
Bi Ira terkejut mendengar Rama dan Laila memutuskan untuk tinggal dirumah bu Fauziah.
"Kalian yakin mau tinggal di rumah bu Fauziah. Kenapa tidak bawa bu Fauziah kesini saja rumah ini rumahmu juga Rama," ucap bi Ira.
"Itu tidak mungkin, bi. Ibu tidak akan mau tinggal disini," kata Rama.
"Bibi sih gimana kalian yang penting kalian bahagia. Akan tetapi, bibi tidak tau ibumu mengijinkan atau tidak, Laila," kata bi Ira.
Bi Ira segera menghubungi Nesa. Nesa pun terkejut mendengarkan keputusan ini, tapi pada akhirnya Nesa pun mengijinkan.
"Mas, Rama telah kembali kerumah bu Fauziah, dia membawa Laila tinggal bersamanya. Aku yakin Laila bahagia bersamanya dimanapun dia tinggal. Bagiku saat ini adalah kebahagiaan Laila yang utama. Maaf selama kondisimu seperti ini aku mengambil keputusan tanpa persetujuanmu," ucap Nesa.
'Kamu tidak perlu khawatir Nesa tidak akan ada lagi perbedaan sosial yangmemisahkan cinta, mereka berhak bahagia. Jika aku sembuh nanti akan kuberikan Rama kehidupan yang layak' Batin Aditama.
***
"Radit, kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Mira pada sang putra yang ingin tinggal di rumah pak Hadi, mengikuti keinginan Nur.
"Radit yakin, Bu," jawab Radit tanpa ragu.
"Seperti kami menyetujui keputusanmu menikahi Nur. Kali ini kami pun tidak bisa mencegahmu tinggal disana.
"Akan tetapi, Ibu tidak seyakin dirimu, jika Nur akan berubah, entah kenapa perasaan ibu tidak enak," kata Mira yang sudah mendengar tentang Nur dari Radit.
"Tidak ada yang Radit tutupi tentang Nur dari Ibu, ibu harus bersabar. Manusia itu tidak akan selamanya buruk dan tidak akan selamanya baik, karena orang baik pun bisa melakukan kesalahan, orang yang buruk pun pasti memiliki kebaikan," tutur Radit pada sang ibu.
"Semoga saja apa yang kamu katakan benar. Nur memiliki sisi baik yang suatu saat akan nampak kepermukaan," ucap Mira penuh harap. Kini mira hanya bis mendoakan putranya agar bisa merajut rumah tangga yang tanpa dasar cinta.
"Radit! Aku sudah siap," seru Nur di kamarnya.
"Iya, tunggu!" sahut Radit. Lalu menghampiri Nur di kamarnya.
Mira melangkah duduk di sofa menunggu putra dan menantunya turun kebawah.
"Kamu sudah siap? tanya balik Radit.
"Siap. Ayo aku sudah tidak sabar. Aku kangen bapak," kata Nur.
"Baiklah, ayo!" kata Radit.
"Yuk." Nur melangkah dengan semangat, ia pancarkan senyum indahnya yang mempesona. Radit hanya bisa menatap dengan menggelengkan kepalanya.
"Assalamualikum, Bu!" sapa Nur dengan sopan. Ya, meski Nur terpaksa dengan pernikahan ini Nur tetap menghormati kedua orang tua Radit.
"Waalaikum salam," jawab Mira dengan Ramah.
"Nur jaga diri baik-baik ya, Ibu titip Radit, jangan sampai telat makan, karena dia sering lupa makan kalau lagi banyak pikiran," ucap Mira memberitahukna kebiasaan Radit.
"Baik, Bu. selama Nur jadi istri Radit, Nur akan melayani Radir dengan baik." Nur tampak tersenym berat.
'Ya, aku ngerti selama jadi istri itu kewajibanku, Setelah kami berpisah, ibu bisa mengambil Radit kembali, karna aku gak mau lama-lama sama si so paling bijak ini' batin Nur.
Radit dan Nur pun segera melajukan mobilnya setelah berpamitan dengan Mira. Sementara Toni sudah berangkat kerja.
Nur tampak santai menikmati perjalanan menuju rumahnya, dipinggir jalanan kota Nur melihat anak kecil tengah menangis memunguti makanannya yang terjatuh ke tanah. Nur menelan salivanya merasa kasihan, miris sekali.
"Berhenti!" Nur meminta Radit berhenti, tanpa mengalihkan pandangannya dari anak kecil itu.
"Ada apa? Radit pun menepikan mobilnya.
Setelah berhenti. Nur segera merogoh tasnya mengambil uang untuk anak kecil itu. dilihatnya uang di tasnya hanya ada sepuluh ribu rupiah. Ia pun nyengir dengan melihat kearah Radit.
