
"A-aku, a-ku baik-baik saja, Ram," kata Laila dengan gugup.
Terlihat air mata di pelupuk mata Rama yang ia tahan. Membuat Laila berkaca-kaca.
'Sekhawatir itukah kamu padaku, Ram' batin Laila.
'Andai kamu telah halal untukku, Laila. Ingin sekali aku memelukmu' batin Rama.
Keduanya larut dalam pikiran mereka masing masing, saat saling tatap.
'Ya Allah, tatapan cinta mereka begitu tulus, satukanlah mereka' batin bi Ira yang melihat ketulusan diantara keduanya.
"Duduklah, Ram! Kamu tidak perlu khawatir, pak Hadi menyelamatkan Laila tepat waktu, syukurlah kesucian Laila tidak terenggut," jelas bi Ira membuyarkan pikiran keduanya.
Rama lega mendengar hal itu.
Kabar ini dengan mudah menyebar keseluruh warga, entah siapa yang menyebarkannya. Kini giliran Nur yang berbalik mendapat hujatan masyarakat, setelah hujatan yang sering Laila dapatkan akibat perbuatannya.
Kini Nur terpuruk didalam kamarnya. Alih-alih merasa menyesal ia semakin membenci Laila.
Ia bahkan tidak memperdulikan perkataan bapaknya lagi, setelah kecewa pada pengakuannya. 'Semua ini gara-gara bapak. Jika bapak tidak jujur, semua ini tidak akan terjadi' pikir Nur.
***
Di Bandara International sebuah pesawat terbang tampak baru mendarat. Nesa mempercepat kepulangannya karena mendapat kabar dari Bu Ira. Langkahnya yang gontai dan anggun tiba-tiba terhenti saat handphone-nya berdering.
"Hallo, sayang. Aku baru mendarat di Bandara," jawab Nesa saat mendengar sang suami menanyakan kabarnya.
"Ada masalah, sayang, tolong kamu atasi dulu," kata sang suami di telepon.
"Apa? Masalah apa lagi, sayang?" keluh Nesa.
"Ini urgent. Please!" pinta sang suami di telepon.
"Laila juga penting, sayang, dia sedang terpuruk," jelas Nesa.
"Ira, sudah mengatakan kalau kondisi Laila baik-baik saja. Kamu bisa menemuinya besok," jelas sang suami
"Baiklah. Akan aku urus." Nesa menyudahi panggilannya.
"Masalah apa lagi ini," gumamnya.
Dengan berat hati Nesa mengabari bi Ira lewat sambungan telepon, jika dirinya sudah di Indonesia. Namun, tak bisa langsung kesana karena harus mengurus perusahaannya yang lagi-lagi ada masalah.
"Besok pagi, saya akan menjemput Laila," kata Nesa di ujung telepon.
"Baiklah." bi Ira pun menyudahi panggilannya.
***
"Besok, Bi!" Laila terkejut dan gelisah saat bi Ira mengatakan bundanya sudah di Indonesia dan akan menjemputnya besok.
"Kenapa, Laila?" tanya bi Ira heran.
"Tidak, apa-apa, Bi," jawab Laila.
"Bukankah, kamu merindukan bundamu?"
Laila hanya menganggukan kepalanya.
"Bibi tau kamu memikirkan Rama, bibi mengerti perasaanmu, Laila. Namun, akan lebih baik kamu melupakan Rama. Bu Fauziah tidak menyukaimu, kamu akan terluka jika memaksakan diri," jelas bi Ira.
Laila menunduk lesu.
"Bibi! Laila tetap ingin berjuang. Bukankah pertunangan Rama dan Nur sudah berakhir. Laila yakin, bu Fauziah tidak seburuk yang bibi pikirkan. Laila ingin bersama Rama, Bi."
"Terserah kamu Laila, bibi hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, yang pasti besok kamu harus pulang bersama bundamu. Kamu harus melupakan masalah ini dulu, jika kamu terus disini, bibi khawatir Nur nekat lagi. Jika jauhmu dari Rama ternyata membuatmu sengsara kamu bisa kembali kesini kapanpun, bibi akan menerimamu dengan senang hati, dan semoga saat itu hati bu Fauziah terbuka untukmu," jelas bi Ira.
Didalam kamar, Laila semakin gelisah, ia memikirkan perasaannya terhadap Rama.
'Bagaimana ini? Bunda mau menjemputku besok, aku akan berpisah dari Rama. Bagaimana dengan perasaanku? Rama pun tidak juga memgutarakan isi hatinya. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Apa harus aku mengatakan perasaanku? Tidak-tidak, aku akan malu sekali' Laila terus membatin. Mondar mandir dengam cemas.
Sementara di ruangan yang berbeda Rama tampak termenung di depan jendela kamarnya.
Sang ibu yang memperhatikannya, menghampiri dan memegang pundaknya.
"Apa yang kamu pikirkan, Rama?" tanya ibu dengan lembut.
"Laila," jawab Rama tanpa bertele-tele.
"Kamu masih memikirkannya?" tanya ibu kembali.
"Sampai kapan pun Rama akan memikirkannya, Bu."
