Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Menahan Cemburu



Deg!


Benar saja apa yang di khawatirkan bu Fauziah terjadi, Rama akan menerima Nur karena rasa kasihan.


"Rama! Ibu memang selalu mendukung kamu dan Nur dari dulu, tapi kondisinya sekarang berbeda, apa kamu yakin dan tidak akan menyesal jika menikahi Nur dalam kondisi seperti ini?" tanya bu Fauziah dengan cemas.


Rama tampak berpikir. "Insya Allah, Bu," ucapnya kemudian.


"Baiklah Ram, apa pun keputusanmu ibu akan mendukungmu. Akan tetapi, ibu berharap kamu bisa belajar mencintainya, bukan hanya kasihan padanya, karena ibu juga ingin anak ibu bahagia. Semoga dengan kamu menikahi Nur, Nur juga akan berubah. Selama ini, logikanya memang tidak pernah ia gunakan jika menyangkut perasaannya terhadapmu, dia sangat mencintaimu. Berjanjilah pada Ibu kamu akan belajar mencintainya," turtur ibu.


Rama tak menjawab, ia hanya menghela napas dan membuangnya perlahan.


"Semoga saja Rama tak salah langkah, Bu. Ibu do'a 'kan saja Rama, semoga Rama bisa menjalani ini semua dengan baik, tanpa mengecewakan kedua belah pihak," ucap Rama dengan lesu.


Pak Hadi tampak terkejut mendengar jawaban Rama, yang mau menikahi Nur. Ia bersyukur pada Allah impian putrinya kini akan menjadi nyata.


Namun, ada hal yang mengganjal di hati pak Hadi, karena dirinya juga sempat melakukan shalat istikharah untuk putrinya. Bukan Rama yang menghadapnya. Namun, laki-laki lain.


Akan tetapi, saking bahagianya pak Hadi pun mengabaikan semua itu, baginya saat ini adalah kebahagiaan putrinya.


Nur melompat bahagia di kamarnya mendengar Rama mau menikahinya.


"Terima kasih Ya Allah, kenapa tidak dari dulu semua ini terjadi padku, mungkin Rama sudah menikahiku sejak lama," pikir bodoh Nur.


Dengan percaya diri Nur mengatakan rencana pernikahannya dengan Rama pada semua tetangganya, rasa malu yang ada karena kejadian Itu hilang seketika, ia tak peduli lagi dengan cemooh orang-orang di sekelilingnya. Baginya dinikahi Rama adalah anugrah terindah yang bisa mengalahkan segala rasa yang ada di dunia ini, baginya kebahagiaan adalah Rama.


Sesuai kesepakatan rencana pernikahan Rama dan Nur akan di adakan bulan depan tepat pada tanggal satu juni. Tidak disangka pernikahan Laila dan Radit pun akan dilangsungkan pada tanggal yang sama.


Baik Laila maupun Rama keduanya sama-sama terkejut mendengar kabar itu.


Sebelum pernikahan dilangsungkan, Laila berusaha menemui Rama kembali dikampusnya. Kali ini Radit tidak mencegahnya, karena dia sudah yakin dengan pernikahannya, dan membiarkan mereka melepas semua rasa untuk terakhir kalinya.


Laila dan Rama saling berpeluk erat melapaskan segala gundah yang mereka Rasa.


"Kak, Rama, semoga kaka menemukan kebahagiaan bersama, Nur. Laila ikhlas melepas semua rasa yang ada. Laila ikhlas menjadi adik kak Rama. Semoga kita bisa menemukan kebahagiaan kita masing-masing," ucap Laila dengan terisak.


Rama pun terus meneteskan air matanya.


"Semoga kamu dan Radit bahagia, aku juga ikhlas menjadi kakakmu," isak Rama seraya mempererat pelukan mereka.


Mereka saling mengurai dan saling mengusap air mata, kemudian kembali saling memeluk, tak ingin berpisah. Tangis mereka tak henti, terus dan terus mengalir sulit di bendung. Siapa yang tidak kecewa jika kedua insan yang saling mencintai tak dapat mempersatukan rasa, hanya bisa berusaha mengikhlaskan.


Radit sempat meneteskan air mata melihat keduanya, yang begitu saling mencintai, dan sulit terpisah. Jika penghalang mereka bukan ikatan darah, Radit yakin mereka akan saling berjuang mempertahankan cinta mereka.


'Maafkan aku, Laila. Kamu harus bersedih seperti ini, sesungguhnya aku tak kuasa melihat air matamu. Namun, egoku ini masih tetap ingin kamu menjadi milikku, Aku juga sangat mencintaimu, tidak ingin kehilanganmu' gumam Radit dalam hati.


Tak ingin semakin terlarut melihat pemandangan yang mengharukan. Radit menghampiri Laila mengajaknya untuk pulang. Namun, Laila menolaknya.


