Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Menemui Rama di Kampus



Tak banyak hal yang mereka bicarakan saat dalam perjalanan, keheningan terkadang menyapa saat mereka kehabisan kata untuk bicara. Sesungguhnya banyak hal yang ingin Radit ungkapkan. Namun, mengingat kondisi perasaan Laila, Radit memilih untuk menahannya.


Mobil pun sampai di parkiran kampus Radit. Ketika Radit dan Laila turun, semua orang yang mengenal Radit melirik kearah Radit dengan heran. Laki-laki yang tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan kini datang bersama perempuan cantik seperti Laila. Bukan karena Radit tak laku, begitu banyak perempuan yang jatuh hati pada Radit. Namun, Radit menutup diri untuk mereka.


Tak sedikit yang berdehem dan bersiul melihat mereka, bahkan perempuan-perempuan yang jatuh hati padanya merasa cemburu melihat Laila.


Radit terlihat senang dan bahagia, berbeda dengan Laila yang tampak acuh dengan perbuatan teman-teman Radit. Laila malah mengedarkan pandangan kesekeliling kampus mencari keberadaan Rama.


Ia termenung ketika tak mendapati Rama di pandangan matanya. 'Kamu dimana Rama?' batinnya.


"Laila!" seru Radit yang melihat Laila termenung.


Laila sedikit kaget.


"Eu ... Iya!"


"Kenapa melamun?" tanya Radit.


"Eu ...." Laila tampak ragu mengungkapkannya, karena apa yang akan dia ungkapkan akan melukai perasaan Radit. Terlihat di wajah Laila yang merasa tak nyaman.


Namun, Radit cukup mengerti. Radit mengukir senyumnya agar Laila merasa nyaman.


"Kamu mencari Rama?" tanya Radit dengan tersenyum.


Seketika Laila melirik Radit merasa tak enak hati.


"Tidak perlu merasa tak enak padaku, bukankah kamu sudah mengatakan padaku, tujuanmu kesini ingin bertemu Rama," kata Radit.


Laila tersenyum dan menganggukan sedikit kepalanya.


"Ayo, aku tunjukan dimana tempat biasa Rama berada!" ajak Radit dengan mempersilahkan Laila berjalan di depannya.


'Radit! Semoga kamu bersabar menghadapi sikapku, jujur aku tak bisa memungkiri rasa ini, baru sampai disini saja jantungku masih berdegup kencang, bagaimana jika aku bertemu Rama. Akankah Rasa ini menjadi cinta adik terhadap kakaknya, atau masihkah sama seperti cinta seorang kekasih' Laila membatin saat melangkah menuju tempat keberadaan Rama. Sesekali matanya berkaca-kaca menahan gejolak yang semakin membara.


Tiba-tiba Laila pun menghentikan langkahnya.


"Tunggu sebentar!" pintanya.


Dipeganginya dada yang tersa semakin berdegup tak beraturan. Ia menarik napas dan membuangnya perlahan.


Radit paham Laila tengah berusaha mengontrol perasaannya.


"Belum juga bertemu, baru akan bertemu, kamu sudah seperti ini, padahal Rama belum tentu ada disana. Begitu besarkah cintamu pada Rama?" tanya Radit dengan melihat ke arah Laila.


Deg!


"Maafkan aku, Radit. Aku tidak mengerti kenapa jantungku berdegup begitu kencang, aku jadi ragu jika aku bisa mengendalikan rasa ini. Lebih baik aku tidak jadi bertemu Rama," Laila membalikan badannya dan berjalan kembali ke belakang.


"Hey." Radit menarik tangan Laila seketika.


Laila kaget dan langsung melepasnya.


"Maaf, aku spontan," kata Radit.


"Kenapa kembali? Apa yang ingin kamu ungkapkan pada Rama? Ungkapkanlah! Jangan menahannya! Aku yakin perlahan kamu pasti bisa mengolah rasa dalam hatimu," tutur Radit.


"Aku takut mengecewakanmu, Radit. Aku juga takut melawan takdir," tutur Laila.


"Seharusnya aku menuruti perkataan bi Ira, untuk tidak menemui Rama dulu," Lanjut Laila dengan berkaca-kaca.


"Laila, aku tau ini berat. Aku sendiri merasa takut kecewa melihatmu bersama Rama. Akan tetapi semua ini takan berakhir begitu saja, tanpa ada usaha dalam diri kita. Berusahalah melupakannya dengan menggenggam erat tanganku, aku akan setia menemanimu, menyayangimu, mencintaimu setulus hatiku, demi melihat senyum di wajahmu dan binar indah dimatamu," ungkap Radit meyakinkan.


