Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Sambutan Sandi dan Wini untuk Rama



"Em, makanannya benar-benar lezat." Nur segera mangambil makanan tanpa Ragu, di cobanya setiap makanan yang dihidangkan tanpa terlewatkan.


"Wah, Dit. Sepertinya kamu benar. Makanan segini akan kurang, aku tidak akan berhenti makan," ucap Nur dengan senang.


Radit tertawa.


"Apa kubilang. Tenang saja, kalau masih kurang, akan kupesan lagi." Radit tersenyum bahagia melihat Nur makan dengan lahap.


Saking cepatnya makan, Nur tiba-tiba tersedak.


Radit segera berdiri memberinya minum. "Pelan-pelan saja Nur," ucapnya dengan khawatir.


Nur yang tengah terbatuk-batuk segera mengambil, dan menenguk air yang diberikan Radit.


"Terimakasih," ucap Nur seraya menatap Radit yang tengah menatapnya khawatir.


Empat pasang bola mata itu saling tatap sejenak.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Radit tanpa mengalihkan pandangannya.


Nur menggelengkan kepala, pandangnnya masih pada netra Radit yang indah.


Tiba-tiba Radit menyimpan tangannya di sudut bibir Nur, mengambil sisa makanan yang bertengger disana.


Nur henyak, seketika Nur menjadi gugup.


"Eu, te-terimakasih," ucap Nur seraya mengalihkan pandangan kesembarang arah.


"Sama-sama," ucap Radit sambil tersenyum.


Suasana hening sejenak, mereka asyik dengan makanannya masing-masing.


'Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba aku menjadi gugup' batin Nur.


"Dit, kamu sering kesini?" tanya Nur mencairkan suasana.


"Ya, aku selalu makan disini, kalau tak sempat sarapan dirumah. Restoran ini favoritku. Makanya aku hapal banget dengan rasa masakannya, aku sudah mencoba semua menu disini, tak ada yang diragukan, semuanya lezat-lezat," tutur Radit.


"Kamu benar, lihat saja aku menghabiskan semuanya," ucap Nur.


"Baguslah, mau pesan lagi?" tawar Radit.


"Tidak. Nanti aku jadi gemuk," ucap Nur.


"Ha-ha-ha, apa salahnya jika gemuk, yang penting sehat bukan," ucap Radit.


"Iya, sih. Tapi, aku gak mau gemuk," ucap Nur.


"Kenapa? Takut dibilang tidak seksi, jelek?" tanya Radit dengan dahi yang mengerut.


"Tidak. Takut bajuku gak muat. Aku gak punya banyak baju, kalau aku gemuk aku mau pakai baju apa?"


"Ha-ha-ha." Radit tertawa mendengar alasan Nur.


"Baju bisa dibeli Nur," ujar Radit.


"Itu dia, beli baju itu harus pakai uang, aku gak punya banyak uang buat beli baju," ujar Nur dengan jujur.


"Sayang sekali, kita akan berpisah, coba saja kamu mau bertahan jadi istriku. Sama tokonya akan aku belikan untukmu," ujar Radit.


Tiba-tiba Nur tersedak kembali. Membuatnya memuntahkan semua makanan yang ada dimulutnya.


"Nur, hati-hati." Radit kembali mengkhawatirkan Nur, seraya mengambil gelas Nur yang ternyata sudah kosong, tanpa pikir dia mengambil gelasnya dan memberikannya pada Nur yang masih terbatuk-batuk.


Nur tampak ragu meminumnya. Namun, karena sakit ditenggorokannya semakin terasa, ia pun meneguknya sampai habis.


"Kenapa bahas itu sih, aku jadi tersedak kan?"


"Kenapa juga harus kaget, kamu sendiri yang menginginkan ini bukan,"


"Oke, sorry," ucap Radit dengan lembut.


'Ya ampun, kenapa juga aku kesal sih, seharusnya kata cerai itu membiatku senang bukan. Ada apa denganku' Nur membatin.


"Kita pulang? Atau masih mau pesan makanan?" tanya Radit.


"Kita pulang saja, Dit. Aku kehilangan mood," kata Nur.


Radit mengerutkan keningnya. 'Bagaimana bisa dia kehilangan mood saat membicarakan perceraian, harusnya itu jadi mood buster buatnya' Radit membatin seraya tersenyum tipis.


***


Akhirnya hari yang dinanti telah tiba, dimana Rama, Laila, dan Radit telah lulus bersama. Dengan pakaian wisuda berwarna hitam kuning, Lalai terlihat sangat cantik dan berwibawa, begitupun Rama dan Radit, yang tampak gagah dan memancarkan kewibawaan mereka.


Foto keluarga saat wisuda terpang-pang indah di ruang tamu rumah Rama maupun Aditama, dengan tersenyum bangga Aditama mengusap Foto itu. Terlihat Rona bahagia yang terpancar di wajahnya.


