Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Salah Paham



Terpaksa Rama pulang kembali, membawa serta kekecewaannya. Tak mungkin jika harus menunggu sampai malam, padahal dia sudah menyiapkan kejutan di sebuah restauran. Dia pun melajukan mobilnya dengan pelan, hingga sampailah di restoran itu.


Rama duduk di meja pojok dengan pemandangan yang mengarah ke taman, suasana sore yang indah tak seindah hatinya saat ini yang harus makan sendiri tanpa ada yang menemani.


Pesanan pun dihidangkan, sebuah menu spesial kesukaan Laila menjadi sia sia. Cincin indah yang dia sematkan di hidangan itu pun Rama cabut kembali. Namun, saat Rama akan mencabutnya seseorang datang mengangetkannya.


"Pak Rama!" seru Wilona.


"Wilona! Sedang apa disini?" tanya Rama.


"Eu, saya lapar, Pak. Gak sempat masak gara-gara pingsan kemaren. Jadi aku makan disini saja," ungkap Wilona.


"Eu, kebetulan sekali. Kamu makan bareng saya saja, saya sudah pesan banyak makanan, sayang, biar gak mubazir," tawar Ram.


Wilona memperhatikan meja Rama yang sudah dipenuhi hidangan lezat. Satu hidangan yang jadi perhatiannya cake coklat mungil dengan cincin permata indah di atasnya.


"Wah, sepertinya bapak mau kencan nih sama istri Bapak, tapi kenapa jadi ngajak saya yang makan disini, gak enak nanti sama istri Bapak," ucap Wilona.


"Kamu gak usah khawatir, istri saya tidak akan datang, dia ada pekerjaan mendadak," ucap Rama.


"Pekerjaan mendadak. Sayang sekali ya Pak. Padahal bapak menunda pekerjaan demi istri bapak, tapi istri bapak malah ambil pekerjaan mendadak tanpa mikirin bapak." Wilona mencoba mempropokasi.


"Kalau saya jadi istri Bapak, saya gak akan nyia-nyiain moment seperti ini. Sayangnya belum ada yang mau sama saya," ucap Wilona.


Rama hanya tersenyum menanggapi ucapan Wilona. "Dengar Wilona, pekerjaan seorang dokter itu tidak seperti kita yang bisa kapan saja menunda tugas. Dokter harus mengutamakan keselamatan nyawa seseorang, bahkan dia tidak bisa meninggalkan pasiennya begitu saja hanya karena kencan." Rama membela Laila.


"Maaf, Pak." Wilona menunduk malu.


"Buat kamu, semoga kamu cepet dapet jodoh yang baik dan sayang sama kamu," ucap Rama.


"Terima kasih do'anya, Pak," ucap Wilona.


Rama mengangguk, kemudian kembali tangannya meraih cincin yang ia sematkan di cake coklat kecil berbentuk love itu. Namun Wilona mencegahnya.


"Tunggu, Pak!" cegah Wilona. "Cincinnya indah sekali, Seumur hidup saya belum pernah merasakan punya cincin indah, apa lagi di sematkan oleh seseorang, boleh saya mencoba cincinnya pak?"


Rama mengerutkan keningnya. "Kamu mau mencobanya?"


"Iya, Pak. Sebentar saja. Saya pengen tau rasanya ini jari pakai cincin seindah itu, boleh ya Pak. Sebentar saja," pintanya.


"Oke, cobalah," ucap Rama.


Wilona sangat ke girangan dia bahagia sekali saat Rama mengijinkannya makai cincin itu. Di ambilnya cincin itu dan disematkannya sendiri di jari manisnya.


"Gimana, Pak, bagis tidak?" tanyanya.


"Bagus, cantik," ucap Rama tanpa semangat.


"Bapak, kok lesu gitu sih Pak jawabnya," ucap Wilona.


"Ya, saya ingin sekali melihat istri saya memakai cincin itu sekarang," ucap Rama penuh harap.


"Ya ampun pak, gak usah dipikirin juga, nanti pulang kerja kan bisa bapak sematin di jarinya," ucap Wilona seraya membuka cincin itu di jarinya.


Namun, Tiba-tiba dia terdiam dengan menunjukan wajah yang bingung. Tangannya terus berusaha mengeluarkan cincin itu di jarinya. "Ya ampun Pak, kenapa gak bisa di keluarin?" ucapnya.


"Ada apa Wil," tanya Rama cemas.


"Aww, cincinnya gak bisa di keluarin pak, sesak sekali di jari saya," keluh Wilona.


Seketika Rama membulatkan matanya, menarik tangan Wilona dan berusaha mengeluarkan cincin itu dari jari Wilona.


"Aww, sakit, Pak," keluh Wilona.


"Wil, kok bisa susah sih?" Rama semakin panik. Bagai mana tidak, cincin yang ia siapkan khusus untuk istrinya, susah keluar dari jari permpuan lain.


"Sepertinya jariku lebih besar dari jari istri Bapak. Maaf tadi pas masuk gak sesusah ini Pak," ucapnya.


