Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Siasat Baru Nur



Setelah sampai dirumah sakit, Fauziah segera di tangani dokter. Luka bakar yang mengenai kakinya cukup melebar. Fauziah menahan sakit dan panas yang tersa di kakinya. Melihat Fauziah yang tampak sedikit meringgis saat dokter memeriksa, Laila memberanikan diri mengusap pundaknya.


"Ibu yang sabar, ya. Luka Ibu pasti cepet sembuh." Laila berusaha memberi kekuatann pada sang ibu mertua.


"Tentu saja, sayang. Selama ada kamu dan Rama menemani Ibu. Ibu pasti kuat." Fauziah mengukir senyum indahnya.


Ya, sejak kedatangan Laila dan Rama kerumah tadi Fauziah berusaha menahan rasa sakitnya. Ia tak mau melihat anak dan menantunya terlalu mengkhawatirkan kondidinya.


Dokter selesai memeriksa Fauziah, dan memberikan resep obat untuk di tebus di Farmasi. Selesai mangambil obat di Farmasi mereka pun segera kembali kerumah.


Jalanan yang macet di siang ini membuat mereka terlambat pulang ke rumah, hingga waktu ashar menjelang mereka baru sampai. Dengan sangat hati-hati Rama menggendong sang ibu masuk ke kamar. Laila segera memberikan obat yang di berikan dokter untuk meredakan luka ibu, karena pengaruh obat tersebut ibu pun terlelap tidur.


Laila dan Rama hendak merapikan dapur bekas ibu masak.


"Sayang, biar aku saja, itukan pekerjaan perempuan. Nanti kamu lelah," Kata Laila saat melihat Rama hendak mencuci piring.


"Di rumah ini gak ada yang namanya pekerjaan perempuan dan laki-laki. Aku dan ibu selalu mengerjakan semuanya bersama. Kamu tidak perlu khawatir aku sudah terbiasa," ucap Rama dengan lembut.


"Iya, tapi kamu suamiku, aku gak enak melihat kamu seperti ini," tutur Laila.


"Itu karena kamu terbiasa melihat bibi yang mengerjakan ini semua. Mulai hari ini kita akan melakukan semuanya bersama, kamu tidak keberatan 'kan?" yanya Rama dengan lembut.


"Aku sama sekali tidak keberatan, aku malah seneng. Berarti saat cuci piring pun bisa deket-deket sama kamu," ucap Laila malu-malu.


"Kaya perangko dong kita," canda Rama.


"Ha-ha-ha," Keduanya tertawa bahagia.


"Do'akan suamimu ini agar menjadi orang yang sukses, supaya suatu saat nanti, aku bisa mempekerjakan pembantu untukmu." Rama mengusap lembut kepala sang istri, dengan senyum yang terukir indah di bibirnya.


"Tentu saja, aku pasti mendoakanmu," ucap Laila juga tersenyum.


Mereka pun mulai menata dapur dengan rapi, memasak dan mencuci piring kotor yang berserakan. Namun, saat Laila mencuci piring dia ke habisan sabun cuci. Laila pun bergegas ke warung membeli sabun. Saat di warung Laila tak sengaja bertemu dengan Radit.


"Radi!" Laila terkejut melihatnya.


"Hai, Laila!" sapa Radit.


"Hai, Juga. Kamu sedang berkunjung ke rumah pak Hadi?" tanya Laila.


"Em, sebenernya bukan berkunjung sih, sebab mulai sekarang aku dan Nur akan tinggal di rumah pak Hadi," ujar Radit.


"Benarkah? Wah kita jadi tetanggan nih, karena aku juga sekarang tinggal di rumah ibu," ucap Laila.


"Wah, kebetulan sekali, ya." Radit pura-pura tidak tau.


"Oh, ya, Dit. Ngomong-ngomong makasih ya, kamu sudah berkorban buat aku, aku mimta maaf aku tidak biasa--"


"Suuttt." Spontan Radit memotong ucapan Laila dengan menyimpan telunjuk di bibirnya.


Deg!


Laila terkejut.


"Ma-maaf, aku spontan. Kamu tidak perlu mengatakan apa pun. Semua itu kulakukan demi kebahagiaanmu," ucap Radit.


"Tidak apa-apa, Dit. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih, atas semua pengorbananmu untukku." Laila kembali berterima kasih.


"Sama-sama. Semoga kamu bahagia bersama Rama," ucap Radit dengan tersenyum.


"Aamiin. Mari, aku duluan," ucap Laila.


