
"Maafkan Rama, Bu. Sepertinya, Rama jatuh cinta pada pandangan pertama. Kekaguman itu memang bukan sebatas kekaguman, tapi Cinta," kata Rama.
"Cinta pada pandangan pertama hanya terjadi karena mengagumi kecantikannya saja, tapi kita tidak tau seperti apa pribadinya. Ibu harap setelah kamu tau pribadinya, cinta itu cepat pudar secepat saat kamu jatuh cinta padanya," tutur ibu tiba-tiba berkaca-kaca.
"Laila tidak tarawih tidak cukup membuktikan seperti apa pribadinya, prasangka buruk ibu juga tidak menggambarkan seperti apa pribadi Laila, ibu jangan menduga-duga."
"Terserah kamu, Rama. Yang jelas, ibu tidak akan pernah merestui hubungan kamu dengan perempuan kaya manapun." Seketika ibu meneteskan air mata, dan pergi meninggalkan Rama begitu saja.
Rama yang melihat air mata di pipi sang ibu pun mengejarnya. Rama tak pernah tega membiarkan ibunya menangis.
Terlihat Ibu berdiri di depan jendela kamarnya, dengan linangan air mata yang semakin deras.
"Ibu, tolong jangan menangis. Rama tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Ibu? Kenapa Ibu menentang cinta Rama pada Laila. Padahal Ibu sendiri tidak tau seperti apa pribadi Laila sebenarnya," kata Rama dengan sedih.
"Ibu sudah jelaskan padamu, Rama. Ibu tidak mau harga dirimu di injak-injak oleh mereka," jelas ibu lalu menyeka air matanya.
"Tidak semua orang kaya seperti itu, Bu," ucap Rama tampak prustasi.
Rama tidak percaya ibunya punya pikiran seperti itu. Padahal ibunyalah yang selalu mengajarkannya untuk tidak pernah membeda-bedakan orang.
"Tolong tinggalkan Ibu sendiri, Rama!" pinta ibu tanpa meninggikan suaranya.
"Akan tetapi, Bu. Rama butuh alasan kuat dari Ibu. Alasan Ibu tidak masuk akal," kekeh Rama penuh kecewa.
"Alasan ibu cukup masuk akal. Ayo, keluarlah!" kekeh ibu sambil menarik Rama keluar dari kamarnya dan menutup pintu.
Dengan lemas Rama berjalan menuju kamarnya, menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
Tidak lama terdengar deru mesin mobil di halaman rumah bu Ira. Rama segera keluar mencari tau.
Laila turun dari sebuah mobil mewah, yang dikendarai oleh seorang supir pribadi.
Bu Ira tampak digendong masuk kedalam rumah oleh supir itu, setelah meminta ijin pada yang bersangkutan.
"Hati-hati, Pak!" ucap Laila dengan khawatir.
Rama yang menyaksikan itu menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.
"Laila!" panggil Rama pada Laila yang masih berjalan di depan pintu.
"Rama!" Laila menghentikan langkahnya.
"Apa yang terjadi pada bibimu?" tanya Rama penasaran.
"Tadi, pas mau tarawih, aku dapat telepon dari bibi. Bibi keserempet mobil saat berjalan menuju pulang ke rumah. Makanya aku langsung menyusul bibi," jelas Laila.
"Jadi itu alasanmu tidak tarawih. Tadi, aku ...." Rama mengentikan ucapannya karena ragu.
"Aku ....!" Laila menunggu Rama melanjutkan kalimatnya, dengan mengerutkan kening.
"Aku, kenapa?" tanya Laila yang semakin di buat penasaran karena melihat Rama yang mulai gugup dan menggaruk kepalanya yang sepertinya tidak gatal.
"Aku ... tadi ... menunggumu," ucap Rama dengan jujur, meski mengatakannya dengan ragu-ragu.
Seketika Laila tersipu malu, senyum indah terukir di bibirnya, kebahagiaan terpancar di wajahnya yang merah merona.
Keduanya tampak salah tingkah, sesekali mengukir senyum saat saling curi pandang.
Merasa malu, Laila langsung masuk kedalam, kepalanya terus ia tundukan ke lantai.
Brukkkk!
"Astagfirullah!" Laila kaget menabrak pak Hasan. "Pak, Hasan!" serunya.
"Non Laila kenapa? Badan bapak segede ini apa tak nampak?" tanya pak Hasan datar.
"Maaf, Pak. Laila tidak sengaja," ucapnya dengan tersenyum malu, kemudian melirik Rama yang tengah menahan tawanya, melihat kekonyolan Laila.
Pak Hasan mengikuti arah lirikan Laila. 'Pantas' batinnya dengan tersenyum ramah pada Rama.
"Kalau ada tamu disuruh masuk, bukan ditinggal," ucap pak Hasan.
