
Hari yang dinanti pun telah tiba, dimana seluruh umat muslim di dunia tengah menjalankan hari raya Idul Fitri. Takbir tak berhenti menggema sejak kemarin malam hingga saat akan dimulainya shalat sunah Idul Fitri.
Waktu menunjukan pukul 06. 30. WIB. Rama dan bu Fauziah sudah siap berangkat kemesjid, dipakainya baju terbaik yang ia miliki.
Para tetangga saling sapa dengan penuh kegembiraan, banyak sanak saudara dari kota yang pulang kerumah mereka.
Mesjid yang biasa terisi hanya setengah jamaah pun kini penuh, bahkan tidak tertampung, hingga halaman mesjid pun digelar tikar.
Takbir terus menggema.
_Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahilhamd
Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wasubhaanallaahi bukrataw wa ashillaa. Laailaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu. Mukhlishiina lahuddiin walau karihal kaafiruun. Walau karihal munafiqun. Walau karihal musyrikuun.
Laailaahaillallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah wa a'azza jundah, wahazamal ahzaaba wahdah.
Laailaahaillallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahilhamd._
Shalat Idul Fitri berjalan dengan hidmat dan penuh kekhusuan. Semua warga bermaafan saling membebaskan diri dari kekhilapan dan dosa.
Ramadjan memeluk sang ibu dengan erat, mencium tangan, dan memohon maaf padanya. Begitupun sang ibu melakukan hal yang sama.
Rama bertemu dengan pak Hadi dan Nur, merekapun saling memafkan. Nur tampak malu menampakan dirinya. Namun, Rama dan ibu tidak membuat Nur merasa tersudut, dengan ikhlas keduanya memaafkan Nur.
Kini saat yang paling dinanti Rama pun telah tiba, bersilaturahmi kerumah Laila.
Sebelum bi Ira berangkat ke kota untuk lebaran di rumah kakaknya kemarin, bi Ira memberi alamat Rumah Laila kepada bu Fauziah.
Rama dan bu Fauziah tampak bersemangat.
"Sudah siap, Ram?" tanya bu Fauziah.
"Rama gugup banget, Bu," jawab Rama.
"Kamu tarik napas dulu dan buang perlahan, supaya kegugupanmu itu mereda," kata bu Fauziah.
"Do'ain Rama ya, Bu. Semoga orang tua Laila menerima kita, setelah tau keadaan kita seperti apa?"
"Iya, Ram, ibu takan berhenti berdo'a, buat kamu dan Laila, semoga tidak ada halangan dalam hubungan kalian, semoga kalian berjodoh. Aamiin," kata sang ibu.
Di tempat Laila tampak kegembiraan yang sama. Laila tak sabar menantikan Rama yang akan melamarnya. Setelah semua saling bermaafan Laila kembali ke kamarnya.
"Ya Allah, aku gugup sekali, sepertinya aku takan sanggup bertemu Rama," gumamnya sambil mondar-mandir dikamar.
"Cie, yang mau dilamar, gelisah amat sih," kata bi Ira yang masuk ke kamar Laila.
Laila menoleh.
"Bibi!" Ia langsung berhambur memeluknya.
"Laila gugup banget, Bi," ucapnya.
"Laila, bibi tau kok, apa yang kamu rasakan, kamu tarik napas dan buang perlahan, biar tenang," kata bi Ira.
"Laila udah melakukan itu, Bi, tapi kok Laila semakin deg-degan. Laila takut jantung Laila copot saat menemui Rama," kata Laila.
Sontak bi Ira tertawa mendengar ucapan Laila.
"Laila, Laila, kamu ini lucu banget sih," kata bi Ira.
"Bibi. Ini gak lucu. Laila tegang banget," ucap Laila.
Satu jam kumudian.
Bi Ira masih menemani Laila di kamar. Sang bunda datang menghampiri.
"Laila sayang, tamunya sudah datang," ucap Nesa dengan gembira.
"Be-benarkahkah, Bun?" tanya Laila gugup bercampur bahagia.
"Iya sayang, dia tampan sekali," puji Nesa.
"Akhirnya, Laila, dia menepati janji juga," kata bi Ira.
"Ya, Allah, Bibi, Bunda, Laila harus Gimana?" tanya Laila dengan mengusap wajahnya.
"Hey, kenapa harus gimana, sayang? Kamu hanya harus menemui dia," kata Nesa. "Tunggu! wajahmu pucet sekali," lanjut Nesa memperhatikan wajah Laila dengan seksama.
"Benarkah, Bu? Kalau begitu Laila gak mau turun, Laila tunggu disini saja, sampai pertunangannya selesai," ucap Laila yang semakin serba salah.
Nesa dan bi Ira teetawa melihat tingkah Laila.
"Tenangkan dirimu, Laila. Ini baru tunangan, gimana kalau kamu nikah nanti?" ujar sang bibi.
"Iya sayang, tenangkan dirimu," ucap sang bunda sambil memegang tangan putrinya.
"Ya Ampun Laila, tanganmu dingin sekal," lanjut sang bunda bicara.
Bi Ira pun menghampiri dan ikut memegang tangan Laila.
"Ya ampun Laila, kamu kenapa?" kata bi Ira.
Bi Ira dan Nesa pun menahan tawanya.
"Bunda dan bibi jangan ngetawain Laila. Laila gak pernah pacaran, Ini pertama kalinya Laila jatuh cinta, Laila langsung mau dilamar, Laila seneng, dan takut, semua perasaan campur aduk, Laila gak tau harus gimana? Laila gak berani bertemu dengannya?" kata Laila.
Bi Ira dan Nesa pun melepas tawanya..
