Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Trauma



Radit terus mendekatkan tubuhnya pada Nur, hingga dirinya telah telanjang dada, dan berhasil mengukung Nur, tanpa maksud memaksanya melakukan hubungan. Radit hanya ingin menggertaknya jika pemaksaan bukanlah hal yang menyenangkan.


Namun, Radit lupa, jika Nur telah mengalami pemaksaan berat, sebelum menikah dengannya. Tanpa diduga Nur tiba-tiba histeris.


"Jangan! Tidak! Tidak! Pergi, jangan dekati aku, tolong!" Nur histeris ketakutan, banyangannya kembali pada kejadian itu, dimana kesuciannya direngut paksa oleh dua orang preman tak dikenalnya.


Radit terkejut, awalnya berpikir Nur berlebihan, tapi nyatanya Nur tengah benar-benar ketakutan olehnya.


"Bapak!" Nur kembali histeris memanggil pak Hadi.


Radit mulai bingung saat pak Hadi mengetuk pintu, ia segera mengenakan pakaiannya kembali. Radit cemas melihat sikap Nur yang benar-benar ketakutan padanya. Dia pun segera membuka pintu untuk pak Hadi.


"Ada apa Radit, Nur?" tanya pak Hadi melihat mereka bergantian. Pak Hadi terkejut saat melihat kondisi Nur yang tengah ketakutan persis keadaanya waktu itu.


"Bapak. Mereka ingin memperkosa Nur lagi, mereka ada disini." Nur segera berlari dan memeluk erat Pak Hadi.


"Mereka? tidak ada siapa-siapa disini Nur. Hanya ada kamu dan suamimu," ucap pak Hadi seraya melihat sekeliling ruangan.


Kini Radit menyadari kesalahannya, rupanya Nur mengalami trauma. Radit kesal pada dirinya sendiri, ia menyesali perbuatannya pada sang istri.


Pak Hadi tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sehingga membuat putrinya seperti ini.


Radit segera menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Nur. Nur tak ingin melepaskan pelukannya pada pak Hadi, saat Radit mendekatinya Nur histeris ketakutan seolah tak mengenal Radit.


Tak lama dokter yang di panggil Radit tiba di rumah pak Hadi. Dengan segera dokter memeriksa Nur dan memberinya obat penenang.


Dari apa yang diceritakan pak Hadi pada dokter, sudah dipastikan Nur mengalami trauma akibat kejadian itu.


"Trauma!" Pak Hadi terkejut. "Bagaimana mungkin, Dok. Selama ini dia baik-baik saja." Pak Hadi merasa heran.


"Trauma akan terjadi jika dipancing dengan keadaan yang sama. Apa ada yang akan melakukan pelecehan kembali padanya?" tanya dokter seraya melirik pak Hadi dan Radit bergantian.


Radit melirik pak Hadi, kemudian menundukan kepalanya. "Maafkan, saya Pak. Saya tidak bermaksud melecehkan Nur." Radit meminta maaf dengan lemah.


"Radit! Kenapa kamu minta maaf? Kamu suaminya dan berhak atas dirinya," tutur Pak Hadi dengan kening yang mengerut.


Radit menceritakan kejadian tadi, hal yang membuat dirinya melakukan itu, tanpa ada yang ditutupi. Radit tidak menyangka perbuatannya menjadi pemicu trauma Nur.


Semua itu semakin membuat pak Hadi terkejut. Dia menyimpan kedua tangannya di kepala dengan frustasi. Tak menyangka jika putrinya mengalami trauma. Pak Hadi juga tak percaya Nur meminta cerai dari Radit dan masih saja memikirkan Rama. Kejadian ini pun membuktikan jika Nur tidak pernah melaksanakan kewajibannya pada Radit.


"Bapak teledor lagi. Kenapa bapak tidak tau jika putri bapak mengalami trauma. Dia juga memperlakukan suaminya tidak baik. Bukannya bersyukur, dia malah meminta berpisah. Tolong maafkan putri, Bapak." Pak Hadi tampak bersedih menyesali perbuatan bo*doh yang kembali dilakukan putrinya.


"Tidak Pak. Tidak perlu meminta maaf seperti ini. Sebelum menikahi Nur saya sudah siap dengan segala konsekuensinya. Dari kejadian ini kita ambil hikmahnya. Kita jadi tau kondisi Nur sebenarnya," ucap Radit dengan lembut.