"Ibu tidak menyangka, cintamu begitu besar pada Laila, padahal belum satu bulan kalian saling mengenal," tutur ibu.
"Waktu bukan alasan seseorang untuk jatuh cinta. Jika sang pemilik cinta menginginkan seorang yang baru mengenal saling jatuh cinta, maka mereka akan jatuh cinta. Selama apa pun orang saling mengenal, jika sang pemilik cinta tidak menghendakainya untuk jatuh cinta, maka mereka tidak akan jatuh cinta. Begitupun dengan perpisahan tidak akan terpisah seseorang jika tidak atas kehendaknya."
"Apa yang kamu inginkan sekarang, Ram?" tanya ibu dengan lesu.
"Tiga hari lagi, Laila akan di jemput sama orang tuanya, Rama akan terpisah dari Laila. sebelum itu, Rama ingin sekali mengutarakan isi hati Rama. Akan tetapi, Ibu ...."
"Ibu izinkan kamu bersama Laila, Ram. Utarakanlah isi hatimu padanya," ucap ibu berderai air mata.
"A-apa!?" Rama terkejut tak percaya.
"Ibu mengizinkan, Rama?" tanya Rama tak percaya.
Bu Fauziah menganggukan kepalanya.
Air mata Rama tak terasa memetes, ia bahagia luar biasa. Rama pun memeluk sang ibu dengan erat, serta menciumi tangan dan keningnya.
"Ibu tidak bercanda 'kan?" tanyanya lagi ingin menyakinkan.
"Tidak, Ram. Ibu serius, tidak bercanda. Tolong maafkan keegoisan ibu selama ini, ibu sudah membuatmu menderita! Ibu sadar ibu sudah salah," ucap ibu berderai air mata.
"Tidak. Ini hari bahagia, ibu jangan menangis!" ucap Rama dengan mengusap air mata di pipi sang ibu.
"Lima hari Lagi idul Fitri, kita akan silaturahmi kerumah Laila, sekaligus melamarnya," ucap sang ibu.
"Benarkah? Ini kejutan luar biasa buat Rama, Bu. Terimakasih, Bu," ucap Rama dengan bahagia.
"Ibu harap, sekarang kamu tidak melamun lagi. Jangan lagi kamu tekuk wajahmu itu! Ibu tidak suka," ucap sang ibu sendu.
Rama tersenyum bahagia.
"Maafkan Rama, Bu. Tekukan wajah Rama ini alamai dari hati, Jika sekarang Ibu merestui hilanglah tekukan wajah ini."
Ibu tersenyum lebar.
***
Setelah apa yang terjadi, kini Laila diperbolehlan kembali kemesjid. Laila tarawih dengan penuh semangat, semua orang yang sempat menghujatnya meminta maaf dengan tulus. Laila bahagia hari ini. Namun, Laila juga sedih karena mungkin ini akan jadi malam terakhirnya menginjakan kaki di mesjid ini. Besok pagi sang bunda akan membawanya pergi dari sini.
Laila tampak gelisah menunggu Rama di luar, ia berharap malam ini bertemu dengannya, entah itu hanya sekedar mengucap perpisahan atau mengungkapkan perasaan.
Laila pasrah dengan ketentuan-NYA.
Rama yang baru melangkahkan kakinya di teras mesjid, tiba-tiba memperlambat langkahnya, melihat Laila yang berdiri mondar mandir di halaman mesjid tampak gelisah.
Entah apa yang terjadi pada dirinya tiba-tiba ia tak punya keberanian menghampiri Laila. Rasa gugup menguasai dirinya.
'Ya Allah, kenapa ini? Apa yang harus aku lakukan? Ini kesempatanku mengutarakan isi hatiku, tapi kenapa kaki ini terasa kaku hanya sekedar untuk mendekatinya' batin Rama gelisah.
'Akh besok saja kuutarakan isi hatiku ini, masih ada kesempatan,' pikirnya kembali. "Tidak, tidak. Lebih cepat lebih baik," gumamnya dengan mondar-mandir di teras mesjid.
Brukkk!
Rama menabrak salah satu jamaah yang keluar dari mesjid.
"Ma-maaf!" ucap Rama.
"Tidak apa-apa," jawab jamaah itu.
Laila yang mendengar suara Rama, membalikan badanya.
"Rama!" seru Laila. Tiba-tiba Laila pun menjadi gugup.
Rama melangkah perlahan menghampiri Laila.
"Ka-kamu belum pulang?" tanya Rama yang masih dikuasai kegugupannya.
"Be-belum, aku menunggumu," jawab Laila pun gugup.
'Ya Allah, tenangkan hati ini, jantungku semakin berdebar saja, sesulit inikah mengungkap rasa' batin Rama, lalu menghela napas panjang dan membuangnya.
Ternyata Laila pun melakukan hal yang sama.
Keduanya pun tertawa menyadari perbuatan masing-masing.
kegugupan pun mulai mereda.
"Kamu kenapa?" tanya Rama.
"Tidak apa-apa," jawab Laila.
"Ada apa kamu menungguku?" tanya Rama kemudian.
Deg!
bersambung ....
Jangan sungkan tekan like ya reader❤❤❤