Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Kedatangan Seseorang



"Terimakasih, Ram. Ibu bangga padamu. Tolong maafkan ibu yang sering mengecewakanmu." Tetesan air mata kembali mengalir di pipi Fauziah.


"Kenapa Ibu cengeng? Sedikit-sedikit Ibu nangis. Rama sudah sering bilang sama Ibu. Rama gak mau melihat air mata di pipi Ibu." Rama mengusap lembut pipi sang Ibu.


Fauziah mengukir senyum indah di bibirnya, dan berusaha menghentikan air matanya.


"Kamu jemput Laila jam berapa? Jangan sampai terlambat, kasihan jika dia nunggu lama. Ingat dia tidak biasa hidup susah seperti kita. Jangan berikan kesempatan padanya untuk mengeluh," tutur ibu.


"Ibu khawatir banget sih, jika anaknya mengecewakan menantunya. Jangan-jangan sekarang Ibu sayangnya sama Laila dan gak sayang sama Rama."


"Ha-ha-ha, ngomong apa sih kamu, Ram. Ibu ini perempuan. Ibu hanya gak mau ada masah antara kamu dan Laila. Berusahalah memahami perempuan, terkadang hal kecil bisa membuatnya sangat bahagia. Jangan pernah menyepelekan itu," tutur ibu.


"Siap, Bu. Nampaknya ibu lebih memahami Laila. Apa lagi yang harus Rama lakukan untuk membahagiakan Laila?" tanya Rama seraya mendekap sang ibu.


"Hentikan sering mendekap Ibu. Seringlah mendekap istrimu!" tutur Fauziah.


"Ha-ha-ha, Ibu ini lucu. Kenapa ibu selalu melarang aku memeluk ibu sih? Padahalkan ini tandanya Rama sangat menyayangi Ibu. Lagian, Laila tidak mungkin cemburu sama Ibu." Rama menyenderkan kepalanya di bahu sang ibu.


"Ibu tau itu, tapi Ibu mulai risih jika kamu seperti ini. Rasanya Ibu yang malu jika kamu masih manja-manja seperti ini. Kamu bukan anak kecil lagi, sekarang kamu akan punya anak kecil," ucap ibu di akhiri senyum, seraya membayangkan Ramanya menjadi seorang ayah.


"Oh, jadi ceritanya pengen cepet punya cucu nih. Pantas nyuruh anaknya sering-sering dekap istri." Rama tersenyum dan mengerakan-gerakan kepalanya.


"Ha-ha-ha. Kamu tau aja. Ibu sudah gak sabar pengen peluk cium cucu. Karena sekarang udah ada yang lebih berhak peluk cium anak Ibu, jadi gantinya kamu harus kasih Ibu cucu." Fauziah melepaskan tangan Rama yang masih bertengger di bahunya.


"Kenapa Ibu bilang seperti itu? Ibu itu kan Ibu Rama. Ibu masih berhak peluk cium Rama. Ayo, peluk cium Rama!" Rama menggoda sang ibu, dengan mendekatkan pipi ke bibir sang ibu.


"Hentikan, Rama! Gak lucu." keluh Fauziah seraya menjauhkan diri dari putranya.


Rama terus mengoda, sampai sang ibu mengeluarkan jurus jitu agar sang putra berhenti menggodanya.


"Awww," keluhnya dengan memegangi kaki yang sakit.


Seketika Rama menghentikan aksinya. Ia langsung melihat tangan sang ibu yang memegangi kakinya.


"Ibu, tidak apa-apa?" tanya Rama khawatir.


"Tidak," jawab Fauziah santai seraya mengulum senyum menahan tawanya.


"Tidak." Rama terkejut melihat ekpresi sang ibu yang hendak melapas tawa karna mengerjai sang putra.


"Ibu ngerjain Rama?" Rama mengerutkan keningnya.


Akhirnya sang ibu pun melepas tawanya. Rama tersenyum bahagia melihat sang ibu tertawa sebebas ini.


"Terima kasih ya Allah. Aku masih diberi kesempatan menghibur Ibu. Rama senang melihat tawa Ibu. Semoga Ibu selalu tertawa seperti ini," gumam Rama seraya memandang sang ibu dengan lembut.


"Sudah. Ada perempuan lain yang harus kamu ukir senyumnya selain Ibu. Cepet kamu jemput dia, jangan sampai kamu terlambat!" titah ibu di iringi senyuman.


