
Selapas mengantar Laila, Radit menemui Rama.
"Hai, Ram." Radit menepuk pundak Rama.
"Hai, Dit." sahut Rama.
"Cewek tadi siapa, Ram. Beneran cuman temen kamu?" tanya Radit menggoda.
"Emang Laila gak cerita?" tanya Rama.
"Laila gak mau nyeritain dia, katanya dia gak mau mengingatnya," kata Radit.
"Baguslah, aku juga gak mau mengingat hal itu. Lebih baik kita fokus di masa depan," ucap Rama.
"Wah, bener-bener nih, kakak adik ngerjain aku kompak, ya. bikin penasaran," kata Radit di iringi tawa.
"Kita gak ngerjain, hal yang buruk di masa lalu memang lebih baik gak di inget bukan, hanya akan menyakitkan hati," ucap Rama.
"Wah, tu cewe berarti udah nyakitin kalian berdua, ya. Tapi kok kamu masih jalan sama dia?" Radit merasa heran.
"Lebih tepatnya dia menyekiti Laila. Kalau sama aku sih dia sudah minta maaf waktu Idul Fitri, gak ada salahnya memaafkan orang yang mau bertaubat, tapi sama Laila dia baru ketemu lagi tadi. Mungkin sedikitnya Laila masih menyimpan rasa kecewa pada, Nur," ucap Rama.
"Oh, jadi namanya, Nur, tapi kayaknya kalian cocok deh Ram," ucap Radit menggoda lagi.
Rama hanya tersenyum.
"Oh, ya. Laila titip pesan sama aku, katanya pak Adi pengen ketemu kamu, nanti pulang kita bareng kesana, ya," ucap Radit.
"Untuk apa pak Adi mau ketemu aku?" tanya Rama penasaran.
"Dia kan ayahmu, wajarlah jika dia mau ketemu kamu," kata Radit.
Rama menunduk dengan lesu. Mengingat ayahnya yang tak mau mengakuinya.
"Insya Allah, Dit," kata Rama.
"Ya sudah, aku duluan ya." Radit beranjak dari tempatnya.
Keadaan yang tak pernah di inginkan manuasia adalah kesalah pahaman. kesalah pahaman terkadang membuat hidup manusia menjadi rumit, terkadang tak kunjung ada penyelesaian, apa lagi jika tak ada saksi mata sebagai penengah, takan pernah ada kejelasan. Terkecuali hati yang mengikhlaskan.
Rama mencoba bersahabat dengan keadaan meski kini hidupnya cukup rumit, dia hanya bisa pasrahkan segalanya pada-NYA dan selalu yakin setiap kejadian adalah yang terbaik baginya.
Berprasangka baik adalah hal yang terindah dalam hidup agar selalu bisa tenang dalam menjalaninya.
Baru saja sampai gerbang kampus Laila, Rama sudah disambut dengan lambaian tangan dan senyum indah Laila yang sudah berdiri disana. Bersikap biasa saja dan mencoba menutupi getaran yang tak pernah sirna di hatinya adalah hal yang teramat sulit bagi Rama.
begitu pun Laila yang berusaha mengendalikan rasanya, meski terkadang sulit.
Laila yang berdiri di gerbang menunggu kedatangan Radit dan Rama, segera menghampiri mereka, tanpa Laila sadari, ia membuka pintu belakang dengan semangat dan bahagia, dimana ada Rama duduk di sana. Naluri cinta memang sulit terkendali.
Belum Laila masuk kedalam ia teringat posisinya sebagai tunangan Radit. Laila mengurungkan niatnya duduk bersama Rama di belakang, ia pun menutup kembali pintu belakang dan membuka pintu depan duduk bersama Radit.
ketiganya tampak saling melempar senyum kaku. Sejenak hening tanpa kata.
Radit segera melajukan mobilnya.
'Kenapa kami harus selalu di pertemukan, padahal kami sudah berusaha untuk tidak bertemu. Semoga ini pertemuan terakhirku dengan Laila, jujur aku tak sanggup melihatnya bersanding dengan Radit' Rama membatin.
'Kenapa aku selalu tak bisa mengontrol rasa, aku terlalu bahagia jika bertemu Rama, baru kemarin Rama bilang tak ingin berjumpa dulu, tapi keadaan memaksa kita untuk berjumpa, apalah daya' batin Laila.
'Terimakasih Laila, meski hatimu masih terpaut pada Rama, tapi kamu berusaha menghargaiku sebagai tunanganmu. Aku tak bisa menyalahkan kalian atas keadaan ini, aku sendiri yang memilih untuk memperjuangkan cintaku, meski terkadang rasa cemburu muncul begitu saja' batin Radit.
"Permisi!" seorang pengamen lampu merah menyadarkan mereka dari lamunannya masing-masing.
***
"Mas, kamu makan dulu ya." Nesa menyuapi Aditama dengan penuh kasih sayang.
Tak sedikit pun Nesa mengabaikan setiap kebutuhan suaminya. Setelah selesai makan, Nesa membersihkan mulut Aditama dengan tisu.
Entah apa yang ingin dikatakan Aditama, tiba-tiba ia meronta-ronta.
"Apa yang ingin kamu katakan, Mas." Nesa menangis tak kuasa melihat keadaan suaminya.