"Rama!" lirih Laila dengan menatap Rama dan Wilona bergantian, kemudian mengalihkan pandangan pada tangan Rama yang tengah memegang jari Wilona seolah sedang menyematkan cincin indah di jari manis wanita itu, hidangan istimewa dan cake coklat berbentuk love, membuat hati Laila teriris pedih. Ia terpaku menteskan air mata dadanya terasa begitu sesak, apa yang dia lihat di depan matanya membuat dirinya shock.


Buliran bening terus mengalir deras di pipi mulus Laila. Ia tak mengangka suaminya melakukan ini. Sungguh apa yang di pikirkan Laila berbeda dari kenyataannya.


"La-laila!" Rama seketika merasa gugup, ia yakin jika istrinya tengah salah paham padanya.


"Sayang, kamu di sini? Bukannya kamu ada jadwal oprasi gantiin dokter lain?" tanya Rama yang tak mengerti kenapa Laila ada disini.


"Kenapa jika aku ada oprasi. Kamu bisa kencan dengan sekretarismu?" tanya Laila terisak seraya melirik sang suami di sebelahnya.


"Tidak sayang. Kamu salah paham?"


"Apa lagi, semalaman waktu kalian berdua masih kurang, hingga kamu memanfaatkan waktu sibukku untuk bersamaan lagi bersamanya," lirih Laila dengan tetesan air mata di pipinya.


"Tidak, sayang, tidak seperti itu. Dengarkan dulu penjelasanku," pinta Rama.


"Aku tidak mau. Silahkan kalian bersenang-senang!" Laila pergi dengan membawa kekecewaannya. Rama berusaha mengejar Laila, ia menarik tangannya hingga tubuh Laila mendekat padanya.


Rama menggelengkan kepalanya dengan tatapan lembut, gumpalan ai mata membendung di pelupuk matanya, tak kuasa melihat kesedihan sang istri yang tengah salah paham padanya. Di usapnya air mata Laila dengan lembut, sementara buliran bening di matanya sudah tak sanggup ia tahan dan lolos melintas di pipinya.


"Percayalah padaku, tidak terjadi apa pun di antara kami, kamu salah paham sayang," lirih Rama dengan pembut.


"Tolong lepaskan aku. Kita jadi pusat perhatian orang saat ini. Kita bicarakan ini di rumah nanti," lirih Laila terisak.


"Dokter Laila!" Dokter Ferdi yang memperhatikan kejadian ini dari tadi dengan sengaja menghampiri moment ini agar masalah mereka tak cepat selesai dan berlarut.


Rama segera melepaskan tangan sang istri, merasa tak enak diperhatikan oleh Dokter Ferdi.


"Mari, Dokter Ferdi kita kembali," ajak Laila seraya mengshunuskan tatapan kecewanya pada sang suami.


"Sial! Ada apa ini?" gerutu Rama saat Laila telah berlalu.


Wilona menghampiri Rama, dengan wajah lugunya. "Maafkan saya, Pak, semua gara-gara saya," ucapnya dengan menunduk penuh rasa bersalah.


"Tidak apa-apa Wilona. Pergilah! Aku ingin sendiri," pinta Rama.


"Baik, Pak. Saya pulang, saya akan berusaha melepas cincinnya di rumah. Sekali lagi saya minta maaf," ucapnya.


Rama hanya menjawab dengan anggukan kecil.


Sementara di mobil, Laila terus menumpahkan air matanya, tak menyangka Rama tega melakukan ini padanya.


"Dokter Laila. Maafkan saya, jika saya tau ini akan terjadi, saya tidak akan mengajakmu ke restauran ini," ucap Dokter Ferdi.


"Seharusnya saya berterima kasih pada Dokter. Saya jadi tau kelakuan suami saya di belakang saya seperti apa," lirih Laila terisak.


"Saya sendiri tidak menyangka, apa kurangnya Dokter Laila. Dokter ini cantik, baik, dan berprestasi, tapi kenapa suami Dokter masih melirik perempuan lain," sengaja Dokter Ferdi mempropokasi.


Laila semakin terisak pedih, membayangkan kejadian tadi. Tiba-tiba sebuah taxi mendahului mobil yang di tumpangi Laila dan berhenti tepat di depannya, sehingga membuat Dokter Ferdi harus menginjak rem mendadak.


"Astagfirullah. Siap dia?" Laila terkejut dan segera menyeka air matanya.


Terlihat Wilona turun dari taxi itu dengan menunjukan tangisan palsunya. Ia mengetuk kaca mobil agar Laila membukanya. Laila pun segera membuka kacanya.


"Saya ingin bicara dengan Ibu," pintanya.


Laila segera turun tak ingin berbasa basi. "Katakan! Saya tak punya banyak waktu," ucapnya.


"Bu Laila, saya mohon ijinkan kami menikah," ucap Wilona mengejutkan.


Deg!


"Apa maksudmu?" seketika mata Laila membulat, dadanya terasa sesak kembali.


Bersambung.....