
Setelah tidak ada lagi yang harus di bicarakan keluarga Radit pun segera pulang, mereka yang akan menanyakan hari baik tanggal pernikahannya kepada pak ustad, dan akan mengabari setealh mendapatkan tanggal yang tepat.
Nesa menghampiri sang suami, dan meminta pak hasan memindahlannya ke kursi roda.
Nesa bermaksud membawa suaminya jalan-jalan di taman agar pikirannya lebih rileks, sambil membicarakan pernikahan Radit dan Laila disana.
Sejak Aditama sakit semua perusahaan di urus oleh orang kepercayaan mereka, beruntung saat itu keadan perusahaan sudah stabil karena bantuan modal dari ayah Radit. Ayah Radit menanam saham yang tidak sedikit di perusahaan Aditama. Ya, mereka berhutang banyak pada keluarga Radit.
Sampai di taman Nesa pun mengajak Aditama berbincang, meski lebih ke Nesa yang bercerita.
"Mas, kita memang berhutang banyak pada keluarga Radit, mereka memang baik. Laila akan sangat beruntung jika menikah dengan Radit, ayah dan ibunya juga sangat menyayangi Laila. Mereka tadi datang untuk mempercepat pernikahan Laila dan Radit, seperti kemauanmu waktu itu. Seharusnya sebagai orang tua aku merasa bahagia, entah kenapa aku malah justru sedih." Nesa jongkok dihadapan sang suami, menatap penuh harap.
Nesa melanjutkan bicaranya, "Aku memang tak sedekat Ira dengan Laila, tapi aku adalah ibu kandungnya, aku yang melahirkannya keduania ini, aku bisa merasakan kesedihannya, meski ia mencoba tersenyum, aku bisa merasakan deritanya, meski ia mencoba menerima keputusan kita." Nesa yang mulai berurai air mata pun mencoba mengusapnya terlebih dahulu dan mencoba menguatkan diri agar air mata tak semakin berlinang.
"Mas apa kamu tidak bisa merubah keputusanmu? Bisakah kamu melupakan masa lalu demi kebahagiaan putriku. Aku cukup menghargaimu sebagai suamiku, dan menyerahkan semua keputusan padamu, karna aku tau kamu ayah yang baik untuk Laila meski kamu bukan ayah kandungnya." Tatapan penuh harap Nesa berhasil meluncurkan buliran bening di mata sang suami.
Aditama hanya bisa menangis. Entah bagaimana caranya ia mengutarakan keinginannya saat ini, ia hanya menunduk menyesal dengan kondisinya saat ini yang tak bisa berbuat apa-apa.
Nesa mengusap air mata sang suami dengan lembut seraya berkata, "Apa ini, Mas? Aku tidak mengerti arti air matamu ini. Bahagiakah kamu atas pernikahan Laila yang di percepat, atau sedihkah kamu seperti apa yang kurasa. Sembuhlah, Mas. Aku ingin mendengar jawabanmu dari keluh kesahku, aku berharap kamu yang sekarang berbeda dengan kamu yang dulu, aku berharap kamu mengubah keputusanmu setelah mengetahui Rama benar-benar anak kandungmu."
Tiba- tiba Aditama meronta saat mendengar nama Rama, air matanya terus mengallir semakin deras, entah apa yang ingin ia utarakan, Nesa masih belum bisa memahamimya.
'Rama. Nikahkan Laila degan Rama. Nikahkan putrimu dengan putraku, aku juga ingin mereka bahagia, aku tidak mau mereka mengalami penderitaan seperti yang kita rasakan. Pahamilah Nesa, pahamilah air mataku ini' Aditana hanya bisa berkecamuk pedih dalam hatinya.
"Apa, Mas? Apa? aku tidak paham Mas, aku tidak paham?" Nesa semakin menangis sedih.
"Ya Allah. Ampunilah dosa kami, aku mohon sehatkan kembali suamiku ini, ampuni dosanya, Ya Allah," Nesa semakin tak kuasa.
'Maafkan aku Nesa, andai hari itu aku tak egois, ini semua tidak akan terjadi' batin Aditama.
Apa lagi yang akan selalu datang terlambat kalau bukan penyesalan, tidak ada penyesalan yang datang di awal.
***
"Ini semua gara-gara kamu Radit, kamu mengirim preman yang biadap kepadaku." Nur kesal mengingat Radit yang telah megngirim kedua preman itu. Dengan segera ia menghubungi Radit penuh amarah.
