Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Aditama Stroke



Selang berapa jam Aditama pun siuman. Perlahan ia membuka matanya, di lihatnya satu persatu orang di sekelilingnya.


"Ayah, alhamdulilah ayah sudah sadar," ucap Laila dengan bahagia.


"Syukurlah, kamu sadar, Mas. Terimakasih Ya Allah," ucap Nesa dan juga Ira yang ada disana. Radit pun ikut bersyukur pak Aditama sudah siuman.


Nesa dan Laila bergantian memeluk pak Adi. Namun, ada yang aneh pada Aditama, ia hanya meneteskan air mata tanpa merespon pelukan mereka apa lagi bicara.


"Mas, mas, apa yang terjadi padamu, mas bicaralah!" pinta Nesa dengan mengoyang goyangkan badannya perlahan.


Pak Adi hendak mengucapkan sesuatu, tetapi seolah tersenggal, ia tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ayah!" panggil Laila dengan sedih.


"Dokter!" Bi Ira segera memanggil dokter.


Seteh diperiksa ternyata Pak Adi terkena stroke pasca kecelakaan.


Nesa dan yang lainnya tampak sedih mendengar penjelasan dokter. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa.


Siapa yang menyangka kepulangan mereka ke Indonesia setelah menyelsaikan masalah mereka di luar negri, menjadi awal masalah baru bagi mereka.


Ya, masalah perusahaan mereka sudah membaik dengan bantuan modal dari orang tua Radit. Dengan cepat mereka mengatasi semuanya. Bermaksud memberi kejutan pada putrinya, Aditama malah mengalami kecelakaan yang membuatnya tak bisa melakukan apa pun sekarang.


'Maafkan segala salahku ini Ya Alllah, hilang satu ujiuan, KAU datangkan ujian baru untukku, sekrang aku tak bisa berbuat apa-apa tanpa keajaiban darimu' Aditama hanya bisa membatin tak mampu lagi mengutarakan apapun yang ia inginkan.


Aditama hanya bisa meneteskan air mata, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi padanya selama ia tak sadarkan diripun ia tak mampu.


Sesampainya dirumah. Nesa merebahkan sang suami diatas tempat tidur dengan bantuan Pak Hasan.


Nesa tidak ngin menutupi semua, ia menceritakan setiap kejadian pada Aditama. Termasuk Rama yang telah mendonorkan darahnya pada Aditama.


Dalam ketidak berdayaannya, Aditama hanya bisa menangis. Ia menyesali perbuatannya pada Fauziah. Ia menyesal menuduhnya berselingkuh, padahal jelas ini adalah kesalahannya.


'Rama, Fauziah, maafkan aku. Rama, ingin sekali aku memeluk dan meminta maaf padamu, tapi sekarang aku tak bisa berbuat apa-apa, siapa yang akan mengerti dengan ke inginannku, aku hanya bisa menangis tak berdaya' Aditama membatin sedih luar biasa.


Nesa terus mengusap air mata yang mengalir di penjuru mata sang suami. Namun, Nesa pun tak mengerti apa yang tengah suaminya ingin bicarakan, terkadang terlihat meronta berusaha ingin mengatakan sesuatu. Namun, apalah daya.


"Apa yang ingin kamu katakan, Mas. Apa kamu ingin bertemu Rama?" Tebak Nesa, karena setelah menceritakan Rama Pak Adi terlihat meronta-Ronta.


Pak Adi terlihat mengedipkan matanya berkali-kali. Nesa pun mengerti.


"Baiklah, Mas. Besok aku akan menemui Rama. Mas yang sabar ya,' ucap Nesa.


'Terima kasih Ya Allah, Enggkau telah membuat istriku memahamiku' batin Aditama.


"Biar Laila yang membawa kak Rama kesini bu." Laila yang baru datang begitu antusias. keantusiasan Laila tiba-tiba melemamah saat sang ayah menatapnya. "Ji-jika boleh," lanjut Laila menjadi gugup.


Tiba-tiba pak Adi mengedipkan matanya. tanda ia mengijinkannya.


Laila pun tersenyum bahagia dan memeluk sang ayah. kemudian kembali ke kamarnya.


Nesa pun terlihat bahagia.


"Kamu lihat itu, Mas! Hanya mendengar Nama Rama saja putri kita begitu bahagia, aku sangat merasa bersalah menyembunyikan kebenaran padanya," ucap Nesa dengan berderai air mata.


'Maafkan aku Nesa, ak telah membebankanmu dengan keegoisanku, aku menyesal. seandainya aku bisa mengatakannya sekarang, akan aku katakan jika meraka bisa menikah, akan ku persatukan cinta meraka meski resikonya orang tua Radit mencabut kembali saham mereka' batin Aditama.


***


Rama tengah bersimpuh memohon ampunan pada sang ibu karena telah pergi tanpa izinnya, dan hanya meninggalkan sebuah surat. Untuk pertama kalinya Rama mengambil keputusan sebelum sang ibu menyetujuinya. Rama merasa berdosa pada sang ibu.


Namun tak di sangka sang ibu merengkuh Rama dalam pelukannya dengan bangga ia mengatakan jika keputusan yang Rama ambil adalah keputusan yang benar. Tidak semua keinginan sang ibu harus di turuti, tatkala sang ibu lebih mengutamakan egonya maka saat itu bisa saja sang ibu dalam keadan yang salah.


"Bagai mana keadaannya sekarang, Ram? Apa dia sudah siuman?" tanya Fauzih.