"Buat apa?" tanya Radit yang pura-pura tak mengerti.
"Kamu gak lihat anak kecil tadi kelaparan, ikh mana mungutin nasi di tanah lagi." Nur berucap dengan miris.
Radit tersenyum. "Punya hati juga rupanya kamu." Radit mengambil uang di dompetnya sebesar sepuluh ribu dan di berikannya pada Nur.
Nur melongo saat mengambil uang sepuluh ribu Radit. "Uangmu cuman sepuluh ribu juga?" tanya Nur tak percaya.
"Iya. Emang kenapa? Recehnya cuman ada itu aja," kata Radit.
"Berarti masih ada uang yang lainnya kan? Masa iya orang kya cuman nyakuin uang sepuluh ribu," tanya Nur penasaran.
Radit tertawa dengan perkataan Nur.
"Ya, adalah. Uangnya seratus ribuan, masih ada lima ratus ribu, sisanya di ATM," jawab Radit.
"Mana-mana!" Nur menengadahkan tangan dan menggerak-gerakan lima jarinya meminta Radit menyerahkan uangnya.
Radit mengerutkan keningnya. "Minta berapa?" tanya Radit.
"Seratu ribu, dua ratus ribu, tiga ratus ribu, atau berapa pun itu yang penting tidak dua puluh ribu. uang segitu gak akan buat perusahaan orang tuamu bangkrut, yang ada malah tambah sukses," jawab Nur.
"Baiklah." Tanpa pikir panjang Radit mengambil uang limaratus ribu dari dompetnya.
"Semua. Beneran nih, gak akan nyesel," kata Nur.
"Setelah ini kita bisa mampir ke ATM, buat isi dompetku lagi,' kata Radit denga santai.
"Bagus, ternyata dermawan jugakamu," kata Nur sambil membuka pintu mobil dan menghampiri anak itu.
Radit tersenyum bangga melihat Nur. 'Do'a ibu langsung dibayar kontan. Allah menampakan kebaikan Nur yang tersembunyi. Rupanya Nur memiliki hati yang lembut dan peduli pada sesama. Dia bahkan tidak jatuh cinta pada harta kekayaanku. Hanya saja dia dibutakan oleh cintanya pada Rama, dan tidak bisa mengendalikan akal pikirannya saat menyangkut cintanya pada Rama. Sekarang Aku sebagai suami yang harus bisa mengendalikannya' batin Radit.
"Hey!" Nur menggerakan tangannya di depan wajah Radit yang tengah termenung memandang kosong ke arah anak tadi.
Radit yang tak menyadari Nur sudah kembali ke mobil terkejut. "Eu-eu-iya. Sudah selesai?" ucapnya gugup.
Nur berdecak kesal. "Jangan bilang kamu terpesona, ingat cintaku cuma buat Rama. Kamu tau itu," kata Nur.
Radit hanya menyeringai mendengar ucapan Nur. kemudian melajukan kembali mobilnya, dan mampir ke ATM.
"Ini, uang bulananmu." Radit menyerahkan uang lima juta rupiah pada Nur untuk memenuhi kewajibannya.
"Tidak perlu. Laganya kaya uang hasil sendiri aja, masih di kasih orang tua juga. Lagian aku jamin pernikahan kita hanya akan bertahan satu bulan, aku jamin aku gak akan hamil!" tegas Nur dengan percaya diri.
"Kamu harus bersyukur, karna yang kamu hina ini Radit, jika orang lain, kamu sudah di buang di jalanan. Meski cuman satu bulan aku tetap suamimu dan harus menafkahimu. Aku tau ini uang pemberian dari orang tuaku, tapi uang ini sudah menjadi hakku," ucap Radit.
Nur tersenyum sinis.
"Itu yang aku tak suka darimu, kamu itu anak mama, yang selalu menerima segalanya dari orang tua. Orang tuamu sukses, kamu belum tentu sukses. Sedangkan Rama, dia mandiri dan memberi pada orang tuanya, bukan meminta, orang seperti itu yang akan giat dan bisa sukses dengan perjuangannya sendiri."
"Pemikiranmu bagus juga. jadi, itu yang membuatmu jatuh cinta pada Rama. Oke, kamu mau aku jadi gojek, jadi pedagang, mau aku jadi supir grab. Gak masalah. Akan ku lakukan, agar aku bisa menafkahi istriku dengan hasil keringatku sendiri," kata Radit.
"Gak perlu deh cari perhatian aku, tetep aja kamu gak bisa disamain kaya Rama," ucap Nur.
"Siapa juga yang mau disamain kaya Rama, aku hanya mengibaratkan saja. Yang pasti, aku akan bekerja paruh waktu setelah pulang kuliah, agar bisa menafkahimu," ucap Radit dengan yakin.
Bersambung .....