibu ibu di pagi hari terlalu tinggi.
"Itu Bu tetangga baru kita yang namanya Fika itu ternyata janda Bu," ucap salah satu ibu yang dandanannya paling menor.
Seketika telinga Aliya menajam mendengar kan nama Fika. Jiwa gosip Aliya meronta ronta. "Ha Jandi eh janda?"
"Iya, kenal?" Nyonya Mona memandang Aliya dengan bingung.
"Iya kenal, dia itu ulet keket itu loh mah," ucap Aliya mengadu, sembari cemberut. Membentuk wajah yang pura pura teraniaya.
"Oalah calon pelakor yang di kerjai Haris?" Nyonya Mona heboh, membuat ibu ibu ikut heboh.
"Iya, Fika kan namanya? Orang baru di komplek ini," ucap Aliya memastikan.
"Iya," ucap salah satu ibu ibu yang sejak tadi paling heboh.
Aliya melihat antusias ibu ibu diam diam tersenyum, dirinya sudah tau apa apa saja yang akan di lakukan nya.
"Oh suka menggoda suami orang ya, dasar calon pelakor," ucap ibu ibu paling menor, sudah terlihat kekesalan di wajahnya.
"Iya, memang dasar wanita ular," salah satu ibu ibu mengompori.
Tiba tiba Fika keluar tersenyum ke arah kumpulan ibu ibu yang tengah menggosipinya. Aliya sengaja sedikit berlindung di balik nyonya Mona, agar tak terlihat oleh Fika.
"Tante apa kabar?" Fika segera menyalami tangan nyonya Mona.
"Baik nona Fika, rumah di sini juga?" Aliya tiba tiba menyembulkan kepalanya, memandang wajah Fika.
Fika sedikit terperangah, mengira Aliya tak akan keluar dari rumah besar milik mertuanya. "Ah iya, nona Aliya tumben sekali, saya kira anda tidak biasa berbelanja."
"Ah saya masih belajar mengenal sayur mayur, hingga sayur lodeh ala Dewi persik," ucap Aliya, mencerminkan tentang kejadian yang pernah di alami Dewi persik, tentang orang ketiga.
Ibu ibu yang hapal gosip komplek dan sekitaran dunia artis jelas tahu maksud dari singgungan Aliya. Fika juga jelas tahu maksud dari Aliya, Fika tahu bahwa Aliya tengah menyinggung tentangnya.
"Oh, iya mungkin kurang asin ya, tapi ya biasanya kalau kurang garam bisa di tambah garam. Ya kan ibu ibu," Aliya mencari aliran dukungan, agar Fika tersudutkan.
"Iya benar sekali itu," ucap ibu ibu memilih sayur, yang jelas itu hanya untuk menonton perang dingin Aliya dan Fika. Mereka akan menambah topik hangat gosip.
"Tapi tetap saja kurang, karena pada dasarnya wanita itu harus bisa masak kan Tante," Fika tersenyum memandang ke arah nyonya Mona.
"Tidak juga, menurut keluarga kami sih, menantu itu tak harus pintar memasak, karena jelas memasak buka kewajiban wanita. Kewajiban wanita itu hanya tiga, melahirkan, menyusui dan melayani suami," ucap nyonya Mona telak memenangkan menantu kesayangannya. "Lagian nih ya, bagi say itu ibu ibu, bukan masalah masakannya, tapi hatinya, harus tulus, jujur, dan tidak suka melirik milik orang lain. Kalau masalah masak memasak, untuk apa di rumah ada asisten rumah tangga, atau koki. Ya ga ibu ibu."
Semua mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh nyonya Mona, Fika jelas tahu bahwa dirinya tengah di singgung di bagian 'Tidak suka melirik milik orang lain' diam diam Fika menggeram kesal, dirinya seolah di tolak sebelum masuk ke arena permainan.
"Iya soalnya kalau kita memiliki pakai sistem rebut, atau paksa, maka itu tidak akan bertahan lama, karena biasanya orang orang pintar cendrung lebih memilih berlian dari pada batu kali," ucap Aliya menohok, membuat Fika semakin kesal.
"Nah benar tu, berlian kalau di taruh di lumpur, ya dia akan tetap berlian dan bersinar, tapi kalau batu kali di letakkan di lumpur ya dia tetap batu, tapi tidak bersinar, karena sesungguhnya batu kali itu tidak ada harganya, atau tidak berharga," salah satu ibu ibu yang tampak dengan riasan natural membuka suara juga.
"Nah iya ibu RT, ibu ini memang paling best kalau ngasih kata kata," ucap ibu ibu dengan tentengan sayur di tangannya. "Bang berapa? Saya mau masak."
"Empat puluh tiga ibu Ranti," ucap penjual sayuran tersebut.
"Wah naik ya bang?" Wanita yang di panggil ibu Ranti tak terima.
"Lah emang segitu dari kemaren Bu," protes tukang sayur tersebut.
"Ya udah ini, sisanya masuk bon aja, duit saya tinggal," ucap ibu Ranti tanpa merasa bersalah.
Mau tak mau tukang sayur tersebut mengangguk pasrah, dan mulai membuka catatan hutang.
"Saya pesan ini aja bang," Fika segera menyelesaikan belanjaannya, tak tahan mendengar kata kata tajam mengenai pelakor, yang ia tahu itu untuk dirinya.
"Lima puluh delapan bu," ucap tukang sayur tersebut tersenyum manis ke arah Fika.
Fika segera beranjak, tanpa pamit kepada yang lain. Dirinya jelas tahu, bahwa Aliya telah mengadu kepada nyonya Mona, dan nyonya Mona yang menyebarkannya.
"Awas saja kalian berdua, kalau aku sudah menjadi istri Chandra, maka akan aku buat kalian berdua menderita. Fika segera menutup pintunya, meninggalakan para ibu ibu. Semua kata kata dari aliansi ibu ibu komplek, benar benar menusuk, dan menggores hatinya, se tajam silet.