
Radit segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk Laila.
Laila merapihkan pakaiannya sebelum turun dari mobil, dia memperhatikan seluruh penampilannya, tak ingin terlihat lusuh dihadapan Rama.
Radit membungkukan badannya, memperhatikan tingkah Laila.
"Kamu membuatku iri pada Rama, Laila," ucap Radit tanpa di duga.
Seketika Laila menghentikan aktivitasnya, dan menjadi gugup.
"Aku jadi kepikiran pengen jadi kakakmu sekarang," ucap Radit kemudian.
Deg!
Laila terkejut.
Melihat Laila yang terkejut Radit pun terkekeh.
Kegugupan Laila sedikit mereda setelah menyaksikan kekehan Radit. "Ngomong apaan sih? Gak lucu tau."
"Habis kamu sih, sudah cantik, rapih, modis, dan mempesona, masih saja takut tidak terlihat sempurna dimata Rama, aku jadi cemburu loh," ucap Radit dengan menatap Laila.
Deg!
Seketika Laila menundukan kepalaya.
ucapan Radit berhasil menohok hati Laila.
"Maafkan aku! Lagi-lagi aku mengecewakanmu," ucap Laila merasa tak enak.
Tiba-tiba Radit terkekeh kembali.
"Hey, wajahmu tegang sekali, aku cuma bercanda," ucap Radit.
Laila mengangat kembali wajahnya dan melihat Radit.
"Ka--kamu bercanda?" tanya Laila sedikit gugup.
"Iya, Laila, aku bercanda, mana mungkin aku cemburu pada Rama, bukankah dia kakakmu," tutur Radit.
Laila mengukir senyum kakunya.
"Kamu beneran gak cemburu 'kan? Jika kamu cemburu, aku gak jadi ketemu Rama. Ini, kamu saja yang berikan pada Rama." Laila menyerahkan kotak makanannya kepada Radit.
"Hey, kenapa jadi gak enak gitu sih, aku beneran bercanda, loh," ucap Radit dengan mengukir senyum.
"Ayo, turunlah!" pinta Radit.
Laila pun turun dari mobil. Radit menutup pintu mobil perlahan.
"Sudah tau 'kan tempat Rama biasa dimana? Aku tunggu disini saja," tutur Radit.
"Tidak, Radit. Kamu antar aku saja."
Laila merasa tidak nyaman, walau Radit bilang itu semua bercanda, tapi Laila paham jika Radit benar-banar cemburu pada Rama. Tidak bisa dipungkiri rasanya pada Rama belum benar-benar berubah.
Laila tidak ingin mengecewakan Radit.
"Kamu yakin? Aku antar," kata Radit.
"Ya, aku takut tak bisa mengendalikan diri jika bertemu Rama tanpamu, aku takut hal seperti kemarin terjadi lagi," ucap Laila dengan mengangguk walau sedikit ragu, meski sesungguhnya ingin sekali dia mengantarkannya sendiri.
"Baiklah, kalau begitu," ucap Radit dengan tersenyum.
'Terimakasih Laila, ini yang aku inginkan,
kamu memahamiku. sesungghnya cemburuku ini nyata, entah kenapa rasanya aku takut sekali kehilanganmu, terima kasih untuk usahamu menghargaiku, meski jujurmu terasa sakit, tapi setiap kejujuranmu itu adalah kekuatan bagiku' batin Radit.
Laila dan Radit pun berjalan beriringan, ketempat dimana Rama tengah duduk santai di tempat favorite-nya sebelum kelas dimulai.
belum sampai Radit dan Laila ke tempat Rama. Rama menoleh ke arah mereka.
"Hai!" Laila melambaikan tangannya dari jauh, di iringi Radit yang tersenyum padanya.
Rasa cemburu hadir dibenak Rama, saat melihat mereka berjalan beriringan, ia mencoba mengukir senyum dengan berat.
'Ya Allah, kenapa begitu sakit, melihat mereka bersama. Aku mohon hancurkanlah rasaku yang salah ini' batin Rama.
"Hai, Ram!" sapa Radit.
"Hai, Dit!" balas Rama.
"Haaii," sapa Laila dengan lembut.
Rama mengukir senyumnya sedikit kaku, menjawab sapaan Laila.
"Ini, bekal makanan buatmu." Laila menyerahkan langsung kotak makanan itu pada Rama.
"Buatku?" tanya Rama dwngan mengerutkan kenaingnya.
"Iya, spesial buat Kak Rama," kata Laila dengan semangat.
Rama melihat kearah Radit.
"Oke! Terimakasih, Laila," ucap Rama dengan lega.
"Kalian coba dong, itu aku yang masak sendiri loh," ucap Laila.
"Benarkah?" ucap Radit dan Rama serempak.
"Ya." Laila mengangguk dengan tersenyum.
"Baiklah, ayo kalin duduk dulu! Kita sarapan bersama," Ajak Rama.
Laila dan Radit duduk di bangku yang ada dihadapan Rama.
