
Radit menghubungi Laila, memberitahu jika pagi ini tidak bisa menjemputnya, karena ada kepentingan terlebih dahulu, yang tak lain adalah menjemput Rama. Sebenarnya bisa saja Radit menjemput keduanya. Namun, mulai ada rasa tak rela jika Laila akan bertemu Rama.
Radit mendahulukan janjinya pada Rama, walau sejujurnya dia lebih ingin menjemput Laila. Radit berharap apa yang telah ia lakukan kemarin tidak sia-sia, berharap Nur bisa mengambil hati Rama secepatnya.
Laila di antar pak Hasan berangkat kekampusnya, dan meminta pak Hasan berhenti sebentar di kampus Rama. Baru satu langkah beranjak dari mobilnya, Laila mengingat kecemburuan Radit yang tampak saat melihatnya menggandeng Rama, ya, meski Radit selalu bilang bercanda tapi Laila paham kecemburuan Radit itu benar adanya.
Laila memutar badan mengurungkan niatnya, demi menghargai perasaan Radit sebagai calon suaminya. Laila pun memasuki mobil, dan meminta pak Hasan melaju kembali.
Laila termenung memikirkan perasaannya pada Rama yang tak pernah sirna. Meski berusaha menerimanya sebagai kakak cinta itu tetap saja membara, jantungnya terus berdebar, bahkan seringnya ia bertemu dengan Rama membuat rasanya semakin kuat. Tak ingin sehari pun ia lewati tanpa bertemu Rama. Bertemu Rama setiap pagi di kampusnya kini seolah candu baginya.
Radit dan Rama baru saja tiba di kampusnya. Radit melihat punggung mobil Laila yang baru melaju. 'Jadi, Laila kemari, dia pasti ingin menemui Rama, untung saja mereka tak bertemu. Maafkan aku Laila aku tak ingin kehilanganmu, kamu akan bertemu Rama lagi setelah kita menikah nanti' batin Radit.
***
"Ma, Radit mau pernikahan Radit dan Laila segera dilangsungkan," pinta Radit pada sang ibu, saat mereka berbincang di ruang keluarga.
Mira sang ibu terkejut dengan permintaan putranya yang tiba-tiba. Begitupun dengan Toni sang ayah, hampir saja Toni menyemburkan minuman yang tengah ia nukmati karena terkejut.
"Kuliahmu belum selesai, sayang. Tunggu beberapa bulan lagi," kata Mira.
"Ibumu benar Radit, bersabarlah hanya beberapa bulan," saambung Toni.
"Radit sudah tidak bisa menunggu Laila lagi, Ma, Pa. Radit takut sekali kehilangan Laila," ucap Radit dengan serius.
"Apa yang membuatmu ketakutan seperti ini, sayang. Kamu tidak mungkin kehilangan Laila, bukankah selama ini kamu dan Laila baik-baik saja," ucap sang ibu.
"Hubungan Laila dan Radit memang baik-baik saja, Ma. Akan tetapi, Laila tidak pernah mencintai Radit. Radit Khawatir Laila akan kembali pada Rama," ucap Radit.
"Radit, bukankah kamu bilang sudah dipastikan jika Rama itu anak Aditama, kenapa kamu khawatir?" tanya Mira.
"Iya, Ma. Rama memang anaknya pak Adi, tapi sepertinya Laila lah yang bukan anak pak Adi," tutur Radit.
"Apa!?" Mira dan Toni terkejut.
"Bagaimana bisa? Kamu tau darimana, sayang?" tanya Mira.
"Iya, kamu jangan mengada-ngada," tambah Toni.
"Tante, Nesa. Radit tak sengaja mendengarnya dari mulut tante Nesa sendiri," tutur Radit.
"Apa? Jadi, Nesa menyembunyikan sesuatu dari kita mengenali Laila," ucap Mira sedikit kecewa.
"Itu tidak masalah, Ma. Radit cinta sama Laila. Radit hanya ingin segera menikah dengan Laila. Sebelum Laila dan Rama tau mereka tidak bersaudara. Mereka saling mencintai, bisa saja mereka kembali," ucap Radit dengan khawatir.
"Tenang, Radit, papa mengerti perasaanmu, tapi bagaimana mungkin kita tiba-tiba mempercepat pernikahan, sementara dulu kita yang menunda. Papa juga mu kamu meyelesaikan kuliahmu dulu," ucap Toni dengan bingung.
"Radit janji pa. Radit akan menyelesaikan kuliah Radit dengan sungguh-sunguh meski Radit sudah menikah!" Radit memohon pada sang ayah.
Toni menghela napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Papa akan pikirkan semua ini. Sekarang kmau istirahat dulu, sudah malam," kata Toni.
"Baik, Pa, Ma. Radit kekamar dulu." Radit memeluk Papa dan mamanya sebelum melangkahkan kakinya ke kamar.
***
"Radit! Aku butuh bantuanmu!" kata Nur dalam sambungan selulernya.
