Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Pak Hadi Terkejut Dengan Keputusan Radit.



"Jangan buat alasan ini, Nur. Itu hanya alasanmu untuk kembali mengejar cinta Rama, dengan hal-hal bodohmu 'kan." Pak Hadi tak percaya dengan perkataan Nur.


"Tidak pak, Nur benar-benar tak ingin membebankan Radit," ucap Nur terlihat sunggih-sungguh.


"Lantas, kamu akan mencari laki-laki seperti apa? Berpikirlah pakai logika, Nur." pak Hadi mebekan suaranya.


"Bapak tidak bisa paksa, Nur. Nur akan urus perceraian Nur dengan Radit," kekeh Nur lalu pergi meninggalkan pak Hadi dan kembali ke kamarnya. Dilihatnya Radit sudah tak ada di tempat tidur. Nur mengedarkan pandangan keseluruh ruangan, dan kembali keluar mencari keberadaan Radit.


"Dimana dia? Kenapa tidak ada disini? Akh biarkan saja, dia mungkin jalan-jalan keluar," gumam Nur.


Selang satu jam, Radit datang membawa cake ulang tahun yang indah buat Nur, seraya menyanyikan lagu happy birth day. Dengan banyak kado ditangannya yang sengaja dia beli untuk Nur.


Nur yang tengah memonton televisi, menoleh ke arah suara. Pak Hadi pun keluar dari kamarnya. Nur bangkit dan menghampiri Radit yang berjalan kearahnya.


"Radit! Apa ini?" tanya Nur dengan mata membulat.


"Happy birth day istriku, semoga panjang umur, sehat selalu dan murah rejeki, dan tambah berbakti pada suami. Aamiin." Radit mengukir senyum indahnya untuk Nur.


Nur terharu, tak percaya Radit melakukan ini padahal sikapnya selama ini tidak baik pada Radit. Tiba-tiba buliran bening dimatanya mengalir begitu saja.


Pak Hadi tersenyum bahagia.


"Untukku?" tanya Nur


Radit menganggukan kepalanya.


"Aku bahkan lupa hari ini ulang tahunku. Aku dan Bapak tidak pernah merayakan ini. Bagaimanna kamu tau?" ucap Nur penuh haru.


Radit terus mengukir senyumnya. "Mulai sekarang, akan ada laki-laki yang selalu meperhatikanmu, dan aku akan mengabulkan permintaanmu hari ini," ucap Radit.


"Benarkah?" tanya Nur terlihat senang.


"Tentu, saja?" jawab Radit.


Tangis Nur pecah. Seumur hidup baru kali ini ada yang memperhatikan dirinya di hari kelahirannya. Kado yang begitu banyak hanya didapatkan dari seorang Radit. Ada satu buah kado yang Radit spesialkan, sebuah kalung permata yang indah.


"Kado spesial ini, khusus untuk kado ulang tahunmu, dan semua itu, untuk permintaan maafku padamu, atas apa yang kuperbuat hari ini," ungkap Radit dengan tulus.


Nur terdiam, ia masaih tak mempercayai semua ini. Rona bahagia diwajahnya terpancar begitu indah.


"Ra-Radit. Kenapankamu melakukan ini? Bukankah aku sudah meminta bercerai darimu," ucap Nur dengan menatap Radit.


"Kita belum bercerai bukan? Aku masih punya kewajiban memberimu kebahagiaan, selama kamu masih jadi istriku," ucap Radit dengan tersenyum.


"Ta-tapi, aku akan tetap mengurus perceraian itu, Radit," ucap Nur sedikit gugup.


Radit menunduk lesu.


"Jujur, aku ingin mempertahankan rumah tangga ini, Nur. Akan tetapi, aku tidak bisa memaksamu, bukankah hal yang dipaksakan itu tidak baik. Aku hanya bisa berdo'a semoga traumamu segera sembuh. Satu hal dariku, berhenti mengejar Rama, dan bukalah lembaran baru, kamu pasti akan bahagia." Radit mengusap lembut kepala Nur.


Nur menunduk merasa malu.


"Kita bisa berteman, Nur. Sebagai temanmu aku tidak akan membiarkanmu terluka. Aku akan tetap memberimu kebahagiaan," tutur Radit lemah lembut.


