Sinar Cinta Ramadhan

Sinar Cinta Ramadhan
Menyenggol Minyak Panas



Pak Hadi terkejut bahagia melihat kedatangan putri dan menantunya. Lebih bahagia lagi saat pak Hadi diberitahu jika Nur dan Radit akan tinggal dirumahnya.


"Waw, kejutan yang luar biasa, Nur. Kalian sungguh-sungguh?" tanya PAk hadi untuk meyakinkan.


"Tentu saja, Bapak. Masa iya main-main sih Pak," kata Nur.


"Benar, Pak. itu juga jika bapak tidak keberatan. Nur sangat menyayangi bapak dan tak ingin membiarkan bapak hidup sendiri," ucap Radit, meski Radit yakin tujuan Nur sebenarnya berbeda.


"Tentu saja tidak, Bapak malah senang. Bapak memang kesepian tanpa Nur dirumah ini. Wah, sekarang malah nambah satu anggota lagi, malah jadi tambah rame, Bapak jadi tambah senang," tutur pak Hadi penuh semangat.


Radit dan Nur terlihat bahagia. Mereka pun kekamarnya untuk beristirahat.


Radit yang lelah, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur Nur yang keras.


"Awwww! Sakit sekali," keluhnya saat mendarat di tempat tidur.


Nur tertawa terbahak-bahak mentertawakan perbuatan Radit.


"Kamu pikir ini dirumahmu. Radit, Radit. Pelan-pelan kalau mau menjatuhkan diri di tempat tidur ini," ucap Nur kemudian duduk di bibir ranjang.


"Sial, kupikir ini kasur empuk," kata Radit dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal karena malu dengan perbuatannya.


"Kenapa? Nyesel mau tinggal disini?" tanya Nur melirik wajah Radit.


"Tidak. Kenapa nyesel? Anggap aja berpetualang, ya, gak?"


Nur tersenyum sinis. "Terserah. Semoga betah ya suami sementaraku." Nur membaringkan tubuhnya sejenak untuk melepas lelah setelah perjalanan.


"Geser! Kamu jangan macam-macam. Agak menjauh ke pinggir!" pinta Nur pada Radit.


Radit tetap tersenyum menghadapi Nur, dan sedikit menjauh seraya ikut membaringkan tubuhnya.


"Aku tidak akan menyuruhmu tidur di kursi atau diluar, tapi ingat batasanmu!" Nur memperingatkna Radit.


Radit tak menjawab hanya melirik Nur sekilas.


***


"Bu Fauziah tengah sibuk memasak, menyiapkan sambutan untuk kedatangan putra dan menantunya.


Laila dan Rama sudah dalam perjalanan. Cuaca yang panas membut tenggorokan mereka kering.


"Sayang, aku haus. Cari minuman seger dulu yuk?" ajak Laila pada Rama.


"Kasihan kamu, seharusnya kamu naik mobil sam pak Hasan, kamu malah naik motor bebek ini, jadi kepanasan kan," kata Rama.


"Apa sih sayang, mau naik mobil atau pun motor kalau cuaca panas ya tetep aja sama panas," jelas Laila.


"Iya tapi kamu kan gak terbiasa panas-panasan naik motor, sayang," kata Rama.


"Sudah gak usah debat, aku haus banget nih," kata Laila.


"Ya, udah bagaimana kalau kita beli es krim," usul Rama.


"Eskrim. Ayo. Aku mau eskrim mangga,' kata Laila.


"Baiklah, ayo!" Rama menepikan motornya di toko eskrim yang ia jumpai di pinggir jalan.


Laila terlihat sangat senang sekali makan eskrim, dia menghabiskan tiga eskrim dengan cepat seperti anak kecil.


"Sayang eskrimnya enak sekali, boleh satu lagi," kata Laila yang masih memakan sisa eskrimnya yang hampir habis.


"Sayang, sudah tiga porsi loh, kamu gak takut sakit perut?" tanya Rama.


Laila tersenyum. "Aku sudah terbiasa, kamu gak usah khawatir," kata Laila.


"Pak! Satu lagi," kata Rama.


Laila semakin senang. "Sayang, kamu makan eskrim satu porsi dari tadi gak habis, habis, kenapa? Gak suka sama eskrimnya?" tanya Laila.


"Suka. Aku terlalu sibuk merhatiin kamu makan eskrim. Kamu terlihat semakin cantik, saat kamu tidak jaim dihadapanku," kata Rama dengan menatap Laila penuh cinta.


"Apaan sih?" Laila menunduk malu.


Rama tertawa kecil. "Kenapa malu, aku suka kamu yang seperti itu." Rama menganggkat dagu Laila.


"Permisi!" Pelayan datang mengantarkan pesanan eskrim Laila.


Sontak Rama langsung melepaskan tangannya dari dagu Laila.


