Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Hari Pernikahan



Nur mengerutkan kening melihat Radit yang hanya diam saja. Nur menghampiri Radit dengan segera.


"Radit. Kenapa diam? Ayo, lakukan sesuatu, sebelum tante Nesa mengungkap semua," bisik Nur pada Radit.


"Kita dengarkan saja apa yang ingin dikatakan tante Nesa," ucap Radit dengan santai.


"Apa!? Tidak bisa di percaya." Nur terkejut mendengar jawaban dari Radit. Ia memilih kembali ketempatnya setelah dipikir tak ada gunanya bicara dengan Radit.


Namun Radit menarik Nur. memintanya tetap disana. "Tetaplah disini, disampingku! Kita dengarkan bersama apa yang akan dikatakan tante Nesa," Pinta Radit pada Nur. Nur tak peduli dengan apa yang dikatakan Radit, ia pun hendak melangkah kembali meninggalkan Radit kembali ke tempat duduknya.


Belum ia melangkah. Nesa mengungkap kebenarannya.


"Laila binti Atmaja dan Rama bin Aditama akan menikah," ungkap Nasa dengan penuh keyakinan.


"Apa!?" Semua orang membelalakan mata tak percaya dengan pa yang Nesa ungkapkan.


Seketika Laila dan Rama saling tatap. Antara bahagia dan sedih Laila meneteskan air mata begitu saja.


"Bunda! Laila binti Atmaja! Apa maksud bunda?" tanya Laila dengan deraian air mata di pipinya.


Nesa segara memluk Laila saat Laila menghampirinya.


"Maafkan bunda sayang. Maafkan bunda, bunda telah menyembbunyikan kebenaran ini darimu. Bunda tak tega melihatmu dan Rama menderita, kalian berhak bahagia, sayang," isak Nesa dengan berat.


Nesa melepas pelukannya dan mengusap air mata di pipi putrinya. "Berbahagialah, sayang," isak Nesa dengan mengukir senyum.


"Laila! Laila tidak tau Bunda. Laila harus bahagia atau sedih. Kabar ini memberi kebahagiaan buat Laila yang bisa menikah dengan Rama, tapi Laila juga sedih kalau Laila bukan anak Ayah Adi," isak Laila dengan berat.


"Perihal kamu bukan anak ayah Adi, bisa bunda jeltujuiaskan nanti, sekarang yang terpenting kamu menikah dengan Rama." Nesa mengukir senyim lega, setwlah menjelaskan semua.


Antara percaya dan tidak Rama merasa bahagia. Namun, ia mengongingat Nur yang akan dinikahianya.


Rama melihat Nur yang tengah kecewa. Radit yang ada di sebelah Nur segera menggenggam tangan Nur. Menganggukan kepala dan mengukir senyum menyetujui pernikahan Rama dan Laila.


Nur tak percaya melihat Radit.


"Radit. Apa yang kamu lakukan?" tanya Nur dengan lening mengerut.


"Kamu diam saja disini, setelah mereka giliran kita yang menikah," ucap Radit dengan santai.


"Apa? Bagaimana bisa? Aku tidak mau menikah denganmu," kata Nur dengan kesal.


"Apa kamu mau, jika kamu hamil nanti, tak ada yang mengakui ayah dari bayimu," kata Radit dengan melirik Nur.


"Apa? Hamil!" seketika Nur memegangi perutnya, dan menelan saliva dengan berat.


Radit hanya tersenyum melihat Nur.


"Nak Radit. Tolong maafkan Tanteu! Tante tidak bisa melihat putri tante menderita, tapi bukan berarti kamu tak pantas untuk Laila. Kamu sangat pantas dan sangat baik. Tante tau kamu juga sangat mencintai Laila. Tapi tante tak berdaya melihat penderitaan Laila dan Rama." Nesa yang mengjampiri Radit merasa bersalah padnya.


"Tante tidak perlu khawatir. Radit yang menukar berkas Laila dan Rama. Radit tau jika mereka tak memiliki ikatan darah. Radit juga tak kuasa melihat perempuan yang Radit sangat cintai menderita," tutur Radit dengan tenang.


"Apa!?" Nesa malah dibuat terkejut oleh Radit. "Jadi, kamu yang menukarnya?" tanya Nesa tak percaya.


"Apa!?" Nur pun terkejut Luar biasa.


Nesa melirik ke arah kedua orang tua Radit yang sedari tadi hanya diam saja. Tampaknya tindakan Radit sudah atas persetujuan kedua orang tuanya. Mereka mengangguk dan mengukir senyum pada Nesa.


Nesa takjub luar biasa. Ia bahagia dengan kelapangan Radit yang diluar dugaannya.


Nesa memeluk Radit dengan erat, mengucapkan banyak terimakasih atas segala pengertian Radit. Nesa bangga pada Radit. "Kamu batal menjadi menantuku, Radit. Tapi sekarang kamu jadi putraku, aku bangga padamu," ucap Nesa dengan bahagia.


"Nur, kamu beruntung mendapatkan pria sebaik Radit." Nesa mengusap Lembut pipi Nur yang tengah shock dengan keadaan saat ini.


Radit melihat ke arah Pak Hadi. Dengan bangga pak Hadi menganggukan kepalanya merestui Nur dan Radit.


Sementara bu Fauziah yang tak percaya menunduk lesu dikursi. Bi Ira yang tak kalah terkejutnya berusaha menenangkan bu Fauziah.