Aditama pun meneteskan air mata melihat kesedihan sang istri.
'Aku tak berguna, ingin mengatakan sesuatu saja aku tak bisa. Nesa, apa Laila jadi membawa Rama kemari, aku ingin sekali memeluknya' batin Aditama.
Tak lama Laila muncul di balik pintu.
"Assalamu'alaikum," ucap Laila.
Aditama hanya mengedipkan matanya, menjawab salam dalam hati.
Laila menengok kabelakang. "Mari, masuk!" ucapnya pada Rama dan Radit.
Rama dan Radit pun masuk ke dalam.
Melihat Rama, Aditama langsung meronta sekuat tenaga. Sampai ia terjatuh dari tempat tidurnya. Jika pada keadaan normal dia akan langsung berlari memeluk Rama.
Semua orang kaget melihat Aditama.
Rama langsung berhambur menolongnya. Memangkunya kembali keatas tempat tidur.
Bahagia luar biasa yang Aditama rasakan. Namun, sayang sekali kebahagiaannya tak bisa tergambarkan, hanya ada air mata penyesalan di pelupuk mata Aditama. Namun, Rama tak bisa mengartikan semuanya.
Sesak terasa di dada. Rama tak menyangka keadaan Aditama seperti ini. Rama pun menetes kan air mata menyaksikan ketidak berdayaan ayahnya.
Rama hanya diam, entah apa yang harus ia katakan, dan apa yang harus dia lakukan, hanya tatapan iba dan tetesan air mata yang saling bicara diantara keduanya. Rama tak menyangka bertemu sedekat ini dengan sang ayah dalam ketidak berdayaannya.
'Rama, maafkan ayahmu ini, Nak! Peluklah ayah, ayah ingin sekali memelukmu. Kemari, Nak. Peluk ayahmu!' Aditama membatin sedih.
Siapa yang bisa memahami ke inginannya, di butuhkan naluri yang kuat diantara keduanya, jika bukan suatu kebetulan, atau keajaiban sulit untuk memahaminya.
"Se-semoga lekas sembuh," ucap Rama tiba-tiba tersenggal berat, menahan duka yang ada di hatinya.
Antara luka yang tergores di hatinya dan rasa iba dengan keadaan ayahnya saat ini bercampur menjadi satu.
Ingin hati memeluk sang ayah. Namun, ada rasa takut sang ayah menolaknya, mengingat sang ayah yang tak mengakui dirinya hasil buah cintanya bersama sang ibu.
Rama beranjak begitu saja tak ingin memperlihatkan air mata yang semakin deras mengalir di pipinya.
"Rama!" Laila mengejar Rama keluar.
"Nak, Radit. Tante titip om sebentar ya, tante ingin bicara sama Rama," kata Nesa.
Radit menganggukan kepalanya.
"Kak Rama, apa yang terjadi padamu?" Laila ikut sedih melihat Rama.
"Laila, apa yang harus aku lakukan di hadapan ayahmu, aku tidak tau harus bicara apa. Aku ingin memeluknya tapi aku tak berani, aku tau dia tidak menerimaku sebagai anaknya. Tak adil jika aku memeluknya tiba-tiba, sementara dia tak mau memelukku, aku juga ingin dia memelukku sebagai putranya," Rama menumpahkan segala gundahnya pada Laila.
"Kakak!" Laila terenyuh sedih.
Tak terasa keduanya pun terlarut. Laila memeleuk Rama untuk menenangkannya, Rama pun menerima pelukan Laila tanpa sadar.
Nesa yang menyaksika itu terkejut luar biasa.
'Astagfirullah, mereka berpelukan, mereka pikir mereka adalah saudara, kenapan meski Laila yang menenangkan Rama? Mereka bukan mukhrim' Nesa membatin.
"Laila, Rama!" Nesa segera menghampiri mereka.
Mereka pun terperanjat dan melepas pelukan mereka, dengan segera keduanya menyeka air mata.
"Nak, Rama. Ibu mau berterima kasih padamu. Ibu pikir kamu gak akan datang untuk mendonorkan darah pada ayahmu," ucap Nesa dengan berusaha mengontrol kecemasannya.
"Sama-sama, Bu. Itu sudah kewajiban Rama," kata Rama dengan sopan.
***
Di ruang tengah Nesa tampak mondar-mandir tak karuan. ia khawatir setelah melihat kejadian tadi.
"Bagaimana jika Rama dan Laila sering bertemu dalam keadaan seperti ini, mereka akan saling menenangkan dalam pelukan, mereka pikir mereka muhrim, tapi kenyataannya mereka bukanlah muhrim' gumam Nesa cemas.
Siapa sangka Radit yang ingin ke toilet mendengar gumaman Nesa.
Radit terkejut luar biasa.
bersambung ....
❤❤❤
Apa yang terjadi setelah Radit mengetahui jika Rama dan Laila bukan muhrim? Akankah dia memberi tahu Rama dan Laila, atau memendamnya demi cintanya pada Laila.
Terimakasih untuk kesetiaan kalian membaca karya Author, author akan ingat siapa saja yang mendukung author dari awal.
Salam sayang Author, jangan lupa dukungannya, Like ya, gratis kok🤭
❤❤❤