"Baiklah, Bu. Rama jemput Laila dulu, ya. Rama pamit." Rama mengencup punghung tangan sang ibu.


"Hati-hati. Jangan kebut-kebutan bawa menantu Ibu. Pelan-pelan saja, yang penting selamat."


"Iya, Bu. Assalamualaikum. Buburnya dihabisin, ya. Belum habis tuh," ucap Rama seraya melirik piring bubur di meja.


"Iya, kamu sampai rumah pasti sudah habis," ucap Fauziah.


Rama berlalu dari pandangan Fauziah. Rasa bahagia menyelimuti hatinya. 'Semoga Rama dan Laila selalu rukun selamanya, selalu saling menyayangi, dan dijauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan, semoga rumah tangganya sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin' batin Fauziah.


Tring!


Sebuah chat masuk di ponsel Laila.


"[Sayang, aku di toko sebelah kampus. Aku tunggu kamu disini]" Rama.


Laila mengurungkan diri membeli eskrim, ia segera menghampiri Rama.


"Sayang! Assalamualaikum." Laila meraih tangan Rama dan mengecupnya.


"Waalaikumsalam." Rama mengusap lembut kepala Laila dan mengecup keningnya.


"Eu, kenapa tidak menunggu di dalam?" tanya Laila penasaran.


Wajah Rama tampak berubah.


"Aku tidak enak masuk kedalam dengan motor butut ini. Aku khawatir teman-temanmu mengejekmu," tutur Rama.


"Sayang, kenapa kamu memikirkan omongan orang? Aku tidak peduli semua itu. Jangan jadikan aku istri durhaka, seolah aku tak mau menerima keadaanmu. Tolong jangan seperti ini." Buliran bening mengganak sungai di pipi Laila yang mulus.


Rama terharu dengan apa yang dikatakan sang istri. Ia sungguh-sungguh tak mau mngecewakannya. Di usapnya buliran bening itu dengan lembut.


"Sayang, sungguh aku tak mau mengecewakanmu. Hal sekecil apa pun akan kujaga, agar kamu tak terluka." Rama menatap lembut Laila seraya menghimpit pipi indahnya dengan kedua tangan Rama.


"Akan tetapi, hal ini membuatku kecewa. Aku tidak ingin membuatmu merasa hina, dengan keadaanmu. Aku mencintaimu apa adanya, apapun keadaanmu. Jangan sembunyikan dirimu dari dunia, aku akan dengan bangga mengatakan jika dirimu adalah suamiku." Air mata terus mengalir di pipi Laila.


"Maaafkan aku sayang. Aku pikir kamu akan senang aku seperti ini," ucap Rama seraya memeluk Laila.


"Itu artinya kamu tidak mengenal istrimu. Aku mohon jangan menjadikan harta sebagai tolak ukur kebahagiaanku. Apa kamu lupa? Apa yang aku miliki selama ini seharusnya menjadi milikmu, fasilitas, rumah, barang, uang, semua itu kamu lebih berhak," isak Laila di dalam pelukan Rama.


"Tidak." Rama mengurai pelukannya.


"Dengar. Apa yang dimiliki ayahku mungkin aku berhak menikmatinya, tapi semua itu tetap miliknya, dia berhak memberikannya pada siapa pun yang ia kehendaki termasuk kamu. Aku adalah aku. Aku akan berjuang sendiri untuk memberimu kehidupan yang layak. Kamu dukung aku, ya," ucap Rama dengan lembut.


Laila menganggukan kepalanya dan kembali memeluk Rama.


"Besok, aku mau kamu masuk kedalam. Jangan lagi menunggu diluar seperti ini. Biarkan teman-temanku tau kamu adalah suamiku," ucap Laila dengan bangga.


Rama menganggukan kepalanya, seraya mengukir senyum di bibirnya.


***


Satu bulan kemudian.


Rama, Laila dan Fauziah dikagetkan dengan kedatangan seseorang kerumahnya.


Pria berjas, dengan tubuh kekar, gagah dan tampan berdiri di depam pintu rumah Fauziah.


Mereka yang sedang bersenda gurau mendadak menghentikan tawanya, saat mendengar ketukan pintu dari Pria itu.


"Ka-kamu?" Fauziah terkejut melihat kedatangan pria itu.


Bersambung ....