Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Keputusan Mengejutkan



Rama melepaskan tangan Nur pelan, dengan mencoba menahan kekesalannya.


"Apa maksudmu mengatakannya di depan Laila?" tanya Rama menatap Nur kecewa.


"Apa maksudku? Aku tidak bermaksud apa-apa, Ram. Aku benar-benar ingin bicara padamu," elaknya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Nur. Perjodohan ini bukan atas kehendakku, aku tidak menginginkannya! Aku mohon maaf Nur, jika ini menyakitkanmu!" tegas Rama lalu melangkah meninggalkan Nur.


Deg!


Seketika Nur meneteskan air mata. "Apa kamu mencintai Laila!?" tanya Nur sedikit keras. Menghentikan langkah Rama yang belum jauh.


Rama membalikan badannya.


"Apa kamu ingin tau?" tanya balik Rama


"Tentu saja! Aku perlu tau alasanmu tidak menginginkan perjodohan ini!" tegas Nur.


"Baiklah. Iya. Aku jatuh cinta padanya," jawab Rama dengan yakin.


Deg!


Seketika Nur melemah, Air mata di pipi Nur semakin deras. Nur menjatuhkan diri menopang badan dengang lutut. Isak tangisnya semakin pecah.


Rama tak tega melihat Nur seperti itu. "Maafkan aku, Nur," ucap Rama dengan rasa bersalah.


"Ini memang menyakitkan, tapi akan lebih sakit lagi jika kita hidup dalam kebohongan. Aku tidak mau membohongimu dan perasanku sendiri. Aku mohon maafkan aku, Nur," Lanjut Rama Kemudian membantunya berdiri.


"Tidak perlu, Ram. Aku bisa sendiri," tolak Nur.


Nur langsung lari pulang kerumahnya, membawa serta kesedihannya. Ia mencari pak Hadi dan langsung memeluknya, menumpahkan segala kekecewaannya di pelukan bapaknya.


"Apa!? Rama mengatakan hal itu padamu. Bagaimana bisa dia mengecewakanmu," ucap pak Hadi dengan mengelus lembut kepala putrinya.


"Bapak tidak akan membiarkan ini terjadi. Kamu mencintai Rama?" tanya pak Hadi.


Nur mengangguk.


"Apa kamu masih menginginkan perjodohan ini?"


Nur mengangguk kembali.


"Baiklah. Kamu harus bersikap tenang! Bapak akan ke rumah bu Fauziah lagi, untuk memastikan perjodohan ini akan tetap berlangsung," jelas pak Hadi.


"Jangan sekarang pak! Lebih baik besok, saat Rama pergi kuliah. Rama pasti akan menolaknya jika dia dilibatkan langsung. Percayalah pada Nur apapun keputusan ibunya Rama pasti akan menurutinya. Nur janji akan buat Rama jatuh cinta pada Nur dan melupakan Laila, gadis yang baru beberapa hari mengisi hati Rama," jelas Nur.


"Kamu benar, kamu lebih mengenalnya dari pada Laila. Bapak yakin kamu bisa mengambil hatinya. Jangan putus asa, perjodohan ini akan berlangsung dengan atau tanpa persetujuan Rama," jelas pak Hadi.


***


"Laila, berhentilah menangis! Tangisanmu ini tidak akan mengubah apa pun. Tetaplah bersemangat, jangan menyerah!" ucap bi Ira terus menyemangati Laila.


"Tidak Bi, harapan Laila sudah benar-benar tertutup, mereka akan dijodohkan. Rama akan menikah dengan, Nur," ucap Laila dengan terisak.


"Laila, sudah bibi bilang padamu. Selama akad belum dilapalkan kamu masih punya kesempatan," ucap bi Ira.


"Tidak, Bi. Laila mau pulang saja. Kapan ayah dan bunda kembali ke Indonesia? Laila kangen sama mereka." Terdengar isakan Laila yang semakin berat.


"Mereka masih lama di sana, Laila," jelas bi Ira.


Laila segera mengambil tasnya dan megeluarkan handphone yang berada di dalamnya. Dia segera menekan tombol panggilan pada bundanya.


Bibi mengambil handphone-nya mencegah Laila menghubungi bundanya, dalam keadaan menangis.


"Bunda akan khawatir padamu, jika mendengarmu sedang terisak seperti ini. Jangan buat dia khawatir! Besok saja kamu menghubungi mereka," saran bi Ira.


"Akan tetapi, Laila mau mereka segera pulang, Bi," keluh Laila.


"Laila tidak mau disini lagi. Laila tidak mau bertemu Rama dan menyaksikannya menikahi Nur," lanjut Laila.


"Laila, mereka belum mau menikah, baru mau di jodohkan. Bibi rasa mereka tidak mungkin nikah dalam waktu dekat ini, Rama masih kuliah. Sudahlah, tidak baik seperti ini, segeralah tidur, dan bangun di sepertiga malam! Insya Allah do'a-mu akan dikabulkan."


***


"Kalau begitu saya pamit, Bu," ucap pak Hadi lalu pergi.