"Bantuan? Bantuan apa, Nur?" tanya Radit dengan mengerutkan keningnya.
Nur menceritakan semua ide gilanya, demi mendapatkan perhatian Rama.
"Apa!? yang benar saja. Tidak perlu seperti itu, Nur," kata Radit.
"Ayolah, kamu sepakat untuk membantuku," bujuk Nur.
"Aku tidak pernah menyepakati apa pun denganmu, Nur. Masalah caramu mendapatkan Rama itu urusanmu. kesepakatanku denganmu hanya satu, jika kamu berhasil membuat Rama mau menikahimu, aku yanng akan membiyayai pernikahanmu. selebinya itu urusanmu," ucap Radit.
Namun, Radit tak mau terlibat.
Nur menutup sambungan telepon dengan kecewa. Pikirnya, sia-sia menceritakan semua rencana pada Radit. Ia pun memikirkan kembali cara agar bisa menjalankan rencananya.
Esok hari saat Nur tengah berjalan di jalanan yang sepi, Nur dihampiri dua preman tak dikenalnya.
"Apa dia perempuan yang dimaksud bos kita?" tanya salah satu preman pada temannya, sambil mengelilingi Nur.
"Sepertinya iya, ciri-cirinya mirip dengan yang dikatakan bos kita," jawab temannya itu.
Nur yang terkejut seketita tersenyum penuh arti. 'Apa mereka suruhan Radit?' Nur tersenyum dalam hati. 'Akhirnya kamu menolongku juga Radit. Aku tau kamu juga tidak mau kehilangan Laila, kamu pasti akan mendukungku' batin Nur bahagia. Tanpa bertanya Nur meyakini mereka suruhan Radit.
Salah satu preman itu tiba-tiba mencolek dagu Nur. Nur tampak biasa saja.
"Tunggu dulu! Jangan sekarang. Tunggu target datang," ucap Nur dengan santainya. Tak ada rasa takut karena ia pikir dua preman ini suruhan Radit untuk membantu melancarkan aksinya.
"Target!" gumam kedua preman itu dengan bingung. keduanya tampak menganggat bahu tak mengerti. Perempuan dihadapannya ini seolah siap menjadi santapan lezat mereka.
"Apa bos ngasih kita dua target?" bisik salah satu pereman itu pada temannya. Tampaknya dua preman ini memang di suruh seseorang untuk menodai seorang wanita, entah siapa itu.
Tiba-tiba, terlihat Rama berjalan ke arah dimana Nur dan kedua preman itu berada.
"Itu, dia. Ayo, cepat lakukan sekarang!" titah Nur dengan antusias.
Kedua preman yang melihat Rama datang malah mencoba bersikap acuh pada Nur berpura-pura berjalan biasa saja, karena tak ingin kepergok Rama.
Sementara Nur segera berpura-pura panik. "Ayo cepat lakukan!"
Dua preman itu merasa tertantang, 'Gila ni cewek siap saja jadi santapan kita' gumam salah satu preman itu diliputi napsu.
Rama tampaknya melupakan sesuatu, ia berbalik arah kembali kerumahnya. Rama yang berjalan menunduk tak memperhatikan Nur ada di arah jalan itu.
Melihat Rama pergi kedua preman itu tak menyia-nyiakan waktu mereka, dengan segera mereka menarik baju Nur dengan kasar sampai sobek.
"Hey, jangan kasar gini, ini hanya pura-pura," kata Nur, yang tak menyadari kepergian Rama.
"Pura-pura? Hahaha ... untuk apa pura-pura, tugas kita memang menikmati tubuh indahmu ini bukan? Hahaha ...." Tawa kedua preman ini mengejutkan Nur, seketika mimik wahnya menjadi cemas. apa lagi setelah menoleh Rama tidak ada disana.
"Kemana Rama?" tanyanya dengan khawatir.
"Lepaskan! Target tidak ada," Pinta Nur saat kedua preman itu terus melakukan aksinya.
Kedua preman itu tak menggubrisnya mereka terus berusaha melucuti pakaian Nur dengan kasar.
"Hey, apa-apaan kalian, hentikan!" pinta Nur dengan menekan suaranya.
"Hey Nona, bukankah kamu yang mau tadi, hahaha ...."
"Tampaknya bos kita ngasih target yang ikhlas buat kita. Kamu dengar tadi katanya, dia ingin kita cepat-cepat melakukannya, dia sudah tidak sabar, hahaha.... " ucap salah satu preman itu.
Nur mengerutkan keningnya, ia mulai bingung dengan perkataan dua preman ini.
Bersambung ....
❤❤❤
Apa yang akan terjadi pada Nur selanjutnya?
Benarkah dua preman ini suruhan Radit untuk membantu Nur?
Saksikan terus ya reader tercinta. terimakasih atas kesetiaannya❤❤❤
Jangan lupa dukungannya, like, favorite, koment rate dan hadiahnya. Terimakasih❤❤❤