"Rama tidak tau, Bu. Rama langsung pulang setelah itu. Rama bahkan tak sempat bertemu ibunya Laila dan bu Ira


Rama hanya bertemu dengan Laila," ucap Rama.


"Laila! Jadi kamu bertemu Laila, entah kenapa ibu masih saja tak suka mendengar nama itu, meski sekarang dia adalah adikmu, ibu tetap tidak suka padany," ucap bu Fauzih.


Rama hanya menghela napas. ingin sekali ia menceritakan tentang Laila dan Radit adalah kesalah pahaman. Namun, jika dia mengatakan itu pada bu Fauziah, ibu pasti akan bertanya bagai mana ia mengetahui itu. Rama pun memilih untuk diam.


Pagi-pagi sekali, Nur datang kerumah bu Fauziah, ia meminta Rama mengantarnya kepasar sebelum Rama berangkat kuliah.


"Ram, aku nebeng sampai pasar ya. pulangnya aku bisa naik angkot," kata Nur.


"Boleh Nur," kata Rama tanpa panjang lebar.


"Nur, ibu titip sesuatu ya, ibu lagi malas kepasar," kata bu Fauziah.


Seketika bu Fauziah tertawa.


"Enggak kok, Nur. Ibu cuman nitip tomat sama cabai, kebetulan sudah habis," kata ibu.


Di tengah perjalanan. Laila melihat Rama yang tengah membonceng Nur. Hati Laila terasa tercabik-cabik. Rasa cemburu masih saja membara di hatinya terlebih Rama membonceng nur yang hampir saja membuatnya kehilangan kesuciannya.


"Itu seperti Rama, Laila?" tanya Radit yang juga melihat Rama.


Laila hanya tersenyum dengan anggukan kaku.


"Ram!" Sapa Radit saat berada di lampu merah.


"Dit, Laila! Kalian baru berangkat juga?" tanya Rama.


"Iya Ram. Siapa tuh? Gebetan baru ya," Goda Radit yang belum mengenal Nur.


Deg!


Seketika Laila memandang Radit kesal. 'Kenapa Radit mengatakan hal itu, aku akan mencoba relakan Rama bersama perempuan lain, tapi bukan Nur' bisik hati Laila.


"Ini, Nur. teman saya," jawab Rama.


"Hai," sapa Nur pada Radit.


"Hai," balas Radit.


"Hai, Laila. Apa kabar?" sapa Nur pada Laila yang hanya diam saja.


"Laila, jika ada waktu aku ingin bicara, tolong maafkan perbuatanku dulu padamu," ucap Nur yang belum sempat minta maaf pada Laila.


"Tidak apa-apa Nur semua sudah berlalu," jawab Laila dengan malas.


Tiba-tiba pembicaraan mereka terpotong lampu hijau yang sudah menyala, mereka pun melajukan kembali kendaraan mereka.


"Duluan, Dit!" kata Rama.


"Ya, Rama," jawab Radit.


Meski Laila mencoba menahan kekesalannya, Radit bisa melihat itu, matanya tak berkedip memandang Nur dan Rama yang ada di depannya.


"Kenapa, Masih cemburu melihat Rama dengan perempuan Lain?" tanya Radit yang tiba-tiba memegang tangan Laila.


Deg!


Laila terkejut. ingin melepas tangan Radit, tapi tak ingin mengecewakannya. Laila pun diam, dengan gugup.


"TIdak," elak Laila


"Kalau tidak jangan di tekuk gitu dong wajahnya," Kata Radit menggoda Laila.


Radit merasa bahagia, untuk yang kedua kalinya Laila tak melepas genggaman tangannya, sungguh memberi Radit harapan yang besar.


"Apaan sih. Aku hanya tidak suka aja melihat kak Rama bonceng Nur," kata Laila.


"Oh, ya, kalian sudah saling kenal?" tanya Radit tanpa ingin melepaskan genggaman tangannya, meski terlihat rasa tak nyaman pada laila. Radit pikir Laila harus terbiasa padanya agar lama-lama dia merasa nyaman.


"Ceritanya panjang. aku tidak mau mengingatnya. Aku akan berusaha menerima kedekatan kak Rama dengan perempuan Lain tapi tidak dengan Nur," ucap Laila dengan pelan.


"Baiklah, jika kamu tidak ingin mengingatnya, mungkin ada hal yang meyakitkan. Aku tidak akan menanyakannya lagi. Sekarang kita langsung kekampus kamu saja ya," Kata Radit dengan memindahkan tangnnya mengusap kepala Laila lembut. Radit mengukir senyum bahagianya.


"Iya," jawab Laila seraya menganggukan kepalanya. Sedikit risih dengan usapan Radit di kepalanya meski mencoba menerima.


"Eu, Dit. boleh titip pesan sama Rama? tadinya aku mau sampaikan langsung, tapi mood-ku hilang setelah bertemu Nur," ucap Laila.


"Apa?" tanya Radit.


"Ayah ingin bertemu Rama. Nanti pulang kuliah kita bareng kerumah," kata Laila.


"Baiklah, akan aku sampaikan," kata Radit.


bersambung ....


Sayang sekali Aditana Stroke ya🤧


Terimakasih buat yang selalu setia baca karya othor dan buat kalian yang selalau like komen dan kasih hadiah buat karya othor sebagai penyemangat, tanpa kalian othor bukanlah apa-apa.


salam sayang othor❤❤❤