"Izinkan aku bersamanya seharian ini, Radit. Setelah kita menikah nanti, aku tidak mungkin punya banyak waktu untuk bersamanya, apa lagi kak Rama juga akan menikah. Hari ini saja, Dit, aku mohon!" lirih Laila dengan sendu.


Radit tampak diam memikirkan keinginan Laila. Seperti biasa Radit tak berdaya di hadapan Laila, ia tak bisa menolak keinginannya, ia membiarkan Laila menghabiskan satu hari ini bersama Rama.


Radit berusaha menutupi rasa cemburunya yang semakin bergejolak, ia memilih pergi meninggalkan mereka berdua.


Melihat Radit yang akan pergi. Laila bangun dari duduknya, dan menghentikan langkah Radit.


"Tunggu! Kamu mau kemana?" tanya Laila.


"Aku ada kelas. Nikmatilah hari ini bersama kakakmu, aku harus masuk kelas dulu," ucap Radit dengan lembut.


"Aku ingin keluar bersama Rama, apa kamu tidak keberatan?" tanya Laila.


Deg!


Radit terkejut. "Keluar! Kemana!?"


"Aku ingin keliling kota, untuk pertama dan terakhir kalinya bersama kak, Rama. Bolehkah?" tanya Laila dengan menatap Radit lembut, dihiasai senyum indah yang terukir di bibir merahnya.


"Pergilah, semoga hari ini kamu bahagia." Radit mengusap lembut kepala Laila dengan senyuman indahnya.


"Terimakasih, Dit, aku senang sekali. Besok aku akan menghabiskan waktu seharian bersamamu," ucap Laila.


"Mulai besok dan seteruanya, aku tidak akan membiarkanmu lepas dariku, selamanya kamu hanya akan menghabiskan waktu bersamaku," sambung Radit dengan tersenyum.


Laila mengukir senyumnya, dan mengangguk kecil, sedikit kaku.


Rama dan Laila pun pergi keluar, dengan menggunakan motor bebek kesayanngannya.


"Waah, aku seneng, bisa naik motor ini lagi," ucap Laila dengan bahagia.


"Benarkah?" ucap Rama yang sedang menyalakan motornya.


"Iya, seneng sekali." Laila naik dan melingkarkan tangan di pinggang Rama.


Deg!


Sesaat keduanya sempat terdiam, mereka masih merasakan debaran yang sama saat sedekat ini. Rama kemudian melajukan motornya, dan mebiarkan Laila memeluknya dari belakang.


Radit hanya melihat mereka dari kejauhan, dengan menahan rasa cemburunya.


"Sabar Radit, hanya hari ini saja mereka sedekat itu, besok dan seterusnya hanya kamu yang akan sedekat itu dengan Laila, bahkan lebih dekat dari itu, biarkan hari ini Laila bahagia dengan keinginannya." Radit mencoba menenangkan diri sendiri.


Sepanjang perjalanan Rama dan Laila saling menikmati kebersamaannya, "Kita kemana?" tanya Rama pada Laila.


"Kemana aja, terserah kak Rama," jawab Laila.


"Kamu yakin?" tanya Rama.


"Tentu saja, aku yakin," jawab Laila.


"Kalau kamu kubawa kesurga sekarang gimana?" tanya Rama.


"Ke surga!?" Laila mendadak melepas pelukannya dan berusaha melihat wajah Rama di samping.


"Iya, aku ingin segera berada di surga. Akan kuminta pada-NYA, agar kamu menjadi bidadariku dan tak ada yang memisahkan kita," ucap Rama.


Laila tersenyum bahagia.


"Kalau begitu, mari kita kesurga!" ucap Laila dengan semangat.


"Ha-ha-ha ...." Rama tertawa lucu mendengar ucapan Laila.


"Kenapa kak Rama tertawa?" Laila memeluk Rama kembali.


"Kamu lucu, apa kamu tau jalan menuju surga?"


"Aku tidak tau, yang aku tau berada di dekat kak Rama serasa berada di surga." Laila semakin mengeratkan pelukannya, memejamkan mata menikmati hangatnya tubuh Rama.


Rama tersenyum bahagia, dan memegang tangan Laila dengan satu tangannya.


"Jangan lepaskan tanganmu sebelum aku menimintanya. Hanya hari ini, aku bisa sedekat ini denganmu kak," ucap Laila dengan pelan.


Rama pun tak ingin melepaskan tangannya dari tangan Laila. Dia terus melaju dengan hati bahagia. Siapa pun yang melihat mereka saat ini, hanya bisa melihat pemandangan sepasang kekasih yang saling mencintai. Tidak ada kakak adik, mereka menghabiskan waktu bak sepasang kekasih yang tengah melepas rindu.


bersambung ....


Jangan lupa like komennya ya reader tercintaku❤❤❤


Terimakasih atas kesetiaannya membaca karyaku❤❤❤ dukungan kalian sangat berharga bagiku, Author bukan apa-apa tanpa dukungan dari kalaian.


Salam sayang Author❤❤❤