Rama dibuat bahagia dengan keterkejutan kali ini. Ia menggenggam tangan Laila dengan Erat, Rona bahagia diantara keduanya terpancar dengan jelas. Rama membawa Laila menghampiri sang ibu.


Ia berlutut, meraih tangan sang ibu. "Izinkan Rama menikah dengan Laila, Bu. Rama tak bisa hidup tanpanya," tutur Rama dengan sendu.


Bu Fauziah mengangkat kepalanya melihat sang putra.


"Bu Fauziah, ini yang ingin kukatakan dirumah sakit. Kita hanya perlu mempersatukan anak-anak kita demi kebahagiaan mereka," kata Nesa.


"Baiklah, aku tidak bisa menghalangi kebahagian mereka, aku merestui pernikahan ini," kata bu Fauziah.


Rama tersenyum merekah, ia memeluk sang ibu penuh bahagai. "Terimakasih, Bu. Terimakasih," ucapnya penuh semangat.


Laila pun ikut memeluk bu Fauziah dengan penuh kebahagiaan. Di peliuk jiga Nesa sang bunda. "Terimakasih, Bunda." Laila berderai air mata.


Akhirnya semua sudah merestui, tak ada yang keberatan dengan pernikahan Laila dan Rama. Dengan bahagia Rama bangun dari berlutut, dan memeluk Laila dengan bahagaia.


"E,e,e, belum muhrim, Nikah dulu," bi Ira melepas pelukan keduanya.


Semua orang tertawa bahagaia.


Laila mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Mencari keberadaan ayah kandungnya yang seharusnya menjadi wali nikah.


Nesa memberitahu kenyataan pahit, jika Ayah kandung Laila telah meninggal dunia Lima tajun yang lalu. Nesa pun baru tahu, saat kemarin mendatangi rumahnya agar menjadi wali nikah Laila. Wali pun diserahkan pada wali hakim.


Aditama terlihat berderai air mata. Nesa berlutut meminta maaf pada sang suami karena telah bertindak tanpa persetujuannya.


"Maafkan aku, Mas. Kali ini aku tidak bisa membiarkan Laila menderita, aku ingin dia bahagia. Maafkan aku telah mengecewakanmu," ujar Nesa dengan penuh rasa bersalah.


"Aku tau kamu kecewa, aku tau kamu sedih, maaf aku, aku tidak bermaksud untuk tidak menghormati keputusanmu. Sungguh aku sangat menghormati keputusanmu," ujar Nesa dengan berderai air mata.


"Aku tau kamu kecewa padaku, setelah kamu sembuh, kamu boleh menghukumku," ujar Nesa dengan sedih.


'Tidak Nesa, aku sangat bahagia dengan keputusanmu. Terimakasih Nesa, kamu membuat keputusan yang tepat. Air mata ini adalah air mata kebahagiaan, kamu tak perlu mengkhawatirkannya' batin Aditama.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Muhammad Ramadhan bin Aditama Pramudita dengan anak saya yang bernama Lailatul Komariah binti Surya Atmaja dengan mas kawin berupa emas dua puluh gram dibayar tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Lailatul komariah binti Surya Atmaja dengan maskawin yang tersebut tunai,"


"Bagaimana, para saksi. Sah?" tanya pak penghulu.


"SAH!" ucap para saksi.


"Alhamdulilah," ucap semua orang.


Laila dan Rama berderai air mata. Keduanya saling tatap penuh kebahagiaan. Tak pernah menyangka, hari ini yang dipikir akan menjadi hari perpisahan mereka, hari pemberi jarak antara mereka, malah menjadi hari yang terbahagaia, yang semakin mendekatkan mereka, dalam ikatan yang suci. Laila mencium punggung tangan Rama. Rama pun mengecup keningnya, mereka saling berpeluk erat melepas cinta dalam ikatan pernikahan.


Pernikahan Laila dan Rama penuh kejutan, kini giliran pernikahan Radit dan Nur.


Nur yang kecewa hendak pergi meninggalkan Aula pernikahan. Dengan sigap Radit menggenggam pergelangan tangannya.


"Kamu mau kemana?" tanya Radit pada Nur.


"Kamu penghianat Radit. Aku benci padamu!" ucap Nur penuh penekanan.


"Akan tetapi kamu tidak bisa pergi. Kamu harus menikah denganku," ucap Radit.


"Aku tidak sudi menikah denganmu. Meski kamu tampan dan kaya, tapi aku tidak mencintaimu!" tegas Nur.


"Apa kamu pikir aku mencintaimu. Aku merasa bersalah padamu. Apa yang terjadi padamu atas berita dariku. Aku bersedia menikahimu dengan kondisimu seperti ini. Apa kamu yakin tidak mau menikah denganku?" tanya Radit dengan lembut.


Nur terdiam mendengar ucapan Radit.


"Siapa yang bersedia menikahimu dengan kondisi seperti ini, mungkin saja sekarang kamu telah mengandung benih mereka," lanjut Radit dengan serius.


Deg! Nur memegangi perutnya.


bersambung ....


Akhirnya Rama dan Laila menikah juga ya readeršŸ¤— Akankah pernikahan mereka berjalan tanpa gangguan orang ketiga?


Akankah Nur menerima pernikahan dengan Radit?"


Bo*doh, Ya. Jika Nur tak mau menikah dengan Radit.🤭


Tetap saksikan kisahnya. Terimakasih atas kesetiaannya. salam sayang Author pada kalianā¤ā¤ā¤