Ibu menghela napas panjang dan membuangnya kemudian. Ibu pun pergi ke kamarnya mengambil sebuah foto.


"Aku yakin jika Rama menikah dengan Nur, Rama tidak akan pernah mengalami apa yang aku alami," gumam ibu.


"Aku harus menyiapkan segalanya dari sekarang," lanjut ibu.


Pagi ini ibu pergi kepasar dengan bahagia, ia tidak perlu menghawatirkan Rama mendekati Laila lagi, hanya perlu sedikit membujuk Rama agar mau menuruti kemauannya.


"Apa? Minggu depan!" Pulang kuliah Rama langsung dikejutkan dengan keputusan ibu.


"Iya, Ram."


"Lagi-lagi Ibu tidak meminta persetujuan, Rama. Ini hidup Rama Bu. Ibu tidak bisa memutuskan ini sendiri," jelas Rama.


"Kamu harus mau, Ram. Jika tidak! Jangan pernah anggap ibu ada!" ancam ibu, "Anggap ibu sudah tiada!" lanjutnya.


"Astagfirullah. Ibu!"


Rama frustasi di dalam kamarnya, dia tak mau membuat ibunya bersedih, tapi dia juga tidak mungkin menerima perjodohan dengan Nur, kerena hatinya hanya untuk Laila.


Di sepertiga malam Rama terus berdoa, meminta kebaikan pada Yang Maha Kuasa.


Tak lupa melaksanakan shalat istkharah setelahnya.


'Tidak dapat kupingkiri, hati ini milik gadis cantik bernama Laila. Namun, ibuku memilih Nur sebagai calon menantunya. Surgaku ada padanya, kudibuat bingung olehnya, tolong tunjukan jalan yang terbaik untukku Ya Raab. Meski sejujurnya aku menginginkan keduanya, aku menginginkan surgaku dan juga gadis itu. Namun, hamba tetep pasrah dengan segala ketentuan-MU, kerena Engkau lebih tau apa yang terbaik untuk hambamu'


Di balik ruangan lain Laila tengah melakukan hal yang sama, berdoa meminta kebaikan pada Yang Maha Kuasa.


'Jika dia Jodohku, mudahkanlah jalannya, jika dia bukan jodohku, iklaskanlah hati ini. Meski tidak dapat kupungkiri, hati ini menginginkannya. Namun, hamba pasrah dengan ketentuan-MU, karena Engkau lebih tau apa yang terbaik untuk hambamu'


Satu minggu telah berlalu. Tibalah waktu pertunangan Rama dan Nur. Di rumah bu Fauziah tengah sibuk mempersiapkan keberangkatan acara lamaran ke rumah Nur.


Kaki bi Ira pun sudah sembuh. Bi Ira begitu sedih melihat Laila yang tak henti menangis, matanya sembab dan bengkak, karena tangisannya tak juga berhenti.


"Laila, sayang! Kamu yakin tidak ikut keacara lamaran Rama dan Nur?" tanya bi Ira sedih, seraya mengusap lembut kepala sang keponakan.


Laila hanya menggelengkan kepala dengan tatapan kosongnya.


"Bibi, berangkat dulu ya. Kamu istirahat saja!" Bi Ira menyelimuti Laila yang membaringkan diri diatas tempat tidur, lalu mengusap air mata di pipinya yang tak kuasa melihat Laila.


Dengan langkah yang lemah bi Ira pun berjalan meninggalkan Laila.


Semua orang yang akan ikut mengantar Rama melamar Nur telah berkumpul. Namun, Rama tak juga keluar dari kamarnya. Ibu pun menghampiri Rama, terlihat Rama yang tengah merenung di balik jendela.


"Ram, ayo! Semua orang sudah berkumpul," kata ibu.


"Apa ibu benar-benar yakin dengan keputusan ini, Bu? Apa ibu yakin Rama akan bahagia bersama Nur?" Rama menelan salivanya menahan kekecewaan.


Ibu hanya terdiam.


"Tolong, Bu! Batalkan perjodohan ini! Rama mencintai, Laila, Bu," pinta Rama pada sang ibu.


"Ibu yakin setelah menikah kamu bisa mencintai Nur dengan tulus. Percayalah!" Ibu langsung pergi meninggalkan Rama. " Ibu, tunggu di luar, tolong jangan bikin malu!" lanjut ibu.


Rama membuang muka sedih, menatap langit cerah yang berbanding terbalik dengan suasana hatinya hari ini. Ia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan, berharap bisa mengurangi sedikit bebannya.


Nur tampak gusar, sudah hampir jam sembilan, Rama belum juga datang kerumahnya. Pak Hadi pun tak kalah khawatirnya dengan Nur' Bagaimana jika Rama membatalkannya?' pikir pak Hadi yang sama dengan Nur.


bersambung ....


Jangan lupa tekan like, fav, komen dan rate-nya, ya. terimakasih❤❤❤


bersambung ....


jJangan lupa tekan like, fav, komen dan ratenya❤❤❤