
Kedua preman itu semakin mendekati Nur, tanpa menghiraukan setiap keluhan Nur yang meminta mereka untuk berhenti. Kedua preman itu pun membawa paksa Nur ketempat yang lebih sepi, di sebuah bangunan yang sudah lama tak dihuhi pemikiknya.
Nur mulai ketakutan, Nur yang berusaha melawan tak mampu menandingi. Dua laki-laki itu silih berganti memegangginya dan melakukan perbuatan bejat mereka. Tak ada seorang pun yang mendengarkan jeritan Nur. semakin Nur meronta semakin sakit pula yang ia rasakan.
Hal yang tak pernah ia bayangkan, kesucian yang selama ini di jaganya, di rengut oleh dua laki-laki bejat yang tak di kenalnya sama sekali. Niat ingin berpura-pura demi mendapatkan perhatian Rama, hal itu malah sungguh terjadi pada dirinya.
Nur histeris dan prustasi, tak pernah ia bayangkan hal ini akan terjadi padanya.
Bayangannya kini melayang mengingat perbuatannya terhadap Laila. Nasib Laila yang beruntung berhasil diselamatkan oleh bapaknya. Namun kini nasib Nur yang malang, bahkan tak ada yang menyelamatkannya. Rama yang ia harap menolongnya entah kemana, hilang begitu saja dari pandangan matanya.
Ingatlah setiap apa yang kita perbuat terhadap orang lain, akan kembali pada diri kita sendiri. Maka jangan pernah berbuat jahat atau hanya sekedar memikirkannya.
Kedua preman itu pun pergi meninggalkan Nur setelah meraih kepuasan mereka masing-masing. Nur yang shock hanya bisa meringkuk menutupi tubuhnya dengan pakaiannya yang sudah tak berbentuk.
Nur menangis histeris, ia menjambak dan memukuli tubuhnya sendiri, ia terus menjerit meratapi keadaannya saat ini.
Pak Hadi yang baru pulang berkunjung dari rumah temannya, melihat dua orang preman keluar dari bangunan kosong dengan tawa yang puas. Sempat terlintas pertanyaan, apa yang telah dilakukan kedua orang preman itu dibangunan tak berpenghuni itu. Namun, kemudian pak Hadi tak mau peduli dengan urausan kedua orang itu.
Pak Hadi melanjutkan langkahnya perlahan, entah kenapa tiba-tiba hatinya diliputi perasaan tak enak.
"Assalamualaikum, Pak," sapa Rama dengan Ramah. Rama kembali ke jalan itu, karena apa yang ia lupakan telah diambilnya, dan melanjutkan perjalanannya kerumah temannya di sebrang sana.
"Waalaikum salam, Rama. Kamu mau kemana?" tanya pak Hadi.
"Saya mau kerumah teman, Pak. Bapak dari mana?" tanya balik Rama.
Belum pak Hadi menjawab Rama, terdengar sebuah suara isakan yang histeris di belakang bangunan kosong itu.
Deg!
Pak Hadi terkejut. Begitupun dengan Rama.
"Kamu dengar itu, Rama?" Tanya pak Hadi dengan penasaran dan menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan kembali apa yang baru saja didengarnya.
Rama menganggukan kepalanya.
"Suara isakan seorang perempuan, Pak," jawab Rama yang juga menajamkan kembali pendengarannya.
Tiba-tiba pak Hadi mengingat kedua preman yang tadi keluar dari bangunan itu.
"Astagfirullah haladzim. Apa yang dilakukan kedua preman tadi?" gumam pak Hadi, seraya cepat melangkah menghampiri sumber suara.
Rama yang penasaran pun, mengikuti pak Hadi. "Ada apa, Pak?" tanya Rama penasaran.
"Bapak juga tidak tau, tadi ada dua preman keluar dari bangunan ini, jangan-jangan mereka melakukan perbuatan tercela pada seorag gadis," tebak pak Hadi mengiringi langkahnya yang tergesa-gesa menuju arah suara tangisan.
Bak disambar petir, saat pak Hadi mendapati putrinnya sendiri dalam keadaan yang malang tanpa sehelai pun pakaian menutupi tubuhnya, kecuali pakaian sobek yang di genggam putrinya untuk menutupi tubuh bagian depannya.
"Nur!" Pak Hadi histeris. Dadanya terasa sakit. Namun, ia berusaha menahannya demi lari menutupi tubuh sang putri yang polos, dengan tubuhnya. Segera dibukanya jaket yang ia kenakan dan diselimutinya tubuh Nur dengan jaket yang tak bisa menutupi seluruh tubuh Nur.