"Tidak apa-apa pak, ini sudah malam. Besok, saya kesini lagi sama ibu. Assalamualikum." Rama mengucap salam kemudian pergi dari sana.
"Waalaikum salam," jawab Laila dan pak Hasan.
Pak Hasan adalah supir pribadi Laila, yang selama ini mengantar jemput Laila kemanapun Laila pergi. Namun, selama di rumah bi Ira, Laila menolak memakai supur pribadi.
"Baik, Non. Kalau ada apa-apa hubungi bapak lagi, ya," kata pak Hasan.
Pak Hasan pun kembali kerumah kedua orang tua Laila.
Pagi-pagi sekali. Ibu pergi menemui bu Ira setelah mendapat kabar dari Rama.
Laila yang mendengar ketukan pintu diiringi ucapan salam bu Faujiah, langsung terperanjat senang dari duduknya. Ia segera merapihkan dirinya, dan sempat memperhatikan dirinya sejenak di cermin.
Bi Ira yang melihatnya tersenyum mengerti apa yang tengah dirasakan sang keponakan.
"Waalaikum salam," jawabnya sambil melangkah menuju pintu.
Saat Laila akan membuka pintu, jantungnya berdebar, mengingat semalam Rama mengatakan akan kembali kesini bersama ibunya. Namun, saat Laila membuka pintu wajahnya berubah menjadi lesu. Bu Fauziah berdiri seorang diri di depan pintu. Tak tampak Rama bersamanya. Denyut jantungnya melemah seketika, padahal dia berharap bertemu Rama pagi ini.
Bu Fauziah yang tidak mau Rama semakin dekat dengan Laila, sengaja melarang Rama untuk ikut bersamanya. Padahal Rama pun begitu ingin bertemu Laila.
Setelah di persilahkan masuk, bu Fauziah langsung menuju kamar bi Ira. Mereka pun asyik berbincang.
Bu Fauziah pulang setelah mendo'akan kesembuhan untuk bu Ira.
Laila memikirkan cara untuk bertemu dengan Rama. Ia teringat belum mengembalikan sandal milik Rama.
Laila pun pergi kerumah Rama, dengan penuh harapan. Namun, hal menyakitkan menusuk hati Laila saat mendengar apa yang dikatakan ibu pada Rama.
"Sering-seringlah mengajak Nur jalan, Ram. Ibu mau Nur yang jadi menantu ibu. Ingat janjimu pada ibu. Ibu harap kamu tidak mengingkari," ucap ibu.
Sejenak Rama termenung. Walau akhirnya Rama mengiyakannya, hanya karena tidak mau mengecewakan sang ibu.
Jawaban Rama itu lebih menusuk hati Laila. Laila melangkah mundur perlahan, ia menahan tangisnya hingga sampai ke rumah sang bibi.
Ia menjatuhkan diri di tempat tidur menangis penuh kekecewaan. Laila menangis sedikit keras hingga bi Ira bisa mendengarnya
"Laila!" panggil bi Ira dengan khawatir.
Laila tidak menyahut.
"Kamu kenapa sayang? Jangan buat bibi khawatir!"
Laila masih saja tidak menjawab. Ia menangis memikirkan jawaban Rama pada ibunya. 'Apa yang Rama janjikan pada ibunya? Apa dia berjanji akan menikah dengan Nur? Apa itu artinya aku sudah tidak punya harapan' Laila membatin dan terus menangis.
Bi Ira memaksakan diri berjalan, menghampiri Laila dengan kakinya yang masih teras sakit.
"Sayang, apa yang terjadi padamu?"
"Bibi!" Laila terkejut dan segera menyeka air matanya.
Laila memapah bi Ira duduk di kasur.
"Laila baik-baik saja bi. Kenapa bibi kesini? Kaki bibi masih sakit," kata Laila.
"Bibi khawatir padamu, Laila. Kenapa kamu menangis?" tanya bibi sambil mengelus kepala Laila dengan lembut.
"Laila tidak apa-apa, Bi. Bibi istirahat saja!" kata Laila.
"Jangan bohong pada bibi. Bibi tau kamu tadi pergi ke rumah Rama. Apa yang terjadi disana? Katakanlah!"
Tiba-tiba Laila berkaca-kaca kembali, berusaha menahan agar air matanya tidak terjatuh dihadapan sang bibi.
"Laila ... tadi ... tadi ... Laila jatuh, Bi. Sakit sekali," bohongnya.
"Laila, bibi tau kamu berbohong. Apa Rama menyakitimu?"
"Rama! Ti--tidak, Bi. Manamungkin Rama nyakitin Laila. Rama bukan siapa-siapa Laila," ucap Lalai sedikit gugup.
"Akan tetapi, Laila cinta 'kan sama Rama?" tanya bi Ira meneliksik.
Deg ...
bersambung ....
Jangan lupa like, fav, komen dan rate-nya, ya.Terimakasih❤❤❤