"Semoga Allah selalu memberimu kebahagiaan, Nak Radit. Bapak berhutang banyak padamu." Pak Hadi meneteskan cairan bening dimatanya seraya memeluk Radit. Radit yang sabar dan pengertian menghadapi sikap putrinya, membuat pak Hadi semakin menyayanginya.


"Semoga, kondisi putri bapak segera membaik," ucap dokter yang masih berada disana.


"Dan untuk pak Radit, perlakukan istri Anda dengan lembut ketika akan berhubungan. Perlu kesabaran ekstra hingga dia yang menyerahkan dirinya sendiri," tutur Dokter.


"Nak Radit! Bapak tidak tau sampai kapan Nur akan seperti ini. Bapak rasa dia tidak akan meyerahkan dirinya begitu saja selain pada Rama. Seharusnya bapak tidak menyetujui pernikahan ini, karena ini memberatkanmu. Bapak menyesal sekali," tutur pak Hadi dengan sedih.


Radit tersenyum hangat pada pak Hadi, mencoba memberi ketenangan pada ayah mertuanya yang tengah putus asa.


"Tidak ada yang perlu disesali, semua yang terjadi sudah kehendak-NYA. Saya yakin suatu saat hati Nur akan terbuka buat saya," ungkap Radit penuh keyakinan.


Pak Hadi menepuk pudak Radit dengan penuh rasa bangga, dia bersyukur Nur dipertemukan dengan laki-laki seperti Radit.


Satujam berlalu.


Pak Hadi telah kembali ke kamarnya. Sedangkan Radit tampak membaringkan diri disebelah Nur, memperhatikan wajah cantik sang istri.


"Kamu ini cantik, Nur. Banyak laki-laki yang akan terpana oleh kecantikanmu. Andai kamu sadar tak hanya Rama laki-laki yang baik di dunia ini, masih banyak laki-laki yang baik yang pantas kamu cintai yang bisa membalas cinta tulusmu. Sampai kapan Nur, kamu memelihara cinta yang hanya akan menyakiti hatimu, hanya membuatmu berharap tanpa mendapatkan kepastian. Bukalah hatimu, jangan mendholimi diri sendiri, jiwamu, ragamu, berhak bahagia. Jika saja kamu membuka hatimu, kamu akan rasakan indahnya cinta yang saling membalas," Radit bergumam hingga dirinya terpejam.


Tampaknya Nur telah tersadar sedari tadi, ia mendengar semua gumaman Radit. Setelah dirasa Radit terlelap tidur Nur bangkit setengah badan. Dia memperhatikan wajah tampan Radit, yang begitu menawan. Nur termenung mencerna setiap apa yang dikatakan Radit dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Nur menyingkap selimut, dan turun dari ranjang. Ia menghampiri pak Hadi yang berada dikamarnya.


"Bapak!" Panggil Nur dengan tetesan air mata di pipinya.


"Nur. Kamu sudah sadar?" Pak Hadi menghampiri dan memeluk Nur.


Nur mengangguk perlahan.


"Duduklah! Kamu ingin bicara sesuatu?" pak Hadi berbicara dengan lembut, mencoba meredam kekesalannya pada sikap sang putri.


"Apa dulu Bapak dan Ibu saling mencintai saat menikah?" tanya Nur setelah duduk disamping sang ayah.


"Tentu saja, kami saling mecintai," jawab pak Hadi seraya menatap lembut putrinya.


"Nur tidak tau rasanya dicintai seindah apa? Selama ini Nur hanya mencintai Rama tanpa dicintainya. Nur ingin merasakan indahnya cinta yang saling membalas," tutur Nur dengan suara yang lemah.


"Bukalah hatimu untuk Radit. Tidak ada laki-laki yang lebih baik darinya untumu. Apa lagi yang kamu cari? Dan satu pesan bapak, jangan lagi kamu meminta bercerai darinya,"


"Akan tetapi Nur harus bercerai darinya," ucap Nur mengagetkan pak Hadi.


"Kenapa, Nur?" tanya pak Hadi dengan membulatkan matanya.


"Radit tak pantas dengan perempuan seperti, Nur. Radit berhak mendapat perempuan yang lebih baik dari Nur," ungkap Nur dengan serius.


Bersambung ...


❤❤❤


Hay Reder🤗🤗🤗terimakasih setia mengikuti karya-karya otor. hari ini otor rilis karya baru berjudul "Menantuku mantan kekasihku" yuk dibaca juga ceritanya ya. terimakasih❤❤❤