"Nurrrrrrr!" Tangis histeris pak Hadi pun memecah heningnya suasana saat itu.
Rama yang terkejut pun segera membalikkan badannya agar tak melihat kondisi Nur.
'Astagfirullah haladzim, apa yang terjadi pada Nur' Batin Rama.
"Apa yang terjadi padamu, Nur. Apa yang terjadi padamu!?" tangis pak Hadi histeris.
Nur terus histeris sambil memeluk sang ayah.
Betapa malu dirinya saat ini. Meski Pak Hadi adalah ayahnya, bahkan betis mulusnya tak pernah ia nampakan di hadapan sang ayah. Lebih malu lagi Nur melihat Rama yang ada disana, meski Rama membalikan badannya tetap saja keadaan ini sudah diketahui Rama.
Alih-alih mencari perhatian Rama, bahkan kini dirinya tak bisa menampakkan wajah dihadapan Rama. 'Inikah karmaku, atas perbuatanku terhadap Laila' batin Nur terisak pedih.
Rama yang menyadari kondisi Nur segera berlari pulang kerumahnya, mengambil pakaian sang ibu untuk diberikannya pada Nur. Bu Fauziah yang mendengar kabar ini pun, ikut bersama Rama.
Pak Hadi membawa Nur pulang, dengan kondisinya yang terpuruk. Setiap kali orang menyapa, Nur histeris mundur dan berteriak, "Jangan mendekat, pergi!" teriak Nur pada seorang tetangga laki-laki yang menyapanya. "Jauhi aku-jauhi aku!" teriaknya dengan ketakutan.
Pak Hadi berkecamuk pedih, dengan kondisi putrinya. Setiap kali tetangga Laki-laki menyapa ia akan histeris ketakutan. Hanya pak Hadi sang ayah, dan Rama sang pujaan hati yang membuatnya tidak merasa takut. Dalam keadaan seperti ini Rama tetaplah nomor satu dihatinya, meski rasa malu menggerogoti jiwanya saat ini.
Para tetangga yang menyapa tampak heran, mereka bertanya-tanya dengan keadaan Nur.
Pak Hadi yang ditanya tampak diam membisu tak menghiraukan pertanyaan para tetangga. Rama pun tak membuka mulut tanpa ijin pak Hadi. Tatapan kosong mengiringi langkah pak Hadi hinggga sampai dirumahnya. dibaringkannya Nur di atas tempat tidur, dan diselimutinya.
Sememntara Rama dan bu Fauziah menungunya di luar kamar tak ikut masuk ke dalam.
Nur terus menangis, meratapi nasibnya.
"Nur, bukan gadis suci lagi pak? Adakah laki-laki yang mau menikahi Nur dalam kondisi seperti ini?" tanya Nur dengan tatapan kosong menatap dinding kamarnya.
"Tenangkanlah dirimu dulu, Nur! Jangan berpikiran lain-lain dulu!" kata pak Hadi dengan mengelus lembut kepala sang putri.
"Ini karma Nur. hari itu, Nur sudah mencoba menjebak Laila, hari ini Nur sendiri yang terjebak," ucap Nur masih dengan tatapan kosongnya.
Pak Hadi menangis kembali mendengarkan ucapan putrinya.
"Hari ini Nur ingin mencari perhatian Rama, tapi Nur malah menjadi perhatian semua orang," jujur Nur tanpa ia sadari.
"Apa maksudmu, Nur?" tanya pak Hadi heran.
"Nur hanya ingin mencari simpati Rama. Nur ingin melihat kepedulian Rama pada Nur. Nur ingin dekat lagi sama Rama. Nur hanya meminta kedua preman itu berpura-pura melakukan itu, saat Rama mellintas di hadapan Nur, tapi mereka malah benar-benar melakukan itu," tutur Nur denagn sedih.
"Astagfirullah, Nur! Apa yang kamu lakikan?!" Pak Hadi terkejut luar biasa. Ingin ia marah. Namun, ia menahan amarahnya mengingat kondisi Nur saat ini.
Rama dan Bu Fauziah yang ada di luar pintu kamar Nur terkejut dengan penuturan Nur.
"Astahfirullah haladzim. Tidak kusangka kamu terus mencari perhatianku, Nur. Maafkan aku yang tak pernah bisa mencintaimu," gumam Rama dengan merasa iba.
Sang ibu pun mengusap lembut bahu Rama.
Bersambung ....