
Dikediaman Rama. Rama pun tampak bersedih, ia menangis memandang langit melalui jendela.
"Kenapa kisah cinta Rama harus berakhir secepat ini, Bu. Kenapa Laila harus jadi adik Rama. Apa salah Rama?" keluhnya.
"Tidak baik mengeluh seperti itu, Ram. Percayalah semua ini pasti yang terbaik buat kita. Akan ada hikmah di balik kejadian ini," ucap bu Fauziah.
"Hati Rama sakit sekali, Bu, terlebih ayah Rama sendiri tidak mengakui Rama lahir dari benihnya," kata Rama dengan sendu.
"Suatu saat dia akan tau kebenarannya. Kuatkan hatimu. Yang tidak Ibu habis pikir kenapa Laila menghianatimu, dia tau kalau kamu akan datang melamarnya, lalu kenapa dia menerima lamaran lain. Setelah ibu membuka hati untuk Laila, ini yang ibu dapatkan. Sekarang ibu yakin kalau buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Jika ayahnya penghianat maka anaknya pun penghianat," tutur Fauziah.
"Kenapa ibu berkata seperti itu, apa ibu juga berpikir Rama seperti itu, Rama juga putranya," kata Rama.
"Kamu beda, Ram. Ibu yang mendidikmu, ibu yakin kamu laki-laki yang setia."
Tiba-tiba dering ponsel Rama berbunyi. Tertera nama Laila di layar ponsel.
"Laila!" seru Rama.
"Siapa?! Laila!" Ibu melihat dan mengambil handphone Rama dengan cepat.
"Tidak usah kamu angkat, biar ibu yang pegang handphon-mu sekarang," kata Fauziah.
"Ibu, tidak perlu seperti itu, kita harus bicara baik-baik pada Laila, percayalah Rama bisa mengatasinya," kata Rama.
"Ibu tidak mau kamu berhubungan lagi dengan penghianat itu, lagian Laila itu adikmu kamu takan bisa bersatu dengannya, lebih baik kamu langsung tutup lembaran lamamu, dan buka lembaran baru," kata bu Fauziah.
"Rama tau itu, Bu, tapi butuh proses untuk melupakan Laila. Berikan ponselnya! Rama harus bicara pada Laila, Rama tidak mungkin melawan takdir, jika Laila memang adik Rama Rama pasti berusaha melupakan Laila," pinta Rama.
Dengan mudah ibu luluh sama perkataan Rama. Ibu pun memberikan ponselnya.
"Jangan lama-lama, bicaralah seperluanya, setelah itu blokirlah nomornya! Meski dia sodaramu ibu tidak mau kamu ada hubungan apa-apa lagi dengannya!" titah sang ibu.
"Iya, Bu. Rama ke kamar dulu," kata Rama.
"Kenapa ke kamar? Kamu bisa bicara di depan ibu," kata ibu.
"Ibu. Ibu sedang dipenuhi emosi. Rama tidak mau ibu semakin emosi," ucap Rama lalu melangkah ke kamarnya.
Bu Fauziah mengerti.
Rama mengangkat ponselnya yang sedari tadi tak berhenti berdering.
"Assalamualaikum," sapa Rama.
"Waalaikum salam. Rama tolong maafkan aku, aku pikir lamaran itu darimu, aku tidak tau itu orang lain," ucap Laila dengan terisak.
"Bagaimana bisa kamu tidak tau, Laila. Apa saat dia menyematkan cincin di jarimu kamu tidak melihat wajahnya," kata Rama.
"Rama, aku tidak tau harus mulai dari mana menjelaskannya padamu," kata Laila.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi, Laila. Lagi pula tidak ada harapan lagi buat kita bersatu, kamu adalah adikku," ucap Rama dengan menahan sesak di dada.
"Tidak, Rama. Aku ingin bersatu denganmu, aku harap kamu bukan anak ayahku, aku harap kamu--"
"Laila! Kamu berani menuduh ibuku," Rama memotong ucapan Laila dengan kecewa.
"Aku tidak menuduh ibumu, aku hanya berharap kita bisa bersatu," kata Laila.