Seketika Air mata bercucuran membasahi pipi Laila.


"Hey, jangan menagis! Tersenyumlah! Jadi, sekarang kamu mau menemui Rama atau tidak?" tanya Radit dengan lembut.


Laila menggelengkan kepalanya, seraya mengusap air mata di pipinya.


"Jadi, kita mau kemana?" tanya Radit lagi.


"Langsung ke kampusku saja," jawab Laila pelan.


"Baiklah, Ayo!" kata Radit.


Deg!


Jantung Laila semakin tak terkendali.


"Ra-rama!" serunya dengan gugup.


"Laila!" Rama terkejut melihat Laila dikampusnya.


Keduanya terpaku.


Tiba-tiba air mata kembali membendung di pelupuk mata Laila, perlahan berjatuhan membasahi pipinya.


Air mata Rama pun seketika menggumpal di pelupuk mata, ia mencoba menahannya sekuat tenaga.


Ingin sekali melepas kerinduannya yang masih menggebu untuk Laila. Namun, melihat Radit disampingnya ia pun mengingat kejadian di hari Idut Fitri itu. Kenyataan pahit ikatan darah antara mereka memang sangat melukai hati. Namun, karena perasaan cinta yang lebih dulu hadir diantara mereka petunangan Laila dan Radit lebih menyakitkan hati Rama.


Rama tak ingin bicara pada Laila, sebelum ia bisa mengendalikan rasa yang ada di hatinya. Ia pun melangkah begitu saja hendak pergi meninggalkan Laila.


"Rama!" panggail Laila dengan sundu.


Rama menghentikan langkahnya.


Laila melangkah perlahan menghampiri Rama. Ia menghadapkan diri di hadapan Rama, tatapan sendu saling membalas membuat keduanya menitikan air mata kembali.


"Ijinkan aku menjelaskan sesuatu padamu," kata Laila.


"Tidak perlu, Laila! Apa pun yang ingin kamu jelaskan tidak bisa mengubah kenyataan jika takdir tak ingin kita bersatu," kata Rama.


"Meski takdir tidak bisa mempersatukan kita, setidaknya kamu tidak salah pahan padaku," ungkap Laila.


"Tidak ada kesalah pahaman di antara kita, Laila," kata Rama.


"Ada. Aku tidak mau kamu menganggapku penghianat," kata Laila dengan cepat.


Rama memejamkan mata sejenak, menahan sesak yang mulai menyeruak di dalam dada. ia pun mencoba membuka hati untuk mendengarkan penjelasan Laila.


"Please!" lirih Laila saat melihat Rama membuka matanya kembali.


Rama menengok ke arah Radit yang ada di belakangnya, seolah bertanya apakah Radit mengijinkan, dia harus menghormati Radit yang kini berstatus sebagai tunangan Laila.


Laila pun mengikuti arah pandangan Rama terhadap Radit.


Menyadari keduanya menatap kearahnya, Radit paham apa maksud mereka, dan memejamkan matanya sejenak sebagai tanda dirinya mengijinkan Rama dan Laila bicara berdua.


Laila dan Rama pun mencari tempat yang nyaman untuk mereka bicara.


Duduklah mereka berdua di taman belakang kampus yang indah dan sejuk, menghadirkan ketenangan dan kenyamanan bagi setiap insan yang menikmati keindahan alam tersebut.


"Cepat katakan, Laila! Aku ada kelas," Pinta Rama.


"Sebelumnya, aku minta maaf atas sikap ayah padamu dan bu Fauziah. Aku tau kallin pasti sangat kecewa dengan sikap ayah," kata Laila.


"Berhenti Laila! Aku tak mau tau tentang ayahmu, kita disini hanya untuk membicarakan alasanmu menghianatiku," kata Rama dengan sesikit menekan suaranya.


deg!


"Aku tidak menghianatimu, dia juga ayahmu, bukan cuma ayahku," kata Laila dengan pelan.


"Kamu meneghianatiku! Dan dia cuma ayahmu bukan ayahku, itu katanya bukan, bukan kataku," kata Rama sedikit tersudut emosi.


Namun, Laila tidak terpengaruh ikut emosi.


"Tidak Rama, aku tidak menghianatimu," ucapnya perlahan. "Baiklah jika kamu tidak mau menganggap ayahku sebagai ayahmu, setidaknya kamu mau mendengarkan penjelasanku jika aku tidak menghianatimu," lanjut Laila.


"Cepatlah, aku tak punya banyak waktu!" Pinta Rama pelan, setelah mengontrol emosinya.


bersambung ....


jangan lupa like komennya ya raders❤❤❤


terimakasih.🤗