Nur kembali terharu, tanpa sadar memeluk Radit kembali. Entah kenapa ada rasa tak nyaman saat Radit menyetujui perceraian ini, yang seharusnya dia merasa bahagia.


"Kamu memang baik, Radit. Terimakasih buat semuanya," ucap nur mulai lembut.


"Baiklah, ajukan saja kapan pun kamu mau? Akan tetapi, selama proses perceraian, aku ingin kita berteman baik," ucap Radit dengan lembut.


Pak Hadi malah terkejut mendengar keputusan Radit, dia tak menyangka Radit mengikuti kemauan bo*doh Nur. Dia duduk di kursi dengan lemas.


Radit dan Nur saling pandang.


"Kamu bawa semua kado ini ke kamar, dan bukalah semuanya, kamu pasti seneng. Biar saya yang bicara sama Bapak," ucap Radit di akhiri senyuman.


Nur mengangguk mengikuti permintaan Radit dan berlalu ke kamarnya membawa semua kado pemberian Radit.


Setelah Nur masuk ke kamar. Radit duduk disamping pak Hadi.


"Apa Nak Radit menyerah?" tanya pak Hadi dengan lemas.


"Tidak," jawab Radit singkat, ia menoleh ke arah kamar, khawatir Nur menguping pembicaraannya.


Seketika pak Hadi menoleh pada Radit. Terlihat Radit mengukir senyum simpulnya.


"Bapak tidak perlu khawatir. Radit akan mempertahankan, Nur," ucap Radit dengan tenang.


"Lalu, kenapa kamu menyetujui perceraian ini?" tanya pak Hadi dengan heran.


"Hanya ini satu-satunya cara mengambil hati Nur. Jika Radit terus memaksa Nur mempertahankan pernikahan ini, Nur akan terus menjauh dari Radit. Proses perceraian tidak mudah, selama masa itu Radit akan berusaha mengambil hatinya sebagai seorang teman, dengan itu kita akan lebih dekat. Percayalah perceraian ini tidak akan terjadi," ucap Radit penuh keyakinan.


"Bagaimana jika tidak berhasil?" tanya pak Hadi dengan lemah.


"Bapak do'akan saja agar saya berhasil," ucap Radit.


"Jika tidak?" ulang pak Hadi.


"Mungkin Radit dan Nur tidak berjodoh." Radit menunduk lesu.


Pak Hadi bangkit begitu saja, dengan wajah kacaunya, ia melangkah menuju kamar terlihat begitu putus asa, seolah dirinya kehilangan harapan.


"Bapak!" panggil Radit.


Pak Hadi tak menoleh, ia terus melajukan langkahnya. Radit pun merasa bersalah. Ia bangkit menyusul langkah pak Hadi.


"Tolong maafkan Radit, Pak. Radit tidak bermaksud meninggalkan Nur. Radit pikir cara itu akan berhasil, Pak," jelas Radit ingin membuat pak Hadi mengerti


Pak Hadi menghentikan langkahnya dan menoleh. "Semoga berhasil, Nak," ucap pak Hadi dengan pasrah. Ia tak bisa berbuat apa-apa, anak dan memantunya memiliki keputusan mereka masing-masing yang tak bisa dirubah olehnya.


Pak hadi merebahkan diri diatas ranjang, menatap kosong langit-langit kamarnya.


'Ya Allah, ampuni salahku. Kenapa nasib putriku seperti ini? Aku mohon bukalah pintu hatinya, untuk pria baik yang menjadi suaminya saat ini' Pak Hadi membatin sedih.


Nur tampak bahagia membuka semua kado pemberian Radit, dari baju, sepatu, sandal, tas, dan asesoris lainnya yang Radit beli lengkap untuk Nur, Ia mencobanya satu persatu, barang-barangnya terlihat begitu mewah dan mahal, berbeda dengan yang biasa Nur beli di pasar.


"Wah barang-barangnya begitu bagus, berapa banyak uang yang dia habiskan untuk membeli semua ini. Tidak kah dia merasa sayang mebuang-buang uang seperti ini untukku?" gumam Nur saat mencoba gaun indah berwarna biru.


"Tentu tidak," ucap Radit yang tiba-tiba datang.


bersambung ....


Terimakasih atas kesetiaan kalian membaca karya otor❤❤❤ Jangan lupa like dan komennya ya❤❤❤


Salam sayang otor untuk kalaian😘😘😘