"Mari."


Setelah Laila beranjak. Radit memandang telunjuknya sendiri. Seraya tersenyum kecil 'Kenapa kamu nakal? Masih saja ingin menyentuh Laila, dia sudah menjadi milik orang lain, kamu harus kuat. Dia bahagia bersama pilihan hatinya' batin Radit.


"Kenapa? Nyesel melepas Laila sama Rama. Is is is itu telunjuk main nempel aja di bibir orang. Makanya jangan sok berkorban. Nyesel 'kan jadinya?" Nur yang sedari tadi memperhatikan menyindir Radit.


Radit tak terpengaruh dengan sindiran yang di lontarkan Nur. Dia malah mengodanya.


"Sok tau kamu. Ngapain kesini? Pasti ngikutin aku. Eeemm, kenapa? Kangen? Atau jangan-jangan kamu cemburu ya sama Laila," goda Radit dengan mengangkat alisnya.


"Apa?" Seketika Nur menjadi kesal mendapat godaan dari Radit. "Menyebalkan, gak ada kamusnya aku cemburu sama kamu, jangan geer, ya. Ingat kamu tahu betul seperti apa perasaanku." Nur melengos pergi meninggalkan Radit.


Radit hanya tersenyum menyeringai. 'Kamu akan terus mendengar godaan ini dariku Nur. Siap-siap saja kamu jatuh cinta padaku' batin Radit tersenyum. Kemudian menyusul Nur.


Tanpa sengaja Radit melihat Nur tersenyum sendiri di kamarnya saat netranya menatap layar ponsel. Radit yang mencurigai sesuatu tak langsung menghampiri.


Nur menyimpan ponselnya di meja dan pergi kekamar mandi. Suatu keberuntungan bagi Radit, ponsel Nur belum terkunci.


Dia mencari tau apa yang membuat Nur tersenyum sendiri. Radit terkejut saat tau apa yang membuat Nur seperti itu. Radit yang cerdas, berpikir untuk memantau semua perbuatan Nur dengan memasang aplikasi pelacak di ponselnya dan segera menghubungkannya dengan ponsel Nur. Foto, video, chat, apapun yang di simpan Nur Radit bisa memantau lewat ponselnya. Bukan maksud tidak menghargai pivasi Nur, tapi Radit tak mau istrinya jatuh kelubang yang sama akibat kecerobohannya. Radit benar-benar ingin istrinya berubah.


***


Keesokan harinya. Laila kebingungan saat hendak berangkat kuliah.


"Sayang, aku gak perlu masuk kuliah saja, ya. Kasihan ibu sendiri dirumah, jika ibu butuh sesuatu bagaimana?" ucap Laila dengan khawatir.


"Jangan kamu! Biar aku saja yang gak kuliah. Aku gak mau orang tuamu menyesal menikahkanmu denganku. Ingat kata ibumu sebelum berangkat ke luar negri. Dia gak mau kamu bolos kuliah." Rama memegang tangan Laila dengan menunjukan lengkungan indah di bibirnya.


"Bagaimana kalau gantian? Hari ini kamu, besok aku. Aku juga mau merawat ibu," tutur Laila.


"Tidak perlu seperti itu. Aku tau kok kamu sayang sama ibu. Lagian besok aku gak ada jadwal. Jadwalmu lebih padat dari pada aku. Jadi, kamu tetap fokus saja sama kuliahmu," tutur Rama seraya meraih kepala sang istri dan disandarkan di bahunya.


"Ayo, sekarang aku antar kamu dulu, ya. Nanti pulangnya aku jemput," lanjut Rama.


Laila menganggukan kepalanya, tak lupa mereka berpamitan pada ibu.


Beberapa menit setelah keberangkatan Rama dan Laila. Nur datang dengan segala tipu dayanya, ia menampakkan wajah kecewa pada Fauziah. Tangisan palsu ia perlihatkan untuk mendapatkan simpati.


"Apa yang terjadi padamu, Nur?" tanya Fauziah dengan heran.


"Nur sedih sekali, Bu. Nur tidak tau harus mulai dari mana. Bagaimana cara Nur menyampaikan ini pada Ibu? Nur benar-benar kecewa," ucap Nur dengan terisak.


Fauziah semakin bingung dengan sikap Nur. "Katakan yang sebenarnya, Nur. Jangan buat ibu bingung!" Fauziah tak sabar ingin mengetahui apa yang hendak Nur ungkapkan.


Bersambung ....


jangan lupa Like komennya ya Reader😍