Radit yang di hubungi terkejut luar biasa. Ia tidak tau menau dengan kedua preman itu. tentu saja Radit tidak terima dia disalahkan atas kondisi Nur.
"Sudah kubilang Nur, aku tidak mau terlibat dengan rencanamu, bagaimana bisa aku mengirim kedua preman itu padamu. Aku tidak pernah menyuruh siapa pun untuk menolongmu menjalankan pikiran kotormu itu!" tegas Raddit.
"Ja-jadi, mereka bukan suruhanmu?!' Kini Nur yang terkejut dengan apa yang dikatakan Radit.
Nur pun menyadari kecerobohanya, yang menyakini tanpa bertanya. Ya, ia sadar waktu itu dia tak pertanya pada kedua preman itu siapa yang menyuruhnya. Dengan percaya diri Nur yakin Radit menolongnya.
"Ah, sial!" Nur memutus sambungan dan melempar handphonenya keatas tempat tidur.
Radit merasa prihatin dengan apa yang terjadi pada Nur, ia sadar obsesinya kali ini muncul karena berita yang ia bawa saat itu, berita tentang Rama dan Laila yang tidak memiliki hubungan darah.
"Kenapa bisa seperti ini, tidak kusanggka apa yang terjadi pada gadis itu, begitu menyedihkan. Ternyata gadis itu begitu ceroboh dan gegabah dalam bertindak," gumam Radit.
'Bisa dibayangkan dua pria menggagahi keperawanannya secara bersamaan, sungguh sangat menyedihkan, Entah benih siapa yang akan tumbuh jika sampai ia mengandung' pikir Radit prihatin.
***
Rama tampak tak berhenti melakukan shalat istikharoh, ia terus meminta petunjuk pada Allah untuk jodohnya. Laila yang ia cintai adalah adiknya yang tak mungkin bisa ia nikahi, sementara Nur dengan kondisi memprihatinkan membutuhkan dirinya.
Namun, disetiap mimpi dan angannya ia malah semakin tak mampu melepaskan bayangan Laila.
Rama terperanjat bangun dari tidurnya tat kala ia bermimpi saling peluk dengan Laila dengan penuh rasa bahagia.
"Kenapa Laila yang hadir dimimpiku? Apa karena aku terlalu memikirkannya? Aku harus terus melakukan shalat istikharoh," kata Rama dengan lemah.
Berhari-hari Rama tak pernah melewatkan shalat istikharoh, ia terus mencari kemantapan hati dan keyakinan dalam dirinya, mencoba menghadirkan Nur dalam bayangannya. Namun, tetap saja tak bisa, disaat ia mencoba membayangkan Nur, wajah Laila yang selalu muncul.
"Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah? Ini sudah ampir satu minggu. Aku belum bisa memberikan keputusan pada pada pak Hadi.
Bu Fuziah sang ibu pun tak henti minta petunjuk pada Allah, ia pun terus melakukan shalat istikharoh, ia tak mau sang putra salah mengambil keputusan apa lagi kalau sampai menikahi Nur hanya karena rasa kasihan.
"Rama, bagaimana? Kamu sudah punya jawaban untuk pak Hadi?" tanya bu Fauziah.
"Rama belum mendapatkan kemantapan hati, Bu. Malah selalu Laila yang hadir di mimpi Rama, wanita yang tak mungkin bisa Rama nikahi. kenapa ya, Bu? Apa mungkin karena Rama belum sepenuhnya bisa melupakan Laila, atau mungkin takan pernah bisa," ucap Rama dengan sedih.
Deg!
Bu Fauziah terkejut.
"Laila! Ya, ibu juga sempat memimpikannya,' ucap bu Fauziah.
"Akan tetapi, ibu rasa itu hanya bunga tidur biasa, karena kamu dan Laila tidak akan pernaha bisa menikah," lanjutnya.
"Rama pikir juga begitu, Bu," ucap Rama dengan lesu.
"Sepertinya Rama harus menerima Nur, Bu. Rama kasihan padanya. Ibu tak apa jika Rama menikahi Nur?" tanya Rama.
Bersambung ....
Terus nantikan kisah Rama dan Laila, akankah mereka saling mengikhlaskan?š¤§
Jangan lupa tekan likenya ya readerā¤ā¤ā¤