"Sama-sama."


Laila segera menyantap eskrimnya kembali, Kali ini ia menyuapi Rama yang masih saja asik menatap Laila. Rama pun menyupi Laila penuh cinta, dengan tatapan yang semakin mendalam.


"Sayang, natapnya janga gitu dong, aku jadi malu," kata Laila.


"Aku tidak bisa mengalihkan pandangan mata ini darimu, aku ingin terus menatap wajah dan senyum indahmu ini. Aku tidak akan pernah membiarkan senyum indahmu ini hilang," ucap Rama seraya menyimpan telunjuknya di sudut bibir Laila.


"Sudah, kamu tidak perlu menggodaku seperti itu. Nanti aku semakin tak bisa jauh darimu," ucap Laila seraya menundukan kembali wajahnya.


"Aku senang jika kamu tak bisa jauh dariku, aku pun tak bisa jauh darimu." Keduanya saling lempar pandangan indah mereka dengan senyum yang merekah penuh bahagia.


"Ya sudah. Aku tidak tahan melihat wajah meronamu itu, pingin gigit," bisik Rama di telinga Laila.


Laila tersenyum malu.


"Ayo cepat habiskan eskrimnya! Ibu pasti sudah menungu kita," kata Rama tanpa mengurangi senyum di wajahnya.


Setelah selesai menghabiskan eskrim mereka, Rama melajukan kembali motor bebeknya, dalam waktu setengah jam mereka sampai kerumah bu Fauziah.


Rama dan Laila merasa heran melihat banyak orang di rumahnya.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Rama pada sang istri.


Laila hanya menggelengkan kepalanya. Merasa khawatir pada ibu, Rama segera berlari masuk kedalam rumah, di susul oleh Laila.


"Assalamualaikum. Ibu, ada apa ini?" Rama mencari keberadaan sang ibu.


"Rama! Ibu di kamar," sahut bu Fauziah.


Rama segera menuju arah suara. "Astagfirullah, Ibu." Rama terkejut luar biasa.


"Ibu!" Laila pun terkejut melihat keadaan kaki bu Fauziah yang melepuh terkena minyak panas.


"Apa yang terjadi pada ibu?" tanya Rama dengan khawatr.


"Ibu menyenggol minyak panas di teplon, Ram. Jadinya ya begini. Untung tadi mereka mendengar teriakan ibu, mereka menggendong ibu kekamar," jelas bu Fauziah.


"Astagfirullah ibu, luka Ibu harus segera di obatin. Lebih baik dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut," ujar Laila.


Rama menganggukan kepalanya. "Ayo Bu, kita kerumah sakit. Bapak-bapak, ibu-ibu, terimakasih atas pertolongan kalian," ucap Rama.


"Sama-sama, Nak Rama. Semoga bu Fauziah cepet sembuh."


"Aamiin."


"Sayang, kita pesan Grab aja," usul Laila.


"Iya sayang, aku pesenin dulu," kata Rama.


Tak lama kemudian, mobil grab yang di pesan pun tiba. Rama segera menggendong sang ibu ke dalam mobil, didudukannya sang ibu di jok belakang dengan perlahan. Laila duduk di belakang menemani sang ibu mertua. Sementara Rama duduk di jok depan.


Mobil melaju dengan cepat. Rama duduk gusar mengkhawatirkan sang ibu.


"Laila sayang, maaf ya, ibu belum selesai menyiapkan penyambutan buat kalian," ucap bu Fauziah dengan menyesal.


"Ibu. Kenapa Ibu masih memikirkan hal itu? Seharusnya Ibu tidak perlu menyiapkan apa pun untuk kami. Ibu pasti kecapean," ucap Laila dengan lembut.


"Ibu, bahagia akan kedatangan kalian, makanya Ibu ingin masak banyak buat kalian," ucap bu Fauziah.


"Ya, sudah. Semua sudah terjadi. Lain kali Ibu tak perlu melakukan apa pun untuk kami. Ibu sudah tua. Ibu istirahat saja," tutur Rama.


"Ibu ini gak tua-tua amat Rama. Ibu masih sehat bugar, ini hanya kecelakaan yang bisa terjadi pada siapa saja." Ibu mencubit tangan Rama.


"Awww ... sakit, Bu," keluh Rama.


"Kamu sih, menganggap ibu setua itu." Bu Fauziah menampakan wajah yang cemberut.


"Iya, deh, iya. Ibu masih muda dan paling top deh.


Bu Fauziah dan Laila tertawa lembut.


Rama tersenyum, dan menggelengkan kepalanya dengan sikap sang ibu.


Laila semakin bahagia menyaksikan kembali kegangatan Ibu dan Rama yang dulu pernah ia lihat sejak pertama kali mengenal Rama. Sungguh membuat hati Laila tenang dan nyaman.


Berambung ....