"Aku tidak menyangka pikiranmu sama piciknya seperti ayahmu!" kata Rama
"Tidak Rama, tidak, aku tidak bermaksud seperti itu," jelas Laila.
"Ram, Rama, Rama!" Laila terus memanggil Rama di balik telepon yang sudah terputus sambungannya.
Rama dan Laila sama-sama menangis di tempat yang berbeda, keduanya merasakan kehancuran yang teramat dalam.
Laila melihat cincin yang melingkar di jarinya, ia membukanya dan melemparnya kesembarang arah dengan prustasi.
Seperti perintah sang ibu, Rama pun memblokir nomor Laila.
"Mafkan aku, Laila, mafkan aku," ucap Rama dengan berderai air mata.
***
"Kak Adi, jadi bu Fauziah mantan istri kakak, yang kakak ceritakan padaku?" tanya Ira.
"Sudahlah aku tidak mau membahasnya, lebih baik kamu bantu Ira mempersiapkan pertunangan, Laila."
"Tidak Kak, aku ingin tau yang sebenarnya, lalu kenapa kakak menuduh Bu Fauziah selingkuh dengan Hendra, apa itu hanya alasanmu?"
"Itu bukan alasan, itu kenyataan Ira!" Aditama meninggikan suaranya.
"Kalau begitu Laila bisa bersatu dengan Rama!" Ira pun menekan suaranya.
"Tidak akan kubiarkan, ayah dan ibu
Rama adalah penghianat, tidak menutup kemungkinan anaknya pun penghianat," kata Aditama.
"Bagimana jika disini Kakaklah penghianatnya, aku tidak percaya bu Fauziah bisa melakukan itu, dia perempuan yang baik," ucap Ira.
"Ira, Kakak tidak mau membicarakan ini lagi, nasi sudah menjadi bubur, terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, kakak tak peduli lagi dengan semua itu, keputusan kakak sudah Final, Laila harus menikah dengan Radit. Setelah pertunangan kita langsung adakan pernikahan. kamu tinggalkan rumahmu disana, dan tinggal disini bersama Laila karena kakak dan Nesa akan kembali ke luar negri setelah ini, urusan kami belum selesai," tutur Aditama.
"Saya harap kakak tidak egois seperti orang tua kita, saya harap apa yang kita alami menjadi pelajaran buat kita, jangan sampai itu terjadi pada anak kita, aku menyayangi Laila seperti putriku sendiri, aku tidak akan membiarkan dia mengalami apa yang kita alami," tutur Ira dengan seikit kesal.
"Keluarlah, jangan sampai kakak marah padamu!" pinta Aditama.
Ira pun keluar dengan rasa penasaran yang belum tuntas, ia akan terus mencaritahu kebenarannya demi kebahagiaan, Laila.
Bi Ira yang paling dekat dengan Laila, yang lebih sering menemani Laila diantara kesibukan Nesa sang ibu. Bi Ira yang tidak punya anak menyayangi Laila seperti putrinya sendiri. Ia tidak akan membiarkan Laila terluka diantara keegoisan orang tuanya, seperti yang dia alaminya waktu itu.
"Bibi apa yang ayah katakan pada bibi, ada hubungn apa antara aku dan Rama?" tanya Laila.
"Bibi belum menemukan jawabannya, bersabarlah! Sepertinya bibi harus menemui bu Fauziah," kata bi Ira.
"Aku ikut, Bi," kata Laila.
"Jangan, Laila. Ayahmu akan marah jika dia tau kita menemui mereka," kata bi Ira.
"Laila ingin bertemu Rama, Bi," kata Laila.
"Nanti kamu pasti bisa bertemu Rama. Akan tetapi, jika Rama benar-benar anak ayahmu kamu harus bisa menerima kenyataan ini, Laila," tutur bi Ira dengan sedih.
seketika Laila pun meneteskan air matanya.
Bi Ira berpamitan pada sang kakak dengan alasan membeli kebutuhan. Bi Ira pun segera menuju rumah bu Fauziah.
Bu Fauziah terkejut dengan kedatangan Bi Ira.
bi Ira pun memberi salam padanya. bu Fauziah menjawabnya dengan datar.
"Bisa kita bicara sebentar, Bu Fauziah?" tanya bi Ira.