"Ayo, sayang mereka sudah lama menunggu," kata Nesa.
"Bunda, kalau dia ngasih cincin, bawa aja langsung kesini, bunda aja yang pakaikan sama Laila, Laila gak sanggup ketemu dia, Laila gugup sekali," kata Laila.
"Ya ampun, kamu semakin pucet, Laila," ucap bi Ira.
"Kak Nesa, bagaimana ini, Laila bisa pingsan ini," lanjut bi Ira.
Nesa dan Bi Ira pun tertawa.
"Bibi!" Laila memeluk bibinya.
"Kamu yakin, gak mau ketemu dia?" tanya Nesa.
"Laila mau ketemu dia, tapi gak sekarang, Laila gugup sekali," kata Laila.
"Baiklah, Bunda bicara dulu sama mereka. Ira jagain Laila, jangan sampai dia pingsan," ucap Nesa dengan meledaknya.
"Bunda! Sudah sana, jangan ledekin Laila," kata Laila.
Nesa pun pergi menemui tamunya. Di ruang tamu tampak Radit dan kedua orang tuanya tengah ditemani sang suami berbincang. Nesa turun lengan langkah anggunnya. Ia tersenyum pada tamunya yang melihat kedatangannya.
"Assalamuallaikum," kata Nesa.
"Wa'alaikum salam," jawab semua serempak.
"Loh, Bunda! Laila mana?" tanya sang suami.
"Maaf ya semua, tampaknya Laila sangat gugup sekali, dia gak berani turun," kata Nesa.
"Lalu pertunangannya bagaimana?" tanya ayah Radit.
"Tidak usah khawatir, Laila sudah menyetujuinya," kata Nesa.
"Lalu bagaimana dengan tuker cincinnya?" tanya ayah Radit lagi.
"Maaf cincinnya biar saya yang kasih ke Laila, dia minta saya saja yang menyematkannya," kata Nesa.
"Apa!?" semua terkejut kemudian tertawa.
"Tampaknya putrimu ini sangat pemalu, Adi," kata ayah Radit.
"Ya, Dia memang pemalu," kata Adi.
"Maaf ya, Pak, Nak Radit. Maklum Laila gak pernah pacaran, banyak pria yang ia tolak, ini pertama kalianya dia menerima pria dan langsung tunangan, jadi dia sangat gugup sekali," ujar Nesa.
"Tidak apa-apa, tante. Kalau begitu kita adakan resepsi pertunangan saja, tapi nanti acara pertunangan resmi saya bisa bertemu Laila 'kan tante? Tidak afdol rasanya jika saya hanya melihatnya di foto," kata Radit.
'Hanya melihat di foto' Nesa tertegun merasa heran dalam batin.
"Kalau begitu, cincin ini hanya sebagai persetujuan. Nanti mereka akan saling menyematkan di acara resepsi. Resepsi pertunangan resmi kita adakan setelah pak Adi dan bu Nesa tidak sibuk, tidak afdol rasanya jika kita tidak merayakan pertunangan ini," kata ayah Radit.
"Tentu saja," kata Pak Adi ayah Laila.
"Baiklah saya berikan cincin ini dulu pada Laila ya. Permisi," kata Nesa.
Nesa berjalan dengan cepat, ia tak sabar melihat putrinya memakai cincin pemberian Radit.
Cklek!
Nesa membuka pintu, dan masuk.
"Lihat ini, Laila! Cincinnya sangat cantik sekali," kata Nesa saat melangkah.
Bi Ira sudah tidak sabar. Namun, Laila terus bertingkah aneh. Ia membalakangi sang bunda dan mengulurkan tangannya.
"Hey, sayang apa yang kamu lakukan? Kenapa membelakangi bunda? Lihatlah! Cincinnya indah sekali," kata Nesa.
"Laila sangat malu sekali, Bunda. Cepat bunda pakaikan cincinnya di tangan Laila," kata Laila.
"Whatt!?" Sang bunda terkejut luar bisa. Bi Ira pun sama terkejutnya.
"Ini Bunda, Laila. Kenapa malu sama bunda? Aneh-aneh saja tingkahmu ini," kata sang bunda kemudian tertawa bersama bi Ira.
Nesa pun menyematkan cincin di jari Laila pemberin dari Radit.
"Laila, cincin ini hanya tanda persetujuan kamu. Mereka ingin merayakan resepsi pertunangan besar-besaran, di acara resepsi nanti kamu harus saling menyematkan cincin jangan sampai kamu tak berani lagi menemuinya, setelah kuliah kalian selesai kita rencanakan pernikahan," kata Nesa.
"Bunda. Laila tidak mengerti, kenapa harus saling menyematkan cincin lagi? Cincin ini sudah cukup sebagi tanda persetujuan Laila bukan. Terus resepsi besar-besaran, Laila rasa itu tidak perlu," jelas Laila yang mengkhawatirkan keuangan Rama, yang ia ketahui hanya sebagai tukang ojek online.
"Itu keinginan mereka, Laila. Bukan keinginan bunda. Buat bunda juga ini sudah cukup. Mungkin karena kamu gak mau turin dan menyematkan cincin di jari Radit, jadi mereka rasa gak afdol dan ingin mengadakan resepsi biar saling menyematkan cincin," kata Nesa.
"Radit!? Siapa Radit?" Laila dan bi Ira terkejut serempak.
bersambung ....
Nantikan apa yang terjadi selanjutnya readers❤❤❤
sambil nunggu Up yang belum mampir di karya pertamaku, mampir dulu yuk di "ALFATIHAH PERMBUKA JODOH" Tinggal klik di propilku ya.❤❤❤ terimakasih.