"Ini saatnya, putraku mengikuti jejak ayahnya," ucap Aditama saraya melirik Nesa dan Ira yang ada disampingnya.


"Aku gak pernah nyangka, anak baik yang sering kupuji akhlaknya adalah keponakanku sendiri. Rama jauh lebih pekerja keras darimu kak. Dia lulus kuliah dengan biaya sendiri, bahkan dia bisa menghidupi ibunya dengan kerja keras. Aku yakin, dia akan lebih sukses darimu," ucap Ira seraya melirik kakanya dengan tersenyum.


Aditama mengukir senyum dengan bangga. Mendengar penuturan Ira yang semakin meyakinkan dirinya untuk membingbing Rama terjun kedunia bisnis sepertinya.


Di rumahnya, Fauziah tampak mengusap Foto itu tanpa menyingkirkan lengkungan indah dibibirnya. Suatu kebanggaan tersendiri baginya, karena anaknya benar-benar berjuang sendiri membiayai kuliah tanpa mengeluh. Hasil kerja kerasnya tidak sia-sia, kini dia lulus dengan hasil terbaik yang memuaskan.


Hari demi hari terus berlalu. Dengan jas berwarna hitam, kemeja putih, lengkap dengan dasi kini Rama menjalani hari. Jaket gojek dan helm ia pajang di kamarnya sebagai kenangan perjuangannya menuju hari ini tiba.


Lalia pun tampak terlihat lebih cantik, anggun penuh wibawa dengan pakaian dokter yang ia kenakan saat ini. Kedua pasangan ini mulai disibukan dengan pekerjaannya masing masing. Laila langsung ditempatkan disebuah rumah sakit ternama dikota itu, sebagai dokter bedah.


Para dokter lama disana menyambut kedatangan Laila dengan hangat. Semua bergantian berjabat tangan dengannya. Salah satu dokter muda gagah dan tampan seusianya tampak tak bisa mengedipkan mata melihat kecantikan Laila yang penuh pesona. Dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Laila saat berjabat tangan, dia pun tak menyadari jika Laila tengah berusaha melepas jabatan tangannya yang erat, tak mau terlepas dari tangan Laila.


"Ehem." Deheman dari dokter disebelahnya menyadarkan dirinya.


"Maaf," ucapnya, "Perkenalkan nama saya Dokter Ferdinan, biasa dipanggil Dokter Ferdi. Saya juga dokter bedah disini, mulai sekarang kita adalah rekan kerja," ucap Ferdi dengan ramah.


"Senang berkenalan dengan Anda, Dokter Ferdinan. Perkenalkan nama saya Laila," ucap Laila tanpa meyebutkan gelar dokternya.


"Dokter Laila. Waw, nama yang sangat cantik," ucap Ferdi.


"Terimakasih," ucap Laila.


Di perusahaannya Rama mendapat sambutan yang tak kalah hangatnya dari Laila, terutama dari stap-stap kantornya. Tampaknya Sandi dan Wini telah menyiapkan penyambutan ini semeriah mungkin, untuk menyambut bos baru mereka.


Sandi menjabat tangan Rama, dan saling merangkul. Disusul Wini yang tanpa malu hendak memeluk Rama untuk memberi ucapan selamat. Seketika Rama mundur menjauhkan diri dari Wini.


"Maaf, saya tidak berpelukan dengan lawan jenis, selain dengan istri saya sendiri," ucap Rama dengan sopan.


Wini terdunduk malu. "Maaf, Pak," ucap Wini.


"Tidak apa-apa. Oh ya, mulai besok saya mau kamu berpakaian tertutup dan rapi, gunakan celana panjang saja," ucap Rama dengan suara pelan.


"Baik pak," ucap Wini patuh.


'Oh ya ampun ini bos besar aneh banget sih. Pak Adi saja gak masalah dengan pakaianku. Gak kebayang ni kantor bakal jadi lautan keringatku' batin Wini.


Benar saja, ke esokan harinya. Belum satu jam Wini bekerja dengan pakaian tertutupnya, dia sudah seperti cacing kepanasan, mondar mandir gak jelas di dalam ruangannya. Bukannya fokus bekerja dia malah terus mengelap keringat yang membasahi tubuhnya, bajunya tampak basah dengan keringat berlebih, karena tak biasa menggunakan pakaian tertutup.


Berkali-kali dia menaikan suhu AC, namun tak juga meredakan rasa panas di tubuhnya.


Rama yang melihatnya hanya menggelengkan kepala tanpa protes. Rama mengerti jika Wini tengah melawan Rasa panas ditubuhnya.


"Pak, aku nyerah deh pak. Aku tidak tahan." Tanpa menunggu jawaban Rama, Wini yang bermaksud memberikan berkas untuk di pelajari Rama. melangkah mendekati Rama, seraya membuka kancing bajunya sehingga menampakan belahan dadanya.


'Astagfirullah' batin Rama seraya memalingkan muka, menghindari Wini yang berada tepat dihadapannya.


bersambung ....