Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Luka Berdah



"Kamu lebih tahu apa maksudku," ucap Rama dengan kecewa.


"Tolong perjelas semua ucapanmu, aku sungguh-sungguh tidak memahaminya," ungkap Laila.


"Katakan padaku! Dari mana saja kamu seharin ini?" tanya Rama dengan serius.


"Dari mana? Tentu saja aku bekerja dirumah sakit? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Laila dengan heran.


"Heemm, kamu yakin tidak berbohong pada suamimu ini?" Rama membalikan pertanyaan sang istri.


"Kenapa kamu membalikan fakta? Kenapa membolak-balik pertanyaanku? Sudahlah, tinggalkan aku sendiri!" Pinta Laila.


"Kamu mencoba untuk menghindari pertanyaanku, Laila!" Rama malah merasa kesal dengan permintaan Laila.


"Aku tidak ingin masalah ini berlarut. Biarkan aku berpikir dengan tenang. Keluarlah!" pinta Laila Lagi.


"Dari caramu, kini aku yakin apa yang dikatakan mereka adalah kebenaran." Rama pun malangkah pergi menuju pintu kamar dan beranjak pergi meninggalkan istrinya.


Merasa heran dengan perkataan sang suami Laila pun berlari mengejar Rama. Kini sang suami tepat berada di tangga. Laila mencoba mendahului dan menghadangnya. Ia menatap wajah Rama dengan tatapan herannya


"Apa yang kamu katakan tadi, siapa mereka?" tanya Laila penasaran.


Rama menyunggingkan senyum seperti yang dilakukan Laila sebelumnya terhadapnya. Ia tak ingin memghiraukan pertanyaan Laila dan memilih pergi meninggalkannya. Rama berjalan dengan cepat hingga membuat Laila yang menariknya karena masih penasaran tak mampu mengimbangi dan jatuh terguling-guling di tangga hingga pingsan.


"Laila!" teriak Rama histeris yang di barengi dengan teriakan kedua orang tua mereka yang berada di bawah tengah memperhatikan mereka.


"Laila!" Teriak Rama kembali seraya berlari menuruni anak tangga, sesampainya di bawah ia langsung merengkuh sang istri yang sudah pingsan, berlumur darah di kepalanya.


"Cepat, kita bawa kerumah sakit!" Kata sang ayah, sementara sang ibu hanya bisa histeris memanggil-manggil putrinya dan menitikan air mata.


Rama segera menggendong sang istri dan berjalan setengah lari membawa sang istri ke mobil yang sudah disiapkan. Aditama sudah siap di kemudi mobil. Rama pun sagera masuk disusul Nesa sang ibu.


Ira yang sedang di kamar mendengar teriakan histeris semua orang, dengan segera ia turun, melihat darah yang berceceran di tangga dan di lantai bawah Ira pun terkejut.


"Darah! Apa yang terjadi?" tanya Ira kebingungan.


Mendengar deru mesin mobil melaju ira pun segera berlari kedepan rumah. Hanya ada bibi yang tengah berdiri disana dengan gelisah.


"Apa yang terjadi bi, mereka mau kemana?" tanya Ira khawatir.


"Non Laila jatuh dari tangga," jelas Bibi.


"Apa!? Laila jatuh dari tangga!" Ira sangat terkejut. Tanpa pikir panjang Ira yang tak bisa mengendarai mobil atau motor segera memsan ojol.


Tak lama ojol datang, dan segera menuju rumah sakit. "Cepat bang!" pinta Ira seraya memakai helm dan cepat menduduki kendaraan tersebut.


"Sayang, bertahanlah! Tolong maafkan aku." Rama menangis histeris seraya terus menciumi tangan sang istri dan sesekali membersihkan darah yang mengalir di kening sang istri dengan tisu.


"Sayang, sadarlah, aku bersumpah tidak pernah melakukan apa pun dengan Wilona, percayalah. Hanya kamu yang aku cintai, hanya kamu perempuan yang ada di hatiku," ungkap Rama dengan penuh cinta.


"Begitu juga Laila, dia tidak pernah melakukan apa pun dengan Ferdi," timpal Aditama.


Spontan Rama melirik sang ayah, ia terkejut mengapa sang ayah mengetahui hal ini. Matanya menatap penuh tanda tanya.


"Apa yang kalian ributkan hanya kesalah pahaman yang sengaja dibuat oleh seseorang untuk menghancurkan rumah tangga kalian," ungkap Aditama.


Seketika keningnya mengerut, Rama tak mengerti kenapa sang ayah mengatakan hal ini.


"Ayah pun baru mengetahui ini, dan sebenarnya itu yang ingin ayah bicarakan padamu dan Laila. Maafkan ayah, seharusnya ayah tidak membiarkanmu menemui Laila dulu tasi sebelum mendengarkan semua ini, ayah menyesal ini semua salah ayah." Aditama menyesali sikapnya tadi.


"Sayang, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Kamu sudah berusaha." Nesa mencoba menenangkan.


"Aku tidak mengerti ayah, apa maksud ayah, siapa yang ingin menghancurkan rumah tanggaku?" tanya Rama dengan bingung.


Tiba-tiba Rama mengingat Nur yang selalu berusaha memisahkannya dengan Laila.


"Apa ini ulah Nur?" Duganya kemudian.


"Tidak! Bukan Nur," jawab Aditama.


"Lalu!" Rama tertegun.


"Orang di masa lalu ayah. Perempuan yang ayah tinggalkan di pelaminan demi mengejar ibumu. Rupanya dia menyimpan dendam pada ayah, dan menjadikan kalian pelampiasan dendamnya," ungkap Aditama dengan sedih.


"Apa?!" Rama dan Nesa serentak terkejut.


"Jadi ini ulah perempuan itu?" tanya Nesa yang belum sempat mengetahui pelaku sebenarnya.


"Iya, ini semua ulahnya," ungkap Aditama. "Cepat turunlah, sudah sampai, nanti kita sambung lagi," Lanjutnya.


Rama segera membuka pintu Mobil dan membawa Laila menuju IGD. Rama dikejutkan dengan dua perawat yang bertugas malam ini adalah perawat yang tadi membicarakan Laila di parkiran.


'Mereka! Bukankah tadi mereka pulang, kenapa masih bertugas?' batin Rama bertanya.


"Dokter Laila!" Kedua suster itu terkejut. "Apa yang terjadi pada istri Anda?" tanya salah satu suster itu dengan propesional, mungkin mereka sudah melupakan perbuatan mereka tadi karena fokus pada tanggung jawab mereka yang harus segera merawat pasien.


Rama mengerutkan keningnya, ia heran kenapa suster itu tau jika dirinya adalah suami Laila, berbeda dengan yang dikatakannya tadi di parkiran. Rama pun menepis semua kebingungannya dan segera meminta suster itu bertindak pada Laila.


"Cepat lakukan sesuatu, istri saya jatuh dari tangga," pinta Rama dengan cemas.


"Baiklah Pak, bapak tunggu di luar, Dokter akan segera memeriksa keadaan Dokter Laila," ucap salah satu suster itu. Rama pun segera keluar mengikuti prosedur rumah sakit.


bersambung.....