Rama dan Radit membuka kotak makana tersebut dengan penuh semangat, dan memakannya dengan lahap, sebuah kotak makana yang disajikan khusus dari perempuan idaman seperti Laila, sungguh menggugah selera makan mereka.
"Wah, enak sekali masakanmu ini, Laila," tutur Radit disela makannya.
"Ya, lezat sekali," sambung Rama.
Tampaknya Laila tidak mendengarkan, ia tengah terpokus melihat Rama yang lahap makan. wajahnya dipenuhi senyuman yang indah, tamapak bahagia melihat Rama memakan masakannya dengan lahap.
Radit yang memperhatikan itu menghentikan aktivitasnya. Ia ikut memperhatikan arah pandangan Laila.
Melihat ada nasi yang menempel di bibir Rama, spontan Laila mengankat tangan menyapu nasi itu dengan lembut.
Seketika Rama terkejut dan menghentikan aktivitasnya.
Tiba-tiba Radit pun batuk tersedak makanannya. Kegugupan seketika menguasai keadaan.
"I--Ini, minumlah." Laila merogoh tas dan memberikan air minumnya pada Radit.
Radit mengambil air itu dan segera meminumnya.
"Terima kasih," ucap Radit.
"Sama-sama," jawab Laila.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Laila.
"Aku, baik-baik saja, tadi aku terburu-buru, kebetulan belum sarapan, lapar sekali," bohongnya.
"Pantas." Laila dan Rama pun tertawa pelan.
"Ayo, dihabiskan makanannya!" pinta Laila.
Radit dan Rama mengangguk, spontan keduanya berbarengan mengarahkan sendok ke mulut Laila, hendak menyuapinya.
Deg!
ketiganya terkejut, saling melempar pandangan.
Laila terlihat bingung, lalu menolak keduanya. "Maaf aku sudah kenyang," ucapnya dengan lembut.
padahal ingin sekali Laila membuka mulutnya untuk Rama. Namun, ia menghargai Radit sebagi tunangannya, tapi Laila pun tidak ingin membuat Rama tersinggung dengan menerima suapan Radit, untuk itu dia memutuskan menolak keduanya.
Setelah mereka sarapan Laila pun diantarkan Radit ke kampusnya. selang setengah jam Radit kembali kekampusnya dan berbincang bersama Rama.
"Boleh kutau sudah berapa lama kamu mencintai Laila?" tanya Radit.
"Kamu ingat, saat aku terburu-buru pulang kerumah, saat itu aku ingin bertemu dengan Laila. Cinta ini tumbuh begitu saja dengan sangat cepat, mudah bagiku untuk mencintainya. Namun, untuk melepasnya seumur hiduppun aku belum tentu mampu.
Radit hanya terdiam mendengarkan pengakuan Rama.
"Tolong maafkan sikapku pada Laila tadi, aku spontan melakukannya. Besok jangan bawa lagi Laila menemuiku, itu tidak baik," kata Rama dengan lesu.
Bukan hal yang mudah untuk menjauhkan diri dari Laila, tetapi itu harus dilakukan, nyatanya setiap pertemuan hanya memperkuat ikatan cinta mereka, meski mencoba iklas dan menerima hubungan persaudaraan ini, tapi hati tak mampu di bohongi.
"Akan tetapi, Ram. Aku tidak bisa menolak keinginan Laila," kata Radit.
"Kamu bisa mencari alasan untuk menolaknya, aku tidak bisa menjamin bisa mengubur cintaku padanya jika kami terus bertemu, jujur perasaan itu semakin besar, aku bahkan cemburu melihatmu bersamanya, apa kamu tidak cemburu jika melihatnya bersamaku?" tanya Rama kemudian.
Radit menunduk seraya menghela napasnya.
"Ya, aku cemburu, meski kamu kakaknya, tetap saja kamu mantan kekasihnya. Akan tetapi kebahagiaan Laila lebih penting utukku, hanya setelah bertemu denganmu dia bisa mengukir senyumnya," kata Radit.
"Sampai kapan akan seperti ini Radit? Ini hanya akan semakain menyiksa perasaan kami nantinya. Berusaha membuat dia melupakan aku, bukan semakin mendekatkannya denganku," ucap Rama.
"Kamu benar entah sampai kapan harus seperti ini, tapi, aku tak berdaya dihadapannya," ungkap Radit.
"Kamu begitu mencintainya, aku bahagia, ada laki-laki baik sepertimu yang akan menjaganya. Cintailah dia sepenuh hatimu, jangan biarkan setetes air mata pun mengalir dipipinya, karena jika itu terjadi kamu akan berhadapan denganku," tutur Rama.
"Kamu tidak usah khawatir, Ram. Aku akan berusaha untuk terus memberinya kebahagiaan," ungkap Radit.
Bersambung ....
Apa yang akan terjadi pada Laila ya, jika Radit tidak mempertemukannya dengan Rama?
Terimakasih sudah setia membaca karya otor, jangan lupa. TEKAN👇
...LIKE, KOMEN, FAVORITE, DAN RATE-NYA, Tambahain Hadiahnya biar otor makin semangat💪...
...Terima kasih🙏❤❤❤...